my writings especially dedicated for Jesus. For His goodness and never ending kindness in my life.
Thursday, March 6, 2014
Dering Telepon
Senin siang, 24 Februari 2014
Siang itu, aku sedang berada di dokter gigi, sebagai kunjungan rutin yang sebetulnya sudah beberapa waktu belum kulakukan.
Sedang berada di ruang tunggu, tiba-tiba telepon berdering.
Hari itu, aku harus menerima kabar dari Mrs. Xiu-pengemudi bus sekolah Odri, yang mengabarkan bahwa bus sekolah yang membawa anak sulung kami dan teman-temannya itu baru saja mengalami kecelakaan.
Sungguh hatiku langsung kacau-balau.
Tetapi, Mrs. Xiu langsung menenangkan dan mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa, hanya kepala Odri, terutama bagian keningnya, terkena benturan kursi depan dan mengalami benjol sedikit...
Antara harus menyelesaikan janji dengan dokter gigi dan harus juga melihat keadaan anak kami di sekolah, konsentrasiku terpecah.
Akhirnya, satu per satu selesai.
Urusan dokter gigi kelar, langsung aku menuju sekolah.
Puji Tuhan, Odri baik-baik saja.
Sungguh bersyukur atas perlindungan Tuhan, bahwa tidak terjadi sesuatu apa pun.
Kupeluk dia, dan dia kembali ke ruang kelasnya, melanjutkan pelajaran di hari itu.
***
Tidak semua telepon kita harapkan.
Ada yang membuat sedih, kesal, marah, atau kuatir.
Walau ada pula kabar yang membahagiakan yang dibawanya...
2 Juni 1993, lebih dari 20 tahun yang lalu...
Telepon yang kuterima hari itu betul-betul mengejutkan.
Walaupun sudah setengah siap karena kondisi Papa yang cukup mengkhawatirkan selama enam tahun sebelumnya, namun dering telepon yang mengabarkan bahwa Papa harus pergi untuk selamanya, bukanlah sesuatu hal yang mudah kuterima.
Perasaan bahwa aku belum bisa membalas budi orangtua karena belum menyelesaikan pendidikan, masih tersimpan jelas di kala itu.
Namun, itulah kenyataan yang cukup menghentak.
Suka atau tidak, siap atau tidak, suatu saat kita harus mengucap selamat tinggal kepada orang-orang terkasih.
Bagiku, kasus itu adalah perpisahan dengan Papa yang tanpa terasa hampir memasuki tahun ke-21 di bulan Juni tahun 2014 ini.
Waktu itu aku belum menjadi seorang Katolik.
Juga belum mengenal Yesus secara pribadi.
Yang ada hanyalah kemurungan, kesedihan yang berlarut-larut.
Sulit menerima kenyataan, walaupun tahu harus berjalan dalam hidup ini...
***
Tidak semua dering telepon kita harapkan.
Juga seiring perkembangan zaman dan teknologi...
Pesan-pesan di WhatsApp, BBM messenger, atau aplikasi chatting lainnya...
Beberapa berita duka, berita tentang seseorang yang dekat dengan kita terkena penyakit parah yang belum ada obatnya, membuat kita tersentak.
Sekali lagi, pesan-pesan membahagiakan juga bermunculan di sana...
Ada berita kelahiran, kenaikan kelas, wisuda, pernikahan...
Ah, dering telepon yang membahagiakan pun mewarnai dunia kita...
Pada akhirnya, sebagaimana misa Rabu abu lalu, Fr. John Derrick Yap, OFM dari Gereja St. Mary of the Angels Singapura berucap...
All that we have, one day is going back to ashes.
Only God and love that remain...
Dering telepon yang kita terima di masa depan, mungkin akan membahagiakan.
Mungkin pula akan mengecewakan, bahkan begitu menyakitkan.
Apa pun itu, mari tetap berpegang kepada Tuhan...
Percaya bahwa Yesus adalah Allah yang setia...
Persembahkan segala rasa...
Suka, duka, kecewa, dan bahagia...
Niscaya, ketenangan itu 'kan menyapa...
Tuhan ada, Dia akan memelihara...
Setiap dari kita, umat-Nya....
