Thursday, January 7, 2010

My Word is My Bond


Well, I’m not talking about the famous phrase from James Bond. You know the –My Name is Bond. James Bond’s thing- :)

But, while working as a stock dealer few years ago, I remembered that there’s a phrase that’s famous among us and widely used in our conversation.

Let say our client which is a Hongkong-based client couldn’t get the correct amount (the quantity) of the stock he bought that day, sometimes our company agreed to top up whatever the amount to fill the full quantity of their orders. It wasn’t done in the market yet or in other terms people usually said it’s an off-market transaction, but we agreed on it verbally. That’s when we made a promise. That’s when we called: ‘My word is my bond’. We gave our word that our promise would be kept.

Then I tried to search in the internet about the definition of this phrase and found it through a website:

The complete phrase is "my word is my bond" meaning that just by giving your word, one can be assured that the promise will be kept.

It's a maritime brokers' motto. Since 1801 the motto of the
London Stock Exchange (in Latin "dictum meum pactum") where bargains are made with no exchange of documents and no written pledges being given.
"My word is my bond" as brokers say (or "my word, my bond!")

--- Source: Urban Dictionary online

Talking about keeping the promises, recently, I got this experience that I want to share with you all. Someone broke his promise to me. After waiting for about one month, here I am, experiencing the same old thing that I’ve been experiencing before. Maybe I was expecting too much. Or maybe I myself try to keep my promise so much, so if someone just suddenly broke his or her promise I’ll be disappointed because I’m expecting he/ she will do the same thing.

Disappointed? Yes. At that time it was accompanied with upset and a little bit of anger.

But then, I realized that maybe, even though I try to fulfill my promises, there are times I can’t keep them. Within my limitation as a human, I can’t always keep them. Maybe it’s because I’m sick, maybe it’s because I just being lazy to do something then I easily break my promises. Well, people then will say, “ What do you expect from me, I’m only human!”

I can only try my best to fulfill them, but yet I might not able to keep all of them.

Then, as usual, I begin to think about Someone Special. He’s really really special that He’s able to keep His Promises. Not only one, but all of them! He’s the One who can easily says: ‘ My Word is My Bond’ without breaking one of them. But of course, He’s got His own time frame which will be different with whatever we have planned. But, no worries, He has got His own time table. His schedule.

He’s God. He’s never too late and in some cases, He’s never too early. Just right in time. But, He’ll deliver whatever promises that He has for us.

Talking about keeping the promises in this life, well…people might make us disappointed. And we can make others upset as well for not being able to do so. That’s when we need to remember that we’re lucky to have Him. And being thankful for His unbreakable promises.

While trying to keep our word as our bond, He has already given His Words as His Bonds. Praise the Lord!

HCMC, 08 January, 2010

-fon-

Saturday, January 2, 2010

Open Widely, Please!



Kubuka mulutku untuk kesekian kalinya. Menganga selama satu jam bukan pekerjaan mudah. Apalagi bila tujuannya adalah mengorek tambalan lama gigiku dan menambalnya dengan yang baru. Sakit, capek buka mulut terus, tersiksa, semua jadi satu. Apalagi seruan dokter gigi yang notabene adalah Orang Vietnam ini yang terus berucap lebih dari sepuluh kali, “ Open widely, please!“

Hiks! Dokterrr, andai saja kau tahu, aku sudah berusaha membuka selebar-lebarnya. Selebar yang aku bisa. Tapi memang menggali itu melelahkan. Menggali luka lama di gigiku memang menyulitkan. Namun, kalau tujuannya untuk sembuh? Mengapa tidak?

Di ruang dokter gigi itu, aku malah teringat kejadian-kejadian di retret yang kuikuti. Seberapa sering, retret itu, terutama retret berjenis luka batin, bertujuan untuk menggali kembali luka lama dan menyembuhkannya. Karena hanya dengan menggali kembali luka itu, menghadapinya, dan meyakini bahwa dalam detik itu pun Tuhan Yesus ada bersamaku, di situlah baru aku akan sembuh. Saat itulah akan ada keyakinan baru bahwa aku sembuh!

