Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, October 2, 2011

Mendua



*** sebuah cerpen

Mari bercerita tentang kegetiran yang ada di rasa, di jiwa.

Suamiku baru saja melakukan pengkhianatan. Mengatas-namakan kesepian, dia cari lagi seorang perempuan. Ironisnya, saat aku mulai bekerja kembali -banting tulang untuk bantu keluarga- saat itulah baginya merupakan celah. Apa pun alasannya, sulit bagiku untuk menerima.

Memuakkan. Menyakitkan. Kenyataan itu begitu memilukan.

Mengapa sampai hati kaulakukan?

Tak tahukah kau, kau hujam dadaku berkali-kali dan aku kesakitan?

Akibat dirimu berpaling dari kesetiaan?

Haruskah kusalahkan keadaan?

Atau selama ini kau memang hanya cari-cari alasan?
Haruskah kupilih pisah?
Sementara kulihat buah hati kita yang masih begitu belia.

Baru dua tahun saja umurnya.

Ah, aku tak tega, membuatnya kehilangan figur seorang ayah.

Itu konsekuensinya kalau aku memilih meninggalkanmu.

Akhirnya, kutelan pahitku sendirian.

Tak berani kubicara pada ibuku kalau hanya ciptakan kesedihan baginya.

Duka menaungi hari-hariku.

Senyumku pun bernada pilu. Tak bisa ia kusembunyikan dari wajahku.

Apalagi setelah kutahu, WIL (Wanita Idaman Lain)-nya suamiku lebih segala-galanya dariku. Lebih cantik, lebih putih, lebih tinggi, dan lebih muda. Dan yang lebih membuatku tersedak mendadak: di rahimnya sedang tertanam benih suamiku. Astaga!!!

Inginku teriak.

Tapi aku tak kuasa. Hanya dalam hati, aku teriak sekencang-kencangnya. Tak pernah kubayangkan akan berbagi suami. Kami melewati masa berpacaran yang menyenangkan. Empat tahun bukan waktu yang singkat. Kami memang menikah muda. Usiaku baru 23 kala itu, dan suamiku-Don- berusia 26 tahun. Dan kami saling cinta, jadi masih mau tunggu apa? Hatiku begitu berbunga-bunga ketika dia melamarku. Kuanggukkan kepala kuat-kuat tanda setuju. Bahagia langsung memenuhi hidupku.

Tetapi, itu masa lalu.

Kini, yang ada hanyalah kelelahan seusai kerja dan kondisi rumah yang tak lagi ramah. Kami saling diam, kalau tidak saling caci. Anak kami kebingungan melihat kami. Dia terpaksa kutitipkan pada ibuku ketika kubekerja. Suamiku memang usaha sendiri, jual-beli barang-barang apa saja yang dibutuhkan sebuah kantor, jadi dia punya banyak waktu sementara aku pergi cari uang buat bantu-bantu keluarga. Dia pun setuju ketika itu, kapan pun aku mau mulai kerja, silakan saja katanya. Tetapi, dia ingkar akan janji setianya. Dia lupakan begitu saja. Di siang hari saat aku bekerja, dia mencari cinta lainnya.

Kata sahabat-sahabat wanitaku- Vina, Jenny, dan Kiky, tampar saja perempuan tak tahu diri itu. Tetapi, entah mengapa, aku tak bisa. Ketika kutemui dia, aku hanya bisa berkata.

“ Sejujurnya, aku kasihan padamu. Kamu begitu muda dan cantik, apa kamu tidak bisa cari suami yang lebih baik dari suamiku ini?” Kukatakan itu dengan tatapan menghujam ke arahnya, dengan nada sesinis-sinisnya. Dan dia hanya bisa menangis, tanpa banyak berkata-kata.

Kejadian ini baru dua minggu yang lalu kuketahui.

