Showing posts with label introspeksi. Show all posts
Showing posts with label introspeksi. Show all posts

Monday, February 16, 2015

Februari yang Sibuk

Valentine's Day, Rabu Abu bagi yang Katolik, dan Imlek...
Februari yang sibuk...
Pusat perbelanjaan penuh, riuh...
Berdesak-desakakan
Ngantri...

Februari yang sibuk...
Adakah saat hening itu masih kusediakan?
Saat untuk duduk diam di hadirat-Mu dan mendengar suara-Mu?
Jujur, kurindukan itu...
Di antara deru Februari atau bulan-bulan berikutnya...
Di antara kesibukan di setiap harinya...
Semoga aku tetap mempersembahkan waktuku untuk-Mu...

Februari 11, 2015
fon@sg

Thursday, March 6, 2014

Dering Telepon

Dering Telepon

Senin siang, 24 Februari 2014

Siang itu, aku sedang berada di dokter gigi, sebagai kunjungan rutin yang sebetulnya sudah beberapa waktu belum kulakukan.
Sedang berada di ruang tunggu, tiba-tiba telepon berdering.

Hari itu, aku harus menerima kabar dari Mrs. Xiu-pengemudi bus sekolah Odri, yang mengabarkan bahwa bus sekolah yang membawa anak sulung kami dan teman-temannya itu baru saja mengalami kecelakaan.
Sungguh hatiku langsung kacau-balau.
Tetapi, Mrs. Xiu langsung menenangkan dan mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa, hanya kepala Odri, terutama bagian keningnya, terkena benturan kursi depan dan mengalami benjol sedikit...

Antara harus menyelesaikan janji dengan dokter gigi dan harus juga melihat keadaan anak kami di sekolah, konsentrasiku terpecah.
Akhirnya, satu per satu selesai.
Urusan dokter gigi kelar, langsung aku menuju sekolah.
Puji Tuhan, Odri baik-baik saja.
Sungguh bersyukur atas perlindungan Tuhan, bahwa tidak terjadi sesuatu apa pun.
Kupeluk dia, dan dia kembali ke ruang kelasnya, melanjutkan pelajaran di hari itu.

                                                                    ***

Tidak semua telepon kita harapkan.
Ada yang membuat sedih, kesal, marah, atau kuatir.
Walau ada pula kabar yang membahagiakan yang dibawanya...

2 Juni 1993, lebih dari 20 tahun yang lalu...

Telepon yang kuterima hari itu betul-betul mengejutkan.
Walaupun sudah setengah siap karena kondisi Papa yang cukup mengkhawatirkan selama enam tahun sebelumnya, namun dering telepon yang mengabarkan bahwa Papa harus pergi untuk selamanya, bukanlah sesuatu hal yang mudah kuterima.

Perasaan bahwa aku belum bisa membalas budi orangtua karena belum menyelesaikan pendidikan, masih tersimpan jelas di kala itu.
Namun, itulah kenyataan yang cukup menghentak.
Suka atau tidak, siap atau tidak, suatu saat kita harus mengucap selamat tinggal kepada orang-orang terkasih.
Bagiku, kasus itu adalah perpisahan dengan Papa yang tanpa terasa hampir memasuki tahun ke-21 di bulan Juni tahun 2014 ini.

Waktu itu aku belum menjadi seorang Katolik.
Juga belum mengenal Yesus secara pribadi.
Yang ada hanyalah kemurungan, kesedihan yang berlarut-larut.
Sulit menerima kenyataan, walaupun tahu harus berjalan dalam hidup ini...

                                                                     ***

Tidak semua dering telepon kita harapkan.
Juga seiring perkembangan zaman dan teknologi...
Pesan-pesan di WhatsApp, BBM messenger, atau aplikasi chatting lainnya...
Beberapa berita duka, berita tentang seseorang yang dekat dengan kita terkena penyakit parah yang belum ada obatnya, membuat kita tersentak.

Sekali lagi, pesan-pesan membahagiakan juga bermunculan di sana...
Ada berita kelahiran, kenaikan kelas, wisuda, pernikahan...
Ah, dering telepon yang membahagiakan pun mewarnai dunia kita...

Pada akhirnya, sebagaimana misa Rabu abu lalu, Fr. John Derrick Yap, OFM dari Gereja St. Mary of the Angels  Singapura berucap...
All that we have, one day is going back to ashes.
Only God and love that remain...

Dering telepon yang kita terima di masa depan, mungkin akan membahagiakan.
Mungkin pula akan mengecewakan, bahkan begitu menyakitkan.
Apa pun itu, mari tetap berpegang kepada Tuhan...
Percaya bahwa Yesus adalah Allah yang setia...
Persembahkan segala rasa...
Suka, duka, kecewa, dan bahagia...
Niscaya, ketenangan itu 'kan menyapa...
Tuhan ada, Dia akan memelihara...
Setiap dari kita, umat-Nya....

07.03.2014
fon@sg

Monday, September 23, 2013

Berpautlah Kepada Tuhan



“Anakku, jikalau engkau bersiap untuk mengabdi kepada Tuhan, maka bersedialah untuk pencobaan. Hendaklah hatimu tabah dan jadi teguh, dan jangan gelisah pada waktu yang malang. Berpautlah kepada Tuhan, jangan murtad daripada-Nya, supaya engkau dijunjung tinggi pada akhir hidupmu. Segala-galanya yang menimpa dirimu terimalah saja, dan hendaklah sabar dalam segala perubahan kehinaanmu. Sebab emas diuji didalam api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan. Percayalah pada Tuhan maka Ia pun menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepadaNya.” (Sirakh 2:1-6)

Ketika membaca ayat-ayat dari Kitab Sirakh beberapa hari yang lalu, saya sungguh merasa diperkuat untuk menghadapi segala pencobaan yang selalu datang dan pergi dalam kehidupan ini.
Banyak kali, saya merasa tidak siap ketika pencobaan itu datang.
Dan agaknya, kita semua pun pernah merasa begitu tidak siap, ketika sesuatu yang mendadak-sesuatu yang kurang baik dalam pandangan kita-terjadi dan begitu menghentakkan kita. Bahkan menghempaskan kita ke jurang terdalam di kehidupan ini.