Proses menggali memang amat menyakitkan. Seperti yang kualami pagi ini, melelahkan. Di sore harinya pun, setelah tidur siang, sakit itu masih terasa. Tak jelas apakah masih dari ngilu dan nyerinya gigi atau malah dari capeknya membuka mulut tanpa henti selama satu jam. Mungkin juga gabungan keduanya? Masih belum terlalu jelas bagiku. Ke dokter gigi pun memiliki kemungkinan bahwa hasil pekerjaannya kali ini belum sesuai, belum baik, jadi aku harus kembali ke dokter gigi lagi. Apa boleh buat, untuk sembuh mungkin harus berhadapan dengan berkali-kali proses penggalian. Bukan melulu di dokter gigi, di dokter mana pun ketika mengalami sakit yang parah, mungkin kedatangan kita kepada Sang Dokter harus berkali-kali. Mungkin sampai puluhan kali, sampai kita betul-betul sembuh.

Di saat menuliskan hal ini, aku teringat bahwa Yesuslah Sang Penyembuh, Tabib Sejati yang mampu menyembuhkan semua luka kita. Syaratnya adalah kita pun mau sembuh. Sering kali Yesus sudah ingin menyembuhkan, tetapi kita terlalu terpaku pada masa lalu, tak ingin mengampuni, terlalu mendendam. Jadi, dengan kondisi hati yang seperti itu, akankah kita sembuh?

Mungkin, di saat Yesus dan tuntunan Roh Kudus turun tangan, yang harus kita lakukan adalah membuka hati selebar-lebarnya demi bebasnya gerakan roh Allah bekerja dan menyembuhkan. Memberikan keleluasaan akan tangan-tangan ajaib Allah untuk menggali semua masa lalu yang penuh luka dan membalutnya dengan kasih-Nya. Yang perlu kita lakukan hanyalah bekerja sama dengan-Nya.

Gigi saya tak mungkin ditambal ketika saya tak membuka mulut saya. Dengan mulut yang terkunci rapat, apa mungkin Sang Dokter mengobati saya? Kerja sama dari pihak saya berupa percaya pada Sang Dokter dan membuka mulut saya. Itu bagian saya. Sisanya, saya biarkan Sang Dokter bekerja, karena saya yakin dia ahlinya.

Perbandingan ini, ketika saya bawa kepada masalah luka di hati kita dan Tuhan sebagai Penyembuh Sejati akan mirip-mirip juga. Ketika Tuhan mau mengobati kita, yang harus kita lakukan membuka diri kita seluas-luasnya. Dan percaya Tuhan akan sembuhkan. Saya percaya dan berusaha untuk sembuh dengan mencari wajah-Nya, ingin dekat dengan-Nya, ke ruang praktek Maha Kudus-Nya. Dan mulai membuka hati saja seluas-luasnya. So, apa yang perlu dilakukan?

“ Open widely, please! Open your heart as wide as possible. As wide as you can. And trust Him that He’ll heal us.”

Really, all we need to do is just believe!

So, have you done it? If you haven’t let’s do it now… Undang dia ke dalam hatimu, datangi ruang praktek Maha Kudus-Nya, percayakan hidupmu pada-Nya. Lalu, buka hatimu lebar-lebar dan biarkan Roh Kudus bekerja.

‘Open widely, please!’ :)

HCMC, 3 January 2010

-fon-

* pengalaman ke dokter gigi di pagi ini…Thank God for opening my eyes and my heart widely to this experience! :)

sumber gambar:

http://www.justjeremys.com/images/lg_jesus_hugging.jpg

Friday, January 1, 2010

Writing and Giving Hope

It’s been quite some time that I haven’t written any articles in English. Even though I’m still doing it through Thought of the Day (TOTD), my daily reflection that you can find in my blog : http://fonnythought.blogspot.com/, but I haven’t written the longer version of any articles in English. And suddenly, starting yesterday I find an urge inside of me to write down something. In English. The writing mood had called and here I am, fulfilling the need and writing it right now.

