Tuesday, December 15, 2009

Luka Kita Bersama


Sebagai orang yang baru dibaptis secara Katolik di tahun 2000 (ketika saya sudah dewasa), awalnya saya berharap banyak pada mereka yang sudah mengenal Tuhan Yesus. Maksud saya, mereka yang sudah berada pada tahap pewarta atau aktivis gereja, harusnya sudah memiliki sikap yang setidaknya mengarah kepada Yesus sendiri. Tentu saja, sikap Yesus yang sempurna itu sulit ditiru 100%. Mengingat kita hanya manusia biasa, penuh kelemahan. Namun saya pikir, setidaknya orang-orang yang sudah mengenal Yesus seharusnya sudah menampakkan sedikit banyak kehidupan yang berbelas kasih dan penuh cinta dari Yesus karena mereka sudah dipenuhi cinta kasih-Nya.

Mungkin saya yang kelewat idealis atau mungkin saya yang terlalu lugu di awal-awal euphoria saya akan kasih Yesus dulu? Entahlah, saya tidak tahu pasti. Namun pada kenyataannya, saya harus menelan pil pahit. Ketika awal dibaptis, saya memiliki kesempatan untuk ikut beberapa pelayanan. Di situ saya mulai melihat banyak orang yang sudah saya anggap baik atau tinggi level rohaninya, malahan mencerminkan keadaan yang berseberangan. Karena salah sedikit, langsung marah. Karena tak sesuai dengan keinginannya langsung mengumbar emosi. Ada dua kejadian yang cukup membekas di awal saya baptis. Yang pertama, di satu PD yang cukup terkemuka di Jakarta dan bukan PD yang reguler saya kunjungi. Di satu saat, ketika saya tengah kursus keyboard dengan guru saya yang sudah almarhum dan superjago dalam hal ini, PD itu tengah membutuhkan beberapa singer dadakan. Karena saya sendiri seorang singer dan ada di antara mereka, langsung didaulat untuk ‘manggung’ tanpa latihan. Karena ‘singer’ mereka kebanyakan sakit atau ikut seminar. Akhirnya saya menerima dengan tidak ada maksud apa pun kecuali membantu. Dan ternyata, di milis mereka saya ‘disidang’. Hal ini saya ketahui belakangan, karena saya membaca keseluruhan percakapan mereka yang di-‘forward’ oleh seseorang yang membawa saya ke PD tersebut. Ada seorang yang senior, yang kurang senang karena ada anak baru tak dikenal, nongol dan maju di depan podium sebagai singer. Dia mendapatkan banyak pertanyaan dari mereka yang setia datang ke PD, tapi disuruh menunggu untuk menjadi singer. Dan melihat wajah saya yang asing, sontak timbul pertanyaan dari para ‘aspiring singer’, yang sudah kepengin jadi ‘singer’ sudah lama. Dan disuruh menunggu selama dua tahun. Sementara ada anak kemaren sore tak dikenal, langsung nyanyi di depan pake ‘mic’ pula. Habislah saya. Sejujurnya saya bingung dan gelagapan. Tujuan ingin bantu, koq malah jadi runyam. Namun, peristiwa ini berakhir baik, ketika saya memutuskan untuk tidak aktif di PD tersebut dan belajar bahwa lain kali bila ingin bantu harus hati-hati. Karena tidak setiap kebiasaan PD itu sama. Jadi, kalau bukan ‘rumah’ saya, biar bagaimana pun saya harus hati-hati. Jujurnya, saya terluka. Tetapi saya menerima. Akhirnya dengan Si Senior di PD itu pun saya berdamai. Tidak ada masalah sampai sekarang. Tapi, kalau disuruh untuk jadi singer dadakan di sana, maaf, saya sudah tidak mau lagi…:) Lagian saya juga hampir tak pernah datang ke sana…

Kejadian kedua malah lebih parah di hati saya, begini ceritanya…

Sesama teman di kursus alkitab yang jelas-jelas disiapkan untuk jadi pewarta (bahkan dia sudah jadi pewarta di lingkungan), hanyalah orang yang senang mengadu domba dan menyebar gosip di antara kami. Dan menjadikan saya sebagai kambing hitam saat itu. Sehingga satu kelas atau setidaknya setengah kelas memusuhi saya dan menganggap saya orang aneh. Hmmm, mungkin juga saya orang aneh, saya tak menampik hal itu:) Hal itu hampir membuat kursus yang tiga tahun itu terhenti di tengah jalan, hanya karena saya tidak kuat menjalaninya. Tetapi untungnya, Tuhan memberi rahmat pada saya untuk menyelesaikan kursus tersebut. Akhirnya saya lulus dan diwisuda! Sebetulnya, saya amat suka pelajarannya dan dosen pengajarnya, namun sedikit banyak hal tersebut mempengaruhi saya. Jujur, tidak mudah dipandang aneh oleh setengah kelas lebih dan dianggap biang kerok kejadian-kejadian di kelas.

Tapi, pada akhirnya, setelah kami lulus, malah kami berkesempatan untuk saling curhat dengan beberapa teman saya di kursus tersebut. Yang pada akhirnya mencapai kesepakatan. Bahwa Tuan XYZ yang terhormat dan berprofesi mulia, yang ikut aktif di puluhan organisasi, hanyalah seseorang yang mengganggu ketenangan kelas kami. Pada akhirnya kenyataan pula yang bicara. Dia mengadu domba banyak dari kami. Aneh, semua orang di awal percaya padanya. Dan pada akhir kursus kami, banyak orang terbuka matanya dan sadar bahwa dialah justru akar permasalahan di kelas kami. Jujurnya, hal ini menyedihkan dan menyakitkan. Saya juga tak bisa bilang bahwa saya sempurna. Oh, saya masih jauh dari itu! Tapi setidaknya, saya berusaha menahan diri untuk tidak menyebarkan isu mengenai seseorang apalagi bila itu tidak benar. Entahlah, yang jelas saya pernah amat kecewa!

Kecewa pada awam adalah hal yang biasa. Karena sesudahnya saya pernah juga kecewa dengan mereka yang aktif di organisasi gereja. Kesal, marah, tetapi kemudian menerima. Tokh mereka manusia, sama seperti saya. Dan mungkin juga, ada orang lain yang pernah kecewa dengan saya. Koq orang yang biasanya menuliskan kebaikan Tuhan, hanya segitu saja? Koq hidupnya tak mencirikan Tuhan Yesus itu sendiri? Wajar pula, karena saya terus berusaha walaupun terkadang kegagalan juga menyapa. Jadi, mungkin hal yang sama terjadi pada orang tersebut, bahwa dia pun tengah berusaha, tetapi belum mampu terlaksana…

Untungnya, sepanjang perjalanan dari tahun 2000 sampai hari ini, saya menemukan banyak awam yang merupakan sumber cinta. Mereka betul-betul memperlihatkan apa yang mereka anut bukan omong kosong. Mencerminkan kasih Yesus sendiri.Mereka penuh cinta, ringan tangan membantu yang menderita, dan penuh kasih. Mereka bisa jadi ‘ngocol’ dan ‘funky’ tapi mereka punya hati yang luar biasa untuk mengembangkan pelayanan di dunia anak muda misalnya. Untungnya, Tuhan mempertemukan saya dengan mereka. Jadi, kekecewaan tertutupi dengan suka cita. Dan berjanji pada diri, mau jadi seperti mereka yang baik bukan mereka yang ‘hancur’.

Namun, akhir-akhir ini hati saya dilanda kesedihan ekstra. Keprihatinan saya memuncak, ketika hal-hal yang sama sekali jauh dari kasih dilakukan oleh para Romo, para Pastor, yang notabene (seharusnya) wakil Tuhan atau wakil Yesus di dunia ini. Setidaknya berita berikut ini bisa mencerminkan kegalauan sekaligus keprihatinan saya:

Hundreds of Catholic priests across Ireland are expected to be implicated in alleged child abuse when the results of a nine-year investigation are published this week.

The Commission to Inquire into Child Abuse has investigated claims of abuse in state schools and orphanages since the 1940s, and will publish its report tomorrow.