***

Hendaknya kita menjadi tabah dan teguh.
Jangan gelisah pada waktu yang malang.
Dan terutama: berpautlah kepada Tuhan dan jangan murtad daripada-Nya.
(Hmmm, karena begitu mudah kita berpaling dari-Nya, saat masa-masa yang tidak menyenangkan sedang kita alami. Tak jarang, kita mempertanyakan ke-MahaKuasa-an Tuhan di saat-saat seperti ini. Saat seolah Dia tak peduli pada keadaan kita yang tengah sekarat dalam kesengsaraan. Begitu larut kita dalam nelangsa, sehingga melupakan harapan yang sebetulnya selalu ada di dalam Dia).

Segala-galanya yang menimpa dirimu terimalah saja, dan hendaklah sabar dalam segala perubahan kehinaanmu.
Ah, yang bener, God?
Masa’ sih, saya harus terima segalanya?
Masa’ sih, saya yang hebat begini harus menerima kehinaan di hidup saya?
Pertanyaan yang mungkin muncul itu hendaknya kita telaah lagi.
Segala hal yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata-Nya.
Segala hal yang kita inginkan, belum tentu yang kita butuhkan.
Dan jika menganggap diri kita hebat, ingatkah kita akan Yesus Kristus yang jauhhhh lebih hebat dari kita, namun bersedia menerima kehinaan untuk mati di kayu salib bagi segenap umat manusia yang berdosa?
Ada baiknya kita berefleksi dan terus bercermin, diiringi doa, semoga kita dijauhkan dari kesombongan diri…

Sebab emas diuji di dalam api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan.
Emas diuji dalam api dan kancah penghinaan menjadi suatu pembelajaran luar biasa untuk tetap rendah hati dan berpegang pada kekuatan-Nya.

Percayalah pada Tuhan maka Ia pun menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya.
Ya Tuhan, kutahu tidak ada jalan lain selain percaya dan berharap kepada-Mu.
Jalani setiap tikungan yang berliku.
Karena kutahu, kesetiaan-Mu selalu mengiringiku.
Kuatkanlah hatiku…
Ketika hidup tak memberikan kemanisan yang pernah kurasakan di waktu lalu…
Jangan sampai kecut hatiku…
Namun, biarkan aku tetap setia menanti penggenapan rancangan-Mu
Di dalam hidupku…

24.09.2013

fon@sg

Saturday, August 31, 2013

Hina



Pernah dipandang orang lain dengan tatapan ‘menghina’ -dari ujung rambut sampai ujung kaki- yang bikin tidak enak hati alias risih?
Hmmm, saya pernah…
Pernah pula memandang orang lain yang dianggap kurang se-level atau tidak sehebat Anda dengan pandangan mengecilkan mereka?
Jujurnya saat introspeksi diri, walaupun berusaha keras untuk mengurangi hal itu, ternyata aku pun pernah melakukannya…

Ketika orang lain menganggap kita kecil, rasa apa yang timbul?
Tak berharga. Sendirian. Kesepian.
Tak diperhitungkan. Dikucilkan.
Tak ada perhatian.
Lalu muncul tindakan pengecilan terhadap diri sendiri…
Lalu mungkin pula muncul pertanyaan dalam hati:
“ Apakah hidupku ini sungguh berarti?”
Jika tidak, untuk apa aku hidup di dunia ini…
Bercampur frustrasi, terkadang beberapa orang yang depresi …
Mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya sendiri…
Ah, haruskah setragis ini???
                                                            ***

Di dalam doaku yang kupanjatkan kepada-Mu, Tuhanku…
Suara itu masuk dan memenuhi hatiku…
“Engkau anak-Ku… Aku menerimamu apa adanya…”

Perlahan, damai itu menyelimuti hatiku…
Ah, Tuhan saja tak pernah mengganggapku hina, mengapa aku harus menganggap diriku tak berharga hanya karena segelintir orang yang tak menganggapku se-level dengan mereka?
Hidup terlalu berharga daripada mempermasalahkan orang-orang yang menganggapmu remeh dan tak berharga…

Dan…
Tak jarang, aku pun menganggap orang lain rendah dan hina.
Rasanya bahagia menemukan cacat-cela dari orang-orang di sekitar kita…
Sampai selebriti di nusantara, Asia, atau dunia…
Entah, rasanya asyik saja…

Tetapi…
Jika aku yang dihina, dicerca, dan dicela….
Betapa sakit rasanya…
Hancur hati seketika…

Teringat kembali pepatah lama…
Jangan lakukan jika itu tak menyenangkan bagi orang lain…
Karena jika itu terjadi padamu, kausendiri takkan suka…
Hmmm…
Kita tidak pernah jadi manusia hina karena Tuhan sungguh inginkan hadirnya kita di dunia…
Hidup terlalu berharga untuk mencela dan berduka
Atas keberadaan diri kita di alam semesta…

Jika perbedaan itu bisa jadi ajang hina-menghina paling juara…
Aku juga bisa memandang orang lain hina ketika mereka melakukan yang berbeda…
Ah, tapi, apa untungnya menjadi sama seperti mereka?
Mana kasih Allah yang seharusnya menuntunku senantiasa?
Biarkan kelembutan-Nya hapuskan dendam yang membara….

Tuhan, jauhkanlah aku dari penghakiman itu…
Bahwa orang lain lebih hina dariku…
Aku pun takkan suka menanggung hinaan itu…
Jika itu terjadi pada diriku…

Tuhan, aku begitu membutuhkan-Mu…
Untuk membimbingku selalu…
Siramilah hatiku dengan kasih-Mu itu…
Sehingga aku mampu
Mengasihi diriku dan sesamaku…

kan terus kutanamkan kesadaran betapa berharganya aku…
Takkan kubiarkan rasa hina membelenggu…
Dan aku pun belajar untuk tak memandang hina sesamaku…
Tuhan, kumohon pimpinan-Mu…

31.08.2013
fon@sg
*Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia,  dan Aku ini mengasihi  engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.