If I’m thinking of this writing-in-English thing, I remembered that I didn’t have the courage even to write down the TOTD in English. My first own version of it. Knowing that my English isn’t too bad when I speak and few experience in teaching English for Primary kids back in the years of my college when I taught the children on part-time basis, but still there’s a big doubt inside of me if I need to write down any articles in English and publish them. Writing is another thing. While speaking, people might understand you even you don’t use a proper grammar. But in terms of writing, it takes more than just courage to do it. Somehow in my opinion, it needs skill as well. And I didn’t have it or let me correct my words, I thought I didn’t have it. So, I didn’t write any of it. But as a lot of friends encouraged me, especially the ones who got those thoughts regularly and liked my additional version on top of the original version by Joyce Meyer, here I am now… Trying to brush up my writing skill by writing my thoughts in English.

Until know, I love to write something that’s kind of inspirational or you can call it motivational. In other words, you may say that mostly my version of writing is something that’s giving hope. Well, I have to admit that I’m not the motivated person all the time. It’s sometimes the other way around. I know myself too well. As a melancholy, it’s normal that I perceive something more negatively. I tend to see that a cup or a glass is half empty rather than half full. But, I find that through writings, I can become more motivated. And sometimes the content of the writing, the inspiration that I’ve got, rhymed loudly inside of me. That made me motivated. That made me positive. That made me want to see the beauty of not giving up. That made me stay in hope. And I just want to keep on writing for the goodness and kindness of the God Himself. Because I know, that whatever I’ve got at this moment, whatever I have, whatever I’m currently enjoying, whatever blessings that has been there in my life-the current ones-and the future might bring are all His gifts for me. So, here I am writing down all of the blessings for thanking Him. For being grateful for the good things or even bad things, which are all good. Good because if He wants them to happen to me, to happen to you, He meant well. He wants us to learn something through it and get closer to Him.

In times of trouble, depressed, or stressful, I still believe that there’s no other remedy that can work so well except by getting closer to God. Drawing ourselves nearer to God. Because only this thing will enable us to grow more mature. Mentally and spiritually. As we grow in Him, I do believe that we can see more things with a new perspective.

Writing something that’s giving myself as well as other people a new hope is something that I’m gonna do. I’m not gonna stop. I’m gonna get going. Even though my condition is at worst, even though I myself find it hard to cope with the problems or troubles that I’m currently facing, even though I know that uncertainties will fill my journey of life, but I’d like to keep writing anyway. Not to mention that if I’m on the other side of the story, if I’m happy, successful, grateful, blessed, only to find that it’s God who made me that way. It’s His strength that He’s pouring to me. It’s Him that enables me to stay this way. In faith, keep on writing for something better. In faith, keep on hoping for the Lord. And hopefully my writing can touch people’s heart and encouraged them to be a better self. And eventually, if God permits, for a better world that we’re living. Hoping and doing at the same time.

And finally, let the source of hope be with us always. Let us feel His presence now and the days ahead. Well, problems are unavoidable, but to stay in hope is a choice that we could make.

Let’s embrace His love in these first days of new year. Let’s put our faith and trust in Him by beginning to develop a new healthy relationship through prayers. And may the guidance of the Holy Spirit make us stay hopeful, even in the midst of hopeless situation. Stay faithful, stay hopeful. In Christ, we trust. Amen.

HCMC, January 2, 2010

-fon-

* Fyi, this article is also available at my other blog dedicated to Jesus : http://fon4jesus.blogspot.com/. Thanks and GBU.

Wednesday, December 30, 2009

Kangen akan Komunitas…

Membaca sebuah blog yang berisikan tulisan seorang sahabat di dalam Kristus yang menceritakan tentang kebahagiaan dia berkomunitas dengan retret, kegiatan kumpul bersama, dan makan bersama komunitasnya, membangkitkan rasa kangen saya akan suatu komunitas.

