Kuman di Seberang Lautan Tampak
Judul tulisan kali ini, tentunya sangat familiar bagi kita, terutama ketika pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu.
Untuk lengkapnya, peribahasa ini berbunyi sebagai berikut:
Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak .
Udah gajah, di pelupuk mata, gak keliatan lagi...
Kuman yang di seberang lautan yang begitu kecilnya, malah kelihatan.
OMG-Oh My God!
Gejala apa ini?
Mungkin ini semua terjadi pada kita.
Saya pun mengalaminya dan ini sangat relevan dengan pengalaman sebagai Editor di tahun yang kedua untuk renungan harian wanita Katolik-dari wanita untuk wanita yang bertajuk Treasuring Womanhood.
Setelah beberapa tahun menjadi salah satu penulis wanita di renungan harian yang luar biasa ini, ada kesempatan untuk menjadi Editor yang pada tahun ini memasuki tahun kedua.
Ternyata, saya menikmati peranan dan tugas ini.
Membaca renungan yang bagus-bagus dari para penulisnya, memberikan banyak inspirasi juga, terkait dengan tulisan renungan harian pribadi yang setiap hari harus saya tuliskan: Thought of the Day.
Sebagai sebuah kesetiaan kecil kepada-Nya, sebagai ucapan syukur atas kesetiaan yang teramat besar yang sudah saya nikmati dari Yesus.
Oke, kembali ke peranan Editor.
Saya selalu dituntut untuk kritis.
Melihat panjang naskah, tata bahasa, apakah ada salah ketik atau tidak.
Juga, sedapat mungkin saya membuat kalimat-kalimat dalam renungan tersebut menjadi sesuatu yang terangkai indah dan moga-moga dimengerti pembacanya.
Sehingga pesan-pesan itu bisa tersampaikan dengan baik lagi.
Tentunya di luar segala faktor manusiawi yang bisa saya lakukan, ada faktor yang utama dan paling penting yaitu untuk selalu memohon bimbingan Roh Kudus tiap kali membaca ayat alkitab atau renungan harian.
Agar Dia membuka mata hati kita saat membaca dan merenungkan firman-Nya.
Seolah mudah menemukan kekurangan para penulis.
Walaupun itu memang tugas saya, tetapi di dalam hati, saya terus diingatkan...
Bahwa memang mudah untuk melihat kesalahan orang lain, namun sulit untuk melihat kesalahan diri sendiri-bahkan untuk mengakuinya dan bertanggung jawab atasnya.
Kuman di seberang lautan memang tampak, bahkan teramat besar!
Apakah sebagai penulis saya tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal ejaan maupun dalam hal merangkai kata-kata untuk menjadi kalimat bermakna?
Tentu saja pernah! Sering malah:)
Untuk itulah, saya pun membutuhkan seorang Editor ketika hendak menerbitkan buku secara pribadi ataupun berkelompok bersama teman-teman.
Ini saya alami sendiri, ketika melakukan penerbitan buku Chapters of Life: From Nothing Into Something (Menuliskan Kebaikan dari Hal-hal Sederhana), juga beberapa buku keroyokan semisal dari para perantau Katolik di berbagai belahan dunia yang menuliskan kisah perjalanan iman mereka dan dirangkum dalam buku berjudul: Kutemukan Kasih Tanpa Syarat.
Ketika melakukan refleksi pribadi, saya pun menemukan, begitu mudah kita menjadi marah atau kecewa terhadap orang lain. Juga kepada Tuhan.
Kehidupan doa yang menjadi kering, jarang berdoa karena merasa permintaan kita tak dikabulkan, juga adalah gejala bahwa kita menyimpan sesuatu yang kita anggap sebagai 'kesalahan.'
Hal ini sungguh sangat berbeda dengan apa yang dituliskan dalam 1 Korintus 13, ayat-ayat yang begitu sering kita dengar tentang kasih.