07.03.2014
fon@sg
Sunday, March 3, 2013
The Art of Waiting
letihku menanti
bersama berlalunya Sang Waktu
masih merindukan jawaban pasti
kepastian tak selamanya akan berada di dekatku
beranikah diriku temukan tantangan baru
dalam bentuk perubahan-perubahan yang menyapaku?
secara manusiawi sungguh kusadari
satu hal yang kutahu pasti
Monday, December 10, 2012
Past, Present, and Future
Ini bukan pelajaran Grammar (Tata Bahasa) dalam Bahasa Inggris, lho:)
Sekali lagi, bukannn:)
Sebagai seorang melo alias melankolis, saya sungguh tahu betapa saya suka bermain di masa lalu. Masa lalu yang indah dan menyenangkan. Yang terkadang begitu sulit untuk dilupakan...
Saya sadar itu bukanlah hal yang patut dibanggakan. Dan saya belajar untuk melangkah, keluar dari lingkaran amarah, luka dan dendam. Yang tentunya jika saya lakukan sendiri amatlah sulit terjadi (bisa jadi merupakan hal yang mustahil), tetapi hari ini saya kembali diingatkan bahwa bersama Tuhan, itu semua pasti dimampukan oleh-Nya asal saya pun menyerahkan semuanya kepada Dia.
Gemilang ataupun suramnya masa lalu kita tetaplah mempunyai sisi baik. Homili Fr. Richards hari ini membuat saya tersadarkan bahwa masa lalu jangan melulu dipandang dalam bentuk 'luka' melainkan harus tetap dipandang dalam kerangka syukur. Sebagai umat beriman kita percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan dan itu berarti termasuk di dalamnya masa lalu yang mungkin bagi kita penuh kepahitan. Bukan berarti masa lalu itu tiada gunanya, melainkan segalanya pasti terjadi untuk sesuatu tujuan. Dan tujuan itu adalah baik di dalam pandangan-Nya.
Dengan demikian, saya menjalani hari ini dengan penuh sukacita.
Dan mengenai masa depan kita?
I surrender my past, present and future into Your hands, O Lord.
Amen.
9 Desember 2012
still@sg
Wednesday, October 26, 2011
More Than Just a Feeling

God, today I feel so great!
Hari ini kumulai dengan senyum ceria. Cuaca pun seolah bersahabat. Matahari bersinar cerah. Angin berhembus perlahan. Tidak panas, juga tidak dingin. Pokoknya asyik betul hari ini!
Kulihat senyuman-Mu di setiap detik yang berjalan, setiap detak jantungku pun memuji dan memuliakan nama-Mu. Sungguh, aku bahagia! Engkau sungguh baik Tuhan.
Tak lama, angin berhembus makin kencang. Awan jadi gelap. Dan hujan turun seketika. Mula-mula gerimis, tambah lama tambah deras. Hujan lebat masih membuatku bersyukur. Engkau tidak berubah, selalu baik, Tuhan. Dalam segala musim di hidupku, dalam setiap cuacanya, Kau tetap baik adanya!
Hujan, halilintar, petir, geledek, sambar- menyambar. Banjir sudah mulai terjadi di beberapa titik. Aku mulai kuatir, Tuhan. Apa Kau sungguh baik? Kupeluk bantal gulingku dan kuucapkan doa seadanya. Kesenangan yang melanda seharian meluap begitu saja.
***
Keesokan harinya, aku tak bisa ke mana-mana. Segala aktivitas tertunda, karena hujan yang melanda semalaman. Kini sudah mulai mereda, tapi menjebakku hanya tinggal di rumah. Aku gelisah. Resah. Sedikit marah-marah.
“ Duh, Tuhan. Mengapa ini semua harus terjadi? Mengapa Engkau tega, Tuhan?”
*sisi lain hatiku sepintas berbisik: tak usah ‘overreacted’, sampai bilang Tuhan tega segala. Bukankah semuanya masih baik-baik saja???*
Seperti cuaca yang berganti semudah menjentikkan jari, begitu juga perasaanku. Senang yang kunikmati di pagi hari, bisa berubah menjadi kekuatiran campur kemarahan. Hanya dalam hitungan jam. Tak jarang, sukacita yang ada pada banyak peristiwa, berubah menjadi duka hanya dalam hitungan detik atau menit saja.