Jadi, sulit bagiku berpikir jernih. Untunglah sahabat-sahabat wanitaku, juga kakak perempuanku terus memberikan kekuatan padaku. Kalau tidak, aku sendiri takut pikiranku jadi kacau. Aku juga tak berani terlalu lama sendiri, aku takut ada keinginan untuk bunuh diri yang pernah juga muncul sesekali. Tetapi, selalu dia kutepis, karena aku harus hidup demi puteri kami. Walaupun papanya sudah begitu menyebalkan dan menyakiti hati kami, aku memilih tinggal demi puteri kami. Suamiku kadang pulang, kadang tidak. Saat dia tidak pulang itulah, kutahu pasti, dia sedang berada dengan perempuan itu.

Di saat seperti ini, aku hanya bisa berdoa. Memohon kekuatan dari-Nya. Berharap suatu saat suamiku akan berubah menjadi baik kembali. Seperti sedia kala? Ah, itu hanyalah anganku semata yang rasanya sia-sia. Tetapi, rasanya berdoa tak pernah salah. Hari-hari begitu sulit kujalani. Terpikir ingin berhenti kerja, tetapi tak tega pada bos yang sudah memberikan kepercayaan padaku. Dan kalau aku tidak kerja, apa aku tidak lebih gila memikirkan semuanya itu karena punya lebih banyak waktu???

Kuatkan hatimu, Lanny. Kutepuk pundakku sendiri. Dengan air mata yang mengalir deras di kedua belah pipiku, aku mencoba bangkit dari mimpi buruk ini.

***

Sudah dua belas tahun berlalu dari kejadian itu.

Anak kami, Tifanny, sudah berumur 14 tahun. Dia tumbuh menjadi ABG yang manis, ramah, dan tahu diri. Mungkin karena keadaan kami berbeda dengan keluarga lainnya, dia terbentuk jadi mandiri. Aku masih bekerja, tak kusangka pekerjaan itulah yang menyelamatkan aku dan Tifa. Karena kalau aku tak kerja, mana bisa Tifa sekolah? Suamiku, Don, sudah delapan tahun pergi dari hidup kami. Dia memilih tinggal bersama maduku yang bernama Angela (tidak sesuai betul, ya… Seseorang yang memiliki nama yang berarti malaikat malahan jadi penghancur rumah tanggaku?). Mereka pindah ke luar kota.

Hidupku baik-baik saja.

Ada beberapa pria iseng mencoba mendekat. Siapa tahu, janda ini mau coba-coba? Ah, bagiku, tak ada istilah coba-coba. Untuk hal-hal yang menyangkut hati, aku tak pernah coba-coba. Nanti keterusan dan aku tak bisa lari, jadi kupilih dinding tebal pembatas antara aku dan kaum lelaki. Biarkan aku sendiri dan membesarkan Tifa saja. Itu saja keinginanku.

Hanya kekuatan dari Tuhan yang membuatku tetap kuat berjalan.

Walaupun aku pernah jatuh tapi tangan-Nya menopangku sehingga aku tak sampai tergeletak. Aku tak pernah henti berdoa. Terus mensyukuri hal-hal lainnya, di luar Don yang mendua, dalam hidupku. Tifa yang sehat dan pintar, pekerjaan yang semakin membaik. Kini aku jadi manajer di kantorku.

***

Hari Natal 2010. Pagi yang indah dan damai.

Aku dan Tifa misa bersama di pagi yang cerah. Hati kami begitu damai dan bahagia. Melangkah kami perlahan pulang ke rumah, setelah selesai makan siang bersama di restoran kesukaan kami berdua- makanan Italia. Tifa makan spaghetti carbonara kesukaannya, sementara aku makan lasagna.

Untuk minuman, kami berdua memilih Italian Soda dengan flavour yang berbeda. Aku suka yang lebih manis: strawberry, Tifa suka yang asam-segar: kiwi.

Di depan rumah, Don menunggu kami. Entah apa maunya kali ini. Setelah bertahun-tahun tak ada kabar berita, kini dia datang lagi. Kutenangkan hatiku yang selama ini sudah terlanjur membeku. Tetapi, kuakui, aku masih menyimpan rasa itu. Don adalah cinta pertamaku.