Di antaranya, terutama pada ayat 5, terdapat hal yang relevan dengan tulisan kali ini:
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
--- 1 Korintus 13:5
Bahwa kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Berkaca dari ayat ini, saya pun terkadang menyesali kesalahan saya.
Bahwa terkadang masih sering marah dan menyimpan kesalahan orang lain.
Sementara, ketika saya salah, begitu inginnya saya dimengerti dan diampuni...
Berharap ada kesempatan baru: kedua, ketiga, dan seterusnya bagi saya untuk memulai kembali.
Sementara, ketika orang lain (terutama mereka yang dekat dan setiap hari berinteraksi dengan kita: suami/istri, anak-anak, atau para asisten rumah tangga, dan seterusnya) melakukan kesalahan, kita begitu sulit 'move on' untuk memaafkan mereka.
Bagaimana jika kita yang melakukan kesalahan terhadap Tuhan?
Tuhan selalu mengampuni kita, asalkan kita berbalik ke jalan-Nya serta mengakui segala kesalahan kita. Seperti ayat dari Mazmur 103:12, "Sejauh timur dari barat, sejauh itu dibuang-Nya dosa-dosa kita."
Buat kita yang Katolik, ada 'privilege' dalam bentuk Sakramen Pengakuan Dosa yang sungguh membuat kita merasa lega karena merupakan penyembuhan bagi batin kita.
Dari tugas 'editing' kali ini, saya pun kembali diingatkan...
Jadi orang itu jangan terlalu suka mencari-cari kesalahan orang lain.
Karena ketika giliran kita yang salah dan orang lain yang mencari-cari kesalahan kita, akankah kita suka diperlakukan demikian?
Benahi dulu gajah yang tampak di pelupuk mata.
Benahi diri, benahi hati, demi menjadi murid Kristus yang lebih mau mengampuni dalam kasih Tuhan yang tak terhingga.
Kita mungkin pernah terluka, sehingga sulit untuk mengampuni...
Namun, dengan menggenggam luka serta mencari-cari kesalahan orang lain, takkan membuat kita ke mana-mana.
Hanya berada di pusaran luka yang kita ciptakan dan pertahankan sendiri.
Yuk mari, 'move on' untuk mengampuni kesalahan orang lain...
Juga terus introspeksi diri...
Sekian tulisan kali ini.
Semoga tidak terlalu panjang buat disimak dan dibaca...:)
Salam dalam kasih Kristus buat teman-teman semua, di mana pun Anda berada.
14.10.2014
fon@sg
* sudah diposting di blog Jesus, I Adore you http://fon4jesus.blogspot.sg/2014/10/kuman-di-seberang-lautan-tampak.html
my writings especially dedicated for Jesus. For His goodness and never ending kindness in my life.
Showing posts with label kasih Tuhan. Show all posts
Showing posts with label kasih Tuhan. Show all posts
Tuesday, October 14, 2014
Tuesday, June 25, 2013
Haze (Kabut Asap)
Di akhir liburan, kami
dihadapkan pada kenyataan bahwa Singapura tertutup haze (kabut asap) yang disebabkan oleh pembakaran hutan di daerah
Riau.
Tentu saja saya cukup
cemas, tetapi akhirnya memutuskan untuk pulang tepat waktu. Karena sekitar
seminggu lagi, sekolah anak-anak akan segera dimulai kembali.
Perihal kabut asap ini,
membuat saya pun ditanyai oleh beberapa sahabat mengenai kondisi kami dan
keluarga. Sungguh terima kasih tak terkira atas perhatian Sahabat sekalian.
Beberapa hari ini, cuaca Singapura cukup cerah, konon disebabkan oleh
berubahnya arah angin, malah Malaysia yang menyatakan negaranya dalam keadaan
darurat (‘state of emergency’) dikarenakan oleh kabut asap juga. Dan tentu
saja, kita berharap keadaan ini segera pulih.
Misa Minggu Sore 23 Juni 2013, St.
