Showing posts with label sukacita. Show all posts
Showing posts with label sukacita. Show all posts

Monday, June 30, 2014

Veni Sancte Spiritus

Mary Immaculate Parish, Quakers Hill-Schofields, Sydney.


8 Juni 2014.

Minggu pagi yang dingin.
Cuaca musim dingin di Australia seolah membuat tubuhku sedikit kaku.
Kami baru saja tiba sehari sebelumya di Negeri Kangguru ini, untuk mengunjungi saudara sekaligus berliburan.
Minggu itu, Minggu Pentakosta.
Niatan untuk Misa begitu kuat dan rasanya harus kulaksanakan.
Aku ingin selalu mendekat pada-Mu, ya Tuhan...
Sebagai ungkapan syukurku atas perlindungan-Mu di dalam hidupku...

Kulangkahkan kakiku masuk ke Gereja...
Misa pukul 09.00 pagi...
Gereja masih terbilang sepi. Masih cukup banyak tempat duduk yang belum terisi.
Suasana hikmat...
Ini Minggu Pencurahan Roh...
Hatiku berbunga-bunga.
Teringat kembali masa-masa aku menikmati kasih-Nya saat minggu-minggu Pentakosta sebelumnya.
Tanpa terasa, sudah hampir 14 tahun aku dibaptis:)

Perjalanan imanku terlintas satu-satu...
Bak film yang tengah terputar di benakku...
Perjalanan naik-turun untuk bertahan sebagai Pengikut Kristus...
Di tengah arus dunia yang begitu banyak godaan...
Masihkah aku tetap bisa setia?
Di tengah banyak kekecewaan dan kegagalan yang melemahkan?
Masihkah aku mampu mencari Sang Sumber Pengharapan?
Aku berusaha fokus pada Misa.
Udara dingin tergantikan kehangatan di dalam karena gereja dilengkapi alat pemanas (heater) yang cukup membuat para pengunjungnya merasa nyaman.

***

Sepanjang Misa kulalui dengah khusyuk.
Kelelahan persiapan perjalanan dan masa-masa penerbangan seolah terbayarkan dengan kesegaran alam yang indah, juga hadirnya aku di rumah-Mu, Tuhan...
Terima kasih.
Tiba-tiba, sebuah suara bening memecah keheningan.
Solis perempuan itu menarik perhatian seluruh umat, termasuk diriku.
Wajahnya tak jelas dari tempatku duduk, namun suaranya sungguh bening dan indah.
Terlebih lagi lagu yang dilantunkan membuatku tak bisa lagi berkata-kata.
Speechless. In amazement.

Come, Holy Spirit, from heaven shine forth with your glorious light.
Veni Sancte Spiritus

Come, Father of the poor, come, generous Spirit, come, light of our hearts.
Veni Sancte Spiritus

Come from the four winds, O Spirit, come breath of God; disperse the shadows over us, renew and
strengthen your people.
Veni Sancte Spiritus

Most kindly warming light! Enter the inmost depths of our hearts, for we are faithful to you.
Without your presence we have nothing worthy, nothing pure.
Veni Sancte Spiritus

You are only comforter, Peace of the soul.
In the heat you shade us; in our labour you refresh us, and in trouble you are our strength.
Veni Sancte Spiritus

On all who put their trust in you and receive you in faith, shower all your gifts.
Grant that they may grow in you and persevere to the end. Give them lasting joy!
Veni Sancte Spiritus




Seketika suasana hatiku dipenuhi rasa tenang yang luar biasa.
Diliputi rasa syukur tak terhingga.
Kelelahan, kekeringan, dahaga, seolah terpuaskan oleh kehadiran-Nya.
Veni Sancte Spiritus.
Datanglah Roh Maha Kudus...
Penuhilah setiap hati yang mendambakan-Mu...
Juga setiap orang yang seolah melupakan kehadiran-Mu...
Engkaulah Roh Penghibur di dalam kesedihan...
Roh pengetahuan yang membuka setiap jalan yang kami tak ketahui...
Engkau adalah Roh yang diutus Allah untuk membantu setiap umat-Nya dalam menghadapi setiap permasalahan yang timbul...

Tanpa terasa air mataku menetes perlahan.
Bukan, ini bukan air mata kesedihan!
Namun, sukacita...
Terbayang, sudah beberapa lama kekeringan itu timbul di hatiku...
Walaupun terus berusaha menulis dan menulis, tak jarang rasa kesepian maupun rasa khawatir juga pernah singgah.
Dalam segala ketidakpastian, dalam segala perasaan yang campur-aduk, kurasakan kembali damai itu sebagaimana yang kualami di sebuah pertapaan di Indonesia saat pertama aku mengikuti Misa Pentakosta di tahun 2000...

Roh Kudus, datanglah...
Penuhilah hati kami dengan semangat baru...
Bak lidah-lidah api yang turun dan memenuhi setiap kami...
Membakar dan memberikan peneguhan...
Memberikan motivasi yang takkan pernah kami dapatkan dari manusia mana pun...
Karena Tuhan sendirilah Sumber Motivasi Sejati yang tak pernah kering...

Sampai berakhirnya Misa, hatiku masih terus memuji-Nya...
Syukur kepada Allah, aku diperkenankan mengalami ini semua.
Jauh dari tempat tinggal kami, setelah menempuh kurang lebih delapan jam penerbangan...
Di sinilah aku, merasakan kembali kasih-Mu, peneguhan dari-Mu...