Tifa masih ingat Papanya. Walaupun begitu kaku, dia masih bisa ucapkan:

Selamat Natal, Pa.

Don mengusap kepalanya dengan lembut seraya mencium keningnya.

“ Selamat Natal, juga, Sayang.”

Don tersenyum dan terlihat ketampanannya yang masih begitu menonjol di usianya yang sudah kepala empat itu. Hatiku berdesir, tetapi kutahan, sehingga suaraku tak jadi gemetar. Kuteguhkan hatiku dan kusalami dia, orang yang sudah begitu menyakitiku:

“ Selamat Natal, Don.”

Dia menarik tanganku dan memelukku. Aku terdiam. Terpaku. Kehabisan kata-kata. Tak kupungkiri, aku memang masih cinta.

“ Lan, aku mohon maaf padamu. Aku sungguh lelaki yang paling jahat di muka bumi ini. Telah melukai orang yang begitu mencintaiku.” Katanya lembut.

Aku menangis. Tak mampu kubendung lagi air mataku. Aku memaafkannya. Walau aku tahu, cinta kami tak pernah lagi akan sama.

Dalam kondisi tersedu, aku bertanya padanya:

“ Kenapa kamu ke sini? Mana Angela dan anak kalian?”

Dia terdiam. Tak lama, bibirnya meluncurkan sebuah jawaban yang tak pernah kusangka-sangka:

“ Angela sudah pergi dari hidupku. Tahun ini baru kutahu, anak itu bukanlah anakku. Dia hanya cari kambing hitam untuk dijadikan perisai bagi dirinya, agar dia tidak lagi malu. Aldi, anak dari pacarnya sebelum aku.”

Aku takjub. Tak lagi mampu berbicara. Kututup kedua mulutku. Aku shock dengan pengakuannya ini.

“ Selama ini aku telah tertipu. Dan aku pun keliru, karena aku mau diriku sendiri terjebak dalam tipuan itu. Bahkan aku sempat menikmatinya. Angela memang cantik, tetapi dia tidak jujur. Bukan hanya itu, dia pun sering selingkuh di belakangku. Dan kini, aku tahu, betapa sakitnya hatimu ketika dulu kulakukan hal itu terhadapmu.”

“ Lan, aku memang manusia berdosa. Dosaku begitu besar padamu dan Tifa. Apa mmmm…. Apa masih ada kesempatan bagi kita untuk memulai kembali lembaran baru?”

Aku diam lagi. Aku tak tahu, apakah ini jawaban atas doa-doaku. Selama ini, aku berdoa untuk dikuatkan dalam menghadapi semua pencobaan di hidupku. Aku juga memohon, kalau suatu saat ada kemungkinan bagi kami untuk bersatu, biar Tuhan buka jalan bagi Don dan diriku. Inikah saat yang tepat bagi-Mu?

Aku tak bisa langsung mengangguk setuju. Walaupun amat ingin kulakukan itu. Aku hanya bilang pada Don:

“ Mungkin masih ada kesempatan, tapi aku masih belum tahu apa aku bisa kembali seperti dulu.”

Don tidak kecewa dengan jawabanku. Setelah pergi delapan tahun dari aku dan Tifa, tentunya tidak semudah itu kubuka lagi pintu hatiku.

Dan kami memilih memulai kembali sebagai sepasang kekasih. Seperti dulu, kala pertama kali kami bertemu. Kami mulai lagi berkencan. Juga pergi dengan Tifa anak kami. Nonton bioskop bersama, olahraga bersama, juga jalan-jalan ke Bandung bersama.

Perlahan, kebekuan pun mencair. Berganti sinar mentari yang menyinari dengan indahnya rumah tangga kami. Kami tak pernah cerai dan Don masih suamiku yang sah. Walaupun dia sudah pernah begitu mengecewakan aku dan sangat menyakiti hatiku, tetapi aku memilih memaafkannya. Menerima dirinya sekali lagi dalam hidupku. Tifa pun terlihat lebih ceria dan bahagia. Dia juga butuh figur seorang Papa. Yang dulu coba kupertahankan walaupun sakit hati, tetapi Don sendiri yang pergi dari kami. Kini Don kembali. Benang cinta yang sempat terputus, kini kami rajut kembali.