--- Yesaya 43:4

Saturday, July 13, 2013

Tuhan, Kasihanilah…



Saat begitu banyak hal terjadi, jauh dari apa yang kumengerti…
Aku hanya berucap
Tuhan, kasihanilah…

Saat begitu banyak kekecewaan yang terjadi, bahkan bertubi-tubi…
Aku membawa segalanya ke hadirat-Mu
Tuhan, kasihanilah…

Saat aku kehabisan kata-kata kala berdoa…
Dan hanya kesesakan bercampur tangisan yang ada di sana
Tuhan, kasihanilah…

Saat beribu ketidakpastian ada di depan mata…
Saat kegagalan lagi-lagi menyapa…
Tuhan, kasihanilah…

Saat luka-luka lama kembali menganga…
Dendam berkuasa membakar di dada…
Tuhan, kasihanilah…

Saat keperihan demi keperihan kulalui…
Bersama rasa sepi dan kesendirian di hati…
Tuhan, kasihanilah…

Saat hati begitu risau…
Galau…
Tuhan, kasihanilah…

Saat iri hati dan dengki mencoba menghampiri…
Ditambah lagi keegoisan diri…
Tuhan, kasihanilah…

Saat begitu banyak orang yang mencari cara untuk lari dari janji suci…
Ikrar setia sampai mati dalam mahligai pernikahan sejati…
Tuhan, kasihanilah…

Betapa kami adalah makhluk yang lemah dan tak sempurna…
Tetapi, itu bukan alasan untuk tidak setia…

Kusadari, Tuhan…
Tanpa-Mu, kami bukan siapa-siapa…
Bersama-Mu kuyakin kami bisa lewati semua…

Biarkan harapan itu menyala…
Iman itu meraja…
Dan rasa damai kembali singgah dengan indahnya..

9 Juli 2013
fon@sg

* in silent prayer, Lord have mercy. Christ have mercy. 

Tuesday, July 3, 2012


Stroller – The Lost and Found Story

First of all, let me share you a story.
Ehm, cuapek ya pake Bahasa Inggris, pake Bahasa Indonesia yang rada gaul aja deh, ya… Hari ini tanpa EYD – Ejaan yang Disempurnakan, lagi libur dulu hehehe…

Alkisah, dari Vietnam ke Jakarta, kami yang membawa dua anak juga bawa baby stroller alias kereta dorong bayi. Di Vietnam, kami kira stroller akan sampai langsung di Jakarta karena pas mau naik pesawat ditanyai, “ Stroller mau ke mana?”  Suamiku menjawab, “ Ke Jakarta saja.”
Oke dehhh… Setelah itu, pas transit di Singapura, tentunya kami tidak lagi memikirkan stroller kami yang berwarna merah maroon itu. Sekaligus memanfaatkan juga fasilitas stroller ‘Combi’ di Changi Airport - Singapura yang berwarna putih susu. Bisa buat ndorong anak sekaligus juga dimuatin barang. Why not?

Sesampainya di Jakarta, keluar pesawat dengan tangan hampa. Menurut pihak sekuriti pesawat, stroller biasanya kalau gak ada pas turun pesawat, adanya di tempat pengambilan bagasi. Ya sutra, mari menunggu (lagi). Dengan kondisi badan yang capek dan anak-anak yang juga sudah agak kelaparan. Lagi-lagi harus menunggu.
Sampai bagasi terakhir keluar, stroller maroon kami masih tidak ketemu. Gak tau ke mana, yang pasti setelah itu kami laporkan ke pihak ‘lost and found’. Yang bilang kalau nanti ada 2 pesawat lagi dari Singapura yang bakal ke Jakarta. So, kalo ketemu, pastinya langsung diantar ke rumah.

Antara percaya-gak percaya. Setengah rela membiarkan stroller itu raib.  Satu sisi ya sayang juga…Karena masih dibutuhkan untuk anak kedua kami.

Sabtu paginya, jam 8.30.
Stroller sudah diantar ke rumah dengan selamat.
Yippiiieee, horeee…
Thank God! Luar biasa banget… Juga buat Santo Antonius yang somehow selalu aku pasangi lilin ketika di Gereja Saigon Notre Dame Cathedral, kupercayai juga sebagai Santo ‘lost and found’ yang selalu membantu mereka yang mendoakan hal-hal kehilangan kepada beliau.

***

Pas mau ke Singapura dari Jakarta, dengan pengalaman stroller yang terhilang sebelumnya, jadi aku putuskan untuk langsung ‘check-in’ ke bagasi pesawat saja. Diwarnai ‘heavy traffic’ karena liburan sekolah juga penundaan demi penundaan, hari itu banyak kejadian juga…Pesawat rusak, baling-baling pesawat kemasukan burung yang lagi terbang…O M G deh pokoknya…! Oh My God hehehe…

Eniwei, udah capek nunggu seharian juga… Sampai di Singapura tengah malam akibat delay, masih harus menunggu stroller (lagi). Kayaknya nih stroller minta dibikin film seri gitu deh:)
Akhirnya, kembali: stroller kami dinyatakan hilang. Tapi, karena kondisi semua sudah teler kecapekan. Jadinya, stroller kami relakan menginap di mana pun dia berada hari itu.

***

Dua hari berikutnya, iseng-iseng aku menelpon maskapai penerbangan bagian ‘lost and found’ di bandara Changi.
Ada gak ya, stroller warna maroon bermerek XYZ itu?” tanyaku.

“ Namanya ada Jodi something gitu, ya?” katanya…

“ Yesss…thank you.”

Kututup telepon dengan bahagia. Terima kasihhh, Tuhan… Ini kejadian bukan sekali, tetapi dua kali stroller yang hilang diketemukan kembali…Amazinggg!!!

***
Aku koq ya jadi teringat, betapa kita pernah menjadi anak-anak yang hilang dan jauh dari-Nya… (Dengan merenungkan kejadian sekali, dua kali stroller terhilang yang kemudian diketemukan lagi…).

Tetapi, Dia selalu rindu untuk menemukan kita kembali… Jadi ingat lagu Amazing Grace yang liriknya sebagai berikut:

Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me.
I once was lost but now am found,
Was blind, but now I see.

