Showing posts with label doa. Show all posts
Showing posts with label doa. Show all posts

Monday, February 16, 2015

Februari yang Sibuk

Valentine's Day, Rabu Abu bagi yang Katolik, dan Imlek...
Februari yang sibuk...
Pusat perbelanjaan penuh, riuh...
Berdesak-desakakan
Ngantri...

Februari yang sibuk...
Adakah saat hening itu masih kusediakan?
Saat untuk duduk diam di hadirat-Mu dan mendengar suara-Mu?
Jujur, kurindukan itu...
Di antara deru Februari atau bulan-bulan berikutnya...
Di antara kesibukan di setiap harinya...
Semoga aku tetap mempersembahkan waktuku untuk-Mu...

Februari 11, 2015
fon@sg

Saturday, July 13, 2013

Tuhan, Kasihanilah…



Saat begitu banyak hal terjadi, jauh dari apa yang kumengerti…
Aku hanya berucap
Tuhan, kasihanilah…

Saat begitu banyak kekecewaan yang terjadi, bahkan bertubi-tubi…
Aku membawa segalanya ke hadirat-Mu
Tuhan, kasihanilah…

Saat aku kehabisan kata-kata kala berdoa…
Dan hanya kesesakan bercampur tangisan yang ada di sana
Tuhan, kasihanilah…

Saat beribu ketidakpastian ada di depan mata…
Saat kegagalan lagi-lagi menyapa…
Tuhan, kasihanilah…

Saat luka-luka lama kembali menganga…
Dendam berkuasa membakar di dada…
Tuhan, kasihanilah…

Saat keperihan demi keperihan kulalui…
Bersama rasa sepi dan kesendirian di hati…
Tuhan, kasihanilah…

Saat hati begitu risau…
Galau…
Tuhan, kasihanilah…

Saat iri hati dan dengki mencoba menghampiri…
Ditambah lagi keegoisan diri…
Tuhan, kasihanilah…

Saat begitu banyak orang yang mencari cara untuk lari dari janji suci…
Ikrar setia sampai mati dalam mahligai pernikahan sejati…
Tuhan, kasihanilah…

Betapa kami adalah makhluk yang lemah dan tak sempurna…
Tetapi, itu bukan alasan untuk tidak setia…

Kusadari, Tuhan…
Tanpa-Mu, kami bukan siapa-siapa…
Bersama-Mu kuyakin kami bisa lewati semua…

Biarkan harapan itu menyala…
Iman itu meraja…
Dan rasa damai kembali singgah dengan indahnya..

9 Juli 2013
fon@sg

* in silent prayer, Lord have mercy. Christ have mercy. 

Sunday, October 23, 2011

Genggam Tanganku



Wanita itu sudah bukan anak kecil lagi. Bahkan, dia mungkin salah satu penghuni tertua di Panti Asuhan Anak yang cacat fisik dan kelainan mental ini. Umurnya di atas 20 tahun. Dia terus memandangi kami, ketika kami melangkah masuk pagar depan. Dia terus mengikuti kami dan tak lama dia merangkulku. Seolah begitu erat, tak mau melepaskanku. Aku sendiri bingung campur sedikit cemas, tetapi juga kasihan. Jadi, kubiarkan saja sementara dia terus menatapku.

Tak lama, kami pun diberi semacam gelang rosario, hasil karya mereka. Dia langsung memasangkannya di tanganku. Begitu bahagia mereka menyambut kedatangan kami yang hanya sebentar saja ini.

Memang di sebelah Panti Asuhan ini, ada sekolah untuk anak-anak yang normal. Mungkin-ini hanya dugaanku- mereka sering melihat anak-anak itu dijemput orang tuanya. Sehingga mereka pun memiliki kerinduan untuk dikunjungi dan begitu bahagia menyambut kami yang datang ke sana. Kami diterima dengan sambutan yang luar biasa: rangkulan juga pemberian gelang, tanda mereka memang butuh kasih dan perhatian dari sesama.

Saat dia genggam tanganku, beribu rasa jadi satu. Tak ada kata yang tepat ‘tuk menggambarkan semua itu. Batinku terus menyerukan sesuatu: sudahkah aku memberi perhatian pada sesamaku? Keluargaku, anak-anakku, teman-teman yang singgah dalam hidupku? Dan juga bagi mereka yang butuh perhatian: kesepian, sakit, putus asa, hilang harapan akan kehidupan? Dan bagi mereka yang ‘spesial’ karena mereka berbeda- mereka yang tak lengkap panca indera atau mereka yang mentalnya tidak bertumbuh secara normal, seperti yang kutemui hari ini….Ya, mereka juga butuh kasih dan sayang. Mereka butuh cinta kasih yang selama ini mungkin jauh dari mereka, yang seolah sering menyembunyikan diri hanya karena mereka berbeda. Padahal mereka juga butuh cinta dan bukan salah mereka jika mereka tidak normal seperti manusia pada umumnya. Mereka yang bahkan mungkin ditolak keluarganya, mereka yang mungkin dibuang ayah-ibunya. Mereka yang tak punya pilihan lain selain menerima keadaannya… Tuhan, kasihanilah mereka.