Ada keindahan dalam kesabaran. Sabar menanggung yang menyakitkan, sabar menanti rencana-Nya terwujud dalam kehidupan kami. Dan pada akhirnya, kami nikmati kedamaian dalam hidup kami. Hal yang tak pernah henti kudoakan, walaupun seolah sia-sia di waktu lalu. Aku juga sadar, di masa depan, badai mungkin bahkan hampir pasti akan datang lagi, tetapi akan kami hadapi bersama. Aku, Don, dan Tifa. Serta dengan tuntunan tangan Tuhan yang senantiasa setia pada setiap umat-Nya.

Kami serumah lagi. Suamiku yang hilang, mendua, kembali setia. Seperti mimpi saja. Kucubit tanganku sendiri, sakit! Ini realita yang sungguh indah!

Ho Chi Minh City, 8 September 2011

@ copyright Fonny Jodikin

Sunday, June 13, 2010

Puji Tuhan



Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

--- Mazmur 150:1-6

Nien menangis sesenggukan ketika membaca ayat dari Kitab Mazmur itu. Adalah hal yang mudah- ketika segala keadaan baik adanya-untuk memuji Tuhan. Namun, jika yang tengah dialami adalah badai kehidupan yang berat semacam ini, masihkah ia bisa memuji nama-Nya?

Sebulan sebelum pernikahannya, malahan dia harus menghadapi kenyataan berat ini. Pembatalan pernikahannya dengan Victor. Memuakkan, sekaligus menyesakkan. Berpikir bahwa masa pacaran yang empat tahun itu cukup untuk membuatnya mengenal calon pasangannya. Kisah klise yang seolah terjadi hanya di film-film belaka terjadi juga pada dirinya. Victor pergi meninggalkannya. Yang gilanya dengan pimpinan EO pernikahan mereka sendiri. Apa daya, Winny memang memesona. Waktu pertama kali berjumpa Winny pun, sebetulnya Nien berhasil menangkap sinyal genit yang dikirimkan calon suaminya itu kepada Winny lewat kerlingan matanya. Nien mengerti, itu kelemahan Victor kalau lihat cewek cantik. Tetapi, apa ya mbok gak bisa tahan diri sedikit saja? Ini ‘kan lagian bersama calon istrinya, yang sudah dipacarinya empat tahun dan dalam hitungan bulan akan jadi istri sahnya.

Dalam diam, Nien mencatat semuanya dalam hati saja. Bungkam. Mungkin salah, tetapi dia tak bermaksud untuk menuduh Victor juga. Walaupun dia tahu, dia mungkin sudah terlanjur cinta dan berpikir dengan perkawinan mereka mungkin semuanya akan selesai. Begitu saja. Padahal sisi lain dari dirinya terus mengingatkannya, buat apa dilanjutkan kalau respek sudah tak ada? Sebetulnya hubungan mereka sudah terlanjur mencapai tingkah hambar. Hambar seolah sayur yang tanpa garam. Sayur yang kurang bumbu. Enggak enak ajalah. Tetapi, daripada nggak kawin? Sementara yang menunggu perkawinan Nien tercatat seluruh keluarganya dan berharap agar ekonomi mereka sedikit terangkat dengan menikahi besan yang kaya, menjadi satu beban tersendiri juga. Tidak semua anggota keluarganya memang. Ibunya tidak. Karena memang mama tidak mata duitan. Mama malah selalu menyarankan untuk ikut mata batinnya. Suara hatinya agar mengikuti apa yang dibisikkannya. Walaupun seruannya perlahan, walaupun kesannya nyaris tak terdengar, tetapi sebetulnya ia tak henti berbicara.