Yes, God…
We’re all once lost but now are found…

Teringat juga perumpamaan anak yang hilang dari Lukas 15:11-32, Bapa akan menyambut setiap dari kita yang terhilang ketika kita ingin pulang, kembali ke jalan-Nya…

Finally…
Last but not least…
Terima kasih, Tuhan buat semua kejadian ini. The lost and found stroller… Yang membuatku teringat bahwa kita semua punya cacat, cela, dosa, kebodohan-kebodohan di masa lalu… Juga timbunan kekecewaan terhadap-Nya…Kita mungkin berusaha lari dari-Nya, maunya kaburrr ajahhh…
Tetapi, ketika kita berniat untuk kembali, Tuhan selalu akan menerima kita lagi… Semoga ini pun bukan jadi alasan untuk berbuat dosa sebanyak-banyaknya karena Tuhan tokh pasti mengampuni dan menerima saya lagi… Jangan take it as a granted gitu donk, ah… Please, deh
Mari kita hidup yang terbaik bagi Dia, karena Dia sungguh sudah begitu baik bagi kita…

Oke dehhhh, udahan dulu ya  
Sekian Fonny melaporkan not-so-breaking news di malam ini. Semoga bermanfaat untuk sedikit-banyak kita renungkan.

4th of July…
fon@singapore

* bisa diliat juga di blog saya kalo sempet dan ada waktu… Kalo gak, juga gak pa-pa, ini pemberitahuan bukan pemaksaan hahaha…Pissss, ahhh:)

Monday, October 17, 2011

Salah


Tidak ada orang yang suka dibilang salah. Tak jarang, banyak orang berusaha mencari-cari alasan untuk pembenaran diri jika dia bersalah. Seolah sah, tetapi salah tetaplah salah.

Tidak ada orang yang suka mengingat-ingat atau diingatkan tentang kesalahan yang telah dia perbuat. Walaupun mungkin dia mengakui dengan rendah hati akan kesalahannya, tetapi bila rasa bersalah itu datang lagi dan merongrongnya, tak jarang ia malah kehilangan sukacita itu sendiri.

Tidak ada orang yang luput dari kesalahan. Sebaik-baiknya seseorang, pastilah pernah melakukan suatu hal yang ‘salah’. Tetapi, kesalahan bukanlah akhir dunia. Banyak kali, kesalahan yang dianggap fatal oleh manusia, malah menjadi sebuah pintu menuju suatu kesempatan baru yang disediakan oleh-Nya.

Amatlah mudah menuding orang lain, “ Tuh, dia yang salah!” Dengan emosi yang membabi-buta, membuat kita sendiri lupa, kalau kita sendiri yang dituding, apa kita akan suka?

Mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sukar melihat kesalahan sendiri? Ingatlah akan peribahasa: Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak . Tidak selalu mudah, tetapi hendaknya kita berusaha melihat sisi baik dari setiap orang yang pastinya juga dimilikinya. Juga tak lupa melakukan introspeksi diri atas kesalahan yang sudah pernah kita perbuat.

Salah adalah manusiawi. Tetapi, bukanlah berarti boleh ‘melegalkan’ kesalahan itu sendiri. Salah, untuk kemudian belajar bangkit dari kesalahan dan mengampuni diri sendiri serta orang lain yang menyakiti, adalah hal yang baik yang memampukan kita berdiri tegar. Hari ini adalah rangkaian sekumpulan tindakan yang sudah kita ambil di masa lalu-yang benar maupun yang salah- dan mencari pembelajaran di dalamnya.

Bila rasa bersalah terlalu menderamu, bawalah itu semua kepada-Nya. Mohonkan ampunan Yang Kuasa bagi dirimu atas kesalahan yang telah kauperbuat. Tiada kesalahan yang terlalu besar atau fatal yang tak bisa diampuni-Nya. Jangan membebani diri terlalu berat atau jadi putus asa. Masih ada hari esok dan kesempatan untuk melakukan yang lebih baik dari hari ini.

Jika orang yang bersalah kepadamu begitu menyakitimu. Bukakan pintu maafmu kepadanya. Mungkin langkah pertama akan sangat sulit karena tak pernah mudah membuka luka lama, tetapi hadirkan kasih-Nya sehingga diri kita merasakan cinta-Nya sepenuh-penuhnya. Untuk kemudian mampu perlahan-lahan mengampuni orang yang begitu melukai hati kita.

Andaikata seseorang itu termasuk orang yang tak pernah mengaku salah. Merasa diri selalu benar. Ada baiknya untuk belajar rendah hati. Tiada orang yang sempurna. Hanya Tuhanlah yang sempurna.

Dan pada akhirnya, biarlah semua kesalahan yang pernah kita perbuat, kita bawa kepada-Nya. Mohon ampun kepada Tuhan, minta maaf kepada sesama yang pernah kita sakiti hatinya, juga mengampuni diri sendiri bila rasa bersalah begitu mendera. Salah bukanlah akhir segalanya. Salah, untuk kemudian berbalik ke jalan yang benar, akan membawa bahagia.

Akhir kata, maafkan saya kalau ada salah-salah kata:)

Salam!

Ho Chi Minh City, 18 Oktober 2011

-fonnyjodikin-

Wednesday, May 18, 2011

Kapan?


Oleh: Fonny Jodikin

Kata itu begitu mengusikku.

Semakin dewasa aku, rasanya semakin menggangguku. Ketika asyik-asyiknya menikmati kesendirianku, tak jarang orang bertanya: kapan punya pacar? Ketika sedang menikmati masa-masa berpacaran, pertanyaan berikutnya: kapan menikah? Sesudah menikah, kapan punya anak? Sesudah punya anak satu, kapan punya anak kedua? Akhirnya aku menjadi alergi dengan kata itu, kalau tidak bisa dikatakan benci.

Karena terus ditanya seperti itu, aku pun menanyakannya terus kepada-Nya.

Kapan, Tuhan?

Kapan aku punya mobil baru?Kan temanku sudah ganti dua kali, masa’ aku belum?

Kapan aku pindah kerja yang baru?Kan temanku sudah punya gaji berlipat, sementara aku terus berada di kantor lama dengan gaji yang hampir tak berubah ketika aku masuk kerja.

Kapan aku punya pacar, menikah, punya anak, punya menantu, punya cucu?