A second report on how the Catholic church handled sex abuse complaints is due in July, and is expected to criticise the handling of child-abuse complaints involving up to 500 priests in Dublin between 1975 and 2004.

Thousands of children sent to institutions suffered abuse by members of religious orders.

Most of the children were born to unmarried mothers, or came from large families whose parents couldn’t afford to keep them.

The commission was set up in 2000 when a documentary for Irish television revealed that sexual, physical and emotional abuse was endemic within many Catholic institutions.

It has since heard evidence from over 1,000 former residents of state institutions.

Mary Raftery, producer of the original documentary, said the abuse she helped to uncover was “way off the scale and designed to break children”.

“There was widespread sexual abuse, particularly in the boys’ institutions,” Raftery said.

“Extremely vicious and sadistic physical abuse, and horrific emotional abuse

“We had people talk to us about hearing screams – the screams of children in the night coming from these buildings and really not knowing what to do.” (Irish priest child abuse report will be ’shocking’by David Masters , source: http://www.interfaith.org/2009/05/19/irish-priest-child-abuse-report-will-be-shocking/)

Berita ini sebetulnya bukan berita baru bagi saya, karena ketika saya di Singapura beberapa bulan yang lalu, harian The Straits Times sudah memuat pemberitaan penuh luka ini. Luka bagi saya, karena yang melakukan adalah mereka yang dihormati, yang diberi kepercayaan untuk menjaga dan mendidik anak-anak. Luka, karena mereka yang melakukan adalah wakil Tuhan alias pastor. Yang seharusnya lebih mencirikan Kristus sendiri. Ini malahan bukan saja mengkhianati kepercayaan itu, melainkan memberikan bekas tak terlupakan pada orang-orang yang dilecehkan seumur hidupnya. Apa alasannya mereka melakukan hal tersebut dan lebih parahnya kemudian mereka menutupinya?

Sebelumnya saya ingin membuka juga kisah di mana orang yang dianggap sebagai panutan, orang yang seharusnya memiliki tingkat relijiusitas yang tinggi, ternyata bahkan lebih parah dari mereka yang tak pernah ke gereja, tak pernah sembahyang, tak pernah ke vihara atau mesjid. Ada suhu Ren Ci, organisasi agama Buddha yang menggelapkan uang donasi untuk ‘charity’ di Singapura. Biksu yang hidup enak dengan kartu kredit yang banyak, limit yang amat besar, bahkan memberikan asistennya kartu tambahan buat belanja. Ada pendeta yang mengasari dan ‘abusive’ terhadap anak istrinya. Di gereja menyebarkan firman Tuhan dan terlihat hebat, sementara di rumah, tak lebih dari tukang pukul alias algojo bagi keluarga. Jauh dari kasih Tuhan. Teringat pula Phillip Garrido, seseorang yang menculik dan memperkosa Jaycee Lee Dugard selama puluhan tahun dan menempatkannya di belakang rumahnya, adalah seorang fundamentalis yang berpikir untuk mendirikan gerejanya sendiri. They (his neighbors) described him as a religious fundamentalist who often preached from his front yard and wanted to set up his own church. Garrido boasts of his ability to ‘speak in the tongue of angels’ on a blog called voices revealed.( The Straits Times).

Deretan itu bertambah dengan kyai yang sering menggunakan kesempatan untuk melecehkan anak-anak, di saat seharusnya dia mengajar mengaji. Maksud saya, di seluruh agama, ada saja orang-orang yang tidak sesuai dengan apa yang dia wartakan. Namun, karena yang saya anut adalah Katolik, maka pembahasan akan lebih berkisar di Katolik saja.

Setiap ada seorang pemuka agama yang melakukan tindakan tidak terpuji, hati saya sakit. Sakit, karena seharusnya standar untuk mengukur mereka pastinya di atas standar orang yang tidak kenal Tuhan, orang yang ke gereja hanya seminggu sekali, atau mereka yang tak pernah ke gereja sama sekali. Logika saya yang menyatakan bahwa seharusnya mereka berbuat lebih baik daripada orang pada umumnya, ternyata tak lagi menjelma nyata. Saya harus gigit jari, kecewa, berdoa kepada Tuhan dan kemudian menerima kenyataan yang pahit itu.

‘The Irish Abuse’ menjadi lembaran hitam gereja yang tak terhindarkan. Sama seperti pelecehan seksual di Amerika Serikat yang dilakukan para ‘clergy’, para tokoh berjubah dan Romo. Saya amat terluka, karena korbannya anak kecil tak berdosa yang kebanyakan tak mengenal figur Bapa. Karena mamanya single parent, kurang biaya, makanya menaruh mereka di biara. Tapi, lihat, apa yang terjadi? Pelecehan dan kekerasan mental yang dilakukan jauh lebih buruk daripada mereka yang tidak kenal Tuhan. Dalam pikiran saya, dengan pelecehan macam ini dari figur ‘Bapa’ di dunia, apa mungkin bagi mereka mengenal figur Bapa Surgawi yang sempurna itu?

Saya kecewa. Itu jelas. Saya marah dan kesal. Itu juga iya. Tapi saya tidak memaki. Saya hanya menangis bersama para korban, saya berduka, saya sedih. Karena saya percaya Yesus datang bukan untuk melukai, melainkan menyembuhkan dan membalut luka. Saya masih percaya ada banyak ribuan Romo dan biarawan yang baik, yang tulus, yang jujur. Yang sungguh kerja buat Tuhan tanpa pamrih. Saya pernah menemukannya dan saya berharap untuk menemukan Romo-Romo semacam ini di kemudian hari. Salah satu Romo yang masih amat membekas di hati saya adalah Romo Rolf Reichenbach, SS.CC. Dengan ketulusan dan kebaikannya, saya yakin ribuan umat masih tetap mengenangnya dengan indah. Jarang ada keluhan soal beliau, karena hidupnya yang sederhana, doanya yang tak kunjung putus, ingatannya yang tajam akan pertemuan dengan seseorang, dan karunia bahwa dia mengerti kondisi hati seseorang dan mampu membayangkan kejadian saat yang bersangkutan mengaku dosa. Banyak keajaiban lainnya, oleh banyak orang dia disebut sebagai setengah Santo. Atau Beato. Termasuk saya menyebutnya demikian. Dia memang sudah meninggalkan kita semua, sudah bahagia di surga, tapi kasih dan pelayanan serta kesederhanaannya tetap tinggal dalam memori kami yang pernah tersentuh olehnya.

Gereja Katolik tidaklah sempurna. Sama seperti semua institusi keagamaan di dunia, pasti tidaklah sempurna. Namun, ketidaksempurnaannya itu tak menjadikan saya memilih untuk pergi dan mencari kesempurnaan yang lain. Karena saya sadar, kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Perbandingannya, ketika salah satu anggota keluarga kita ‘rusak’, minum minuman keras, narkoba, seks bebas atau judi, tak menjadikan seluruh anggota keluarga kita ‘rusak’, bukan?

Ketika ‘Irish atau US abuse’ diangkat ke permukaan, banyak orang mulai melecehkan Gereja Katolik. Lihat tuh, institusi yang katanya baik, koq begitu? Saya juga sedih mendengar hal ini. Karena institusi itu baik adanya, tak ada maksud jelek atau intensi buruk saat Gereja Katolik berdiri. Dan kalau ada kesalahan, mungkin itu manusiawi. Sama seperti Biksu Ren Ci di Singapura yang korup tak membuat semua biksu adalah korup. Saya banyak melihat biksu luar biasa yang penuh kasih dan terus mewartakan ‘Dhamma’ dan kebaikan tanpa henti. Begitupun dengan pendeta, begitupun dengan Kyai, atau pemuka agama Hindu.