Setelah puas menyesali semua yang terjadi, mengasihani diri, sekaligus membenci kenyataan mengapa harus begini…Tiba-tiba suara itu tak lagi pelan. Tak lagi berbisik. Kali ini dia berkata tegas:

“ Teruslah berterima kasih untuk segala hal. Teruslah memuji Tuhan, apa pun yang terjadi. Segala pencobaan ini takkan melebihi kekuatanmu. Coba kau bayangkan, kalau suatu saat kau menikah nanti dan dia malah main gila serta menceraikanmu, apa kau mau? Belum lagi kalau nanti sudah ada anak dari kalian berdua, dia juga harus jadi korban kesalahan keputusan yang kaupaksakan.”

Nien terdiam. Hmmm, betul juga pikirnya.

Mengapa hanya keluh kesah saja yang keluar dari mulutnya? Mengapa bukan ucapan syukur? Mengapa bukan ucapan terima kasih bahwa dia terbebas dari seorang pria bernama Victor yang tak pernah respek padanya sebagai wanita, sebagai calon istri. Nien takut menghabiskan waktu dalam hidupnya sendirian, tetapi kalau menikah hasilnya ditinggal, juga apa gak lebih parah? Memang sih, apa yang terlihat sekarang bukanlah melulu jaminan. Mungkin saja, Victor berubah dan jadi betulan cinta padanya. Namun, dengan kenyataan semacam ini-pembatalan pernikahan ini, apa dia harus argumentasi lagi dengan Tuhan?

“ Maafkan aku, Tuhan, kalau selama ini ucapan yang keluar dari mulutku hanya caci-maki, keluh-kesah, dan mengasihani diri. Aku bukanlah orang yang kuat dalam menghadapi pencobaan semacam ini. Ditambah lagi, memang aku masih menyimpan rasa pada Victor walaupun dia memperlakukanku dengan tidak pantas. Tetapi, Tuhan. Izinkan aku mengubahnya hari ini. Ubah ucapan burukku jadi ucapan syukur. Puji Tuhan, terima kasih kepada-Mu kalau ternyata pernikahan ini tidak terjadi. Aku yakin, inilah jalan terbaik dari-Mu. Kalau malah terjadi, mungkin aku akan lebih menderita ketimbang derita perasaan yang kurasakan semacam ini. Aku percaya, Tuhan sekali lagi, bahwa rencana-Mu adalah yang terbaik. Kalaupun kesakitan ini harus kualami, tentunya Kau takkan tinggalkan aku, tak kurang panjang pertolongan-Mu padaku. Aku percaya pada-Mu. Biarkanlah aku memuji-Mu, mempersembahkan semua sakit yang kurasakan karena aku tahu dan percaya dengan memuji-Mu hal-hal yang positif akan datang kepadaku. Dengan memenuhi hidupku dengan keluh-kesah belaka, aku akan terus memenuhi kepalaku dengan hal-hal yang menyakitkan dan menambah palu kesakitan yang terus diketukkan di hatiku- tanpa henti ke dalamnya. Yang ada hanya nyeri dan pilu belaka. Aku tak mau lagi, Tuhan, menyakiti diriku. Mengecewakan-Mu. Biarkan aku memuji-Mu saja mulai detik ini sekaligus kembali percaya dalam iman bahwa memang inilah rencana terbaik-Mu dalam hidupku,” Nien menutup doanya saat itu, dirasakan ketenangan yang luar biasa. Dia tahu, mungkin luka itu akan coba bermain-main dengannya. Dengan kembali mengunjunginya, mengucapkan salam sesekali sambil berharap menguakkan kembali cerita lama. Semoga dia kuat di dalam Tuhan. Semoga dia terus bisa memuji nama Tuhan gantikan semua duka dan kecewa yang pernah singgah dengan pujian dan merasakan bedanya.

Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Ya, itu yang akan terus dilakukannya:)

Dua tahun kemudian…

Nien memandang lurus ke pekarangan rumahnya yang sudah penuh ditanami bunga-bunga yang indah. Ini rumahnya, rumah bersama suaminya, yang baru saja dinikahinya seminggu yang lalu. Perjumpaan mereka amat cepat, seolah tak terencanakan dan proses hubungannya dengan Joe terjadi secepat kilat. Dalam enam bulan mereka sudah serius dan berniat tunangan. Dalam setahun mereka sudah bicara soal gedung pernikahan. Dan minggu lalu mereka sudah naik ke pelaminan.

Setelah mengucap syukur, Tuhan mulai membuka satu per satu rencana-Nya akan pasangan hidupnya. Bukan lagi Victor yang kemudian ternyata kena karma atas Winny yang meninggalkannya bersama pria lain tak lama setelah mereka menikah.

Dirinya dan Joe melangkah pasti dalam kebersamaan. Dalam tuntunan tangan Tuhan. Akhirnya Nien bisa buktikan bahwa percaya itu indah bukan hanya sekadar judul lagu belaka, namun akan berlaku bagi mereka yang sungguh mempercayakan hidupnya kepada Tuhan.

Puji nama-Mu, Tuhan. Raja di atas segala raja. Penguasa segalanya. Takkan dirinya ragu lagi untuk terus berpegang pada-Nya dalam situasi terburuk atau terpuruk sekalipun…

Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Nien akan terus berusaha melakukannya…Karena memang hanya Dialah yang layak dipuji dan ditinggikan untuk selama-lamanya…

HCMC, 11 -13 Juni 2010

-fon-

* mengingatkan diri sendiri ‘the power of praising’ adalah biar bagaimana pun akan lebih kuat daripada ‘the power of complaining’.

Sumber gambar:

http://ambassadoroftruth.files.wordpress.com/2009/08/worship.jpg

Thursday, March 18, 2010

Demi Cinta


*** cerpen

4 Februari 2009

“ Kalau elo cinta ama gue, elo pasti mau dong lakuin semua yang gue mau?” Begitulah pertanyaan terakhir pacar gue yang bikin gue bingung. Edi, maksudnya apaan, nih?

“ Kalau elo emang cinta ama gue, Valentine’s Day ini elo nginep di hotel ama gue dan kita lakuin yang belum pernah kita lakuin sebelumnya.”

Edi gilaaa! Tega banget! Udah suruh nginep di hotel, itu udah ‘number one’ yang dilarang bonyok gue. Terus, maksud loe? Kita suruh ngapain tinggal di hotel semalem geto. Udah mahal, gak ketentuan juntrungannya lagi. Emang sih, Edi punya uang, bahkan konon kabarnya, dia udah nabung lho buat acara spesial di Valentine ntar. Khusus buat gue dan dia. Tapi, kalo itu berarti melakukan apa yang dia mau dan belum tentu gue mau, gimana dong? Agak kuatir nih gue. Jangan-jangan yang dimaksud emang itu, hiiii ngeri! Kita ‘kan baru masuk kuliah. Ntar kalo gue gak kelar, trus tekdung gara-gara Edi, mati gueee! Apa kata dunia???

“ Ed, maksud loe apa? Gue gak mau lho, kita lakuin yang belum pernah kita lakuin sebelumnya kalo itu mmm…hubungan suami istri. Kalo itu yang loe mau, sori deh, Ed. Gue rasa kita putus aja!” Gue jawab tegas banget. Emang, ini masalah harga diri, man! Gak bisa dong, Ed…

“ Tita, kalau elo gak mau, kita putus dan gue udah ada cadangan elo. Gue tetep bakalan nginep di hotel bintang tiga itu. Dan gue bakal tetep melakuin hal itu di Valentine’s Day ini. Malu gue disebut perjaka ting-ting, kayak gue gak laku aja.” Jawab Edi lagi.