Begitulah perasaan kita- manusia- terhadap Tuhan. Ketika banyak kesenangan yang kita terima, kita mengucap syukur sebentar (atau malah lupa?), lalu pergi bersenang-senang dan tak jarang melupakan-Nya begitu saja. Kali lainnya, ketika masalah berat menimpa, barulah kita mencari-Nya.
God is more than just a feeling…
Kuakui di masa awal pengenalanku akan Dia, perasaan timbul dan tenggelam, ia bermain cukup kencang. Saat bahagia ataupun duka yang datang silih berganti, membuatku begitu mudah merasa senang atau kesal dengan diriku, tak jarang dengan-Nya juga begitu.
Tetapi makin lama kujalani kehidupanku bersama-Nya, kutemukan banyak pengertian baru. Bahwa apa pun yang terjadi dalam hidupku, Dia tetap baik. Tidak berubah sedetik pun. Versi baik dan tidak baik itu seringnya dari sisiku, bukan berarti buruk pula dalam rencana-Nya. Seringkali yang kukira baik, malah bukan yang terbaik bagiku. Dan kejadian yang kukira tidak baik, malah jadi pelajaran berharga yang diberikan-Nya padaku dan diubahkannya menjadi sesuatu yang penting bahkan gemilang bagi hidupku.
Dalam setiap babak hidupku, kupercaya: Tuhan sungguh baik adanya. Bahkan lebih dari itu, Dialah sahabat setiaku. Tak pernah Dia lepas tangan. Tak pernah Dia tinggalkanku. Dia lebih dari sekadar perasaan. Perasaanku pernah membawaku merasa Dia jauh atau dekat. Tetapi dalam iman, kutahu Dia tak pernah pergi dari hidupku. Selamanya Dia selalu sertaku.
God, You’re more than just a feeling for me…
Because You’re God. You’re so good and kind, Oh Lord.
I thank You for the first time You’ve entered my life. Made a difference. And You’ve been a very faithful God who always stick with me through the thick or thin of my life.
I want to tell you, Jesus… That I love You more and more each day.
Bukan hanya melalui hal-hal yang menggembirakan dan menyukakan yang sudah Kauanugerahkan bagiku…
Tetapi juga untuk hari-hari yang tidak mengenakkan, mengkhawatirkan, membawa kecemasan, karena kutahu Kau selalu ada bagiku. Dan bersama-Mu, kita sanggup lewati itu semua. Ya, hanya bersama-Mu! :)
Kutahu, kuharus kendalikan perasaanku. Karena apa jadinya jika ia berkuasa atasku? Dia jadi tuanku? Sehingga aku harus ikuti apa maunya selalu?
Let me say it one more time: God, I Love You. I thank You for Your love for me. The unconditional one that accepts me for who I am.
Biarlah hidupku memuliakan-Mu. Amin.
18 October 2011
From
Your daughter,
Fonny
Sunday, October 23, 2011
Genggam Tanganku

Wanita itu sudah bukan anak kecil lagi. Bahkan, dia mungkin salah satu penghuni tertua di Panti Asuhan Anak yang cacat fisik dan kelainan mental ini. Umurnya di atas 20 tahun. Dia terus memandangi kami, ketika kami melangkah masuk pagar depan. Dia terus mengikuti kami dan tak lama dia merangkulku. Seolah begitu erat, tak mau melepaskanku. Aku sendiri bingung campur sedikit cemas, tetapi juga kasihan. Jadi, kubiarkan saja sementara dia terus menatapku.
