my writings especially dedicated for Jesus. For His goodness and never ending kindness in my life.
Monday, November 18, 2013
Jadikanlah Dirimu Teladan
Saturday, August 31, 2013
Hina
Monday, October 17, 2011
Salah
Tidak ada orang yang suka dibilang salah. Tak jarang, banyak orang berusaha mencari-cari alasan untuk pembenaran diri jika dia bersalah. Seolah sah, tetapi salah tetaplah salah.
Tidak ada orang yang suka mengingat-ingat atau diingatkan tentang kesalahan yang telah dia perbuat. Walaupun mungkin dia mengakui dengan rendah hati akan kesalahannya, tetapi bila rasa bersalah itu datang lagi dan merongrongnya, tak jarang ia malah kehilangan sukacita itu sendiri.
Tidak ada orang yang luput dari kesalahan. Sebaik-baiknya seseorang, pastilah pernah melakukan suatu hal yang ‘salah’. Tetapi, kesalahan bukanlah akhir dunia. Banyak kali, kesalahan yang dianggap fatal oleh manusia, malah menjadi sebuah pintu menuju suatu kesempatan baru yang disediakan oleh-Nya.
Amatlah mudah menuding orang lain, “ Tuh, dia yang salah!” Dengan emosi yang membabi-buta, membuat kita sendiri lupa, kalau kita sendiri yang dituding, apa kita akan suka?
Mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sukar melihat kesalahan sendiri? Ingatlah akan peribahasa: Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak . Tidak selalu mudah, tetapi hendaknya kita berusaha melihat sisi baik dari setiap orang yang pastinya juga dimilikinya. Juga tak lupa melakukan introspeksi diri atas kesalahan yang sudah pernah kita perbuat.
Salah adalah manusiawi. Tetapi, bukanlah berarti boleh ‘melegalkan’ kesalahan itu sendiri. Salah, untuk kemudian belajar bangkit dari kesalahan dan mengampuni diri sendiri serta orang lain yang menyakiti, adalah hal yang baik yang memampukan kita berdiri tegar. Hari ini adalah rangkaian sekumpulan tindakan yang sudah kita ambil di masa lalu-yang benar maupun yang salah- dan mencari pembelajaran di dalamnya.
Bila rasa bersalah terlalu menderamu, bawalah itu semua kepada-Nya. Mohonkan ampunan Yang Kuasa bagi dirimu atas kesalahan yang telah kauperbuat. Tiada kesalahan yang terlalu besar atau fatal yang tak bisa diampuni-Nya. Jangan membebani diri terlalu berat atau jadi putus asa. Masih ada hari esok dan kesempatan untuk melakukan yang lebih baik dari hari ini.
Jika orang yang bersalah kepadamu begitu menyakitimu. Bukakan pintu maafmu kepadanya. Mungkin langkah pertama akan sangat sulit karena tak pernah mudah membuka luka lama, tetapi hadirkan kasih-Nya sehingga diri kita merasakan cinta-Nya sepenuh-penuhnya. Untuk kemudian mampu perlahan-lahan mengampuni orang yang begitu melukai hati kita.
Andaikata seseorang itu termasuk orang yang tak pernah mengaku salah. Merasa diri selalu benar.
Dan pada akhirnya, biarlah semua kesalahan yang pernah kita perbuat, kita bawa kepada-Nya. Mohon ampun kepada Tuhan, minta maaf kepada sesama yang pernah kita sakiti hatinya, juga mengampuni diri sendiri bila rasa bersalah begitu mendera. Salah bukanlah akhir segalanya. Salah, untuk kemudian berbalik ke jalan yang benar, akan membawa bahagia.
Akhir kata, maafkan saya kalau ada salah-salah kata:)
Salam!
-fonnyjodikin-
Monday, July 12, 2010
ReSiPI (Renungan Singkat Penyegar Iman)- Hakim-Hakim
Pernah terjadi, ketika saya melihat seseorang melakukan hal yang buruk, langsung otak saya berpikir dan mencapai suatu konklusi. Seringnya, konklusi itu adalah penghakiman atas diri orang tersebut. Contohnya: ih, tuh orang sombong sekali! Norak pula, mau pamer saja kerjanya. Tanpa sadar, saya pun begitu, jadi saya memperhatikan apa yang tidak saya sukai dari diri saya dengan melihatnya pada diri orang lain. Contoh lain: mungkin kita tidak suka dengan seorang teman yang tukang gosip, tanpa sadar kita pun menempatkan gosip sebagai hobi di peringkat pertama. Mengenaskan, bukan? Seolah kita begitu mulia dengan menghakimi orang lain, padahal kita sendiri? Sama saja, bahkan mungkin saja lebih buruk dari mereka.