Bernadette Church @ Zion Road …
Romo Sambodo, SS.CC
membuka misa dengan sesuatu yang ‘up to date’ dan merangkainya dengan indah.
Seperti Singapura yang
ditutupi kabut, asap… Begitu pun kondisi hati kita yang sering tertutup kabut
dan asap sehingga tak mampu melihat dan merasakan kasih Allah dalam hidup kita…
Aku tersentak.
Begitu benar ungkapan itu.
Tak jarang kabut dan asap
menyelimuti hatiku, hatimu, hati kita.
Sehingga pandangan kita
pun tak jelas, samar-samar, tak tertuju pada-Nya.
Hari itu, aku sungguh
berdoa agar Tuhan singkapkan semua kabut di hati yang menghalangi kasih-Nya
masuk dan memenuhi hatiku.
Mungkin itu berupa
kebencian, amarah, dendam, ataupun luka yang masih menganga…
Sungguh, kuingin itu semua
berada dalam kendali. Bukan berarti aku melupakan itu semua seolah amnesia.
Tentu saja bukan!
Tetapi, biarlah itu semua
menjadi pelajaran bagi diriku sendiri. Membuatku belajar lebih baik lagi dalam
hal mengasihi. Dan itu semua-agaknya- takkan mungkin terjadi tanpa campur
tangan Allah sendiri.
Hari ini…
Konon hujan es batu
mengguyur bagian Barat Singapura. Beberapa daerah seperti Bukit Batok, Jurong
East, dan beberapa bagian lainnya merasakan hujan es batu itu. Sekitar tempat
tinggalku tidak, walau terlihat begitu hitam mendung yang menggayuti langit
sore ini…
Kabut sudah berlalu, namun
mungkin akan kembali.
Berganti hujan es batu
yang memenuhi hari sebagian warga di sini…
Aku tetap berdoa agar
segala musibah ini bisa berlalu.
Paniknya rakyat di sini
yang memburu masker N95. Keadaan yang begitu berasap yang bahkan terasa sampai
di dalam tempat tinggal- seolah tetangga sedang bakar-bakar kertas, semoga tak
lagi mengisi hari-hari ke depan nanti…
Dan aku pun berdoa…
Agar damai Tuhan
menghampiri setiap hari…
Agar kasih-Nya mengisi
setiap relung hati…
Agar setiap kerinduan
akan-Nya tak lagi tertutupi…
Ya Tuhan, bukalah mata
hati kami…
Jangan ada batas-batas itu
lagi…
Kabut asap silakan pergi…
Biarlah mentari kasih-Nya
yang ganti menyinari…
Pancaran kelembutan yang
indah dan begitu dinanti…
Setiap insan manusia di
bumi ini.
25.06.2013
fon@sg
- badai pasti berlalu. Kabut asap pun begitu #in faith I believe in You.
Saturday, April 13, 2013
Being Mom – Bekal
Setiap pagi saat masa
sekolah, saya selalu menyiapkan bekal makanan bagi kedua putri saya.
Yang satu akan saya isi
roti selai, yang satu lagi isi biskuit atau ‘snack’ lainnya. Kecuali Jumat,
saya akan siapkan buah-buahan buat Si Kakak karena Friday is a Fruit Day di sekolah mereka. Setiap anak dianjurkan
untuk membawa buah-buahan dan makan bersama teman-temannya di sekolah sebagai
upaya hidup sehat.
Ya, anak-anak saya hanya
bersekolah 2-4 jam per hari, jadi tak perlu makanan yang terlalu berat.
Dan anak kami yang tertua
mendapatkan ‘lunch’ di sekolah.
Jadi, saya siapkan roti
selai hanya jika dia ada les tambahan di sekolahnya, sekitar seminggu tiga kali.
Entah mengapa, kemarin,
seolah kata ‘bekal’ itu begitu kuat di benak saya.