Tak lama, kami pun diberi semacam gelang
Memang di sebelah Panti Asuhan ini, ada sekolah untuk anak-anak yang normal. Mungkin-ini hanya dugaanku- mereka sering melihat anak-anak itu dijemput orang tuanya. Sehingga mereka pun memiliki kerinduan untuk dikunjungi dan begitu bahagia menyambut kami yang datang ke
Saat dia genggam tanganku, beribu rasa jadi satu. Tak ada kata yang tepat ‘tuk menggambarkan semua itu. Batinku terus menyerukan sesuatu: sudahkah aku memberi perhatian pada sesamaku? Keluargaku, anak-anakku, teman-teman yang singgah dalam hidupku? Dan juga bagi mereka yang butuh perhatian: kesepian, sakit, putus asa, hilang harapan akan kehidupan? Dan bagi mereka yang ‘spesial’ karena mereka berbeda- mereka yang tak lengkap panca indera atau mereka yang mentalnya tidak bertumbuh secara normal, seperti yang kutemui hari ini….Ya, mereka juga butuh kasih dan sayang. Mereka butuh cinta kasih yang selama ini mungkin jauh dari mereka, yang seolah sering menyembunyikan diri hanya karena mereka berbeda. Padahal mereka juga butuh cinta dan bukan salah mereka jika mereka tidak normal seperti manusia pada umumnya. Mereka yang bahkan mungkin ditolak keluarganya, mereka yang mungkin dibuang ayah-ibunya. Mereka yang tak punya pilihan lain selain menerima keadaannya… Tuhan, kasihanilah mereka.
Tak terasa, air mataku menitik saat aku harus pulang. Aku mungkin bukan orang yang luar biasa sempurna dalam hal mengasihi sesama. Masih jauh dari itu. Tetapi, biarlah setiap hariku yang Kauanugerahkan bagiku merupakan hari yang lebih baik dalam membagikan kasih kepada sesama. Terutama mereka yang menderita dan butuh perhatian kita. Dunia ini tengah lapar. Lapar secara fisik di mana banyak yang tidak bisa makan karena perekonomian yang sulit, tetapi juga lapar akan kasih karena tak jarang di keluarga yang kaya-raya dengan uang berlimpah, cinta seolah sudah menguap entah ke mana…Uang tak bisa membeli semuanya. Tanpa uang memang hidup tak mudah, tetapi jika hanya mengandalkan uang saja, bahagia pun seolah sembunyi belaka…
Hari ini, kuberdoa khusus bagi mereka yang merasa kesepian dan terluka. Bagi mereka yang tersisih dan terlupa.
Bagi mereka yang putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya…
Tuhan, kasihanilah…
Masih ada harapan di dalam Dia…
Kupercaya akan itu, Tuhan…
Semoga semakin banyak hati yang mau terbuka terhadap kasih-Mu,
sehingga mampu berbagi kepada mereka yang kekurangan cinta…
Genggam tanganku, Oh Tuhan, dan jangan lepaskan…
Semoga dalam penyertaan-Mu, diriku Kaumampukan
Untuk menggenggam lebih banyak tangan
Dalam kasih dan kedamaian…
HCMC, 23 Oct., 11
-fon-
*tergerak untuk menuliskan sharing seorang sahabat ketika berkunjung ke sebuah panti asuhan di daerah Dong Nai-Vietnam.
Sunday, October 2, 2011
Mendua

*** sebuah cerpen
Mari bercerita tentang kegetiran yang ada di rasa, di jiwa.
Suamiku baru saja melakukan pengkhianatan. Mengatas-namakan kesepian, dia cari lagi seorang perempuan. Ironisnya, saat aku mulai bekerja kembali -banting tulang untuk bantu keluarga- saat itulah baginya merupakan celah. Apa pun alasannya, sulit bagiku untuk menerima.
Memuakkan. Menyakitkan. Kenyataan itu begitu memilukan.
Mengapa sampai hati kaulakukan?
Tak tahukah kau, kau hujam dadaku berkali-kali dan aku kesakitan?
Akibat dirimu berpaling dari kesetiaan?
Haruskah kusalahkan keadaan?
Atau selama ini kau memang hanya cari-cari alasan?
Haruskah kupilih pisah?
Sementara kulihat buah hati kita yang masih begitu belia.
Baru dua tahun saja umurnya.
Ah, aku tak tega, membuatnya kehilangan figur seorang ayah.
Itu konsekuensinya kalau aku memilih meninggalkanmu.
Akhirnya, kutelan pahitku sendirian.
Tak berani kubicara pada ibuku kalau hanya ciptakan kesedihan baginya.
Duka menaungi hari-hariku.
Senyumku pun bernada pilu. Tak bisa ia kusembunyikan dari wajahku.
Apalagi setelah kutahu, WIL (Wanita Idaman Lain)-nya suamiku lebih segala-galanya dariku. Lebih cantik, lebih putih, lebih tinggi, dan lebih muda. Dan yang lebih membuatku tersedak mendadak: di rahimnya sedang tertanam benih suamiku. Astaga!!!