Gereja Katolik memang pernah bersalah. Dan dengan mengakui kesalahan itu, rasanya lebih mudah untuk berjalan dan melihat masa depan. Ini memang lembaran hitam yang membekas dalam di hati para korbannya. Ini memang sulit diterima bagi mereka yang idealis (mungkin termasuk saya). Tetapi, pada akhirnya saya menerima. Saya mendapat pengertian baru, bahwa apa pun yang terjadi, Gereja Katolik tetap rumah saya. Tetap keluarga saya. Ketika salah satu anggotanya bersalah, saya tak hendak berpikir bahwa seluruh keluarga saya ‘sakit’ dan dalam kondisi ‘parah’. Masih banyak kebaikan yang tak pernah diwartakan. Kejelekan memang mudah diungkit, tapi kebaikan sulit terlihat.

Luka ini adalah luka kita bersama. Luka salah satu anggota keluarga kita, adalah luka keluarga kita secara keseluruhan. Namun, saya tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Dia tak pernah menutup mata dengan seluruh kejadian ini. Dunia akan makin jahat, akan banyak ‘nabi palsu’ yang coba mengacaukan dunia ini. Namun, orang-orang pilihan Allah juga tak henti mewartakan kebaikan-Nya senantiasa. Dan pada akhirnya, saya tetap percaya Yesus akan tetap jadi pemenang. Yang baik akan selalu mengatasi yang jahat.

Di masa depan, saya amat mengharapkan tidak ada kejadian semacam ini. Namun, sulit mengelak bila kejadian itu datang. Saya hanya bisa berdoa, percaya, dan berserah… Memang ilmu alkitab bukan segalanya. Memang pengetahuan akan Tuhan penting, akan tetapi lebih penting lagi: bagaimana hidup kita? Kesaksian hidup bicara jauh lebih banyak ketimbang ucapan di bibir saja.

Saya jauh dari sempurna. Saya cuma manusia biasa yang kadang bisa kesal dengan anak, sebal dengan suami, marah karena kecapekan, tapi saya mencintai mereka (keluarga saya) dan saya mencintai Tuhan. Dan saya percaya, bila kita semua ingin menjadi lebih baik di dalam Dia, seharusnya kita memberikan kesaksian hidup yang bisa dinikmati dunia. Karena kita menyebarkan kasih dan kebaikan. Karena kita tidak menyebarkan permusuhan atau kebencian.

Wahai Gereja Katolik, apa pun yang terjadi, luka ini luka kita bersama. Sekaligus, saya tetap mencintaimu. Dan Yesus, tak satu pun kejadian itu mampu menggoyahkan saya daripada-Mu. Karena saya percaya, bersama Yesus, ini semua akan terlewati. Saya hanya bisa belajar hidup lebih baik lagi dan mempraktekkan apa yang saya pelajari lewat alkitab. Bukan hanya sekadar ilmu di otak, tanpa tindakan nyata. Action still speaks louder than words. Acts of love is still stronger than telling others how you love them. Tak pernah mudah, tapi bukan ‘mission impossible’. With God, it’s always mission possible.

HCMC, 15 December 2009

-fon-

* prihatin dengan ‘Irish Abuse’ namun tetap percaya Gereja Katolik tetap menawarkan banyak kekayaan dan keindahan. Maaf jadi panjang tulisannya. GBUs all, semoga kita jadi orang yang lebih baik dalam kasih, dalam tindakan sehari-hari. Amin.


Thursday, December 10, 2009

Fireproof



Marriage is not fireproof. But in case it’s on fire, people must withstand it.

Cuplikan kata-kata yang menyentuh hati saya dari film Fireproof yang dibintangi oleh Kirk Cameron (aktor yang terkenal lewat sitkom ‘Growing Pains’ dan ‘Full House’). Inti ceritanya adalah sebagai berikut:

Captain Caleb Holt (Kirk Cameron) is a firefighter in Albany, Georgia and firmly keeps the cardinal rule of all firemen, "Never leave your partner behind". But Caleb's home life is an altogether different story; his seven-year marriage to his wife Catherine (Erin Bethea) is on the verge of implosion. Neither one understands the pressures the other faces, and after a heated argument in which Caleb screams in Catherine's face, she declares she wants out of the marriage, and takes off her wedding ring.

While Caleb claims to his friends and co-workers that Catherine is over-sensitive and disrespectful, Catherine simultaneously claims to her peers that Caleb is insensitive to her needs and doesn't listen to her. Further catalyzing Catherine's motivation for divorce is Caleb's addiction to Internet pornography and a large sum of money ($24,000, to be exact) he has saved up for a fishing boat he intends to buy, ignoring the fact that Catherine's disabled mother is in need of hospital equipment that she cannot afford, and which insurance refuses to cover. Caleb tells his father John about the impending divorce, and John challenges Caleb to commit to a 40-day test called, "The Love Dare." Caleb reluctantly agrees to do the test, but more for the sake of his father than his marriage. Catherine initially sees through Caleb's half-hearted attempts to win back her heart, which deepens Caleb's frustration. But with his father's encouragement, Caleb continues with The Love Dare, and eventually makes a life-changing commitment to God, unbeknownst to Catherine. (source: www.imdb.com)

Sebagai seorang Kapten pemadam kebakaran di Albany, Georgia, Caleb merasa di mana pun dia dihargai kecuali di rumah. Dia tidak dihargai istrinya sendiri. Dan kesalahpahaman demi kesalahpahaman dari masalah sepele menjadi masalah besar yang berujung ke arah perceraian. Caleb sendiri terbiasa dengan pornografi yang dia akses melalui internet di rumahnya. Sementara tak juga memedulikan kesehatan ibu mertuanya yang semakin menurun dan membutuhkan alat bantu kesehatan. Sementara dia menyimpan uangnya untuk membeli kapal untuk memancing ikan dan bagi dirinya sendiri. Sebelum bercerai, ayah Caleb memberikannya sebuah buku. Yang disebut sebagai ‘The Love Dare’, tantangan cinta. Sebuah buku yang berisi tulisan tangan Sang Ayah yang berisi hal-hal yang harus dilakukan selama 40 hari. Caleb menjalankannya. Menjalankan dengan tidak sepenuh hati. Sampai hari ke-23, tiada hasil berarti. Malahan dia sudah mau berhenti saja, ketika istrinya menolak mentah-mentah dan mengatakan tidak lagi mencintai Caleb, ketika Caleb menyiapkan ‘candle light dinner’ romantis di rumah mereka. Caleb berteriak, hampir menyerah dan menelpon kembali ayahnya. Yang malahan memberi penerangan tentang siapa itu Tuhan Yesus dan meminta Caleb untuk menerima Yesus sebagai bagian hidupnya agar dia bisa hidup dan mencintai dengan lebih dan lebih lagi.

Caleb akhirnya menerima, walaupun dia sendiri ragu. Dan penerimaan itu berbuah perubahan berarti. Termasuk tindakan membuang dan memukul komputer di rumahnya, tempat godaan terhadap pornografi bermula. Akhirnya? Happy ending. Yeay! Yang selalu saya suka. Caleb berubah, istrinya menerima dan mereka memulai kembali perjanjian pernikahan mereka di depan salib untuk saling setia. Tuhan mengubahkan Caleb, mengubahkan hidupnya, dan membuat Sang Istri jatuh cinta lagi padanya bahkan ingin berubah pula.

Dari sinopsis di atas…

Tak pernah saya ragu, bahwa hidup dalam bahtera perkawinan sering kali membawa para awak kapalnya menembus badai. Atau dalam film ‘Fireproof’ digambarkan dengan menembus api. Banyak kali, perkawinan dilanda ‘kebakaran’ di sana-sini. Mulai dari yang sederhana semisal ‘kebakaran jenggot’ sampai kebakaran yang lebih parah, seolah api mampu membuat suami dan istri kehilangan segala-galanya.

Memang perkawinan tidak ‘fireproof’. Perkawinan membutuhkan banyak kali upaya pemadam kebakaran, ‘fireman’, guna memadamkan percikan api amarah, api kebencian, api egoisme, api cemburu, dan api-api negatif lainnya. Namun, pada saat yang bersamaan, perkawinan juga membutuhkan api cinta, api asmara, api kasih dan kebaikan yang terus mengiringi pernikahan itu sendiri.