Maka benarlah Kitab Roma bab 2:1, ketika mengatakan hal sebagai berikut:
Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.
--- Roma 2: 1
Hakim-hakim yang merasa superadil itu (baca: diri kita), sebetulnya tidak bebas dari salah. Semua manusia, tanpa kecuali pasti pernah salah. Maka dari itu, sebelum jadi hakim bagi orang lain, mari kita berkaca dan introspeksi diri dulu. Adakah aku sendiri sudah hidup benar? Kalau masih sama-sama berusaha, ada baiknya jika penghakiman atas diri orang lain kita minimalkan. Hakim-hakim? Sudahkah kita bercermin?
HCMC, 13 Juli 2010
-fon-
* ReSiPI: rubrik baru yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.
Wednesday, June 30, 2010
Mengapa Kau Gelisah, Jiwaku?

Ya, TUHAN, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku; hatiku terbolak-balik di dalam dadaku….[a]
Kupandangi wajahku di cermin yang terletak di meja rias di kamarku. Wajahku yang tampan itu, mulai ditumbuhi kumis dan jenggot yang tak beraturan. Tak biasanya. Tak seharusnya. Karena aku yang metroseksual dan superstar ini, tak mungkin mengecilkan arti penampilan seperti itu. Di balik cermin itu, kulihat lagi diriku. Postur tinggi 178cm, berat badan seimbang. Gagah. Tetapi, aku tak lepas dari masalah. Ayahku yang sudah tua itu, tengah sakit kanker stadium tinggi. Tak ada lagi harapan baginya untuk sembuh. Karirku sendiri? Cukup baik, walaupun kuakui persaingan semakin ketat. Aku memiliki banyak rencana: konser, sinetron, film. Ya, terutama konser di Jepang di mana sebagian besar fansku di luar
Jangan dikira kehidupan selebriti yang seolah indah itu tak pernah menawarkan duka. Justru, paket duka itu terlalu sering kuterima. Tak seindah film yang kumainkan, tak seindah musik yang kuperdengarkan. Tak jarang, aku merasa sepi, sendiri, tak punya lagi privasi. Aku ketakutan. Dengan hebat ia menggoncangkan hatiku. Gelisah jiwaku. Resah luar biasa. Seolah hatiku terbolak-balik di dalam dadaku. Tidur? Ia pun sudah lama tak berkawan denganku. Ia seolah jadi barang berharga yang mahal, karena untuk tidur pun aku harus minum obat-obatan penenang.
Terlalu pelik semuanya kutanggung sendiri. Sendiri? Iya, betul-betul sendiri, tanpa pernah percaya orang lain untuk berbagi. Tak jarang, aku ingin mati. Dengan mati, kupikir akan menyelesaikan banyak masalah. Yang pasti, aku tak harus menderita di dunia ini. Jangan bicara padaku soal Tuhan. Aku sendiri tak yakin Ia ada.
Maafkan aku, Ayah! Aku harus pergi. Tak sanggup lagi kujalani hidup ini, kalau isinya semuanya simfoni duka tak berkesudahan. Kubasuh kakinya sekali lagi, sambil terus mengucap maaf. Semoga sungguh ia bisa maafkan aku. Kupandangi kabel charger yang tergeletak tak jauh dari meja riasku itu. Entah mengapa, hari ini dia begitu bersemangat memanggil-manggil aku dan memberikanku ide baru. Menjadikannya alat untuk mengakhiri hidupku….
Selamat tinggal, dunia. Cukup sudah kualami semua kepedihan ini. Aku adalah pengendali tunggal hidupku. Aku yang menentukan kapan aku mati dan dengan cara apa. Kalaupun harus seperti ini, aku puas. Setidaknya, inilah kematian yang sesuai dengan waktuku. Jangan lagi ceramahi aku soal Tuhan, keluarga, atau kemungkinan hidup bahagia. Aku sudah terlalu muak dengan kesemuanya itu. Selamat tinggal dunia. Selamat tinggal gelisah, ketakutan, dan kecemasan. Hatiku, tenanglah kamu, karena ini semua akan berakhir.