Inginku teriak.
Tapi aku tak kuasa. Hanya dalam hati, aku teriak sekencang-kencangnya. Tak pernah kubayangkan akan berbagi suami. Kami melewati masa berpacaran yang menyenangkan. Empat tahun bukan waktu yang singkat. Kami memang menikah muda. Usiaku baru 23 kala itu, dan suamiku-Don- berusia 26 tahun. Dan kami saling cinta, jadi masih mau tunggu apa? Hatiku begitu berbunga-bunga ketika dia melamarku. Kuanggukkan kepala kuat-kuat tanda setuju. Bahagia langsung memenuhi hidupku.
Tetapi, itu masa lalu.
Kini, yang ada hanyalah kelelahan seusai kerja dan kondisi rumah yang tak lagi ramah. Kami saling diam, kalau tidak saling caci. Anak kami kebingungan melihat kami. Dia terpaksa kutitipkan pada ibuku ketika kubekerja. Suamiku memang usaha sendiri, jual-beli barang-barang apa saja yang dibutuhkan sebuah kantor, jadi dia punya banyak waktu sementara aku pergi cari uang buat bantu-bantu keluarga. Dia pun setuju ketika itu, kapan pun aku mau mulai kerja, silakan saja katanya. Tetapi, dia ingkar akan janji setianya. Dia lupakan begitu saja. Di siang hari saat aku bekerja, dia mencari cinta lainnya.
Kata sahabat-sahabat wanitaku- Vina, Jenny, dan Kiky, tampar saja perempuan tak tahu diri itu. Tetapi, entah mengapa, aku tak bisa. Ketika kutemui dia, aku hanya bisa berkata.
“ Sejujurnya, aku kasihan padamu. Kamu begitu muda dan cantik, apa kamu tidak bisa cari suami yang lebih baik dari suamiku ini?” Kukatakan itu dengan tatapan menghujam ke arahnya, dengan nada sesinis-sinisnya. Dan dia hanya bisa menangis, tanpa banyak berkata-kata.
Kejadian ini baru dua minggu yang lalu kuketahui.
Jadi, sulit bagiku berpikir jernih. Untunglah sahabat-sahabat wanitaku, juga kakak perempuanku terus memberikan kekuatan padaku. Kalau tidak, aku sendiri takut pikiranku jadi kacau. Aku juga tak berani terlalu lama sendiri, aku takut ada keinginan untuk bunuh diri yang pernah juga muncul sesekali. Tetapi, selalu dia kutepis, karena aku harus hidup demi puteri kami. Walaupun papanya sudah begitu menyebalkan dan menyakiti hati kami, aku memilih tinggal demi puteri kami. Suamiku kadang pulang, kadang tidak. Saat dia tidak pulang itulah, kutahu pasti, dia sedang berada dengan perempuan itu.
Di saat seperti ini, aku hanya bisa berdoa. Memohon kekuatan dari-Nya. Berharap suatu saat suamiku akan berubah menjadi baik kembali. Seperti sedia kala? Ah, itu hanyalah anganku semata yang rasanya sia-sia. Tetapi, rasanya berdoa tak pernah salah. Hari-hari begitu sulit kujalani. Terpikir ingin berhenti kerja, tetapi tak tega pada bos yang sudah memberikan kepercayaan padaku. Dan kalau aku tidak kerja, apa aku tidak lebih gila memikirkan semuanya itu karena punya lebih banyak waktu???
Kuatkan hatimu, Lanny. Kutepuk pundakku sendiri. Dengan air mata yang mengalir deras di kedua belah pipiku, aku mencoba bangkit dari mimpi buruk ini.
***
Sudah dua belas tahun berlalu dari kejadian itu.
Anak kami, Tifanny, sudah berumur 14 tahun. Dia tumbuh menjadi ABG yang manis, ramah, dan tahu diri. Mungkin karena keadaan kami berbeda dengan keluarga lainnya, dia terbentuk jadi mandiri. Aku masih bekerja, tak kusangka pekerjaan itulah yang menyelamatkan aku dan Tifa. Karena kalau aku tak kerja, mana bisa Tifa sekolah? Suamiku, Don, sudah delapan tahun pergi dari hidup kami. Dia memilih tinggal bersama maduku yang bernama Angela (tidak sesuai betul, ya… Seseorang yang memiliki nama yang berarti malaikat malahan jadi penghancur rumah tanggaku?). Mereka pindah ke luar
Hidupku baik-baik saja.