“ Ya udah, Ed. Kalo itu mau loe, gue gak bisa mewujudkan impian elo. Sori ya, gue lebih takut resiko dan dosa, ketimbang kenikmatan sesaat. Dan kalau berarti kita putus, ya udah, ternyata cinta kita cuma segini doang. “ Gue nangis dan air mata udah mulai turun dengan deras di pipi gue. Rada-rada kan, kalo deket-deket Valentine’s Day gue malah putus? Sementara begitu banyak orang jadian, lamaran, ato bahkan ‘celebrate’ secara sederhana sampe mewah. Tapi, keputusan gue udah bulat. Sori, Ed, I’d like to say NO!

15 Februari 2009

One day after Valentine’s Day. Edi dengan bangga nunjukkin fotonya ke anak-anak sekelas gue. Emang gue dan Edi sekelas di Jurusan Ekonomi Akuntansi Universitas Karitas ini. Gue udah usaha untuk cuek dan tabah, tapi masalahnya kelas gue tambah heboh dan gaduh. Karena Edi motretnya ampe ampir seluruh bagian. Edi malah bangga. Ampun, deh!

Dan kata anak-anak, ceweknya cakep banget. Bagus deh, dia tambah bangga. Huh! Siapa sih tuh cewek?

Gak lama, gue denger bisikan, “ Tita, elo jangan marah ya, ceweknya si Edi sekarang itu best friend elo si Lina.”

Lina??? Kepala gue langsung puyeng. Kenapa gak cewek lain, sih Ed? Kayak gak ada cewek lain aja? Bukannya elo punya koleksi segudang. Kenapa musti nyakitin hati gue kayak gini? Kenapa Si Lina juga gak pedulian kayak gitu ama perasaan gue? Coba kalo dibalik, itu cowoknya terus gue maen hajar kayak gini, pake foto-foto lagi. Hati gue tambah ancur. Ancur seancur-ancurnya. Elo bisa bayangin dong? Tolong, gue pengen keluar dari kelas ini sekarang juga!

Ambil ancang-ancang beresin semua buku dan fotokopian pelajaran Akuntansi Biaya dan gue cabut! Gue gak konsen! Gue maunya kabur ajaaa! Edi, Lina, elo berdua tegaaaa!!! Keterlaluan!

Gua Maria Katedral, Jakarta

Cuman tempat ini yang bisa bikin gue lega sekarang. Bunda, gue mau ngadu! Gue diperlakukan tidak adil, Bun! Hatiku sakit banget. Dan kayaknya mereka sengaja ngelakuin itu dan bangga di atas penderitaan gue. Bunda, please help me!

Air mata masih netes di pipi gue. Sakit hati gue masih terasa, kayak diiris-iris hati gue. Hanya karena gue say “ NO”. Apa gue salah? Tapi itu emang prinsip gue. Gue gak bakalan bisa lakuin yang melanggar prinsip gue. Dan gak diperbolehkan di agama mana pun. Karena kenikmatan sesaat itu, kalaupun emang nikmat, buntutnya panjang. Dan gue cuma mau memberikannya kepada suami gue. Apa gue salah? Apa gue berlebihan di zaman yang gila pornografi dan seks bebas begini, masih tetep mempertahankan prinsip gue. Gue berjuang buat ortu gue, bonyok gue, buat Tuhan, buat gue sendiri. Karena gue gak bakal bisa. Dipaksa kayak apa pun, gue gak bakal mau!

“ Just follow your heart.” Tiba-tiba kata-kata itu nangkring dengan kuat di hati gue. Tiba-tiba ada keyakinan bahwa Tuhan merestui semua keputusan gue. Walaupun sakit, walaupun sekarang ini gue luka parah kena tembak dua orang yang gue cintai di hari kasih sayang. Ironis banget? Emang. Dan ini baru sekali seumur hidup gue alami.

Tuhan, gue mau ikut kata hati gue ini. Gue gak menyesal. Sama sekali NGGAK! Cuma hati yang sakit ini juga gak bisa gue bohongin dengan bilang, “ I’m OK.” Jujurnya, “ I’m not OK!” Tapi gue terima, God. Kalau ini bagian dari rencana hidup gue. Kalau ini emang masalah yang harus gue tanggung. Bunda Maria, doakanlah aku. Yesus, kuatkanlah aku.