Kuambil kabel charger itu, kugantung diriku. Selesai sudah… Selamat tinggal masalah!
***
Kurasakan rohku meninggalkan tubuhku. Jauh, melayang tinggi. Sementara di sampingku, dua malaikat pencabut maut terkekeh kegelian seolah puas aku telah mengikuti kemauan mereka, menghantarkanku menuju gerbang yang nampak indah berkilau. Inikah surga? Mengapa luarnya begitu indah? Ah, enak juga ternyata….Mati itu menyenangkan…! Satu sesal terberat adalah aku meninggalkan ayahku yang sakit keras. Aku yang muda ini memutuskan untuk pergi lebih dulu sebelum dia yang tua dan sakit-sakitan meninggal dunia. Sepanjang perjalanan, kulihat awan berarak, langit biru. Sementara di beberapa bagian, awan mulai menggumpal dan berwarna kelabu tua, membuatku ingin berenang di antaranya: menyambut hujan yang akan tiba. Kilatan petir menyambar di beberapa tempat, hujan deras,
Saat duduk di salah satu awan itulah, kudengar suara yang amat jelas. Memancar penuh sinar kemuliaan.
“ Mengapa kauakhiri hidupmu? Mengapa tidak menunggu waktu-Ku?”
“ Ah, apa pula urusanmu? Bukankah aku bebas berkehendak dan melakukan apa yang kumau?” Jawabku tak peduli.
“ Aku tahu kegelisahan hatimu, mengapa kau tidak mencari-Ku? Malahan kaupergi dari penyelenggaraan-Ku? Kau mungkin tertekan, kau memang gelisah. Tetapi, bukankah Kau juga bisa berharap kepada-Ku? Seperti Pemazmur yang serahkan seluruh takut dan gelisahnya kepada-Ku? Mengapa tidak kaulakukan itu?”
Tiba-tiba suara lain bergema. Suara malakaitkah itu? Yang pasti, kembali kulihat dua orang yang kali ini berbaju ‘broken white’, bersayap, dan memiliki lingkaran di atas kepalanya. Mereka terus mendaraskan kata-kata ini:
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku![b]
Terus dan terus, tak putus-putusnya mereka ucapkan itu.
Entah perkataan dari mana itu? Aku tak tahu, mungkin itu yang Dia katakan sebagai Pemazmur yang serahkan ketakutan dan gelisahnya? Aku masih tak mengerti…
Tiba-tiba saja kembali sepasang malaikat lain yang berwajah sangar serta berpakaian serba hitam mengangkutku secara paksa. Kucoba membebaskan diri, tetapi seolah sia-sia. Mereka membawaku ke pintu gerbang indah itu-yang nampaknya rupawan dan menggoda, tetapi aku tak tahu pasti ada apa di balik
Sunday, June 13, 2010
Puji Tuhan

Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!
--- Mazmur 150:1-6
Nien menangis sesenggukan ketika membaca ayat dari Kitab Mazmur itu. Adalah hal yang mudah- ketika segala keadaan baik adanya-untuk memuji Tuhan. Namun, jika yang tengah dialami adalah badai kehidupan yang berat semacam ini, masihkah ia bisa memuji nama-Nya?
Sebulan sebelum pernikahannya, malahan dia harus menghadapi kenyataan berat ini. Pembatalan pernikahannya dengan Victor. Memuakkan, sekaligus menyesakkan. Berpikir bahwa masa pacaran yang empat tahun itu cukup untuk membuatnya mengenal calon pasangannya. Kisah klise yang seolah terjadi hanya di film-film belaka terjadi juga pada dirinya. Victor pergi meninggalkannya. Yang gilanya dengan pimpinan EO pernikahan mereka sendiri. Apa daya, Winny memang memesona. Waktu pertama kali berjumpa Winny pun, sebetulnya Nien berhasil menangkap sinyal genit yang dikirimkan calon suaminya itu kepada Winny lewat kerlingan matanya. Nien mengerti, itu kelemahan Victor kalau lihat cewek cantik. Tetapi, apa ya mbok gak bisa tahan diri sedikit saja? Ini ‘
Dalam diam, Nien mencatat semuanya dalam hati saja. Bungkam. Mungkin salah, tetapi dia tak bermaksud untuk menuduh Victor juga. Walaupun dia tahu, dia mungkin sudah terlanjur cinta dan berpikir dengan perkawinan mereka mungkin semuanya akan selesai. Begitu saja. Padahal sisi lain dari dirinya terus mengingatkannya, buat apa dilanjutkan kalau respek sudah tak ada? Sebetulnya hubungan mereka sudah terlanjur mencapai tingkah hambar. Hambar seolah sayur yang tanpa garam. Sayur yang kurang bumbu. Enggak enak ajalah. Tetapi, daripada nggak kawin? Sementara yang menunggu perkawinan Nien tercatat seluruh keluarganya dan berharap agar ekonomi mereka sedikit terangkat dengan menikahi besan yang kaya, menjadi satu beban tersendiri juga. Tidak semua anggota keluarganya memang. Ibunya tidak. Karena memang mama tidak mata duitan. Mama malah selalu menyarankan untuk ikut mata batinnya. Suara hatinya agar mengikuti apa yang dibisikkannya. Walaupun seruannya perlahan, walaupun kesannya nyaris tak terdengar, tetapi sebetulnya ia tak henti berbicara.