Hanya kekuatan dari Tuhan yang membuatku tetap kuat berjalan.
Walaupun aku pernah jatuh tapi tangan-Nya menopangku sehingga aku tak sampai tergeletak. Aku tak pernah henti berdoa. Terus mensyukuri hal-hal lainnya, di luar Don yang mendua, dalam hidupku. Tifa yang sehat dan pintar, pekerjaan yang semakin membaik. Kini aku jadi manajer di kantorku.
***
Hari Natal 2010. Pagi yang indah dan damai.
Aku dan Tifa misa bersama di pagi yang cerah. Hati kami begitu damai dan bahagia. Melangkah kami perlahan pulang ke rumah, setelah selesai makan siang bersama di restoran kesukaan kami berdua- makanan Italia. Tifa makan spaghetti carbonara kesukaannya, sementara aku makan lasagna.
Untuk minuman, kami berdua memilih Italian Soda dengan flavour yang berbeda. Aku suka yang lebih manis: strawberry, Tifa suka yang asam-segar: kiwi.
Di depan rumah, Don menunggu kami. Entah apa maunya kali ini. Setelah bertahun-tahun tak ada kabar berita, kini dia datang lagi. Kutenangkan hatiku yang selama ini sudah terlanjur membeku. Tetapi, kuakui, aku masih menyimpan rasa itu. Don adalah cinta pertamaku.
Tifa masih ingat Papanya. Walaupun begitu kaku, dia masih bisa ucapkan:
“
Don mengusap kepalanya dengan lembut seraya mencium keningnya.
“ Selamat Natal, juga, Sayang.”
Don tersenyum dan terlihat ketampanannya yang masih begitu menonjol di usianya yang sudah kepala empat itu. Hatiku berdesir, tetapi kutahan, sehingga suaraku tak jadi gemetar. Kuteguhkan hatiku dan kusalami dia, orang yang sudah begitu menyakitiku:
“ Selamat Natal, Don.”
Dia menarik tanganku dan memelukku. Aku terdiam. Terpaku. Kehabisan kata-kata. Tak kupungkiri, aku memang masih cinta.
“ Lan, aku mohon maaf padamu. Aku sungguh lelaki yang paling jahat di muka bumi ini. Telah melukai orang yang begitu mencintaiku.” Katanya lembut.
Aku menangis. Tak mampu kubendung lagi air mataku. Aku memaafkannya. Walau aku tahu, cinta kami tak pernah lagi akan sama.
Dalam kondisi tersedu, aku bertanya padanya:
“ Kenapa kamu ke sini? Mana Angela dan anak kalian?”
Dia terdiam. Tak lama, bibirnya meluncurkan sebuah jawaban yang tak pernah kusangka-sangka:
“ Angela sudah pergi dari hidupku. Tahun ini baru kutahu, anak itu bukanlah anakku. Dia hanya cari kambing hitam untuk dijadikan perisai bagi dirinya, agar dia tidak lagi malu. Aldi, anak dari pacarnya sebelum aku.”
Aku takjub. Tak lagi mampu berbicara. Kututup kedua mulutku. Aku shock dengan pengakuannya ini.
“ Selama ini aku telah tertipu. Dan aku pun keliru, karena aku mau diriku sendiri terjebak dalam tipuan itu. Bahkan aku sempat menikmatinya. Angela memang cantik, tetapi dia tidak jujur. Bukan hanya itu, dia pun sering selingkuh di belakangku. Dan kini, aku tahu, betapa sakitnya hatimu ketika dulu kulakukan hal itu terhadapmu.”
“ Lan, aku memang manusia berdosa. Dosaku begitu besar padamu dan Tifa. Apa mmmm…. Apa masih ada kesempatan bagi kita untuk memulai kembali lembaran baru?”
Aku diam lagi. Aku tak tahu, apakah ini jawaban atas doa-doaku. Selama ini, aku berdoa untuk dikuatkan dalam menghadapi semua pencobaan di hidupku. Aku juga memohon, kalau suatu saat ada kemungkinan bagi kami untuk bersatu, biar Tuhan buka jalan bagi Don dan diriku. Inikah saat yang tepat bagi-Mu?
