my writings especially dedicated for Jesus. For His goodness and never ending kindness in my life.
Monday, March 2, 2015
Iman Seorang Anak Kecil...
Seorang anak kecil menderita sakit yang parah.
Ibunya sangat sedih, ingin menggantikan posisinya.
Ayahnya sangat terpukul, namun berusaha keras memenuhi kebutuhan finansial yang sangat besar untuk biaya pengobatan Si Anak.
Kakak dan adiknya sedih dan kesepian, karena kehilangan seorang teman bermain.
Seorang anak kecil menderita sakit parah.
Yang sampai sekarang belum diketemukan obatnya...
Namun yang aneh tapi nyata, dia sungguh berharap dan beriman pada Yang Kuasa...
Imannya membuat orang-orang di sekitarnya terhibur...
Walaupun air mata tak henti turun dari yang mendengarnya...
" Tak apa, Ma... Yesus ada dan Dia selalu memegang tanganku... Dia takkan meninggalkanku sendirian..."
" Papa jangan kuatir ya, Pa... Yesus sudah sediakan segala sesuatunya bagi kita, Pa..."
Hati siapa yang takkan tersentuh?
Sekeras apa pun hati seseorang, bila dihadapkan pada kenyataan semacam ini, pastinya takkan ada yang bisa menghindari air mata yang jatuh....
Dia hanya seorang bocah lelaki berusia enam tahun.
Yang seharusnya menikmati masa-masa yang bahagia...
Yang semestinya sedang tertawa-tawa bermain dan bercanda bersama teman-temannya...
Bukan terbaring dengan selang infus yang panjang.
Dengan jarum suntik yang sudah jadi makanan sehari-harinya...
Juga obat-obatan yang begitu banyaknya...
Seorang anak kecil berpulang.
Untuk selamanya.
Meninggalkan jutaan kenangan bagi keluarga tercinta...
Meninggalkan keharuan dan kesedihan...
Juga KETEGARAN...
Keberanian untuk menghadapi keadaan...
Tak pernah tahu, hidup ini akan membawa kita ke arah mana...
Tak pernah pasti, apa yang akan kita jalani hari lepas hari...
Sedetik saja, segala sesuatu bisa berubah...
Namun bersama Yesus, kita hadapi semuanya dengan iman.
Dengan ketabahan...
Kita terkadang terlalu terpaku dengan 'happy ending' yang sering kita lihat di Drama Korea ataupun film-film Hollywood...
Namun, film kehidupan kita berbeda dengan film-film buatan manusia...
Karena film kita disutradarai oleh-Nya...
Semoga kita tetap memiliki iman seperti seorang anak kecil yang tak henti berharap kepada Yesus, meskipun menghadapi kesulitan.
Ya, semoga.
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" 18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka 18:3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. 18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. "
(Matius 18:1-5)
3 Maret 2015
fon@sg
*menari-narikan jemariku di atas keyboard laptop. All for His Glory. Lenten Season 2015.
*based on true story yang pernah kudengar terjadi di sekitar kita. Tuhan kuatkan anak-anak yang sakit keras, juga keluarganya dalam menghadapi keadaan yang sulit ini... Semoga mereka tetap merasakan kasih-Mu, juga menyadari bahwa Engkau takkan pernah meninggalkan mereka.
Monday, November 18, 2013
Jadikanlah Dirimu Teladan
Monday, April 1, 2013
A Visit to Chiropractor
Tentu saja proses ini belum selesai…
- inspirasi dari kunjungan di
Klinik Chiropractor. Thanks to You,
Jesus!
Wednesday, October 26, 2011
More Than Just a Feeling

God, today I feel so great!
Hari ini kumulai dengan senyum ceria. Cuaca pun seolah bersahabat. Matahari bersinar cerah. Angin berhembus perlahan. Tidak panas, juga tidak dingin. Pokoknya asyik betul hari ini!
Kulihat senyuman-Mu di setiap detik yang berjalan, setiap detak jantungku pun memuji dan memuliakan nama-Mu. Sungguh, aku bahagia! Engkau sungguh baik Tuhan.
Tak lama, angin berhembus makin kencang. Awan jadi gelap. Dan hujan turun seketika. Mula-mula gerimis, tambah lama tambah deras. Hujan lebat masih membuatku bersyukur. Engkau tidak berubah, selalu baik, Tuhan. Dalam segala musim di hidupku, dalam setiap cuacanya, Kau tetap baik adanya!