Setelah puas menyesali semua yang terjadi, mengasihani diri, sekaligus membenci kenyataan mengapa harus begini…Tiba-tiba suara itu tak lagi pelan. Tak lagi berbisik. Kali ini dia berkata tegas:
“ Teruslah berterima kasih untuk segala hal. Teruslah memuji Tuhan, apa pun yang terjadi. Segala pencobaan ini takkan melebihi kekuatanmu. Coba kau bayangkan, kalau suatu saat kau menikah nanti dan dia malah main gila serta menceraikanmu, apa kau mau? Belum lagi kalau nanti sudah ada anak dari kalian berdua, dia juga harus jadi korban kesalahan keputusan yang kaupaksakan.”
Nien terdiam. Hmmm, betul juga pikirnya.
Mengapa hanya keluh kesah saja yang keluar dari mulutnya? Mengapa bukan ucapan syukur? Mengapa bukan ucapan terima kasih bahwa dia terbebas dari seorang pria bernama Victor yang tak pernah respek padanya sebagai wanita, sebagai calon istri. Nien takut menghabiskan waktu dalam hidupnya sendirian, tetapi kalau menikah hasilnya ditinggal, juga apa gak lebih parah? Memang sih, apa yang terlihat sekarang bukanlah melulu jaminan. Mungkin saja, Victor berubah dan jadi betulan cinta padanya. Namun, dengan kenyataan semacam ini-pembatalan pernikahan ini, apa dia harus argumentasi lagi dengan Tuhan?
“ Maafkan aku, Tuhan, kalau selama ini ucapan yang keluar dari mulutku hanya caci-maki, keluh-kesah, dan mengasihani diri. Aku bukanlah orang yang kuat dalam menghadapi pencobaan semacam ini. Ditambah lagi, memang aku masih menyimpan rasa pada Victor walaupun dia memperlakukanku dengan tidak pantas. Tetapi, Tuhan. Izinkan aku mengubahnya hari ini. Ubah ucapan burukku jadi ucapan syukur. Puji Tuhan, terima kasih kepada-Mu kalau ternyata pernikahan ini tidak terjadi. Aku yakin, inilah jalan terbaik dari-Mu. Kalau malah terjadi, mungkin aku akan lebih menderita ketimbang derita perasaan yang kurasakan semacam ini. Aku percaya, Tuhan sekali lagi, bahwa rencana-Mu adalah yang terbaik. Kalaupun kesakitan ini harus kualami, tentunya Kau takkan tinggalkan aku, tak kurang panjang pertolongan-Mu padaku. Aku percaya pada-Mu. Biarkanlah aku memuji-Mu, mempersembahkan semua sakit yang kurasakan karena aku tahu dan percaya dengan memuji-Mu hal-hal yang positif akan datang kepadaku. Dengan memenuhi hidupku dengan keluh-kesah belaka, aku akan terus memenuhi kepalaku dengan hal-hal yang menyakitkan dan menambah palu kesakitan yang terus diketukkan di hatiku- tanpa henti ke dalamnya. Yang ada hanya nyeri dan pilu belaka. Aku tak mau lagi, Tuhan, menyakiti diriku. Mengecewakan-Mu. Biarkan aku memuji-Mu saja mulai detik ini sekaligus kembali percaya dalam iman bahwa memang inilah rencana terbaik-Mu dalam hidupku,” Nien menutup doanya saat itu, dirasakan ketenangan yang luar biasa. Dia tahu, mungkin luka itu akan coba bermain-main dengannya. Dengan kembali mengunjunginya, mengucapkan salam sesekali sambil berharap menguakkan kembali cerita lama. Semoga dia kuat di dalam Tuhan. Semoga dia terus bisa memuji nama Tuhan gantikan semua duka dan kecewa yang pernah singgah dengan pujian dan merasakan bedanya.
Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Ya, itu yang akan terus dilakukannya:)
Dua tahun kemudian…
Nien memandang lurus ke pekarangan rumahnya yang sudah penuh ditanami bunga-bunga yang indah. Ini rumahnya, rumah bersama suaminya, yang baru saja dinikahinya seminggu yang lalu. Perjumpaan mereka amat cepat, seolah tak terencanakan dan proses hubungannya dengan Joe terjadi secepat kilat. Dalam enam bulan mereka sudah serius dan berniat tunangan. Dalam setahun mereka sudah bicara soal gedung pernikahan. Dan minggu lalu mereka sudah naik ke pelaminan.
Setelah mengucap syukur, Tuhan mulai membuka satu per satu rencana-Nya akan pasangan hidupnya. Bukan lagi Victor yang kemudian ternyata kena karma atas Winny yang meninggalkannya bersama pria lain tak lama setelah mereka menikah.
Dirinya dan Joe melangkah pasti dalam kebersamaan. Dalam tuntunan tangan Tuhan. Akhirnya Nien bisa buktikan bahwa percaya itu indah bukan hanya sekadar judul lagu belaka, namun akan berlaku bagi mereka yang sungguh mempercayakan hidupnya kepada Tuhan.
Puji nama-Mu, Tuhan. Raja di atas segala raja. Penguasa segalanya. Takkan dirinya ragu lagi untuk terus berpegang pada-Nya dalam situasi terburuk atau terpuruk sekalipun…
Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!
Nien akan terus berusaha melakukannya…Karena memang hanya Dialah yang layak dipuji dan ditinggikan untuk selama-lamanya…
HCMC, 11 -13 Juni 2010
-fon-
* mengingatkan diri sendiri ‘the power of praising’ adalah biar bagaimana pun akan lebih kuat daripada ‘the power of complaining’.
Thursday, June 3, 2010
Undangan

Hari-hari belakangan menjadi hari yang menggelisahkan bagi Rika. Pasalnya, sebagai orang yang dekat dengan Tia yang menyelenggarakan pesta ulang tahunnya di hari Sabtu nanti, Rika tidak termasuk dalam daftar undangannya. Panik, gelisah, marah, tertolak, merasa tidak dianggap teman dan bahkan tidak diperhitungkan, seluruh perasaan itu memenuhi otaknya.
Dia kecewa. Itu jelas!
Jadi, apa artinya pertemuan-pertemuan selama ini? Curhat-curhat mereka yang seolah begitu mendalam? Semuanya seolah tanpa arti dengan tidak diundangnya dirinya. Dari kejadian ini, Rika merasa seolah Tia sudah menabuh genderang perang. Permusuhan sudah dimulai. Dan bagi dirinya itu dimulai dengan menghapus Tia dari daftar ‘phone book’-nya, melakukan ‘removed as a friend’ terhadap Tia di situs Facebook, tidak lagi mau mengontaknya, bahkan memusuhinya. Tia, cukup sudah!
Pengalaman seperti yang dialami Rika, mungkin pernah terjadi dalam kehidupan teman kita atau kehidupan kita pribadi. Tak jarang saya jumpai mereka yang bercerita kepada saya soal undang-mengundang ini. Mungkin juga pernah terjadi saya yang kelupaan mengundang seseorang dan orang tersebut lantas menjadi sakit hati pada saya tanpa pernah mengungkapkannya. Soal undang-mengundang ini memang banyak mengundang konflik juga… Sensitif juga soalnya…
Permasalahan seputar kekecewaan akibat tak diundang, membawa saya ke perenungan tentang seseorang yang selalu mengundang kita sebetulnya. Saya sendiri sempat terpana dengan perkataan ini: “ Datanglah kepada-Ku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan padamu.” Atau undangan yang tak kalah menariknya sebetulnya, “ Mari. Ikutlah Aku.” Undangan tersebut dilontarkan tanpa henti oleh sebuah pribadi, sebuah figur, yaitu Tuhan Yesus sendiri.