Tak terasa, air mataku menitik saat aku harus pulang. Aku mungkin bukan orang yang luar biasa sempurna dalam hal mengasihi sesama. Masih jauh dari itu. Tetapi, biarlah setiap hariku yang Kauanugerahkan bagiku merupakan hari yang lebih baik dalam membagikan kasih kepada sesama. Terutama mereka yang menderita dan butuh perhatian kita. Dunia ini tengah lapar. Lapar secara fisik di mana banyak yang tidak bisa makan karena perekonomian yang sulit, tetapi juga lapar akan kasih karena tak jarang di keluarga yang kaya-raya dengan uang berlimpah, cinta seolah sudah menguap entah ke mana…Uang tak bisa membeli semuanya. Tanpa uang memang hidup tak mudah, tetapi jika hanya mengandalkan uang saja, bahagia pun seolah sembunyi belaka…

Hari ini, kuberdoa khusus bagi mereka yang merasa kesepian dan terluka. Bagi mereka yang tersisih dan terlupa.

Bagi mereka yang putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya…

Tuhan, kasihanilah…

Masih ada harapan di dalam Dia…

Kupercaya akan itu, Tuhan…

Semoga semakin banyak hati yang mau terbuka terhadap kasih-Mu,

sehingga mampu berbagi kepada mereka yang kekurangan cinta…

Genggam tanganku, Oh Tuhan, dan jangan lepaskan…

Semoga dalam penyertaan-Mu, diriku Kaumampukan

Untuk menggenggam lebih banyak tangan

Dalam kasih dan kedamaian…

HCMC, 23 Oct., 11

-fon-

*tergerak untuk menuliskan sharing seorang sahabat ketika berkunjung ke sebuah panti asuhan di daerah Dong Nai-Vietnam.

Friday, September 30, 2011

Untuk Segala Hal



Untuk segala hal yang belum kumengerti, tetapi baik bagiku, ya Tuhan…

Kumohonkan kerendahan hati dan keinginan untuk belajar.

Karena aku sadar, aku bukan yang paling tahu.

Tak ada gunanya ‘sotoy’ atau sok tahu…

Karena Engkau yang Maha Tahu…


Untuk segala hal yang pernah menyakitkan hati, melemahkan semangat, dan melukai perasaanku, oh Tuhan…

Kumohonkan hati yang lapang, juga keihklasan untuk mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hatiku.

Baik yang disengaja ataupun tidak…

Semua hanya demi kebaikanku.

Karena aku sadar, dengan mengampuni, yang disembuhkan adalah diriku sendiri.

Mungkin sulit bagiku, tetapi dengan rahmat-Mu yang selalu baru, kuyakin kudapati kekuatan untuk lakukan itu…


Untuk segala hal yang mengkhawatirkan,

membawa kecemasan dan ketidakpastian,

terutama yang berhubungan dengan masa depanku…

Aku mau serahkan kepada-Mu, untuk kemudian membangun kembali imanku. Biar Engkau memberikan kekuatan dan harapan baru.

Aku bukan perancang utama hidupku.

Biarlah kehendak-Mu yang jadi dalam hidupku.

Ajarku untuk lakukan yang terbaik dan berharap hanya kepada-Mu


Untuk segala hal yang begitu manis, membahagiakan, dan membawa sukacita…

Biarlah aku menghadiahkan itu semua hanya kepada-Mu

Sebagai perwujudan rasa terima kasihku

Atas seluruh kebaikan-Mu, juga perlindungan-Mu

Sepanjang hidupku…


Untuk segala hal yang terjadi dalam hidupku…

Senangku, susahku, bahagiaku, deritaku…

Untuk setiap tawa riangku, isak tangisku, senyumku, tetesan air mataku…

Untuk segalanya itu, Tuhan…

Aku ingin persembahkan semuanya bagi-Mu…

Karena inilah hidupku yang sudah Kauanugerahkan bagiku

Kuingin menyertakan-Mu dalam setiap putaran waktu

Setiap lembaran halaman buku kehidupanku…

Biarlah hidupku membawa kemuliaan bagi nama-Mu…


Ho Chi Minh City, 1 Oktober 2011

-fonnyjodikin-

*copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

* tautannya ada di: http://fjodikin.blogspot.com/2011/09/untuk-segala-hal.html