Dalam dinamika perkawinan dan masalah yang dihadapi, seperti yang diceritakan di film itu tadi, tak jarang api-api yang negatif masuk dan berkembang secara cepat membakar rumah tangga yang tadinya rapi jali, menjadi hancur berantakan. Pada akhirnya, bagian yang amat saya suka dari film ini adalah melibatkan Tuhan di dalam perkawinan tersebut dan menempatkan Tuhan sebagai pusat perkawinan itu, bukan lagi salah satu pasangan. Karena mengandalkan manusia yang terbatas ini, pastinya penuh kekecewaaan. Berapa sering Sang Istri kecewa pada Sang Suami, dan berapa sering Sang Suami marah-marah kepada Sang Istri. Manusia bisa mengecewakan, tetapi kabar baiknya Tuhan tidak. Tuhan selalu datang tepat waktu, di saat-saat kekecewaan itu teramat berat. Dan bagi mereka yang mengandalkan Tuhan, yang masih mau membuka hatinya untuk kehadiran Tuhan, saya tetap percaya bahwa Tuhan akan hadir. Tidak peduli seberapa buruk kondisi perkawinan di saat itu, tak peduli seberapa hancur keadaannya ataupun seberapa bobrok keadaannya, ketika Dia hadir pasti akan terasa perbedaannya.

Dengan menghadirkan sumber cinta yaitu Tuhan sendiri, semoga banyak perkawinan terselamatkan. Banyak kekecewaan terobati, dan banyak luka akan diplester oleh kasih-Nya. Diperban dengan kelembutan-Nya. Sehingga banyak hati menjadi baru dan mampu mencintai pasangannya dengan kasih pula.

Tidak ada relasi yang ‘fireproof’. Persahabatan, perkawinan, bahkan relasi dengan Tuhan terkadang dilanda ‘kebakaran’ dan api yang merusakkan itu menyerang. Namun, kembali, tiada yang mustahil bagi mereka yang percaya dan mau berubah menjadi lebih baik. Dengan membuka hati dan menyertakan Tuhan, tidak ada satu pun relasi yang tak bisa terselamatkan. Dia sanggup! He is able!

HCMC, 11 December 2009

-fon-

* terinspirasi film ‘Fireproof’. Semoga someday, kalo Tuhan mengizinkan aku bikin film, aku juga mau bikin yang kayak gini…*mulai buka-buka buku Scripwriter, belajar bikin naskah film hehehe…*. I always think that you can choose to write good things or trash-something bad or not useful things-but until now (and hopefully as long as I live) I want to write down God’s goodness and spread it to this world. Amen.

* Special thanks to Monica yang udah ngasih DVD ‘Fireproof’ ke aku in Changi Airport, on my last day in Singapore before my departure to Vietnam. GBU, Sizta! :)

sumber gambar:

http://salmosproducciones.com/yahoo_site_admin/assets/images/Fireproof_MoviePoster.92202043.jpg

Friday, November 27, 2009

Perempuan Berplester


Beberapa hari yang lalu, di milis para penulis renungan harian wanita dan teman-temannya, saya menemukan suatu pertanyaan yang amat menarik, dilemparkan oleh salah seorang dari kami yang berprofesi sebagai psikolog.

Tergelitik dengan tingkah laku pada teenagers yang setiap hari saya temui....... ada situasi yang ingin saya tanyakan.... silakan ditanggapi dengan cara apapun...

Kira-kira apa yang akan kalian lakukan jika suatu hari melihat seorang remaja perempuan (umurnya kira-kira 14 tahun....kamu cukup mengenalnya. .......beberapa bulan yang lalu kamu melihatnya dipangku oleh sang pacar di tempat umum dan sejak itu kamu tidak bisa lupa wajahnya)... .suatu pagi, dilehernya tertempel sebuah plester kecil (kira-kira berukuran 1x2 cm) (dulu sih waktu saya seusia itu....teman- teman yang menggunakan plester tersebut menutupi 'akibat perbuatan sang pacar' terhadap lehernya)... ...

What will you say or do to her???

Inilah kenyataan yang harus dihadapi. Mau tidak mau, suka tidak suka, anak remaja sekarang memiliki keberanian yang berbeda dengan yang ditunjukkan dengan generasi sebelumnya. Walaupun bukan berarti tingkah laku generasi sebelumnya lebih baik, namun harus pula diakui bahwa kemudahan teknologi, penyebaran informasi lewat internet dan media massa lainnya juga membuat mereka menjadi matang lebih cepat. Di zaman sekarang ini, mengasuh dan mendidik anak menjadi semakin sulit. Menjadi PR alias pekerjaan rumah yang tak ada habisnya bagi para orang tua, guru, pendidik, dan keluarga. Prihatin dengan keadaan ini, teman saya melemparkan pertanyaan tersebut. Dan ditanggapi dengan macam-macam jawaban. Dan salah satu jawaban yang paling menyejukkan dan melegakan, datang dari seorang sahabat dalam Kristus, Riko Ariefano sebagai berikut:

Dengan asumsi bahwa kita mau membawa anak ini kepada Tuhan dan Gereja, maka ada beberapa hal yang mungkin jadi reaksi saya pribadi. Secara umum ini adalah dasar-dasar pendekatan buat generasi ini, yang diwakili oleh remaja perempuan 14 tahun berplester di leher...

1. Tidak menghakimi.

Generasi ini sudah terlalu sering mendapat cap "bobrok", "tidak bermoral", "rusak" dan sebagainya, sehingga seringkali apapun perilaku orang-orang muda, mereka langsung dipandang dari sudut negatif. Ini stigma yang menyedihkan karena buah apel jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya. Dengan kata lain, orang muda sering dinilai gagal padahal mereka adalah korban kegagalan generasi sebelumnya - tanpa mengurangi segala hormat pada generasi senior. Plester di leher bisa saja bekas digigit serangga, plester di leher bisa saja bekas bisul yang mau ditutupi, walaupun plester di leher bisa juga akibat perbuatan pacarnya. Tapi yang terpenting adalah, sikap hati kita jangan terlalu cepat melemparkan "judgement" sehingga belum apa-apa, sikap ini justru sudah menjadi halangan terbesar bagi kita untuk merangkul orang-orang muda dengan kasih Tuhan.

2. Menjadi sahabat dan saudara

Pemberontakan - salah satu stigma yang melekat pada generasi ini, salah satunya juga berakar dari kurangnya figur "authority" yang baik di mata mereka, khususnya dari keluarga mereka, misalnya kurangnya figur bapa/ayah yang penuh kehangatan kasih tapi juga sekaligus berpegang teguh pada prinsip2 kebenaran. Pendekatan authoritative seperti menegur atau mengajar seringkali justru menjadi counter-productive bagi generasi ini (Elo mau ngajarin gue? Emangnya elo siapa?). Pintu masuk yang selalu baik adalah kasih, persahabatan, dan persaudaraan - berada di tengah-tengah mereka, menangis dan tertawa bersama mereka, serta mendengar dari dekat apa yang mau diserukan oleh debar jantung mereka. Kehadiran yang jujur dan tulus selalu mendapat tempat istimewa di hati orang muda. Ini termasuk berdoa untuk mereka (atau untuk si perempuan berplester). ..

3. Mencari akar masalah

Duduk di pangkuan pacar dan plester di leher (karena pacar) adalah gejala di permukaan, padahal masalahnya selalu lebih dalam daripada itu, dan selalu berujung pada luka serta kurangnya pengalaman dicintai dan diakui. Maka sharing pengalaman hidup dengan suasana persahabatan dan persaudaraan adalah jalan menuju akar masalah yang sesungguhnya. Ini pastinya mengandaikan "trust" yang sudah terbangun dengan baik.

4. Berbagi kasih dan kebenaran

Bila sudah terbangun persahabatan dan persaudaraan yang baik, maka jangan pernah takut untuk berbagi kebenaran! Orang muda selalu haus akan kebenaran dan kebahagiaan sejati - dan hanya kasih Tuhan yang bisa memuaskan kehausan ini secara utuh. Ceritakan (bukan ngajarin) pada mereka tentang Tuhan Yesus yang hidup dan ajak mereka untuk datang ke Dia. Berbagi kasih dan kebenaran yang sejati selalu berujung pada pengalaman perjumpaan dengan pribadi Yesus. Apabila mereka, atau si perempuan berplester ini, sudah berjumpa dengan pribadi Yesus yang sungguh memesona dan memenuhi hatinya dengan cinta, maka dia akan bersedia melepaskan pangkuan pacar dan plester di leher (karena pacar), karena dia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih indah dan berharga. Sesuatu ini ternyata adalah seorang pribadi bernama Yesus.