Saya memang membekali
mereka dengan makanan jasmani…
Tetapi itu saja belumlah
cukup…
Tak lupa pula, ‘bekal’
yang lebih penting untuk di kemudian hari, ketika suatu saat mereka menjadi
dewasa nanti…
Bekal pendidikan,
bekal kasih Tuhan… Terus saya upayakan
untuk ditanamkan di tengah seluruh kesibukan saya mengurus keluarga…
Tentunya tidak mudah,
karena dalam kondisi yang kelelahan tak jarang saya pun sulit untuk selalu
tersenyum ceria pada mereka.
Tak jarang pula upaya
pendisiplinan mereka menjadikan saya harus menegur, mengingatkan, mungkin juga ‘marah’
agar mereka tetap berada pada jalur yang benar…
Menjadi orang-orang yang
berkarakter baik dan terus menjadi perpanjangan tangan Tuhan di tengah kondisi
masyarakat yang entah bagaimana di dua puluh sampai tiga puluh tahun ke depan…
Secara manusia, saya
sadar, saya sangat terbatas.
Saya tidak sanggup
jalankan segalanya sendirian…
Saya sungguh membutuhkan
bantuan Tuhan dalam mendidik anak-anak karunia-Nya agar tetap di jalan-Nya…
Bekal…
Kata ini masih begitu
meresap di hati…
Sampai di malam hari…
Sampai di malam hari…
Ketika putri tertua kami,
Odri, memeluk saya dan berbisik di telinga saya…
“ Mom, will you still love me when I'm older?”
Saya pun menjawab:
“ Of
course, Odri. Mommy will always love you.”
Saya sadar, saya sungguh
jauh dari gambaran Ibu yang sempurna. Tetapi, gambaran itu-jika memang ada-
adalah perjuangan setiap hari dari setiap Mama… Entah seorang Ibu yang juga
berkarier atau seorang Ibu yang sepenuh waktu menjaga anak seperti saya…
Karena dulu sempat
bekerja, saya pernah pula merasakan keinginan untuk berpenghasilan lagi.
Sekarang semuanya itu seolah tertunda, tetapi saya pun setiap hari berjalan
dalam iman, bahwa Tuhan akan cukupkan. Bahwa Tuhan tahu waktu yang paling tepat
kapan bagi saya untuk kembali bekerja kembali atau harus kerja dari rumah atau
apa saja.
Saya percayakan
kepada-Nya…
Setiap hari, saat ini,
adalah pembekalan bagi dua putri-putri kami…
Di tengah keterbatasan
saya, saya pun menimba kekuatan dari-Nya…
Tuhan yang Kuasa…
Yang akan selalu menolong
setiap umat yang mencari wajah-Nya…
Dan malam hari, saat doa
malam…
Saya kembali tersenyum
saat Lala-anak kedua kami-berdoa dengan kepolosan seorang anak di usia dua
tahun dan diucapkannya dengan cukup lancar…
“ Thank you, Jesus for today…
For Mama, for Daddy, for Lala, for Cie-cie Odri,
for Teddy Bear, dan seterusnya-
dan sebagainya…”
Tuhan, terima kasih.
Betapa setiap detik
kusyukuri sebagai anugerah-Mu atas ‘motherhood’ yang dikaruniakan bagiku.
Dengan segala tawa, canda-ceria, dan juga derai air mata yang mengiringinya…
Semoga Engkau membekaliku
dengan kasih-Mu sehingga bisa berbagi kasih kepada kedua putriku dan
orang-orang di sekitarku.
Amin.
12.04.2013
fon@sg
Monday, April 1, 2013
A Visit to Chiropractor
CHIROPRACTIC adalah suatu metode penyembuhan berbagai macam
kondisi tubuh yang menggunakan tangan dengan cara menghilangkan “subluxation”
(perubahan posisi ruas-ruas tulang belakang) yang mana dapat mengakibatkan
gangguan pada aliran sistem saraf tubuh. Pengobatan secara Chiropractic membantu meluruskan persendian antara tulang belakang
dan tubuh. Dengan menghilangkan tekanan yang mengganggu aliran sistem saraf,
pengobatan Chiropractic membantu
tubuh menyembuhkan diri sendiri dan berfungsi optimal. (sumber: dari internet search).