Hujan, halilintar, petir, geledek, sambar- menyambar. Banjir sudah mulai terjadi di beberapa titik. Aku mulai kuatir, Tuhan. Apa Kau sungguh baik? Kupeluk bantal gulingku dan kuucapkan doa seadanya. Kesenangan yang melanda seharian meluap begitu saja.
***
Keesokan harinya, aku tak bisa ke mana-mana. Segala aktivitas tertunda, karena hujan yang melanda semalaman. Kini sudah mulai mereda, tapi menjebakku hanya tinggal di rumah. Aku gelisah. Resah. Sedikit marah-marah.
“ Duh, Tuhan. Mengapa ini semua harus terjadi? Mengapa Engkau tega, Tuhan?”
*sisi lain hatiku sepintas berbisik: tak usah ‘overreacted’, sampai bilang Tuhan tega segala. Bukankah semuanya masih baik-baik saja???*
Seperti cuaca yang berganti semudah menjentikkan jari, begitu juga perasaanku. Senang yang kunikmati di pagi hari, bisa berubah menjadi kekuatiran campur kemarahan. Hanya dalam hitungan jam. Tak jarang, sukacita yang ada pada banyak peristiwa, berubah menjadi duka hanya dalam hitungan detik atau menit saja.
Begitulah perasaan kita- manusia- terhadap Tuhan. Ketika banyak kesenangan yang kita terima, kita mengucap syukur sebentar (atau malah lupa?), lalu pergi bersenang-senang dan tak jarang melupakan-Nya begitu saja. Kali lainnya, ketika masalah berat menimpa, barulah kita mencari-Nya.
God is more than just a feeling…
Kuakui di masa awal pengenalanku akan Dia, perasaan timbul dan tenggelam, ia bermain cukup kencang. Saat bahagia ataupun duka yang datang silih berganti, membuatku begitu mudah merasa senang atau kesal dengan diriku, tak jarang dengan-Nya juga begitu.
Tetapi makin lama kujalani kehidupanku bersama-Nya, kutemukan banyak pengertian baru. Bahwa apa pun yang terjadi dalam hidupku, Dia tetap baik. Tidak berubah sedetik pun. Versi baik dan tidak baik itu seringnya dari sisiku, bukan berarti buruk pula dalam rencana-Nya. Seringkali yang kukira baik, malah bukan yang terbaik bagiku. Dan kejadian yang kukira tidak baik, malah jadi pelajaran berharga yang diberikan-Nya padaku dan diubahkannya menjadi sesuatu yang penting bahkan gemilang bagi hidupku.
Dalam setiap babak hidupku, kupercaya: Tuhan sungguh baik adanya. Bahkan lebih dari itu, Dialah sahabat setiaku. Tak pernah Dia lepas tangan. Tak pernah Dia tinggalkanku. Dia lebih dari sekadar perasaan. Perasaanku pernah membawaku merasa Dia jauh atau dekat. Tetapi dalam iman, kutahu Dia tak pernah pergi dari hidupku. Selamanya Dia selalu sertaku.
God, You’re more than just a feeling for me…
Because You’re God. You’re so good and kind, Oh Lord.
I thank You for the first time You’ve entered my life. Made a difference. And You’ve been a very faithful God who always stick with me through the thick or thin of my life.
I want to tell you, Jesus… That I love You more and more each day.
Bukan hanya melalui hal-hal yang menggembirakan dan menyukakan yang sudah Kauanugerahkan bagiku…
Tetapi juga untuk hari-hari yang tidak mengenakkan, mengkhawatirkan, membawa kecemasan, karena kutahu Kau selalu ada bagiku. Dan bersama-Mu, kita sanggup lewati itu semua. Ya, hanya bersama-Mu! :)
Kutahu, kuharus kendalikan perasaanku. Karena apa jadinya jika ia berkuasa atasku? Dia jadi tuanku? Sehingga aku harus ikuti apa maunya selalu?
Let me say it one more time: God, I Love You. I thank You for Your love for me. The unconditional one that accepts me for who I am.
Biarlah hidupku memuliakan-Mu. Amin.
18 October 2011
From
Your daughter,
Fonny
Monday, October 17, 2011
Salah
Tidak ada orang yang suka dibilang salah. Tak jarang, banyak orang berusaha mencari-cari alasan untuk pembenaran diri jika dia bersalah. Seolah sah, tetapi salah tetaplah salah.