Kapan ini dan kapan itu, Tuhan? Kapan waktu-Mu tiba bagiku?

Setelah mengalami masa-masa relasi yang terbilang sulit dengan-Nya, karena seolah Dia tak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku memilih diam. Dan terkesan sedikit ‘cuek’ dengan-Nya. Aku tak lagi banyak berdoa. Karena sudah terlanjur kecewa, tak lagi kuingin bertanya.

Tengah malah ketika kucoba pejamkan mataku, sambil terus membolak-balik tubuhku di tempat tidurku. Suara-Nya yang lembut mengisi ruang hatiku:

Kapan kau sungguh akan melayani-Ku melalui orang-orang di sekitarmu?

Kapan kau akan berhenti memusatkan perhatian hanya pada dirimu dan belajar bersyukur?

Kapan kau akan berdoa agar Aku mengubah hatimu menjadi baru dan bukan mengubah keadaan di sekelilingmu?

Kapan kau akan percaya pada-Ku?

Tiba-tiba kurasakan air mata mengaliri kedua pipiku.

Kusadari betapa aku egois dan terus merongrong-Mu, ya Tuhan.

Ampuni aku.

Kusujud berdoa dan bersimpuh di kaki-Mu.

Kapan terakhir aku berdoa pada-Mu?

Ini saatnya aku kembali mensyukuri segalanya dan percaya pada-Mu.

Ubahlah hatiku, sehingga aku mampu menerima segala yang terjadi dalam hidupku.

Ho Chi Minh City, 19 Mei 2011

*somehow, we’re all struggling with this particular word: When? When, God??? Tetapi kembali kupercaya bahwa Tuhan penguasa segalanya dan yang punya rencana atas hidupku. Lord, I surrender…

Friday, December 24, 2010

Dekil



*** self-talk within me

“ Dekil, kamu…”

“ Emang… Aku gak pernah menganggap diriku putih tanpa noda, koq… Jadi, kuakui memang aku ‘dekil’ . Bukan berarti aku jarang mandi, lho… Tapi memang aku tak cukup bersih, masih diliputi dosa dan kesalahan… “

“ Jangan sok bersih, kamu…”

“ Oh, aku tidak pernah merasa diriku sok bersih. Malulah sama tetangga. Dan apa kata dunia? Haha… Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah tetapi terus berusaha untuk hidup lebih baik hari lepas harinya…”

“ Sekali dekil, tetap dekil. Merdeka!”

“ Wuih, aku tidak setuju sama yang satu itu… Kuakui memang kedekilan itu tidak bisa hilang 100%, tetapi dengan usaha yang lebih baik dan berjuang lebih keras, tentunya kedekilan itu bisa berkurang kadarnya. Besok-besok berkurang dekilnya lah yaw…”

“ So, apa kabar, Kil (baca: Dekil)? How’s your day lately?”

“ Oh, aku baik-baik saja. Trying my best to cope with whatever I encounter in my daily life…Dan dengan hadir-Nya di hidupku, setidaknya aku bisa meminimalisasi kedekilan itu…Karena sudah hadir, detergen terampuh untuk mencuci semua kedekilanku yaitu kasih-Nya. Kuakui ku tak sempurna, banyak salah, masih pernah iri-dengki-cemburu-dendam… Tetapi, dengan kasih-Nya, kuyakin aku bisa melampaui itu semua. Bukan karena kekuatanku, tetapi karena dukungan-Nya yang tak henti pada diri mereka yang terus berjuang untuk mencerminkan hidup yang bercirikan karakter yang lebih baik lagi…”

“ Jadi! Usahlah kauganggu diriku dengan hinaan bernada dekil begitu…. Biarkan aku maju, bergerak menjadi seputih salju dengan bimbingan-Nya yang menuntun tanganku…Gih, minggirrrr…. Permisiiiii, aku mau lewatttt…”

Demikianlah percakapan yang terjadi di dalam hati menjelang Natal ini. Biarlah kupercayakan sekali lagi, aku yang ‘dekil’ dan tak sempurna ini, punya kesempatan untuk jadi putih berseri… Dalam iman kupercaya bahwa Tuhan akan mampu ubahkan diriku asalkan adanya niatan yang kuat di hatiku.

Selamat Natal buat semua yang merayakan. Bersyukur untuk hadirnya Yesus di hidup para pengikut-Nya dan semoga kita tidak menyia-nyiakan semua kebaikan-Nya di hidup kita…

Ho Chi Minh City, 24 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya

sumber gambar:

zastavki.com

Sunday, July 25, 2010

ReSiPI: Nobody-Somebody-Everybody


Once upon a time…

I was nobody

Sometimes I felt hopeless

By kept repeating the same old mistakes

Over and over again


Then suddenly, I’m somebody.

I’ve proved to the world that

I can do many things and succeed

Now the feeling of comfort fills my heart.

Yes, I’m somebody…

I’m superb, I’m great…

Somehow, the pride took its way in me

And I’ve lost it because of my arrogance

Then, again…

I’m nobody…


But that voice fills my heart.

Saying:

“ You’re special to ME. You’re the apple of MY eyes.”

Really? Do YOU think so?

If You really think so, then why did those bad things happen to me?

If You really love me, how could You make me feel the lost again?


Then suddenly, the new understanding came to my mind…

Like a light that shines so bright along my long journey of thinking

Yes, I’m special…To experience the unpleasant things

Only to find that I’m nobody without You, Lord.

If I want to be somebody…
Let me be somebody in YOU.

Not with my pride nor with my strength.

But, with Your Grace, You enable me to become somebody…

So that everybody can see Your grace and goodness in me.


Yes, I’m somebody in Christ.
Yes, everybody will see Him more, and see me less.

Even I think that I’m nobody,

He still thinks that I’m special.

Thanks to You, Lord.