Sangat disayangkan apabila kita tak memedulikannya. Padahal, undangan itu adalah untuk kebaikan kita pribadi. Dan apabila saya kembalikan ke kejadian Rika yang begitu sakit hati karena tak diundang, sementara kita yang sudah diundang koq malah menyia-nyiakan undangan tersebut. Bukankah itu sesuatu hal yang aneh? Mungkin sebegitu tertutupnya pikiran kita akan permasalahan kita. Begitu terpusatnya diri kita hanya pada diri sendiri, sehingga hal-hal lain, apalagi seseorang yang peduli namun tak kelihatan, menjadi semakin kabur dan tak jelas dalam pandangan kita. Pernahkah kita memikirkan perasaan-Nya yang mengundang kita, kemudian kita tolak? Tentunya, Tuhan memang Mahatahu dan Maha segala-galanya. Jadi, kita yang belum membuka hati bagi-Nya pun tidak akan bagaimana-bagaimana, sih… Tetapi, tetap saja Dia rindu agar kita berkomunikasi dengan-Nya, berdoa, curhat sebagaimana terhadap seorang sahabat baik, memuji dan memuliakan nama-Nya, dan menjadi anak-anak kebanggaan-Nya.
Undangannya masih sama: tergantung maukah kita buka hati kita untuk-Nya? Dia sudah berdiri di depan pintu hati kita, mengetuk pintu itu. Maukah kita bukakan untuk-Nya?
Undang-mengundang. Diundang-tak diundang. Bikin masalah, bikin sakit hati, bikin hati kesal dan kecewa dalam hubungan antarmanusia. Sedangkan dalam konteks hubungan kita dengan Sang Pencipta, timbul pertanyaan juga : mengapa tidak menerima undangan-Nya yang mampu menyembuhkan itu semua? Manusia amat mungkin mengecewakan kita, tetapi Tuhan tidak (asal kita mengerti bahwa Dia memang baik: konsep yang seringnya keliru adalah kita pikir, kita rasa Tuhan tidak baik atau menjauh dari kita. Benarkah? Atau kita yang sudah terlanjur menghakimi Dia dengan perasaan dan pikiran kita, karena kejadian di hidup kita yang begitu mengecewakan sehingga kita merasa tak lagi mampu untuk percaya pada-Nya?).
Undangan dari-Nya tetap terbuka. Menyambut-Nya atau tidak, itu memang pilihan kita. Dia tak pernah memaksakan kehendak-Nya. Semoga semakin banyak hati yang mau membukakan pintu bagi Dia yang terus mengetuk tanpa henti:)
HCMC, 3 Juni 2010
-fon-
Tuesday, May 18, 2010
Beri Sisa, Harap Melimpah

Senin-Jumat: sibuk, lari-larian, kejar-kejaran dengan waktu.
Sabtu-Minggu: penginnya relaks, penginnya santai, kalau bisa ke mal-salon-spa-nonton-restoran bareng keluarga.
Kapan sebetulnya kita punya waktu untuk-Nya? Pertanyaan itu menyentil saya pagi ini. Terkadang kita terlalu sibuk dengan seluruh keseharian kita dan itu mengakibatkan Dia hanya mendapatkan waktu sisa. Mungkin ada alasan yang baik: anakku ‘
Setelah itu, setelah menempatkannya pada urutan ke-167 dari daftar kita atau malah lebih parah, ke-456 mungkin? Aneh ‘gak sih, kalau ada apa-apa yang tidak beres (yang tidak sesuai dengan keinginan kita), Dia lagi yang disalahkan.
“ Uh, Tuhan tidak adil!”
“ Ah, memang Tuhan pilih kasih!”
Sekarang logikanya begini: kalau kita kerjanya santai alias bermalas-malasan, kalau kita tak pernah mau kerja dengan baik di kantor, kalau kita maunya cuti melulu tapi mau dapat promosi dan bonus. Apa mungkin?
Tentunya Tuhan mengasihi kita semua manusia. Matahari, udara, angin, pelangi, seisi alam ini, dia persembahkan bagi semua manusia. Tak peduli baik atau jahat semua bisa menikmati hasil karya-Nya. Tetapi, tentunya Dia amat rindu kita pun berdoa, mencari wajah-Nya, bercakap-cakap dengan-Nya.