Tidak ada orang yang suka mengingat-ingat atau diingatkan tentang kesalahan yang telah dia perbuat. Walaupun mungkin dia mengakui dengan rendah hati akan kesalahannya, tetapi bila rasa bersalah itu datang lagi dan merongrongnya, tak jarang ia malah kehilangan sukacita itu sendiri.
Tidak ada orang yang luput dari kesalahan. Sebaik-baiknya seseorang, pastilah pernah melakukan suatu hal yang ‘salah’. Tetapi, kesalahan bukanlah akhir dunia. Banyak kali, kesalahan yang dianggap fatal oleh manusia, malah menjadi sebuah pintu menuju suatu kesempatan baru yang disediakan oleh-Nya.
Amatlah mudah menuding orang lain, “ Tuh, dia yang salah!” Dengan emosi yang membabi-buta, membuat kita sendiri lupa, kalau kita sendiri yang dituding, apa kita akan suka?
Mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sukar melihat kesalahan sendiri? Ingatlah akan peribahasa: Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak . Tidak selalu mudah, tetapi hendaknya kita berusaha melihat sisi baik dari setiap orang yang pastinya juga dimilikinya. Juga tak lupa melakukan introspeksi diri atas kesalahan yang sudah pernah kita perbuat.
Salah adalah manusiawi. Tetapi, bukanlah berarti boleh ‘melegalkan’ kesalahan itu sendiri. Salah, untuk kemudian belajar bangkit dari kesalahan dan mengampuni diri sendiri serta orang lain yang menyakiti, adalah hal yang baik yang memampukan kita berdiri tegar. Hari ini adalah rangkaian sekumpulan tindakan yang sudah kita ambil di masa lalu-yang benar maupun yang salah- dan mencari pembelajaran di dalamnya.
Bila rasa bersalah terlalu menderamu, bawalah itu semua kepada-Nya. Mohonkan ampunan Yang Kuasa bagi dirimu atas kesalahan yang telah kauperbuat. Tiada kesalahan yang terlalu besar atau fatal yang tak bisa diampuni-Nya. Jangan membebani diri terlalu berat atau jadi putus asa. Masih ada hari esok dan kesempatan untuk melakukan yang lebih baik dari hari ini.
Jika orang yang bersalah kepadamu begitu menyakitimu. Bukakan pintu maafmu kepadanya. Mungkin langkah pertama akan sangat sulit karena tak pernah mudah membuka luka lama, tetapi hadirkan kasih-Nya sehingga diri kita merasakan cinta-Nya sepenuh-penuhnya. Untuk kemudian mampu perlahan-lahan mengampuni orang yang begitu melukai hati kita.
Andaikata seseorang itu termasuk orang yang tak pernah mengaku salah. Merasa diri selalu benar.
Dan pada akhirnya, biarlah semua kesalahan yang pernah kita perbuat, kita bawa kepada-Nya. Mohon ampun kepada Tuhan, minta maaf kepada sesama yang pernah kita sakiti hatinya, juga mengampuni diri sendiri bila rasa bersalah begitu mendera. Salah bukanlah akhir segalanya. Salah, untuk kemudian berbalik ke jalan yang benar, akan membawa bahagia.
Akhir kata, maafkan saya kalau ada salah-salah kata:)
Salam!
-fonnyjodikin-
Wednesday, June 30, 2010
Mengapa Kau Gelisah, Jiwaku?

Ya, TUHAN, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku; hatiku terbolak-balik di dalam dadaku….[a]
Kupandangi wajahku di cermin yang terletak di meja rias di kamarku. Wajahku yang tampan itu, mulai ditumbuhi kumis dan jenggot yang tak beraturan. Tak biasanya. Tak seharusnya. Karena aku yang metroseksual dan superstar ini, tak mungkin mengecilkan arti penampilan seperti itu. Di balik cermin itu, kulihat lagi diriku. Postur tinggi 178cm, berat badan seimbang. Gagah. Tetapi, aku tak lepas dari masalah. Ayahku yang sudah tua itu, tengah sakit kanker stadium tinggi. Tak ada lagi harapan baginya untuk sembuh. Karirku sendiri? Cukup baik, walaupun kuakui persaingan semakin ketat. Aku memiliki banyak rencana: konser, sinetron, film. Ya, terutama konser di Jepang di mana sebagian besar fansku di luar
Jangan dikira kehidupan selebriti yang seolah indah itu tak pernah menawarkan duka. Justru, paket duka itu terlalu sering kuterima. Tak seindah film yang kumainkan, tak seindah musik yang kuperdengarkan. Tak jarang, aku merasa sepi, sendiri, tak punya lagi privasi. Aku ketakutan. Dengan hebat ia menggoncangkan hatiku. Gelisah jiwaku. Resah luar biasa. Seolah hatiku terbolak-balik di dalam dadaku. Tidur? Ia pun sudah lama tak berkawan denganku. Ia seolah jadi barang berharga yang mahal, karena untuk tidur pun aku harus minum obat-obatan penenang.