SG, 24-25 July 2010

-fon-

* ReSiPI: rubrik yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

Sunday, July 18, 2010

ReSiPI: Dari Ketinggian-Nya



Dari lantai 1 apartemen, apa yang saya lihat hanyalah tanaman-tanaman di luar unit apartemen. Lalu, orang-orang yang lalu lalang, serta sedikit burung dan kupu-kupu, jika kebetulan mereka terbang rendah. Pandangan dan jangkauan saya hanyalah sebatas mata memandang. Sempit dan amat terbatas.
Dari lantai 15 apartemen, yang terlihat memang berbeda. Dari ketinggian itu, saya bisa melihat anak-anak bermain di playground, kolam renang, langit biru luas membentang atau bahkan ketika mendung menaungi, gedung-gedung lain di sekitar apartemen. Sungai ataupun perairan (walaupun hanya sebagian) di sekitar apartemen dan di kota itu. Dan gedung-gedung pencakar langit di seisi kota, sampai gedung tertingginya. Banyak hal lebih terlihat jelas di atas ketinggian yang lumayan itu.Belum lagi ketika saya diizinkan main di ‘penthouse’ (bagian tertinggi) apartemen itu, tentunya yang terlihat lebih luas dan lebih indah lagi, bukan?
Tuhan yang Maha Tinggi itu berada di lantai teratas dari seluruh perjalanan hidup kita. Mengapa kita tidak bisa memercayakan seluruh kehidupan kita kepada-Nya? Karena dari ruang Maha Kudus-Nya, Dia melihat segala yang terbaik bagi kita. Dari ketinggian-Nya, Dia mampu melihat segala sesuatu yang akan terjadi dalam kehidupan kita. Dialah arsitek kehidupan kita yang mengetahui semuanya secara sempurna.
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
--- Yeremia 29:11
Percayakan kehidupan kita hanya kepada-Nya.
SG, 18 Juli 2010
-fon-
* ReSiPI: rubrik baru yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.
Sumber gambar:
www.tamilbibleqanda.blogspot.com

Monday, July 12, 2010

ReSiPI (Renungan Singkat Penyegar Iman)- Hakim-Hakim


Pernah terjadi, ketika saya melihat seseorang melakukan hal yang buruk, langsung otak saya berpikir dan mencapai suatu konklusi. Seringnya, konklusi itu adalah penghakiman atas diri orang tersebut. Contohnya: ih, tuh orang sombong sekali! Norak pula, mau pamer saja kerjanya. Tanpa sadar, saya pun begitu, jadi saya memperhatikan apa yang tidak saya sukai dari diri saya dengan melihatnya pada diri orang lain. Contoh lain: mungkin kita tidak suka dengan seorang teman yang tukang gosip, tanpa sadar kita pun menempatkan gosip sebagai hobi di peringkat pertama. Mengenaskan, bukan? Seolah kita begitu mulia dengan menghakimi orang lain, padahal kita sendiri? Sama saja, bahkan mungkin saja lebih buruk dari mereka.

Maka benarlah Kitab Roma bab 2:1, ketika mengatakan hal sebagai berikut:

Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.

--- Roma 2: 1

Hakim-hakim yang merasa superadil itu (baca: diri kita), sebetulnya tidak bebas dari salah. Semua manusia, tanpa kecuali pasti pernah salah. Maka dari itu, sebelum jadi hakim bagi orang lain, mari kita berkaca dan introspeksi diri dulu. Adakah aku sendiri sudah hidup benar? Kalau masih sama-sama berusaha, ada baiknya jika penghakiman atas diri orang lain kita minimalkan. Hakim-hakim? Sudahkah kita bercermin?

HCMC, 13 Juli 2010

-fon-

* ReSiPI: rubrik baru yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

Wednesday, June 30, 2010

Mengapa Kau Gelisah, Jiwaku?




Ya, TUHAN, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku; hatiku terbolak-balik di dalam dadaku….[a]

Kupandangi wajahku di cermin yang terletak di meja rias di kamarku. Wajahku yang tampan itu, mulai ditumbuhi kumis dan jenggot yang tak beraturan. Tak biasanya. Tak seharusnya. Karena aku yang metroseksual dan superstar ini, tak mungkin mengecilkan arti penampilan seperti itu. Di balik cermin itu, kulihat lagi diriku. Postur tinggi 178cm, berat badan seimbang. Gagah. Tetapi, aku tak lepas dari masalah. Ayahku yang sudah tua itu, tengah sakit kanker stadium tinggi. Tak ada lagi harapan baginya untuk sembuh. Karirku sendiri? Cukup baik, walaupun kuakui persaingan semakin ketat. Aku memiliki banyak rencana: konser, sinetron, film. Ya, terutama konser di Jepang di mana sebagian besar fansku di luar Korea berasal.

Jangan dikira kehidupan selebriti yang seolah indah itu tak pernah menawarkan duka. Justru, paket duka itu terlalu sering kuterima. Tak seindah film yang kumainkan, tak seindah musik yang kuperdengarkan. Tak jarang, aku merasa sepi, sendiri, tak punya lagi privasi. Aku ketakutan. Dengan hebat ia menggoncangkan hatiku. Gelisah jiwaku. Resah luar biasa. Seolah hatiku terbolak-balik di dalam dadaku. Tidur? Ia pun sudah lama tak berkawan denganku. Ia seolah jadi barang berharga yang mahal, karena untuk tidur pun aku harus minum obat-obatan penenang.

Terlalu pelik semuanya kutanggung sendiri. Sendiri? Iya, betul-betul sendiri, tanpa pernah percaya orang lain untuk berbagi. Tak jarang, aku ingin mati. Dengan mati, kupikir akan menyelesaikan banyak masalah. Yang pasti, aku tak harus menderita di dunia ini. Jangan bicara padaku soal Tuhan. Aku sendiri tak yakin Ia ada. Kalau Ia ada, mengapa semua seolah di luar kendali-Nya? Aku semakin yakin, bahwa aku memang harus mengendalikan hidupku sendiri. Bukan bergantung pada yang aku tak tahu pasti seperti itu.

Maafkan aku, Ayah! Aku harus pergi. Tak sanggup lagi kujalani hidup ini, kalau isinya semuanya simfoni duka tak berkesudahan. Kubasuh kakinya sekali lagi, sambil terus mengucap maaf. Semoga sungguh ia bisa maafkan aku. Kupandangi kabel charger yang tergeletak tak jauh dari meja riasku itu. Entah mengapa, hari ini dia begitu bersemangat memanggil-manggil aku dan memberikanku ide baru. Menjadikannya alat untuk mengakhiri hidupku….