Sering kali, kita menempatkan Dia di urutan tak penting. Berdoa kepada-Nya ketika kepepet, ketika berbeban berat dan bermasalah. Kita kerap kali memberikan-Nya waktu sisa. Bukan yang utama. Herannya, kita mengharapkan hasil yang melimpah. Aneh ‘gak, sih?
Mungkin ada juga dari Anda yang bertanya: setelah menempatkan-Nya di atas segalanya, mengapa juga masih hidupku sulit juga? Mengapa tak jua kulihat titik terang dari seluruh hasil usahaku? Betulkah Anda sudah menempatkan Dia sebagai yang utama? Kalau iya, itu berarti iman Anda yang dibutuhkan untuk tetap percaya dan melihat seluruh penyelenggaraan-Nya dalam hidup Anda. Iman berarti tetap percaya pada-Nya walau kita belum melihat sesuatu apa pun saat ini. Percaya kalau Dia akan memberikan yang terbaik bagi kita asal kita tetap menempatkan diri-Nya di tempat pertama.
Sorry, God! Kalau seringnya aku sibuk dulu dengan urusanku dan duniaku, baru menyisakan waktu (kalaupun itu masih ada) untuk-Mu. Padahal aku tahu seharusnya aku mencari-Mu terlebih dahulu, barulah segalanya akan ditambahkan kepadaku.
Selagi masih ada waktu, mari sama-sama kita benahi diri. Kalau Anda yang sudah selalu menempatkan prioritas diri-Nya di atas segalanya, ‘congrats!’ Bagi mereka yang belum melakukan itu, semoga kita tersadarkan hari ini. Dia berhak dapat waktu kita yang utama, Dia berhak untuk kita ajak bicara dari hati ke hati senantiasa. Dia berhak mendapatkan itu semua. Maukah kita memberikan diri, mempercayakan semua harapan dan impian kepada-Nya?
Sehingga tidak terjadi: ‘ngasih’ sisa, ‘koq’ berharap hasil melimpah?
Ajarku terus tersadarkan: Engkaulah prioritasku. Setelah itu biarkan aku menyebarkan kasih-Mu ke dunia ini melalui keluargaku, sobatku, dan orang-orang yang mengenalku. Amin.
HCMC, 19 Mei 2010
-fon-
Sumber gambar:
Thursday, April 29, 2010
How Can I Put My Trust in YOU?

Anak-anak kecil, tak bersalah, tak berdosa…
Jadi korban perang, perkosaan dan pelecehan…
Yang tukang bikin masalah terkadang malah orang dekat, orang kepercayaan, tetangga, teman, sampai orang yang dianggap rohani.
Hal yang lebih ganas dilakukan, bahkan lebih dari binatang buas yang tak makan anak sendiri. Membuatku merinding tiap kali membaca hal-hal seperti ini. Seolah manusia yang tampaknya dan seharusnya takwa malah seolah tak punya nurani.
Kalau lihat yang seperti ini, pernah pertanyaan ini timbul juga: bagaimana aku bisa beriman pada-Mu, Tuhan?
Kemunafikan meraja lela. Setiap orang seolah perlu topeng untuk amankan mukanya. Dari murka dunia, dari rasa bersalah, cukup kenakan topeng, selesailah sudah. Ironisnya yang munafik malah jaya dan kaya raya. Sementara yang kerja keras, jujur, dan baik hati malah ada yang miskin tiada
Melihat kenyataan pahit begini, sekali waktu pernah kutanya pada-Mu, Tuhan.
‘ How can I put my trust in You?’
Lilitan kawat duri ketakutan melingkari setiap hati yang ragu untuk melangkah. Entah karena kekuatiran akan hari esok, entah karena bayang masa silam yang tak jua lepas dari ingatan. Bayang kesedihan tak berujung. Melihat kenyataan yang ada, kondisi keuangan yang tak menunjang sementara harga melaju tinggi tanpa kendali, kembali tanya ini penuhi banyak hati:
‘How can I put my trust in You, Lord?’
Bencana alam bertubi-tubi. Gempa, angin ribut, longsor, badai, sampai banjir.
Nyawa hilang seolah begitu mudah, seolah kucing yang punya sembilan nyawa. Hanya ini tak ada gantinya, karena mereka manusia. Dalam hati miris tak terkira, kutanya:
“ Bagaimana aku bisa terus percaya pada-Mu, Tuhan?”