Terlalu pelik semuanya kutanggung sendiri. Sendiri? Iya, betul-betul sendiri, tanpa pernah percaya orang lain untuk berbagi. Tak jarang, aku ingin mati. Dengan mati, kupikir akan menyelesaikan banyak masalah. Yang pasti, aku tak harus menderita di dunia ini. Jangan bicara padaku soal Tuhan. Aku sendiri tak yakin Ia ada.
Maafkan aku, Ayah! Aku harus pergi. Tak sanggup lagi kujalani hidup ini, kalau isinya semuanya simfoni duka tak berkesudahan. Kubasuh kakinya sekali lagi, sambil terus mengucap maaf. Semoga sungguh ia bisa maafkan aku. Kupandangi kabel charger yang tergeletak tak jauh dari meja riasku itu. Entah mengapa, hari ini dia begitu bersemangat memanggil-manggil aku dan memberikanku ide baru. Menjadikannya alat untuk mengakhiri hidupku….
Selamat tinggal, dunia. Cukup sudah kualami semua kepedihan ini. Aku adalah pengendali tunggal hidupku. Aku yang menentukan kapan aku mati dan dengan cara apa. Kalaupun harus seperti ini, aku puas. Setidaknya, inilah kematian yang sesuai dengan waktuku. Jangan lagi ceramahi aku soal Tuhan, keluarga, atau kemungkinan hidup bahagia. Aku sudah terlalu muak dengan kesemuanya itu. Selamat tinggal dunia. Selamat tinggal gelisah, ketakutan, dan kecemasan. Hatiku, tenanglah kamu, karena ini semua akan berakhir.
Kuambil kabel charger itu, kugantung diriku. Selesai sudah… Selamat tinggal masalah!
***
Kurasakan rohku meninggalkan tubuhku. Jauh, melayang tinggi. Sementara di sampingku, dua malaikat pencabut maut terkekeh kegelian seolah puas aku telah mengikuti kemauan mereka, menghantarkanku menuju gerbang yang nampak indah berkilau. Inikah surga? Mengapa luarnya begitu indah? Ah, enak juga ternyata….Mati itu menyenangkan…! Satu sesal terberat adalah aku meninggalkan ayahku yang sakit keras. Aku yang muda ini memutuskan untuk pergi lebih dulu sebelum dia yang tua dan sakit-sakitan meninggal dunia. Sepanjang perjalanan, kulihat awan berarak, langit biru. Sementara di beberapa bagian, awan mulai menggumpal dan berwarna kelabu tua, membuatku ingin berenang di antaranya: menyambut hujan yang akan tiba. Kilatan petir menyambar di beberapa tempat, hujan deras,
Saat duduk di salah satu awan itulah, kudengar suara yang amat jelas. Memancar penuh sinar kemuliaan.
“ Mengapa kauakhiri hidupmu? Mengapa tidak menunggu waktu-Ku?”
“ Ah, apa pula urusanmu? Bukankah aku bebas berkehendak dan melakukan apa yang kumau?” Jawabku tak peduli.
“ Aku tahu kegelisahan hatimu, mengapa kau tidak mencari-Ku? Malahan kaupergi dari penyelenggaraan-Ku? Kau mungkin tertekan, kau memang gelisah. Tetapi, bukankah Kau juga bisa berharap kepada-Ku? Seperti Pemazmur yang serahkan seluruh takut dan gelisahnya kepada-Ku? Mengapa tidak kaulakukan itu?”
Tiba-tiba suara lain bergema. Suara malakaitkah itu? Yang pasti, kembali kulihat dua orang yang kali ini berbaju ‘broken white’, bersayap, dan memiliki lingkaran di atas kepalanya. Mereka terus mendaraskan kata-kata ini:
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku![b]
Terus dan terus, tak putus-putusnya mereka ucapkan itu.