5. Mengajak berkomunitas

Hidup yang berubah karena berjumpa dengan Yesus harus didukung dengan kelompok sahabat-sahabat yang sama-sama berpusat pada Yesus. Maka penting banget untuk mengajak dia berkenalan dengan sebuah komunitas yang bisa saling mendukung di dalam kasih dan kebenaran sejati. Mudah-mudahan dengan hidup berkomunitas yang sehat, perempuan berplester ini kemudian juga punya hati untuk cerita tentang Yesus ke perempuan-perempuan berplester lainnya...

Catatan terakhir:

Menurut saya pribadi, masing-masing dari kita adalah perempuan berplester di leher akibat perbuatan pacar kita. Plester di leher itu kan hanya tanda bahwa kita punya plester di hati. Hanya saja pacar-pacar kita tidak/belum kelihatan orang lain (atau mungkin sudah?). Plester ini bisa jadi berupa seks, rokok, workaholic, pujian berlebihan dari orang lain, uang, dsb, atau bentuk kompensasi dari luka akibat kurangnya kasih Allah di hati kita masing-masing. Dan setiap dari kita butuh pengalaman perjumpaan dengan pribadi Yesus terus menerus, sampai hati ini meluap dengan cinta. Dengan pengalaman perjumpaan terus menerus, kita dimampukan untuk melepaskan plester-plester ini, dan melangkah meraih mimpi-mimpi hati kita bersama cinta Tuhan.

in HIS love,

R.

(dalam proses melepaskan plester juga, so please don't judge me, but love me instead)

Saya dan beberapa teman tersentuh sekaligus tergerak dengan jawaban Riko yang menyejukkan, merangkul dengan kasih Kristus, sekaligus mengingatkan bahwa kita semua adalah perempuan berplester. Berplester dalam arti memiliki luka yang ingin disembuhkan lewat kasih-Nya. Plester itu (kembali mengutip catatan Riko dan sedikit menambahkan dari versi saya) : berupa seks, narkoba, rokok, workaholic, gila pujian, uang, pornografi, pribadi yang penuh kemarahan, dan segala bentuk kompensasi dari luka akibar kurangnya kasih Allah dalam hati kita masing-masing.

Kita semua adalah perempuan berplester, kalau saja kita mampu melihat para remaja dengan cara yang sama. Kalau saja kita bisa melihat orang lain dengan cara yang sama. Bahwa kita semua terluka. Everybody hurts, including me. Semua orang terluka, termasuk saya juga. Jadi, saya tahu rasanya terluka dan itu menyakitkan. Saya tahu rasanya lari dari luka itu dan mencoba untuk sembuh. Dengan berbagai cara yang saya kira akan menyembuhkan, namun nyatanya semakin membawa saya kepada dosa yang memisahkan saya semakin jauh dengan Allah. Anak muda ingin dipandang dengan kasih. Dengan tidak dihakimi. Begitu pun dengan diri kita. Dengan diri orang lain juga begitu. Tak ada yang suka dihakimi. Namun, takkan ada yang menolak bila pendekatan itu dilakukan dengan kasih. Dengan cinta Allah. Kita semua pernah mengalami, pernah merasakan, bahkan mungkin masih berjuang akan miskinnya kasih dalam diri kita. Namun, dengan merangkul sesama, siapa pun mereka tak terkecuali para generasi muda penerus bangsa dalam tindakan cinta yang penuh kasih, saya yakin generasi harapan bangsa itu akan mendapatkan sesuatu yang berbeda. Karena kasih Allah selalu menjadikan semuanya baru. Dengan kepenuhan di dalam kasih-Nya, orang tidak akan lagi lari mencari sesuatu yang bukan dari-Nya. Karena mereka tahu, semua yang bukan dari Allah adalah sementara. Hanya berupa loncatan dari satu dosa ke dosa lainnya. Satu ketergantungan ke ketergantungan lainnya. Hanya bersama DIA, kebebasan sepenuhnya akan tercipta. Iman akan Allah melepaskan ketergantungan negatif lainnya.

Kita semua perempuan berplester yang ingin sembuh, ingin melepaskan plester, koyok, perban, yang selama ini ada di tubuh kita. Yang selama ini ada di hati kita. Mari kita kembali kepada kasih Allah yang sejati. Kristus sendiri. Yang selalu mampu memulihkan dan membasuh semua luka dengan kasih-Nya. Proses yang terus-menerus ini hendaknya dimulai saat ini. Jangan hakimi orang lain, jangan hakimi remaja berplester, namun rangkul mereka dengan cinta. Tuhan, penuhi diri kami yang berplester ini dengan cinta-Mu.

HCMC, 27 November 2009

-fon-

* trims buat Ika Sugianti dan Riko Ariefano buat kesediaannya membagikan hal ini untuk saya jadikan tulisan. GBU frenz…! :)

Tuesday, November 24, 2009

Pertama Kali Kujumpa Dia


Ini bukan cerita cinta anak muda, walaupun judulnya seolah lagu Chrisye zaman baheulaJ

Namun, biarlah ini menjadi kenangan akan perjumpaan secara pribadi, di saat saya merasakan kedekatan yang pertama kalinya dengan Bunda Maria.

Dulu, saya senang sekali berkunjung ke PD Kristen, di mana begitu banyak musisi dan singer yang bagus-bagus. WL (Worship Leader)- nya keren, singer-nya keren, musiknya? Ala café. Itu amat menarik hati saya yang memang suka musik. Di saat itu, saya juga tengah katekumen di salah satu gereja Katolik di bilangan Jakarta Barat. Terus terang, Salam Maria walaupun doanya saya hafal luar kepala mulai dari SD karena saya bersekolah di sekolah Katolik, jauh dari pengertian saya akan pengenalan tentang Bunda.

Tetapi entah mengapa, saya juga tidak berniat untuk dibaptis secara Kristen. Saya menikmati musiknya, saya menyukainya, tetapi saya tidak berkeinginan untuk dibaptis di sana. Walaupun saya belum mengerti banyak, tetapi di awal tahun 2000 itu, saya tetap berkeinginan untuk jadi Katolik.

Tokh yang penting relasi saya dengan Allah Bapa, dengan Yesus, sisanya…? Maria kan tidak harus…Dan mungkin juga bisa menyusul belakangan. Jadi, di satu sisi, saya tidak memaksakan diri juga walaupun saya tahu, Katolik sangat menghormati Bunda.

Setelah dibaptis secara Katolik di akhir tahun 2000, saya pun mengikuti beberapa retret. Di saat itu, saya mengikuti satu retret yang mungkin sekarang sudah tidak diperkenankan lagi, yaitu retret pohon keluarga. Saya merasa bahwa itulah retret yang paling tidak ada hasilnya bagi saya. Maksudnya ketika ikut retret awal atau retret luka batin, saya langsung merasakan perubahan seketika. Dari insomnia, bisa tidur. Dari stress menjadi lebih tenang. Tetapi apa yang saya kira tidak berguna, menjadi perubahan yang sangat drastis ketika saya sampai di rumah.

Di kamar kos saya yang sedang besarnya itulah, pelan-pelan saya mulai berdoa. Yang entah mengapa kali itu mengumandangkan doa Salam Maria tanpa henti. Sampai saya merasakan hadirat-Nya. Sampai saya merasa tunduk atas-Nya sekaligus percaya bahwa Bunda Maria memang sungguh ada, sungguh istimewa, dan patut kita berdoa melalui perantaraannya.

Di hari itu, saya percaya dan menerima Bunda Maria sebagai Bunda gereja, sekaligus Bunda saya pribadi. Saat saya berkeluh kesah, saya pun berdoa melalui perantaraan Bunda. Sama sekali tidak saya kira, apa yang sepertinya sia-sia, ternyata berubah menjadi lautan suka cita yang lebih dalam bahkan melebihi kedamaian yang saya rasakan ketika pulang dari retret awal dan luka batin.