Selamat tinggal, dunia. Cukup sudah kualami semua kepedihan ini. Aku adalah pengendali tunggal hidupku. Aku yang menentukan kapan aku mati dan dengan cara apa. Kalaupun harus seperti ini, aku puas. Setidaknya, inilah kematian yang sesuai dengan waktuku. Jangan lagi ceramahi aku soal Tuhan, keluarga, atau kemungkinan hidup bahagia. Aku sudah terlalu muak dengan kesemuanya itu. Selamat tinggal dunia. Selamat tinggal gelisah, ketakutan, dan kecemasan. Hatiku, tenanglah kamu, karena ini semua akan berakhir.

Kuambil kabel charger itu, kugantung diriku. Selesai sudah… Selamat tinggal masalah!

***

Kurasakan rohku meninggalkan tubuhku. Jauh, melayang tinggi. Sementara di sampingku, dua malaikat pencabut maut terkekeh kegelian seolah puas aku telah mengikuti kemauan mereka, menghantarkanku menuju gerbang yang nampak indah berkilau. Inikah surga? Mengapa luarnya begitu indah? Ah, enak juga ternyata….Mati itu menyenangkan…! Satu sesal terberat adalah aku meninggalkan ayahku yang sakit keras. Aku yang muda ini memutuskan untuk pergi lebih dulu sebelum dia yang tua dan sakit-sakitan meninggal dunia. Sepanjang perjalanan, kulihat awan berarak, langit biru. Sementara di beberapa bagian, awan mulai menggumpal dan berwarna kelabu tua, membuatku ingin berenang di antaranya: menyambut hujan yang akan tiba. Kilatan petir menyambar di beberapa tempat, hujan deras, guntur pun seolah tak kompromi, tetapi aku terus melayang. Terbang. Ringan di udara.

Saat duduk di salah satu awan itulah, kudengar suara yang amat jelas. Memancar penuh sinar kemuliaan.

“ Mengapa kauakhiri hidupmu? Mengapa tidak menunggu waktu-Ku?”

“ Ah, apa pula urusanmu? Bukankah aku bebas berkehendak dan melakukan apa yang kumau?” Jawabku tak peduli.

“ Aku tahu kegelisahan hatimu, mengapa kau tidak mencari-Ku? Malahan kaupergi dari penyelenggaraan-Ku? Kau mungkin tertekan, kau memang gelisah. Tetapi, bukankah Kau juga bisa berharap kepada-Ku? Seperti Pemazmur yang serahkan seluruh takut dan gelisahnya kepada-Ku? Mengapa tidak kaulakukan itu?”

Tiba-tiba suara lain bergema. Suara malakaitkah itu? Yang pasti, kembali kulihat dua orang yang kali ini berbaju ‘broken white’, bersayap, dan memiliki lingkaran di atas kepalanya. Mereka terus mendaraskan kata-kata ini:

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku![b]

Terus dan terus, tak putus-putusnya mereka ucapkan itu.

Entah perkataan dari mana itu? Aku tak tahu, mungkin itu yang Dia katakan sebagai Pemazmur yang serahkan ketakutan dan gelisahnya? Aku masih tak mengerti…

Tiba-tiba saja kembali sepasang malaikat lain yang berwajah sangar serta berpakaian serba hitam mengangkutku secara paksa. Kucoba membebaskan diri, tetapi seolah sia-sia. Mereka membawaku ke pintu gerbang indah itu-yang nampaknya rupawan dan menggoda, tetapi aku tak tahu pasti ada apa di balik sana….


[a] Ratapan 1:20a

[b] Mazmur 42:11

HCMC, 1 Juli 2010

-fon-

* RIP Park Yong Ha, korean Superstar-actor, singer. Really sad that you have to leave this world on your own will…

Foto: Park Yong Ha


Sunday, June 13, 2010

Puji Tuhan



Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

--- Mazmur 150:1-6

Nien menangis sesenggukan ketika membaca ayat dari Kitab Mazmur itu. Adalah hal yang mudah- ketika segala keadaan baik adanya-untuk memuji Tuhan. Namun, jika yang tengah dialami adalah badai kehidupan yang berat semacam ini, masihkah ia bisa memuji nama-Nya?

Sebulan sebelum pernikahannya, malahan dia harus menghadapi kenyataan berat ini. Pembatalan pernikahannya dengan Victor. Memuakkan, sekaligus menyesakkan. Berpikir bahwa masa pacaran yang empat tahun itu cukup untuk membuatnya mengenal calon pasangannya. Kisah klise yang seolah terjadi hanya di film-film belaka terjadi juga pada dirinya. Victor pergi meninggalkannya. Yang gilanya dengan pimpinan EO pernikahan mereka sendiri. Apa daya, Winny memang memesona. Waktu pertama kali berjumpa Winny pun, sebetulnya Nien berhasil menangkap sinyal genit yang dikirimkan calon suaminya itu kepada Winny lewat kerlingan matanya. Nien mengerti, itu kelemahan Victor kalau lihat cewek cantik. Tetapi, apa ya mbok gak bisa tahan diri sedikit saja? Ini ‘kan lagian bersama calon istrinya, yang sudah dipacarinya empat tahun dan dalam hitungan bulan akan jadi istri sahnya.

Dalam diam, Nien mencatat semuanya dalam hati saja. Bungkam. Mungkin salah, tetapi dia tak bermaksud untuk menuduh Victor juga. Walaupun dia tahu, dia mungkin sudah terlanjur cinta dan berpikir dengan perkawinan mereka mungkin semuanya akan selesai. Begitu saja. Padahal sisi lain dari dirinya terus mengingatkannya, buat apa dilanjutkan kalau respek sudah tak ada? Sebetulnya hubungan mereka sudah terlanjur mencapai tingkah hambar. Hambar seolah sayur yang tanpa garam. Sayur yang kurang bumbu. Enggak enak ajalah. Tetapi, daripada nggak kawin? Sementara yang menunggu perkawinan Nien tercatat seluruh keluarganya dan berharap agar ekonomi mereka sedikit terangkat dengan menikahi besan yang kaya, menjadi satu beban tersendiri juga. Tidak semua anggota keluarganya memang. Ibunya tidak. Karena memang mama tidak mata duitan. Mama malah selalu menyarankan untuk ikut mata batinnya. Suara hatinya agar mengikuti apa yang dibisikkannya. Walaupun seruannya perlahan, walaupun kesannya nyaris tak terdengar, tetapi sebetulnya ia tak henti berbicara.