Harus diakui, selama ini saya merasa kesepian. Karena ketika saya di Singapura, acara memang banyak, komunitas orang Indonesia pun banyak. Namun, karena kondisi yang baru melahirkan anak dan harus menjaganya sendiri tidak memungkinkan saya untuk ikut komunitas apa pun untuk kegiatan rohani. Jadi, boleh dikatakan selama 3 tahun terakhir yang rutin saya lakukan hanya misa di hari Minggu. Sambil sesekali berusaha hadir di Misa Jumat Pertama. Pernah, saya mencoba ikut suatu pertemuan suatu komunitas yang membutuhkan seorang penulis bagi acara mereka, tetapi saya yang akhirnya keteteran karena tak mampu mengikuti jadwal pertemuan yang padat. ‘Meeting’ tiap Minggu sekitar 3 jam bahkan lebih, sementara anak saya sudah menunggu di rumah dengan kondisi rewel mencari saya. Masih untung ada ibu mertua yang menjaganya, kalau tidak? Lebih sulit lagi. Banyak pasutri di Singapura yang tadinya aktif di pelayanan gereja, semakin kurang keaktifannya ketika mereka menikah dan punya anak. Karena biaya ‘baby sitter’ dan pembantu yang tinggi, menjadikan mereka kesulitan pula untuk meninggalkan rumah. Terkadang karena kesibukan demi kesibukan seperti tadi, kata komunitas menjadi sesuatu hal yang asing. Yang mungkin terasa mewah bagi mereka yang hidupnya sehari-hari jauh dari kumpul-kumpul bersama.

Sementara di Indonesia, saya bersyukur karena sempat setidaknya mengecap masa-masa indah bersama komunitas tempat saya bernaung. PDKK Ignatius Loyola di Jalan Malang, gereja yang tidak sepopuler Gereja Theresia di Menteng, namun memberikan rumah bagi saya untuk tinggal. Beberapa kali, saya pun menemukan komunitas tempat saya menjadi betah untuk tinggal bersama mereka untuk bersama-sama pula mengembangkan spiritualitas kami. Mulai dari tugas saya sebagai ‘Literature Ministry’ ketika bersama teman-teman di BPK KAJ ataupun ketika saya ikut serta ambil bagian dalam acara-acara KRK Rohani bersama teman-teman di band rohani pula. Menjadi bagian mereka dan bersama-sama melayani Tuhan, sungguh adalah waktu-waktu yang berharga bagi saya. Tiap momen menjadi berharga, I treasure every minute of it, karena di sanalah saya merasakan kasih Tuhan melalui teman-teman sekitar saya. Orang-orang yang sudah tersentuh kasih-Nya dan benar-benar berusaha dalam ketidaksempurnaan mereka, untuk menyalurkannya kepada sesama. Dan ketulusan itu menjalar. Menular. Menyusupi hati saya. Dan menebar kehangatan di sana!

Tiba-tiba malam hari ini, saya kangen sekali akan masa-masa itu. Masa di mana saya merasa gembira, merasa suka cita karena berkumpul bersama. Ketika tulisan ini saya buat, saya kembali harus menghadapi kesendirian dalam hidup di rantau, karena baru dua bulan di Vietnam. Namun, saya percaya bahwa waktu-Nya akan tiba bagi saya untuk mengecap kehidupan spiritual yang penuh warna dalam bentuk komunitas lagi. Karena saya mendengar beberapa keluarga Katolik Indonesia di sini secara rutin memiliki kegiatan beragam. Saat ini, karena di akhir tahun, saya belum menemukan mereka. Sembari menunggu seorang teman dari Indonesia juga yang akan tinggal satu apartemen dengan saya yang akan datang di bulan Januari, yang sudah menjanjikan pada saya untuk ikut bergabung dengan komunitas itu tadi. Semoga bisa terwujud! Sementara ini, saya hanya menanti waktu-Nya, sambil tetap menuliskan kebaikan-Nya. Sungguh, berjuang sendirian tidak pernah mudah. Namun, kembali saya diingatkan bahwa untuk segala sesuatu di kolong langit ini ada waktu-Nya. Tuhan akan memberikan ketika waktu-Nya tiba.

Dan bagian saya hanyalah setia dan percaya akan indahnya janji-Nya dalam hidup setiap manusia, termasuk saya. Doakan saya, ya :)

HCMC, 30 December 2009

-fon-

* terinspirasi blog seorang sahabat dalam Kristus. God bless you, Bro! Bener-bener kangen berkomunitas bersama nih, daku :)

Monday, December 28, 2009

Tak Kumengerti


Kemarin- Misa Minggu Sore di Saigon Notre Dame Basilica…

Kulangkahkan kaki perlahan, turun dari taksi ‘Vinasun’ yang membawaku ke gereja di sore itu. Harusnya kalau mau misa dalam Bahasa Inggris, hanya sekali saja di Hari Minggu, yaitu jam 09.30. Namun, kemarin, karena paginya agak kurang enak badan, jadi aku tidak ke Misa Bahasa Inggris. Namun di sore hari, ketika putriku sedang tidur, aku malah ingin ke gereja. Akhirnya, aku pergi ke misa pukul 17.00 di sana. Ternyata, info yang kudapat sedikit keliru, karena misa baru mulai pukul 17.15.