Setelah itu saya rajin berdoa Salam Maria, tetapi belum terlalu mau Rosario, karena berpikir itu doa yang panjang dan butuh konsentrasi. Saya masih merasa agak segan, mungkin agak malas, berdoa terlalu panjang. Lagi-lagi dikarenakan saya belum mengerti esensinya bahwa Doa Rosario bila didoakan secara serius adalah semacam meditasi yang amat baik juga.

Perubahan kembali terjadi. Ini adalah kali pertama di mana saya mendoakan Doa Rosario tanpa putus dari bulan Mei 2008 sampai hari ini saat saya menuliskan sharing ini. Juga ditambah Novena Tiga Salam Maria selama 2 minggu di bulan September awal, karena saya sungguh butuh Bunda dalam menghadapi beberapa hal besar di keluarga. Hasilnya? Puji Tuhan, masalah yang didoakan mulai membaik, ada titik terang. Juga saya merasakan damai luar biasa kembali percaya bahwa Tuhan berikan yang terbaik setelah sebelumnya terseok-seok menjalani roda kehidupan yang terasa berat. Berdoa melalui perantaraan Bunda memberikan saya kekuatan ekstra sekaligus berusaha menjalankan apa yang Bunda contohkan, “ Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Saya kira, ini hanya awalnya. Saya percaya bahwa Tuhan mendengarkan Bunda. Apabila kita berdoa melalui perantaraan Bunda, dia akan sampaikan kepada Putera-Nya dan apabila itu sesuai dengan kehendak-Nya, Dia tidak akan menolak permintaan itu.

Pertama kali kujumpa dia, aku terkesan sekaligus terkesima. Itu perasaan saya yang saya simpan sampai hari ini. Dia betul-betul ada dan hidup dalam doa-doa yang kita daraskan. Dia menjadi contoh ketaatan manusia akan rencana-Nya dan percaya bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik bagi dirinya.

Semoga kita bisa menjadikan Bunda sebagai teladan dalam hidup kita. Berdoa rosario, berdevosi, ataupun bernovena? Sudah bukan suatu hal yang aneh bagiku, bahkan itu sudah menjadi bagian hidupku. Thanks to Mother Mary. Thanks to Jesus. Thanks to the Lord. (-fon-)

November 2009

Sudah dimuat di majalah Katolik di Jakarta di tahun yang sama.

Friday, November 13, 2009

Kerahiman Ilahi Tetap Berjaya



Setelah saya menuliskan artikel yang berjudul Yesus Andalanku beberapa hari yang lalu, saya mulai membolak-balik buku kecil yang berjudul Devosi Kepada Kerahiman Ilahi karya Bapak Stefan Leks yang diterbitkan oleh Kanisius, 1993. Saya pun mulai mendoakan beberapa doa yang terdapat di dalamnya. Satu bagian yang hari ini terus terngiang di benak saya adalah ketika membaca catatan Suster Faustina berikut ini:

Pada tahun 1938, Suster Faustina mencatat:

Aku telah melihat kemuliaan ilahi yang memancar dari lukisan itu. Banyak jiwa menerima rahmat walaupun mereka tidak membicarakannya dengan lantang. Biarpun nasibnya kurang menentu, namun melalui lukisan ini Allah menerima kemuliaan, sedangkan usaha Iblis dan orang-orang jahat hancur berantakan dan sia-sia belaka. Biarpun Iblis mengamuk, kerahiman ilahi akan berjaya atas seluruh dunia dan akan dihormati oleh semua orang. (BCH/Buku Catatan Harian Suster Faustina, no.1789).

Saya perlu menjelaskan pandangan saya tentang Iblis terlebih dahulu. Jujur, topik ini bukanlah topik kegemaran saya. Saya amat jarang membicarakan soal Iblis. Yang walaupun memang saya yakini ada, namun saya juga tak hendak menghakimi bahwa Iblislah biang kerok segala sesuatu yang buruk yang terjadi di dunia ini. Sakit tidak sembuh-sembuh, karena Iblis. Tingkah laku tidak karuan, salahkanlah Iblis. Saya masih berpendapat bahwa tiap orang juga harus mengambil tanggung jawab atas perbuatan mereka. Kalau salah, ya salah. Terima dan kemudian perbaiki diri.Tidak perlu menjadikan Si Iblis sebagai kambing hitam. Mungkin pandangan ini juga bermula dari salah satu mata kuliah saya di Kursus Pendidikan Kitab Suci (KPKS) Santo Paulus, yang mendiskusikan kitab Yudas.

Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: "Kiranya Tuhan menghardik engkau!"(Yudas 1:9)

Dalam hal ini, saya tertarik dengan Mikhael, sang penghulu malaikat. Yang walaupun bertengkar dengan Iblis tidak berani menghakimi Iblis dengan menghujatnya, sebaliknya Mikhael berkata: “ Kiranya Tuhan menghardik engkau!”

Berpegang dari situ, saya tak hendak menghakimi Iblis. Biarlah Tuhan yang menghardiknya. Malaikat saja tak berani menghakimi Iblis. Sedangkan saya? Yang hanya manusia dan berdosa pula, mana berani saya menghakimi Iblis? Karena saya masih jauh dari level malaikat jadi bukanlah hak saya untuk menghakimi Iblis.

Saya tahu bahwa Iblis itu ada. Dan Iblis memang mengerjakan hal-hal yang jahat di dunia. Misalnya: pelan-pelan memasuki pikiran seseorang dan mulai meracuninya dengan pikiran-pikiran negatif. Contohnya: menyuruh bunuh diri, mengatakan diri kita tak berharga, mengatakan kita makhluk berdosa yang tidak pantas untuk menikmati kebaikan Tuhan. Mengulangi terus ketidakpantasan dan ketidaklayakan kita untuk mendapatkan hal-hal yang baik dan mengingatkan kita akan masa lalu yang kelam yang pernah jadi bagian dari hidup kita. Baiklah, anggaplah itu ‘job description’ Sang Iblis. Tapi, masalahnya, kembali lagi kepada diri kita, apa kita mau ikuti kata-kata negatif itu? Atau kita memilih untuk mengakui memang pikiran itu pernah ada, namun kita tidak mengikutinya melainkan membawa hal negatif tersebut kepada Tuhan. Sehingga bisa tergantikan dengan hal-hal positif yang berasal dari-Nya. Mengakui bahwa aku memang bersalah, memang berdosa, namun Tuhan sudah mengampuni dosa kita. Asalkan kita mau bertobat.

Iblis boleh berusaha keras merusakkan dunia. Iblis boleh dengan gigihnya berusaha memasuki pikiran manusia lewat hal-hal berbau penghakiman terutama soal dosa-dosa dan ketidaklayakan seseorang. Dan Iblis boleh mengamuk dengan ganasnya. Namun, pada akhirnya, menurut BCH Santa Faustina no.1789 di atas, kerahiman ilahi akan berjaya atas seluruh dunia dan akan dihormati oleh semua orang.

Lebih baik kita melihat rahmat dan karya Tuhan dalam hidup ini, daripada terus-terusan melihat segala sesuatu disebabkan oleh Iblis dan Iblislah yang merusakkan semuanya. Daripada main tuding sana-sini, orang lain, ataupun Iblis, lagi-lagi saya lebih suka mengambil tanggung jawab atas semua tindakan yang pernah dilakukan dan mau bertobat bila memang saya melakukan kesalahan. Dengan tidak membiarkan Iblis berlama-lama menyusupi pikiran kita, sebaiknya kita mulai lebih kuat membina iman kita dengan kedekatan relasi melalui doa yang dipanjatkan kepada-Nya. Dengan demikian kita makin percaya bahwa kerahiman ilahi pada akhirnya akan berjaya. Bukan saja di hari ini, namun untuk selama-lamanya. Tidak perlu takut ataupun ragu akan kerahiman-Nya. Akan belas kasih-Nya pada dunia ini. Seburuk apa pun kondisi dunia pada saat ini, sejelek apa pun nantinya yang akan terjadi akibat pengaruh kejahatan yang terus berkembang tanpa kendali, saya tetap percaya bahwa Tuhan Yang Maha Rahim akan tetap berjaya. Kerahimannya akan terus terbukti dan dihormati semua orang. Senang mengetahui bahwa inilah yang akan terwujud. Dan marilah kita berdoa, berdevosi, bahwa Yesuslah andalan kita satu-satunya dalam kehidupan ini. Tiada yang lain, hanya Yesus!