Setelah puas menyesali semua yang terjadi, mengasihani diri, sekaligus membenci kenyataan mengapa harus begini…Tiba-tiba suara itu tak lagi pelan. Tak lagi berbisik. Kali ini dia berkata tegas:

“ Teruslah berterima kasih untuk segala hal. Teruslah memuji Tuhan, apa pun yang terjadi. Segala pencobaan ini takkan melebihi kekuatanmu. Coba kau bayangkan, kalau suatu saat kau menikah nanti dan dia malah main gila serta menceraikanmu, apa kau mau? Belum lagi kalau nanti sudah ada anak dari kalian berdua, dia juga harus jadi korban kesalahan keputusan yang kaupaksakan.”

Nien terdiam. Hmmm, betul juga pikirnya.

Mengapa hanya keluh kesah saja yang keluar dari mulutnya? Mengapa bukan ucapan syukur? Mengapa bukan ucapan terima kasih bahwa dia terbebas dari seorang pria bernama Victor yang tak pernah respek padanya sebagai wanita, sebagai calon istri. Nien takut menghabiskan waktu dalam hidupnya sendirian, tetapi kalau menikah hasilnya ditinggal, juga apa gak lebih parah? Memang sih, apa yang terlihat sekarang bukanlah melulu jaminan. Mungkin saja, Victor berubah dan jadi betulan cinta padanya. Namun, dengan kenyataan semacam ini-pembatalan pernikahan ini, apa dia harus argumentasi lagi dengan Tuhan?

“ Maafkan aku, Tuhan, kalau selama ini ucapan yang keluar dari mulutku hanya caci-maki, keluh-kesah, dan mengasihani diri. Aku bukanlah orang yang kuat dalam menghadapi pencobaan semacam ini. Ditambah lagi, memang aku masih menyimpan rasa pada Victor walaupun dia memperlakukanku dengan tidak pantas. Tetapi, Tuhan. Izinkan aku mengubahnya hari ini. Ubah ucapan burukku jadi ucapan syukur. Puji Tuhan, terima kasih kepada-Mu kalau ternyata pernikahan ini tidak terjadi. Aku yakin, inilah jalan terbaik dari-Mu. Kalau malah terjadi, mungkin aku akan lebih menderita ketimbang derita perasaan yang kurasakan semacam ini. Aku percaya, Tuhan sekali lagi, bahwa rencana-Mu adalah yang terbaik. Kalaupun kesakitan ini harus kualami, tentunya Kau takkan tinggalkan aku, tak kurang panjang pertolongan-Mu padaku. Aku percaya pada-Mu. Biarkanlah aku memuji-Mu, mempersembahkan semua sakit yang kurasakan karena aku tahu dan percaya dengan memuji-Mu hal-hal yang positif akan datang kepadaku. Dengan memenuhi hidupku dengan keluh-kesah belaka, aku akan terus memenuhi kepalaku dengan hal-hal yang menyakitkan dan menambah palu kesakitan yang terus diketukkan di hatiku- tanpa henti ke dalamnya. Yang ada hanya nyeri dan pilu belaka. Aku tak mau lagi, Tuhan, menyakiti diriku. Mengecewakan-Mu. Biarkan aku memuji-Mu saja mulai detik ini sekaligus kembali percaya dalam iman bahwa memang inilah rencana terbaik-Mu dalam hidupku,” Nien menutup doanya saat itu, dirasakan ketenangan yang luar biasa. Dia tahu, mungkin luka itu akan coba bermain-main dengannya. Dengan kembali mengunjunginya, mengucapkan salam sesekali sambil berharap menguakkan kembali cerita lama. Semoga dia kuat di dalam Tuhan. Semoga dia terus bisa memuji nama Tuhan gantikan semua duka dan kecewa yang pernah singgah dengan pujian dan merasakan bedanya.

Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Ya, itu yang akan terus dilakukannya:)

Dua tahun kemudian…

Nien memandang lurus ke pekarangan rumahnya yang sudah penuh ditanami bunga-bunga yang indah. Ini rumahnya, rumah bersama suaminya, yang baru saja dinikahinya seminggu yang lalu. Perjumpaan mereka amat cepat, seolah tak terencanakan dan proses hubungannya dengan Joe terjadi secepat kilat. Dalam enam bulan mereka sudah serius dan berniat tunangan. Dalam setahun mereka sudah bicara soal gedung pernikahan. Dan minggu lalu mereka sudah naik ke pelaminan.

Setelah mengucap syukur, Tuhan mulai membuka satu per satu rencana-Nya akan pasangan hidupnya. Bukan lagi Victor yang kemudian ternyata kena karma atas Winny yang meninggalkannya bersama pria lain tak lama setelah mereka menikah.

Dirinya dan Joe melangkah pasti dalam kebersamaan. Dalam tuntunan tangan Tuhan. Akhirnya Nien bisa buktikan bahwa percaya itu indah bukan hanya sekadar judul lagu belaka, namun akan berlaku bagi mereka yang sungguh mempercayakan hidupnya kepada Tuhan.

Puji nama-Mu, Tuhan. Raja di atas segala raja. Penguasa segalanya. Takkan dirinya ragu lagi untuk terus berpegang pada-Nya dalam situasi terburuk atau terpuruk sekalipun…

Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Nien akan terus berusaha melakukannya…Karena memang hanya Dialah yang layak dipuji dan ditinggikan untuk selama-lamanya…

HCMC, 11 -13 Juni 2010

-fon-

* mengingatkan diri sendiri ‘the power of praising’ adalah biar bagaimana pun akan lebih kuat daripada ‘the power of complaining’.

Sumber gambar:

http://ambassadoroftruth.files.wordpress.com/2009/08/worship.jpg