Ini mungkin misa ke-4 yang kuhadiri dalam Bahasa Vietnam. Awalnya sempat tertarik, lalu agak segan karena tak mengerti apa-apa, namun daripada tidak ke gereja? Mending tetap hadir walaupun tak mengerti. Dengan urutan yang seragam di Gereja Katolik mana pun di dunia, tidaklah sulit untuk menduga urutan yang mana yang tengah berjalan. ‘Saya mengaku’ atau ‘Aku percaya’ atau ‘Doa Bapa Kami’. Rasanya untuk urutan, aku tak masalah. Cuma memang di saat mereka mendaraskannya dalam Bahasa mereka, aku pun mendaraskannya dalam Bahasa Indonesia. Sama-sama, dong :) Walaupun beda bahasa.

Di saat homili, nah ini bagian yang paling membingungkan. Karena betul-betul belum mengerti. Kursus yang kujalani baru sebulan saja. Efeknya terasa ketika aku membaca nama jalan di sini dan menginformasikannya kepada pengemudi taksi, atau menawar barang ketika berbelanja, namun selebihnya? Aku masih belum mampu. Tiba-tiba aku merasa asing. Tiba-tiba aku merasa betul-betul sendirian. Dan tiba-tiba saja, aku merasa sangat tidak mengerti akan segala sesuatunya.

Sambil duduk dan tetap berusaha berdoa dalam hati, tiba-tiba aku mendapatkan pengertian baru. Seperti misa yang kuhadiri dalam Bahasa Vietnam, banyak yang tak kumengerti. Atau boleh dibilang, seluruhnya tak kumengerti. Namun satu hal, aku tahu Tuhan ada, Yesus yang setia di salib masih ada. Dan tetap bersamaku, walaupun banyak sekali yang tak kumengerti.

Dalam hidup, sering kali kita mengeluhkan dalam doa ataupun secara lisan: “ Tuhan, begitu banyak yang tak kumengerti, mengapa harus terjadi?” Ketika suatu permasalahan yang berat menimpa kita, pertanyaan spontan yang biasa timbul adalah, “ Why me, God? Kenapa saya, Tuhan? Kenapa ini terjadi padaku?”

Dan banyak kali, ketika kita bertanya hal seperti itu kepada-Nya, kita pun tak menemukan jawabannya. Kita hanya bisa berusaha tegar, menangis sedih, atau tenggelam dalam frustrasi-stres-dan depresi. Kita mendadak bingung, tiba-tiba hidup tak lagi bisa ditebak. Kita mendadak heran, mengapa hidup bisa sedemikian kejam atau tidak adil. Dalam kondisi ketidakmengertian itu, kita bisa berdoa dan menjadi semakin dekat pada-Nya. Dan kemudian menemukan jawabannya setelah beberapa waktu lamanya. “ Oh, begini ya, maksud-Mu, Tuhan… Kini baru aku mengerti…” Untuk kemudian mengalami lagi kebingungan yang lainnya dan mungkin kembali bertanya kepada-Nya, “ Mengapa ini terjadi, Tuhan?”

Pilihan kedua, kita bisa berlari semakin menjauh dari-Nya. Menghindari-Nya. Dan tidak tertutup kemungkinan memusuhi-Nya karena berpikir Dia tidak lagi berpihak kepada kita. Ternyata Tuhan yang kukira adil adalah Tuhan yang pilih kasih. Tuhan yang baik pada orang-orang tertentu saja atau baik di saat-saat tertentu saja. Padahal, benarkah demikian? Benarkah Dia berikan sinar matahari hanya kepada orang baik dan tidak kepada orang jahat? Sering kali kita berpikir tentang kerangka keadilan menurut versi kita dan bukan versi-Nya.