Seorang anak korban pelecehan Bapak tirinya, tak pernah tahu apa arti seorang Bapa. Dia hanya tahu, ayah tirinya itu bukanlah orang baik. Mungkin tampaknya baik, tapi ternyata tak cukup baik. Dia yang sudah ternoda, hanya bertanya:
“ Jika yang tampak di depan mata sudah macam ini, apa Engkau yang tak kasat mata bisa peduli?”
Jika dipikirkan, iman itu lebih dari sekadar pikiran.
Jika hanya mengandalkan apa yang terlihat, percaya itu lebih dari sekadar ucapan di bibir atau apa yang terlihat dengan mata saja.
“ Iman mampu memindahkan gunung. Orang-orang yang berjalan di dalam iman, takkan berhenti berharap. Takkan berhenti percaya, walaupun kenyataan begitu pahit. Begitu memilukan. Orang-orang yang takwa akan terus mencari hadirat-Nya, takkan berhenti, walau seluruh hidupnya diliputi luka dan kesakitan. Karena percaya, sumber penyembuh sejati hanya ada pada diri-Nya. Bukan yang lain.”
Dunia boleh bilang, “ Tuhan tidak adil.”
Dunia boleh kecam, “ Rasanya sukar mengandalkan Tuhan di masa sulit seperti ini.”
Dunia boleh tertawa dan mempertanyakan, “ Tuhan? Adakah Dia?”
Dunia boleh lakukan apa saja…
Namun, kita tak boleh menyerah.
“ How can I put trust in You?”
‘ Of Course, you can!’
Percaya datangnya dari hal sederhana. Iman datang dari kecintaan akan Dia. ‘Trust comes from simple things but yet is able to bring your faith to another level. Nearer to Him.’
Percaya bukan berarti tak pernah kecewa akan kenyataan yang ada. Namun, percaya berarti tetap mau memilih dekat dengan-Nya dalam kondisi sesulit apa pun. Dalam setiap duka yang seolah tak terselesaikan. Mengandalkan Tuhan seolah jadi omong kosong bagi beberapa orang, namun tidak bagi Tuhan itu sendiri. Justru dalam setiap masalah yang tak terselesaikan, pertanyaannya:
“ Sudahkah kauundang Dia dalam hidup-Mu? Untuk memimpinmu sekali lagi dalam hidup ini?”
Dunia mungkin akan tambah kacau… Tetapi, kita tidak boleh kacau. Di tengah orang yang mengaku rohani yang masih melakukan kejahatan, di tengah kondisi orang yang seharusnya dipercayai malah menorehkan kepercayaan itu dengan pelecehan dan bangkitkan dendam…Di tengah itu semua….Hanya bisa mohonkan kasih Tuhan, rahmat Tuhan untuk bisa menerima segala sesuatunya dan percaya: ‘everything happens for a reason.’
Bo Sanchez dilecehkan oleh pembimbing rohaninya. Dia bangkit di dalam Tuhan dan memulai hidup yang baru, yang amat luar biasa dan menjadikannya seperti hari ini. Penulis, ‘business man’, pewarta, dan ‘trainer’ luar biasa.
Alison Botha diperkosa dan hampir mati, selamat, dan menjadi motivator ulung ke seluruh dunia agar mengajarkan semua orang untuk menghargai kehidupan sendiri.
Nick Vujicic lahir tanpa kaki, sekarang motivator ulung di dunia, sukses dan tak jarang bikin malu hati orang-orang yang fisiknya sempurna…
Apa yang kita pikir kemalangan, belum berarti kemalangan. Sejarah juga membuktikan, mereka yang mengandalkan Tuhan, percaya dan terus berjalan di dalam Dia, takkan ditinggalkan-Nya. Malah segala hal yang berbau kemalangan, Dia ubahkan jadi sukacita terbesar.
‘How can I put trust in You?’
‘You can do it by praying more, ask for His love, and just stay faithful even you haven’t seen anything. Because He has seen the whole picture of your life.’
‘Stay faithful:)’
'God, I want to put my TRUST in YOU. Amen.'
HCMC,
-fon-
* smoga kita tersadarkan untuk meningkatkan iman dan perbuatan kita. Karena iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Iman kita semoga menjadikan kita orang-orang yang semakin tabah di dalam menjalani hidup. Di dalam kasih-Nya. Amin.
Sumber gambar:
http://farm3.static.flickr.com/2347/2280222251_f2e7e2e8a4.jpg