HCMC, 13 November 2009

-fon-

sumber gambar:

http://www.drstandley.com/images/saints/St_FaustinaKowalska.jpg

Monday, November 9, 2009

Yesus Andalanku



Dua hari sebelum berangkat ke Saigon…

Seorang teman baik, memberikan saya salib. Bentuknya kecil, cukup mungil sehingga memudahkan saya untuk membawanya. Dia bilang, maksudnya untuk tetap mengingatkan saya agar tetap berdoa. Namun, saya memandangnya sebagai hal yang lain. Saya merasa diingatkan agar selalu setia pada salib yang saya pikul. Kesetiaan yang setidaknya mengacu kepada kesetiaan Yesus yang tetap setia sampai mati di kayu salib.

Salib bagi tiap orang memang macam-macam. Terkadang bagi orang lain, terlihat seperti sesuatu yang ringan atau sebaliknya terlihat sebagai sesuatu yang berat. Bagi orang yang menjalankannya, tergantung pemahamannya akan salib. Tergantung pula relasi yang bersangkutan dengan Allah. Tergantung pula akan cara pandangnya terhadap hidup dan kemauan untuk belajar terus untuk menjadi lebih baik. Salib, mengingatkan saya bahwa saya berjalan dalam hidup yang tidak selalu mudah, tetapi salib (dosa manusia) yang tidak seharusnya ditanggung Yesus pun, mau Dia tanggung. Mengapa saya tidak mau tabah dalam memikul salib saya? Hal itu pun menyadarkan saya untuk mengandalkan Yesus dalam hidup ini. Karena saya tidak selalu kuat, saya tidak pernah tahu di depan nanti ada permasalahan macam apa yang ditawarkan kehidupan kepada saya. Namun, dengan mengandalkan Yesus, dengan setia bersama Dia, segala perkara mampu ditanggung di dalam Dia yang mengasihi kita.


Misa pertama saya di gereja lokal Vietnam kemarin…

Di Na Tho Thi Nghe inilah saya mendapatkan pengalaman pertama misa dalam Bahasa Vietnam. Na Tho berarti Gereja. Thi Nghe adalah nama gerejanya. Bahasa di misa tidak saya mengerti sama sekali. Tidak ada satu pun kata yang nempel di otak saya ketika saya mendengarnya. Tetapi, ada beberapa lagu yang mirip dengan lagu Bahasa Indonesia, seperti lagu ini yang pernah saya dengar di misa Taize:

Tuhan dengarlah doaku ini, hadirlah disini
Tuhan dengarlah doaku ini, dengarkanlah aku...

Lagu ini dinyanyikan ketika doa umat dipanjatkan, setiap akhir doa umat, disambung dengan irama lagu ini. Dan ternyata misa dalam Bahasa Vietnam amat kaya akan lagu. Dari awal sampai akhir, saya sudah mendengar lagu-lagu berirama sederhana yang memenuhi pembukaan sampai penutup misa. Banyak bagian yang biasa diucapkan Romo dalam Bahasa Indonesia atau misa dalam Bahasa Inggris, dinyanyikan dalam Bahasa Vietnam. Lucu juga sekaligus menyenangkan memiliki pengalaman baru seperti ini. Minggu-minggu depan, saya akan mencari misa dalam Bahasa Inggris yang ada di dua gereja di sini. Salah satunya di Saigon Notre- Dame Basilica yang juga merupakan salah satu obyek wisata terkemuka di sini. Mumpung ada tetangga, seorang Vietnam yang mengajak ke gereja lokal minggu ini, biarlah pengalaman ini menjadi pengalaman baru yang memperkaya saya.

Anak-anak kecil yang tengah katekumen (belajar agama) masih dilatih menyanyikan lagu (yang saya duga) semacam Aku percaya atau kemuliaan. Dari pukul 07.30 mereka menyanyi sampai menjelang misa pukul 08.00 pagi. Hati saya campur baur, satu sisi memang tidak mengerti, sisi lain mengagumi kebesaran Tuhan yang disembah oleh seluruh bangsa dalam berbagai bahasa. Namun, Tuhan yang kita sembah dan kita puja itu adalah satu, Kristus sendiri. Pengalaman ini menakjubkan! Terbayang, di banyak belahan dunia: dari Afrika, Eropa, Asia, Amerika, Australia, dan Antartika, Tuhan Yesus disembah dalam segala bahasa lokal. Namun, tidak mengurangi kekhusyukan mereka dalam berdoa. Tuhan memang ajaib! Dia bisa menyentuh hati setiap insan. Dalam budaya, bahasa, adat, kebiasaan yang berbeda, Tuhan selalu menyapa dengan khas. Tuhan mengerti hati setiap manusia. Tuhan mengerti hati setiap umat-Nya!

Di samping kanan altar, terdapat gambar Yesus Andalanku. Dari seminar Devosi Kepada Kerahiman Ilahi yang saya ikuti di Jakarta beberapa tahun yang lalu, dosen saya di KPKS (Kursus Pendidikan Kitab Suci) Santo Paulus, Bapak Stefan Leks sempat menjelaskan soal gambar Yesus, Engkaulah Andalanku. Dan sedikit cuplikan yang saya ambil dari internet adalah sebagai berikut:

Pada tanggal 22 Februari 1931, Tuhan kita menampakkan diri kepada St Faustina dalam suatu penglihatan. Ia melihat Yesus berjubah putih dengan tangan kanan-Nya terangkat untuk menyampaikan berkat, sementara tangan kiri-Nya menunjuk pada hati-Nya, darimana dua sinar besar memancar, satu berwarna merah dan yang lainnya berwarna pucat. St Faustina terpaku menatap Tuhan dalam keheningan, jiwanya diliputi rasa takut sekaligus sukacita yang besar. Yesus berkata kepadanya:

“Buatlah sebuah lukisan menurut gambar yang engkau lihat dengan tulisan di bawahnya: Yesus, Engkau Andalanku…. Aku berjanji, jiwa yang menghormati lukisan ini tak akan binasa. Aku juga menjanjikan kemenangan atas para musuhnya bahkan sejak di bumi ini, dan teristimewa pada saat ajal. Aku Sendiri yang akan membelanya sebagai kemuliaan-Ku (47,48).… Aku menawarkan timba kepada jiwa-jiwa dengan mana hendaknya mereka terus-menerus menimba rahmat-rahmat dari sumber belas kasih. Timba itu adalah lukisan ini dengan tulisan: `Yesus, Engkau Andalanku' (327)…. Aku menghendaki lukisan ini dihormati, pertama-tama di kapelmu, dan lalu di seluruh dunia (17).”

Taat pada permintaan pembimbing rohaninya, St Faustina menanyakan kepada Tuhan makna kedua sinar yang memancar dari hati-Nya. Maka, ia mendengar kata-kata berikut sebagai jawaban:

“Kedua sinar itu melambangkan Darah dan Air. Sinar pucat melambangkan Air yang menguduskan jiwa-jiwa. Sinar merah melambangkan Darah yang adalah hidup jiwa-jiwa. Kedua sinar ini memancar dari kedalaman belas kasih-Ku saat Hati-Ku yang sengsara dibuka oleh sebilah tombak di atas Salib… Berbahagialah jiwa yang tinggal dalam naungannya, sebab tangan keadilan Tuhan tidak akan menimpanya (299).… Dengan sarana lukisan ini, Aku akan menganugerahkan banyak rahmat kepada jiwa-jiwa. Lukisan ini akan menjadi sarana pengingat akan tuntutan-tuntutan belas kasih-Ku, sebab bahkan iman yang terkuat sekalipun tak akan ada gunanya tanpa perbuatan (742).”