Semua pilihan ada di tangan kita. Namun, satu hal yang pasti, akan banyak sekali episode dalam kehidupan yang bakal membuat kita kembali berada pada fase ‘tak mengerti’ ini.

Ketika semua orang di keluarganya sudah menikah, sementara umur semakin berjalan dan kini sudah menjelang 40 tahun, seorang gadis masih sendiri saja. Atau, sudah berusaha ini dan itu, rajin bekerja, giat ikut seminar untuk pengembangan diri, tapi karier mandeg seolah berhenti di tengah jalan. Sudah ke dokter mana saja, sudah ke sin she, sudah ke Singapura, sudah habis biaya pengobatan yang kalau dihitung-hitung bisa membeli sebuah rumah, untuk memiliki seorang anak karena pernikahan sudah merayap ke angka ‘anniversary’ yang ke-10 tetapi masih belum berhasil juga. Dan banyak kasus lainnya yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Banyak kejadian, banyak hal, banyak problem, yang tak kumengerti. Yang tak selalu bisa kita cerna dalam otak kita yang terbatas ini. Sehingga kita lupa bahwa kita memiliki Tuhan yang luar biasa. Tuhan Yesus! Di dalam Dia, tak ada kata tak mungkin, bila Dia izinkan. Bila itu sesuai dengan rencana-Nya, tiada yang mustahil bagi Dia. ‘ Tom Cruise’ boleh jadi bintang ‘Mission Impossible’ di film layar lebar. Tetapi dalam film-Nya, filmnya Tuhan bagi kita, ketika Dia katakan kamu mampu, ketika Dia katakan kamu bisa, itu akan jadi ‘Mission Possible’. ‘Mission Feasible’. Karena bagi-Nya, ketika Dia izinkan, itu hanya semudah menjentikkan jari. Istilah kerennya, as easy as one-two-three. Mari kita pikirkan dan renungkan kembali, berapa banyak kejadian dalam hidup seolah kita tak bisa melewati suatu kondisi, tetapi ternyata kita berhasil bahkan melampaui apa yang kita pikirkan. Jadi, jangan pernah berhenti percaya bahwa Tuhan sanggup memampukan kita melewati itu semua. Yang kita butuhkan hanya iman.

I can do all things through Christ who strengthens me.

Di akhir tulisan ini, saya kembali mengingat-ingat seluruh kondisi kehidupan manusia pada umumnya. Banyakkk sekali perkara yang tak pernah bisa kita mengerti. Banyakkk sekali permasalahan pelik yang tengah atau nanti bakal kita hadapi. Namun, dalam ketidakmengertian itu, dalam lilitan permasalahan itu, biarkan Tuhan yang pimpin dan ambil alih. Ketika roda kemudi kita percayakan kepada-Nya dan kita tetap berusaha sekuat tenaga, saya tetap percaya Tuhan akan membukakan banyak jalan dan peluang yang tak pernah terpikirkan dalam benak kita. Ingatlah Tuhan itu tak terbatas. Sering kali, pikiran kita yang sempit dan picik inilah yang membatasi ruang gerak-Nya.

Tuhan, terima kasih untuk pengertian baru, di tengah kondisi yang tak kumengerti sekalipun. Biarlah keadaan yang tak kumengerti ini, kupercayakan kepada-Mu yang memiliki pengertian luar biasa akan hidupku. Hidup kami semua. Sebab Engkaulah Allah Maha Tahu. Amin.

HCMC, 28 Desember 2009

-fon-

* dengan ‘soundtrack’ … banyak perkara yang tak dapat kumengerti, mengapakah harus terjadi, di dalam kehidupan iniiii….:)