Entah perkataan dari mana itu? Aku tak tahu, mungkin itu yang Dia katakan sebagai Pemazmur yang serahkan ketakutan dan gelisahnya? Aku masih tak mengerti…
Tiba-tiba saja kembali sepasang malaikat lain yang berwajah sangar serta berpakaian serba hitam mengangkutku secara paksa. Kucoba membebaskan diri, tetapi seolah sia-sia. Mereka membawaku ke pintu gerbang indah itu-yang nampaknya rupawan dan menggoda, tetapi aku tak tahu pasti ada apa di balik
Wednesday, May 12, 2010
Maling Itu (Juga) Manusia
+itu+Juga+Manusia.gif)
Maling Itu (Juga) Manusia
Halo, teman-teman semua, Citylighters sekalian!
Senang rasanya berjumpa lagi setelah sekian tahun tidak mengisi kolom di majalah Shalom Betawi ini. Mungkin bagi yang ingat, saya pernah mengisi kolom Citylighters di Shalbe ini dari tahun 2004-2007. Waktu itu saya masih berada di
Bagi yang belum ingat dan belum kenal, perkenalkan nama saya: Fonny Jodikin biasa dipanggil Fonny atau Fon. Profesi saya ibu rumah tangga yang gemar menulis:).
‘Nice to meet you all!’
Dari sinilah saya akan menuliskan setiap bulannya, pengalaman apa saja yang saya lihat-pikirkan-rasakan plus imajinasi dan inspirasi yang mengalir. Saya mau cerita sedikit, boleh ya? :)
Sekitar sebulan yang lalu, ketika naik taksi di HCMC di malam hari. Saat saya melewati ‘Saigon Square 2’ di Jalan Ton Duc Thang yang baru saja dibuka untuk umum sekitar tiga bulan lalu (saya di sini sudah 4 bulan). Saya melihat dua orang pemuda yang lari ke jalan raya hampir mendekati taksi kami dan melintasi mobil lainnya. Yang satu tertangkap di pinggir jalan, yang satu lagi dikejar oleh sekitar belasan petugas keamanan ‘
Di Indonesia, kejadian menangkap maling dan mengadili mereka semacam ini juga merupakan hal yang biasa. Gara-gara maling ayam, seorang maling bisa ‘digebukin’ sampai hampir mati. Gara-gara uang sepuluh ribu, seorang copet bisa dihabisi tanpa peduli. Dalam menghakimi orang-orang semacam ini, kasih rasanya jauh sekali dari dalam hati. Adakah pengalaman kita pernah ikut-ikutan memukuli maling atau copet seperti itu? Mungkin tidak, mungkin juga iya. Namun, di balik perlakuan mereka yang jahat: mengambil milik orang lain, tentunya ada alasan di balik tindakan itu. Mungkin memang keluarga mereka sangat miskin dan butuh pertolongan, tetapi tak ada cara lain yang terpikirkan karena Sang Suami baru di-PHK. Mungkin mereka tak punya pendidikan, jadi tak bisa dapat pekerjaan baik dan hanya bisa kerja kasar yang menghasilkan uang sedikit saja. Mungkin dan mungkin… Begitu banyak kemungkinan yang terlintas di kepala saya. Dan ironisnya, seperti banyak yang dilansir media, orang yang melakukan kejahatan lebih dengan menggelapkan uang negara atau korupsi misalnya, malah hidup tenang. Sementara yang melakukan kejahatan kecil saja, habis babak belur kena main hakim sendiri-nya masyarakat sekitar yang melihatnya.
Saya termenung. Hidup memanglah amat ironis. Lagi-lagi, saya hanya bisa memohon rahmat-Nya. Betul-betul memohon kasih-Nya agar meliputi hati saya, meliputi hati kita, sehingga kita tak begitu mudah langsung menghukum orang yang bersalah. Bagaimana kalau kita berada di posisinya? Bagaimana kalau yang tidak punya uang, lapar, menderita, dan tak tahu harus berbuat apa adalah diri kita dan keluarga kita? Memang mereka bersalah dan banyak kali pencuri itu menjadi kebiasaan yang akut. Sekali tertangkap tidak kapok, malahan mengulanginya lagi. Lagi dan lagi. Terus dan terus. Tanpa henti. Tetapi, biarlah kita diingatkan untuk tetap mengasihi sesama dan tidak main hakim sendiri.
Alkitab mengatakan:
Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
--- Lukas 10:27
Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Di luar pentingnya mengasihi Allah dengan segenap hati-jiwa-kekuatan dan akal budi kita, penting bagi kita untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Adakah kaudengar ketukan kasih-Nya untuk kaubagikan kepada sesamamu hari ini? Mari berbagi dan kurangi menghakimi.