Pada tanggal 2 Januari 1934, Sr Faustina untuk pertama kali meminta Tn. Kazimierowski melukis gambar Yesus Yang Maharahim.

Pada bulan Juni 1934 lukisan selesai dibuat, tetapi Faustina menangis kecewa karena lukisan tidak seindah penampakan yang disaksikannya. Kepada Yesus ia mengeluh, “Siapakah kiranya yang akan dapat melukis Engkau seagung Engkau sendiri?” Sebagai jawab, ia mendengar kata-kata berikut:

“Keagungan lukisan ini bukan terletak pada indahnya warna ataupun goresan kuas, melainkan dalam rahmat-Ku (313).”

Oleh karenanya, walau sekarang ini ada banyak versi lukisan “Yesus, Engkau Andalanku,” kita dapat senantiasa yakin bahwa tak peduli lukisan versi mana yang kita pilih, lukisan tersebut merupakan sarana rahmat Tuhan jika kita menghormatinya dengan penuh kepercayaan akan kerahiman-Nya. (sumber: http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/id354.htm, di mana salah satu referensi buku yang dipakai adalah Yesus, Engkaulah Andalanku dari Stefan Leks, terbitan Kanisius tahun 1993.)


Lagi-lagi saya merasakan sapaan Tuhan untuk tetap mengandalkan Dia dalam hidup ini. Di mana pun saya di tempatkan. Bahkan di negeri antah-berantah yang tak saya mengerti bahasanya, seperti di sini. Anehnya, saya tidak merasa asing di sini. Mungkin juga karena Saigon mirip Indonesia. Mungkin juga karena orang-orangnya cukup ramah biarpun mereka tak banyak mengerti Bahasa Inggris. Setidaknya saya tidak merasa ketakutan di sini. Saya cukup merasa nyaman. Dan biarpun perubahan terjadi begitu bertubi-tubi, masalah datang tanpa terkendali, dalam hidup ini hanya ada satu cara bagi saya: mengandalkan Tuhan.

Lukisan itu mengingatkan pula akan kerahiman Ilahi. Doa Kerahiman Ilahi dan Santa Faustina. Mengingatkan saya akan dosen yang memperkenalkan hal ini kepada saya, Pak Stefan Leks. Dan mengingatkan pula agar tetap setia, tidak takut akan apa pun. Karena ketakutan adalah manusiawi, pasti pernah terjadi. Namun, penting agaknya untuk tidak didikte oleh ketakukan tanpa bisa melakukan apa pun. Seolah terpenjarakan oleh ketakutan itu sendiri.

Yesus akan tetap menjadi andalan saya. Saya akan terus memperjuangkan hal itu. Untuk hari-hari yang tak pernah kita tahu di depan sana. Untuk hari ini. Untuk selamanya. Jezu Ufam Tobie (bahasa Polandia yang berarti Yesus, Engkaulah Andalanku). Di mana pun, sampai kapan pun. Amin.

HCMC, 9 November 2009

-fon-

* ucapan terima kasih khusus untuk Bapak Stefan Leks. God bless you, Pak. Saya berterima kasih untuk persahabatan dan pengajaran Bapak selama 3 tahun di KPKS St. Paulus, Jakarta.

sumber gambar:

Wednesday, October 28, 2009

Just My Luck


"Just my luck," I said. "The High God goes out of business
just the moment I need him." (The Message, Psalm 77: part of verses 7-10).

Maybe, we have experienced something similar with the Psalmist. We thought, God might be too busy or out of business, just the moment we need Him. The first part of the Psalm 77 itself has shown us that the Psalmist was in a distress. Frustrated and depressed with his troubles, he doesn’t go for amusement. What he does: he seeks God with all his heart. He prays. In the midst of trouble, He can’t really speak to God (too troubled to speak – verse 4). He thinks that the Lord rejects Him, His promises failed, His unfailing love vanished, He has gone forever from his life.

But then on the next verses, we can see the changes of his attitude. He doesn’t think that God is being angry anymore. He can see the greatness of the Lord once again.

It’s always interesting to see that the Bible is still up to date to our problems nowadays. We can see that even the Psalmist from more than 2000 years ago has experienced the same thing with us. Praying and hoping, but the condition doesn’t change. Praying and hoping, but not much improvement in this life. And then we think that God has left us, He’s too busy for us since so many people that needs His attention at the same time. And last but not least, we might think that He’s venting His anger on us.

But all of those things are not true, although it happens a lot within the disciples of God.

Nothing wounds and pierces like the thought of God's being angry. God's own people, in a cloudy and dark day, may be tempted to make wrong conclusions about their spiritual state, and that of God's kingdom in the world. But we must not give way to such fears. Let faith answer them from the Scripture. The troubled fountain will work itself clear again; and the recollection of former times of joyful experience often raises a hope, tending to relief. Doubts and fears proceed from the want and weakness of faith. Despondency and distrust under affliction, are too often the infirmities of believers, and, as such, are to be thought upon by us with sorrow and shame. When, unbelief is working in us, we must thus suppress its risings--- Matthew Henry’s Concise Commentary

Yes, we might get tempted to make wrong conclusions of our spiritual state. We might also misunderstand God for being in a deep rage towards us. Like what the Psalmist did, He keeps praying and praying. Until He can see things in a different point of view.

Days of troubles must be days of prayers. Not the other way around. Not the shopping thing, not the karaoke thing, not the drug or others addictive things… No! It’s supposed to be a prayer or sets of prayers. Until we can see it through. Until we can reduce the doubts and fears in our heart as a result of the want and weakness of faith. And finally, until we can see the goodness of the Lord once again. In prayers, I believe, as long as we pray with all our heart… with all our soul, eventually we can see the difference. Like so many miscommunications in this world, as long as we communicate there’ll always be an opportunity to reconcile. As long as we pray to the Lord, there must be an opportunity where we can gain a new understanding on Him rather than keep blaming it on Him.

He’s good. He’s very good. He’ll always be the goodness of all good things.

And what is the best thing of this Psalm 77? I can see that there’s a change of attitude. First, He was so frustrated and thought God has left Him. But then, He can see from a different perspective that God has never left Him alone.

Your path led through the sea, your way through the mighty waters, though your footprints were not seen. (verse 19).

His footprints were not seen, but we believe that His path will lead us through this sea of life.

God will never be too busy. “ I’m just so lucky to have You, God, in my life.” Amen.

(-fon-)

Psalm 77

For the director of music. For Jeduthun. Of Asaph. A psalm.

1 I cried out to God for help;
I cried out to God to hear me.

2 When I was in distress, I sought the Lord;
at night I stretched out untiring hands
and my soul refused to be comforted.

3 I remembered you, O God, and I groaned;
I mused, and my spirit grew faint.
Selah

4 You kept my eyes from closing;
I was too troubled to speak.

5 I thought about the former days,
the years of long ago;

6 I remembered my songs in the night.
My heart mused and my spirit inquired:

7 "Will the Lord reject forever?
Will he never show his favor again?

8 Has his unfailing love vanished forever?
Has his promise failed for all time?

9 Has God forgotten to be merciful?
Has he in anger withheld his compassion?"
Selah

10 Then I thought, "To this I will appeal:
the years of the right hand of the Most High."

11 I will remember the deeds of the LORD;
yes, I will remember your miracles of long ago.

12 I will meditate on all your works
and consider all your mighty deeds.

13 Your ways, O God, are holy.
What god is so great as our God?

14 You are the God who performs miracles;
you display your power among the peoples.

15 With your mighty arm you redeemed your people,
the descendants of Jacob and Joseph.
Selah

16 The waters saw you, O God,
the waters saw you and writhed;
the very depths were convulsed.

17 The clouds poured down water,
the skies resounded with thunder;
your arrows flashed back and forth.

18 Your thunder was heard in the whirlwind,
your lightning lit up the world;
the earth trembled and quaked.

19 Your path led through the sea,
your way through the mighty waters,
though your footprints were not seen.

20 You led your people like a flock
by the hand of Moses and Aaron.