Wednesday, December 23, 2009

Sembuh


Sakit hatiku mungkin tak pernah ada yang tahu…

Luka dan duka setiap kita tak ada yang tahu persis…

Selain Dia…

Selain Tuhan…

Selain Yesus…

Karena hanya Dia yang tahu persis setiap detik yang kulalui…

Karena hanya Dia yang setia menemaniku setiap hari…

Bukan suamiku, bukan anakku, bukan ayah bundaku…

Karena mereka tak selalu bisa ada di sampingku…

Walaupun mereka mau…

Aku mau bangkit dari segala luka…

Aku mau dekat pada Tabib Ajaib…

Penyembuh Sejati…

Penawar segala luka…

Aku mau sembuh…

Aku mau dekat ke Sang Dokter paling handal…

Untuk urusan hati manusia…

Yesus, menjelang peringatan hari lahirmu…

Aku teringat bahwa Engkau hadir untuk menyembuhkan…

Engkau datang untuk mengisi tiap relung hati yang kesepian

Yang kekurangan cinta…

Yang butuh pengharapan…

Yang penuh derai air mata…

Hanya Engkau yang bisa gantikan itu semua

Dengan senyuman suka cita…

Aku mau sembuh…

Aku mau Yesus sembuhkanku…

Aku percaya, Yesus mampu menyembuhkan setiap kita.

Selamat ulang tahun, Dokter hatiku…

Kubisikkan pelan di telinga-Mu, selamat ulang tahun, Yesus!

HCMC, 23 December 2009

-fon-

* sekuel dari puisi berjudul ‘Sakit’ yang di-publish kemarin di blogku dan di beberapa milis. Ingat ‘sakit’, ingat pula ‘sembuh’. Bersama Yesus akan selalu ada kesembuhan baru. Sekaligus juga merupakan catatan Natal tahun 2009 ini. God bless…

Tuesday, December 22, 2009

Sakit


Sakit itu menyerang lagi…

Bukan sekali, bukan dua kali…

Sudah berkali-kali…
Puluhan, bahkan ratusan kali…

Dia sudah seperti sebilah pisau tajam

Yang membelah hati ini

Menembusinya

Dan menjadikannya berkeping-keping

Hancur berantakan…

Terkadang dia seperti sebuah film

Yang terus diputar tanpa henti

Di otakku, memenuhi seluruh isi kepalaku…

Dengan kebencian dan kesakitan…
Juga kepahitan dan dendam…

Ini sakit hati tingkat tinggi…

Kukira takkan ada obat dari Rumah Sakit mana pun yang sanggup

Untuk mengobati pedih

Dan perih yang tak terkira ini…

Kucoba berlari…

Menjauhi sakit ini…

Namun, mengapa, rasa itu bahkan semakin kuat menghampiri?

Kadang aku tak kuat…

Aku ingin pergi saja…

Jauh-jauh…

Ke ujung dunia…

Siapa tahu, tak ada sakit lagi di sana…

Namun, ketika kucoba lagi menghadapinya

Muka dengan muka…

Dan berujar,

“ Hei, sakit! Aku tak mau lagi sembunyi darimu, mari kita bicara hati ke hati…

Apa yang membuatmu terus berdarah begini?”

Anehnya, setelah kucoba berhadapan dan berdialog dengannya…

Sakit itu tidak lagi menusukku

Tak lagi menggangguku…

Karena aku memilih berhenti lari dan sembunyi

Melainkan hadapi…

Akhirnya kutahu, prinsip menghadapi sakit hati…

Kembali lagi ke masa itu, bawa Tuhan ke dalamnya…

Biar Dia pegang tanganku, jangan lepaskan aku….

Dan bersama Yesus, kan kuhadapi semua di masa lalu itu…

Hei sakit, pergilah jauh!
Jangan lagi isi hatiku dengan kebencian dan kepahitan…
Karena Dia sudah gantikan semua itu dengan kasih yang baru…

Aku tak selalu bisa berlalu

Dari luka masa lalu…
Tapi bersama Yesus, aku mencoba…

Selalu diperbaharui dalam kasih…

Bila luka itu menyeruak lagi, kembali kugenggam tangan-Nya

Dan hadapi sakit itu sekali lagi, bersama Dia.

Sakit, mungkin kau pernah jadi bagian hidupku…

Tapi aku tak lagi mau didikte olehmu.

Dan biarkan aku jalani hidupku

Dengan damai Yesus yang selalu lingkupiku

HCMC, 22 December 2009

-fon-

*terinspirasi dari retret luka batin dan buku Ajahn Brahm yang kubaca ‘Opening Door of Your Heart’