Maling (baca: penjahat) itu juga manusia, jangan perlakukan dia dengan perlakuan yang tidak manusiawi. Bila mungkin tingkatan kejahatannya sudah amat parah, saya yakin tetap akan ada sistem yang berlaku untuk mengadili mereka.
‘And last but not least’: bukankah penghakiman itu milik Tuhan? Mari merenungkan ini semua dan mencari pembelajaran di dalamnya. Terima kasih sudah membaca dengan setia sampai akhir tulisan ini. Sampai jumpa bulan depan:)
HCMC, 25 Maret 2010
-fon-
* dimuat di majalah Shalom Betawi edisi April-Mei (aku belum lihat majalahnya, so not so sure). Citylighters adalah sebutan bagi Anak Muda Jakarta di majalah tersebut, istilah ini dibuat dengan menarik oleh Sdr. Riko Ariefano ketika beliau menjabat sebagai ketua di organisasi BPK KAJ Seksi Kepemudaan, sedangkan saya waktu itu di Literature Ministry, pelayanan penulisan bagi anak muda.
Sumber gambar:
http://www.liferollercoaster.com/wp-content/uploads/robber.gif
Thursday, April 29, 2010
How Can I Put My Trust in YOU?

Anak-anak kecil, tak bersalah, tak berdosa…
Jadi korban perang, perkosaan dan pelecehan…
Yang tukang bikin masalah terkadang malah orang dekat, orang kepercayaan, tetangga, teman, sampai orang yang dianggap rohani.
Hal yang lebih ganas dilakukan, bahkan lebih dari binatang buas yang tak makan anak sendiri. Membuatku merinding tiap kali membaca hal-hal seperti ini. Seolah manusia yang tampaknya dan seharusnya takwa malah seolah tak punya nurani.
Kalau lihat yang seperti ini, pernah pertanyaan ini timbul juga: bagaimana aku bisa beriman pada-Mu, Tuhan?
Kemunafikan meraja lela. Setiap orang seolah perlu topeng untuk amankan mukanya. Dari murka dunia, dari rasa bersalah, cukup kenakan topeng, selesailah sudah. Ironisnya yang munafik malah jaya dan kaya raya. Sementara yang kerja keras, jujur, dan baik hati malah ada yang miskin tiada
Melihat kenyataan pahit begini, sekali waktu pernah kutanya pada-Mu, Tuhan.
‘ How can I put my trust in You?’
Lilitan kawat duri ketakutan melingkari setiap hati yang ragu untuk melangkah. Entah karena kekuatiran akan hari esok, entah karena bayang masa silam yang tak jua lepas dari ingatan. Bayang kesedihan tak berujung. Melihat kenyataan yang ada, kondisi keuangan yang tak menunjang sementara harga melaju tinggi tanpa kendali, kembali tanya ini penuhi banyak hati:
‘How can I put my trust in You, Lord?’
Bencana alam bertubi-tubi. Gempa, angin ribut, longsor, badai, sampai banjir.
Nyawa hilang seolah begitu mudah, seolah kucing yang punya sembilan nyawa. Hanya ini tak ada gantinya, karena mereka manusia. Dalam hati miris tak terkira, kutanya:
“ Bagaimana aku bisa terus percaya pada-Mu, Tuhan?”
Seorang anak korban pelecehan Bapak tirinya, tak pernah tahu apa arti seorang Bapa. Dia hanya tahu, ayah tirinya itu bukanlah orang baik. Mungkin tampaknya baik, tapi ternyata tak cukup baik. Dia yang sudah ternoda, hanya bertanya:
“ Jika yang tampak di depan mata sudah macam ini, apa Engkau yang tak kasat mata bisa peduli?”
Jika dipikirkan, iman itu lebih dari sekadar pikiran.
Jika hanya mengandalkan apa yang terlihat, percaya itu lebih dari sekadar ucapan di bibir atau apa yang terlihat dengan mata saja.
“ Iman mampu memindahkan gunung. Orang-orang yang berjalan di dalam iman, takkan berhenti berharap. Takkan berhenti percaya, walaupun kenyataan begitu pahit. Begitu memilukan. Orang-orang yang takwa akan terus mencari hadirat-Nya, takkan berhenti, walau seluruh hidupnya diliputi luka dan kesakitan. Karena percaya, sumber penyembuh sejati hanya ada pada diri-Nya. Bukan yang lain.”