Aku tak bisa langsung mengangguk setuju. Walaupun amat ingin kulakukan itu. Aku hanya bilang pada Don:
“ Mungkin masih ada kesempatan, tapi aku masih belum tahu apa aku bisa kembali seperti dulu.”
Don tidak kecewa dengan jawabanku. Setelah pergi delapan tahun dari aku dan Tifa, tentunya tidak semudah itu kubuka lagi pintu hatiku.
Dan kami memilih memulai kembali sebagai sepasang kekasih. Seperti dulu, kala pertama kali kami bertemu. Kami mulai lagi berkencan. Juga pergi dengan Tifa anak kami. Nonton bioskop bersama, olahraga bersama, juga jalan-jalan ke
Perlahan, kebekuan pun mencair. Berganti sinar mentari yang menyinari dengan indahnya rumah tangga kami. Kami tak pernah cerai dan Don masih suamiku yang sah. Walaupun dia sudah pernah begitu mengecewakan aku dan sangat menyakiti hatiku, tetapi aku memilih memaafkannya. Menerima dirinya sekali lagi dalam hidupku. Tifa pun terlihat lebih ceria dan bahagia. Dia juga butuh figur seorang Papa. Yang dulu coba kupertahankan walaupun sakit hati, tetapi Don sendiri yang pergi dari kami. Kini Don kembali. Benang cinta yang sempat terputus, kini kami rajut kembali.
Kami serumah lagi. Suamiku yang hilang, mendua, kembali setia. Seperti mimpi saja. Kucubit tanganku sendiri, sakit! Ini realita yang sungguh indah!
@ copyright Fonny Jodikin
Friday, September 30, 2011
Untuk Segala Hal

Untuk segala hal yang belum kumengerti, tetapi baik bagiku, ya Tuhan…
Kumohonkan kerendahan hati dan keinginan untuk belajar.
Karena aku sadar, aku bukan yang paling tahu.
Tak ada gunanya ‘sotoy’ atau sok tahu…
Karena Engkau yang Maha Tahu…
Untuk segala hal yang pernah menyakitkan hati, melemahkan semangat, dan melukai perasaanku, oh Tuhan…
Kumohonkan hati yang lapang, juga keihklasan untuk mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hatiku.
Baik yang disengaja ataupun tidak…
Semua hanya demi kebaikanku.
Karena aku sadar, dengan mengampuni, yang disembuhkan adalah diriku sendiri.
Mungkin sulit bagiku, tetapi dengan rahmat-Mu yang selalu baru, kuyakin kudapati kekuatan untuk lakukan itu…
Untuk segala hal yang mengkhawatirkan,
membawa kecemasan dan ketidakpastian,
terutama yang berhubungan dengan masa depanku…
Aku mau serahkan kepada-Mu, untuk kemudian membangun kembali imanku. Biar Engkau memberikan kekuatan dan harapan baru.
Aku bukan perancang utama hidupku.
Biarlah kehendak-Mu yang jadi dalam hidupku.
Ajarku untuk lakukan yang terbaik dan berharap hanya kepada-Mu
Untuk segala hal yang begitu manis, membahagiakan, dan membawa sukacita…
Biarlah aku menghadiahkan itu semua hanya kepada-Mu
Sebagai perwujudan rasa terima kasihku
Atas seluruh kebaikan-Mu, juga perlindungan-Mu
Sepanjang hidupku…
Untuk segala hal yang terjadi dalam hidupku…
Senangku, susahku, bahagiaku, deritaku…
Untuk setiap tawa riangku, isak tangisku, senyumku, tetesan air mataku…
Untuk segalanya itu, Tuhan…
Aku ingin persembahkan semuanya bagi-Mu…
Karena inilah hidupku yang sudah Kauanugerahkan bagiku
Kuingin menyertakan-Mu dalam setiap putaran waktu
Setiap lembaran halaman buku kehidupanku…
Biarlah hidupku membawa kemuliaan bagi nama-Mu…
-fonnyjodikin-
*copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.
* tautannya ada di: http://fjodikin.blogspot.com/2011/09/untuk-segala-hal.html