Tak usah takut, karena Aku besertamu...”
Suara itu terus bergema di hatiku...
Ya, Tuhan, terima kasih.
Kuanggukkan kepalaku tanda setuju...
Terima kasih sudah mengirimkan Roh Kudus pada kami, untuk menemani perjalanan kami.
Kau tahu, perjalanan ini tidak mudah untuk dilalui...
Namun, selama kami berpegang kepada-Mu...
Dalam tuntunan Bapa, Putera, dan Roh Kudus...
Segala sesuatunya menjadi sesuatu yang mungkin untuk dijalani..

1 Juli 2014. Singapura.

Ada sesuatu yang mendorongku untuk terus membuka lagu Veni Sancte Spiritus di Youtube dan terus mendengarkan versi Taize ini...
Ada yang terus mendorongku untuk menuliskan pengalaman ini...
Saya yakin, itu bukan dari diriku sendiri...
Sebagaimana setiap inspirasi yang Dia izinkan untuk singgah dalam diri dan mampu kutuangkan dalam bentuk tulisan, semua itu kuyakini atas seizin Yang Kuasa...
Terima kasih untuk itu semua, Tuhan...
Engkau tahu apa yang kualami...
Kehidupan di rantau kerap kali terlihat 'wow' dan kemilau bagi banyak orang...
Namun, kami pun harus menghadapi kehidupan yang jauh dari keluarga dan tidak di setiap tempat kami disambut dengan senyum dan tawa...
Banyak kali kami harus mengalami hal-hal yang kurang mengenakkan, mungkin rasisme, mungkin diskriminasi...
Kami tetap percaya, Tuhan, apa pun yang kami alami hari ini adalah atas kehendak-Mu dan ada di dalam rencana-Mu...
Semoga kami terus berusaha dekat pada-Mu...
Meski itu bukan hal mudah, meski banyak godaan yang datang...
Ajar kami untuk tetap setia...

Pengalaman yang indah ini kusyukuri sebagai bagian dari babakan hidupku...
Sebuah bagian yang kusimpan rapat-rapat di hatiku...
Yang sesekali akan kembali kubuka dan kutatap dengan senyuman...
Pengalaman bahwa aku dihargai, dicintai, dikasihi...
Pengalaman bahwa aku kembali meyakini bahwa aku takkan pernah ditinggalkan sendirian karena Allah selalu besertaku. Beserta kita.
Selamat malam Roh Kudus, teruslah mengobarkan semangat dalam hati kami...
Semangat melayani, semangat untuk lebih mengasihi...
Di tengah semua keterbatasan kami, Tuhan sudah mengirimkan sesuatu yang spesial.
And that something special is The Holy Spirit! :)

01.07.2014
* dalam kesukacitaan dan kedamaian yang masih terus meliputi hatiku... How could I ever thank YOU, Lord? I just feel so blessed:)


Wednesday, September 1, 2010

Sukacita



Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

--- Yoh. 15:11

Sukacita? Apakah itu?

Mungkin beberapa dari kita merasa sukacita adalah hal yang ada di awang-awang, impian belaka, tidak realistis. Karena selama hidup berarti akan banyak masalah, hambatan, kegagalan, kepedihan, kekecewaan, ketakutan, dan emosi-emosi negatif lainnya. Sehingga jika ada yang mendengungkan soal sukacita, kita lalu bertanya dengan skeptis: sukacita??? Adakah ia?

Jujur, selama sebulan terakhir, saya tengah dilanda sukacita karena berita kehadiran buah hati kami yang kedua. Kemudian, hari-hari sesudahnya berubah menjadi hari-hari penuh perjuangan karena kondisi kehamilan yang tidak mudah. Saya hampir tidak bisa makan, minum pun mual. Muntah sudah jadi makanan sehari-hari. Sehingga rasa segan terkadang menyerang. Ngapain makan, kalau nantinya muntah lagi? Tetapi, apa pun yang terjadi, saya harus tetap makan demi kesehatan saya dan buah hati yang dititipkan-Nya di rahim saya.

Hari-hari selanjutnya menjadi hari-hari yang merangkak perlahan. Merayap. Sulit dilewati. Ditambah lagi kondisi dari hasil cek darah yang menunjukkan beberapa masalah. Hati saya pun menjadi gelisah. Bagaimana ini, bagaimana anak saya? Saat itu pun, saya pernah merasakan: sukacita, di mana ada?

Di antara semua kondisi tersebut, adalah suatu sukacita terbesar, ketika aku masuk ke ruang dokter. Mendengarkan denyut jantungnya, melihat dia ada di dalam kandunganku. Itulah sukacita terbesar, untuk kemudian berusaha kuat menjalani hari-hari yang tidak mudah. Dengan kondisi yang lemah, aku berusaha mengerti esensi dari sukacita itu sendiri.

Sukacita itu ada. Sukacita itu berasal dari-Nya. Sehingga, dalam keadaan sesulit apa pun, walaupun dengan asupan makanan yang tak banyak itu, aku menjalani hari-hariku. Ketika kekuatiran menyerang, ketika ketakutan melanda, aku tetap berpegang pada tangan-Nya yang selalu membimbingku. Mempercayai Dia sekali lagi dan menemukan sukacita itu ada di dalam hatiku. Sukacita-Nya yang meliputi hatiku. Aku sadar, adalah satu anugerah merasakan ini semua sekali lagi. Aku sadar, bahwa: everything happens for a reason. Dan pada akhirnya, biarlah dalam keadaan apa pun, dalam kondisi sesulit apa pun, kita tetap percaya bahwa sukacita-Nya takkan pernah berhenti mengaliri kehidupan kita bak sungai yang tak pernah kering!

Jakarta, 1 September 2010

-fon-

sumber gambar:

http://www.christianpost.co.id/life/DailyQT/20050313/2449/sukacita-melalui-penderitaan/