Dunia boleh bilang, “ Tuhan tidak adil.”
Dunia boleh kecam, “ Rasanya sukar mengandalkan Tuhan di masa sulit seperti ini.”
Dunia boleh tertawa dan mempertanyakan, “ Tuhan? Adakah Dia?”
Dunia boleh lakukan apa saja…
Namun, kita tak boleh menyerah.
“ How can I put trust in You?”
‘ Of Course, you can!’
Percaya datangnya dari hal sederhana. Iman datang dari kecintaan akan Dia. ‘Trust comes from simple things but yet is able to bring your faith to another level. Nearer to Him.’
Percaya bukan berarti tak pernah kecewa akan kenyataan yang ada. Namun, percaya berarti tetap mau memilih dekat dengan-Nya dalam kondisi sesulit apa pun. Dalam setiap duka yang seolah tak terselesaikan. Mengandalkan Tuhan seolah jadi omong kosong bagi beberapa orang, namun tidak bagi Tuhan itu sendiri. Justru dalam setiap masalah yang tak terselesaikan, pertanyaannya:
“ Sudahkah kauundang Dia dalam hidup-Mu? Untuk memimpinmu sekali lagi dalam hidup ini?”
Dunia mungkin akan tambah kacau… Tetapi, kita tidak boleh kacau. Di tengah orang yang mengaku rohani yang masih melakukan kejahatan, di tengah kondisi orang yang seharusnya dipercayai malah menorehkan kepercayaan itu dengan pelecehan dan bangkitkan dendam…Di tengah itu semua….Hanya bisa mohonkan kasih Tuhan, rahmat Tuhan untuk bisa menerima segala sesuatunya dan percaya: ‘everything happens for a reason.’
Bo Sanchez dilecehkan oleh pembimbing rohaninya. Dia bangkit di dalam Tuhan dan memulai hidup yang baru, yang amat luar biasa dan menjadikannya seperti hari ini. Penulis, ‘business man’, pewarta, dan ‘trainer’ luar biasa.
Alison Botha diperkosa dan hampir mati, selamat, dan menjadi motivator ulung ke seluruh dunia agar mengajarkan semua orang untuk menghargai kehidupan sendiri.
Nick Vujicic lahir tanpa kaki, sekarang motivator ulung di dunia, sukses dan tak jarang bikin malu hati orang-orang yang fisiknya sempurna…
Apa yang kita pikir kemalangan, belum berarti kemalangan. Sejarah juga membuktikan, mereka yang mengandalkan Tuhan, percaya dan terus berjalan di dalam Dia, takkan ditinggalkan-Nya. Malah segala hal yang berbau kemalangan, Dia ubahkan jadi sukacita terbesar.
‘How can I put trust in You?’
‘You can do it by praying more, ask for His love, and just stay faithful even you haven’t seen anything. Because He has seen the whole picture of your life.’
‘Stay faithful:)’
'God, I want to put my TRUST in YOU. Amen.'
HCMC,
-fon-
* smoga kita tersadarkan untuk meningkatkan iman dan perbuatan kita. Karena iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Iman kita semoga menjadikan kita orang-orang yang semakin tabah di dalam menjalani hidup. Di dalam kasih-Nya. Amin.