***
Akhir tahun 2012 lalu, akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi klinik
Chiropractor di sini…
Kondisi lower back pain (sakit
pinggang bagian bawah) yang saya rasakan semakin mengganggu dan suami pun menyarankan
saya untuk mencoba ke Chiropractor
(sebutan untuk dokter ahli Chiropractic).
Setelah melakukan internet survey
terhadap banyak Chiropractor clinics,
akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada sebuah klinik yang tidak memaksa pasiennya
untuk membeli paket seharga ribuan dollar seperti kebanyakan klinik lainnya.
Singkat cerita, setelah datang sekitar 8 kali saya pun mengalami
kesembuhan. Nyeri di pinggang berkurang jauh dari pertama kali saya datang. Dan
ajaibnya lagi, Chiropractor saya
menemukan adanya kesalahan juga pada posisi leher saya, yang mengakibatkan saya
sering sakit kepala.
Sungguh luar biasa cara-Nya menggiring saya menuju klinik tersebut,
sampai saya merasakan kesembuhan dari kondisi-kondisi yang sakit di tubuh saya…
Di klinik Chiropractor itu saya mengalami hal sebagai berikut:
posisi-posisi yang kurang benar, dibetulkan. Meminjam istilah teman saya badan
ini di-kretek-in (bunyi kretek-kretek atau krek-krek, tapi minus patah tulang tentunya:)). Juga kesakitan yang
sudah lama saya derita, disembuhkan…
Teringat saya akan perjalanan saya berjumpa dengan Yesus…
Tanpa survei, tanpa cara macam-macam, Yesus datang dan menyapa hidup
saya di tahun 2000 lalu. Saya dibaptis secara Katolik dan menjadi pengikut-Nya.
Banyak yang salah dari diri saya ketika itu, bahkan sampai hari ini pun
setiap hari adalah hari baru untuk hidup lebih benar di dalam-Nya. Berjalan
menuju kebenaran sejati, Sang Jalan yang Terutama, yaitu Kristus sendiri…
Kesakitan-kesakitan (baca:luka-luka di hati saya) Dia sembuhkan dengan
kasih-Nya…
Walaupun belum total, tetapi saya sungguh merasakan kasih-Nya itu di
retret-retret yang Dia berikan kesempatan untuk saya ikuti…
Saya menjadi manusia yang baru di dalam Dia…
Banyak sikap hidup lama yang kurang baik, hidup saya yang melengkung sana -sini- yang bengkok,
perlahan dibenahi di dalam Dia…
Tentu saja proses ini belum selesai…
Tentu saja proses ini belum selesai…
Seumur hidup saya, seumur hidup kita, Dia akan terus menegur dan
membetulkan kesalahan langkah saya…
Juga akan terus menyembuhkan luka-luka batin saya, selama saya membuka
diri dan berkeinginan kuat untuk sembuh…
Karena setiap harinya mungkin terjadi luka-luka baru
yang tidak terhindarkan dalam hidup ini…
Sungguh saya butuh Engkau, Tuhan…
Puji syukur hanya kepada-Mu…
Tiada yang seperti Engkau, Tuhan…
Bagiku, Engkaulah Chiropractor
di atas seluruh ahli Chiropractor di
dunia…
Yang meluruskan jalanku…
Yang menyembuhkan sakitku…
Engkaulah sungguh Sang Penyembuh…
Kunjungan ke klinik Chiropractor itu membukakan mata saya sekali lagi akan
peranan Kristus di dalam hidupku…
Bersyukur sepanjang hidupku atas hadir-Mu di setiap langkahku…
Sekarang dan selamanya…
Sampai keabadian…
April 01, 2013
fon@sg
- inspirasi dari kunjungan di
Klinik Chiropractor. Thanks to You,
Jesus!
Subscribe to:
Posts (Atom)