Gue hapus air mata gue. Dengan hati yang sakit, gue berlalu. Sembari percaya, kalau Tuhan gak bakalan tutup mata dengan kejadian ini. Gue cuma mau tetap setia.

Desember 2009

Hasil dari hubungan one night stand antara Edi dan Lina berakhir di pelaminan. Karena si Lina keburu hamil atas perbuatan Edi. Dan Edi ‘of course’ harus tanggung jawab. Dan mereka gak bisa pesta juga kesannya terburu-buru banget. Trus, Lina putus kuliah. Karena harus ngurus bayinya. Gue sempet dateng ke wedding mereka. Dengan hati yang gak begitu hancur seperti Valentine’s Day lalu. Gue tau, mungkin Edi ngarepin gue ngelakuin itu semua demi cinta. Tapi, gue mau setia ama prinsip gue, juga demi cinta, Ed. Demi cinta gue pada Yesus. Gue mau tetep setia, biarpun itu berarti gue kehilangan Edi. Cinta pertama gue, sekaligus pacar pertama gue.

Lina juga sudah ‘ say sorry’. Ratusan kali. Gue udah maafin dia. Karena dia sendiri sekarang yang harus nanggung beban ini. Gue gak pernah menyesali keputusan gue. Malahan gue sedih dengan keputusan elo, Lin!

Gue denger dari Lina, Edi gak pernah cinta ama dia. Edi tetep cinta ama gue. Dan tindakan ‘one night stand’ itu maksudnya mau bikin gue cemburu aja. Tapi, ternyata Lina keburu hamil. Dan mereka bersepakat, abis tuh anak lahir dan berumur setahun, mereka mau cerai. Edi bakal ngasih uang tiap bulan buat tuh anak. Dan Lina, membesarkan dia sendirian ato mungkin ngasih anaknya ke panti asuhan. Kasihan. Kasihan anaknya, kasihan Lina, dan kasihan Edi. Kalau aja mereka tau resikonya, mereka pasti nyesel ngelakuin malam itu. Tapi, waktu gak bisa diputer balik. Emangnya ada ‘time machine’?

Gue udah gak sakit hati. Rasa benci gue, udah gue serahkan ke Yesus. Dan pelan-pelan, rasanya gue udah maafin mereka. Rasa kasihan yang sekarang mendominasi hati gue. Andai saja kalian tau…Yesus udah begitu cinta ama kita, kenapa kita musti ngelukain hati-Nya dengan kelakuan kayak gitu. Yesus datang ke dunia demi cinta, untuk nyelametin kita semua anak-anak-Nya. Dan yang gue lakuin cuma sebagian kecil buat membalas cinta-Nya yang gede banget itu. Dan gue gak menyesal. Gue jaga kemurnian gue buat suami gue. Demi Yesus. Demi cinta gue pada Yesus.

Lina, Edi, dan calon anak kalian… Gue maafin. Gue ampunin. Sekaligus gue doain, semoga anak kalian gak luka batin parah karena tertolak kayak gitu. Semoga kalian belajar dari kesalahan yang lalu. Gak seindah yang elo-elo bayangin! Kalau akibatnya kayak gini…

Tuhan, kasihanilah mereka….

HCMC, 26 Januari 2010,

-fon-

* in the spirit of warm invitation from Riko to become C-Ambassador. Chastity Ambassador. Aku menyambut baik dan menulis dengan gaya bahasa yang sudah lama kutinggalkan, demi cinta :) Sekaligus prihatin dengan pemberitaan yang kubaca bahwa seks bebas sudah jadi ‘tren’ kuat di remaja Indonesia. Tetap jaga kemurnian demi cinta kepada-Nya!

* sudah dimuat di website True Love Celebration: http://truelovecelebration.org/category/short-story/

Sumber gambar:

http://www.invitationtochrist.org/j0438388.jpg