Sumber gambar:
http://farm3.static.flickr.com/2347/2280222251_f2e7e2e8a4.jpg
Friday, February 5, 2010
Misa Natal Pertama di HCMC

Misa Natal Pertama di HCMC
25 Desember 2009, pukul 09.10 pagi…
Informasi dari seorang pemain organ yang kuterima
Tiba sedikit terlambat karena di saat terakhir, anak kami merengek ikut, suasana gereja lebih meriah daripada biasa karena di bagian luarnya saja sudah ada beberapa orang memakai kostum ‘Santa Claus’. Deretan itu bertambah dengan anak-anak kecil dan juga beberapa orang remaja yang juga memakai baju merah dari bahan beludru dan rumbai-rumbai putih, semakin menyemarakkan suasana
Sesampainya di dalam gereja, ruangan sudah penuh sesak. Termasuk di bagian belakang, sudah banyak orang yang berdiri. Aku juga termasuk di dalamnya. Jadilah kami berdiri di belakang selama misa berlangsung. Kupandangi sekelilingku, ada pemandangan yang tidak biasa. Karena di sekitarku penuh dengan mereka yang duduk di kursi roda. Mereka yang tampaknya ‘cacat’ secara fisik. Dan ketika lektor dan lektris membacakan bacaan pertama dan kedua, bertambah jelaslah di mataku bahwa ini misa untuk orang yang kurang lengkap anggota fisiknya. Dua lektris dan lektor itu tadi, keduanya buta. Rasa terharu, kasihan, bangga, campur aduk jadi satu dalam hatiku saat itu. Dan di hari kelahiran Kristus, aku menyaksikan kebesaran-Nya bahwa mereka yang membacakan bacaan hari itu, tak mampu melihat, tapi membacakan dari dalam hati mereka yang terdalam. Suara mereka membuatku tersentuh. Dan aku disadarkan sekali lagi akan kebesaran Tuhan. Akan tujuan Kristus hadir ke dunia ini. Sekaligus menyadari betapa beruntungnya setiap manusia yang memiliki kelengkapan panca indera. Walaupun sering kali kita yang lengkap secara fisik ini mengeluh, namun ternyata apa yang kita miliki, apa yang kita alami, sebetulnya sungguh luar biasa. Sikap yang penuh syukur terhadap kelengkapan panca indera terbawa dalam diriku terus dan terus. Sekaligus mengagumi mereka yang mungkin buta secara fisik, namun tidak ‘buta’ hatinya. Sering kali malah kenyataan menghadapkan kita pada mereka yang memiliki mata yang bisa melihat dengan sempurna, bahkan tanpa kaca mata, namun hatinya ‘buta’. Sungguh ironis memang, namun itulah hidup…
Tuhan hadir bukan hanya bagi mereka yang kaya, bukan pula melulu bagi mereka yang sukses, mereka yang bahagia dan selalu berkecukupan. Tetapi hadirnya Yesus ke dunia ini adalah untuk mereka yang berkekurangan. Mereka yang menjerit kesakitan. Mereka yang kelaparan. Mereka yang tak lengkap fisiknya. Mereka yang luka di batinnya. Mereka yang kesepian, mereka yang selalu resah dan tak pernah menemukan kedamaian walaupun di saat mereka menutup matanya ketika tidur. Bagi mereka yang insomnia, tidur pun bukan suatu kenikmatan. Bahkan tidur adalah suatu siksaan karena tak bisa menutup mata sementara pikiran terus berjalan.
Kristus lahir, Kristus hadir, untuk mengisi setiap rongga kehampaan dalam hati kita. Dalam hidup kita. Untuk itulah Dia datang. Salah satunya untuk mereka yang tidak lengkap fisiknya, bagi mereka yang cacat secara lahir. Ataupun cacat secara batin, misalnya kondisi mental yang tak berkembang baik, sementara umur pun terus melaju. Kristus datang dengan cinta. Dan cinta-Nya adalah obat terbaik bagi mereka yang sakit. Sakit fisik ataupun sakit hati. Dengan cinta-Nya kita dihadapkan pada kemungkinan untuk sembuh, berproses, bahkan tidak tertutup kemungkinan untuk tumbuh sehat secara sempurna dalam lingkup kasih-Nya. Dengan memperbaharui dan menerima kasih-Nya senantiasa, kita amat mungkin untuk sembuh!
Hidup tak pernah sempurna. Selalu ada kekurangan di
Kutinggalkan gereja penuh rasa syukur. Sekaligus juga mendoakan mereka yang kurang beruntung. Bagi mereka yang cacat, bagi mereka yang kesepian, bagi mereka yang mungkin di hari
Selamat ulang tahun, Yesus! Ulang tahun-Mu kali ini menjadi pelajaran berharga bagiku karena aku diizinkan melihat dari sisi lain, di negara lain, bahwa karya-Mu tak pernah berhenti. Selalu dibutuhkan di dunia ini. Tanpa Engkau, apa jadinya dunia ini? Dalam Natal ini, kulihat kembali rahmat-Mu, kasih-Mu, dan penyelenggaraan-Mu yang tanpa henti atas hidup kami.
Pelan, kubisikkan di telinga-Mu, “ Happy birthday, Jesus! Thank you and I Love You!”
HCMC, 3 Januari 2010
-fon-
* telah dimuat di Majalah Kuasa Doa (KD) Vol. 4, No. 12, Februari 2010 dengan judul Happy Birthday, Jesus! Posting-nya menunggu dimuatnya di Majalah KD dulu, maka agak terlambat.
sumber gambar:
