Sunday, March 6, 2011

Beban

*** curahan sebuah hati…

Bebanmu tampaknya ringan. Tak seberat bebanku. Terkadang kurasakan akulah empunya beban paling berat di seluruh dunia. Tak ada orang yang mengerti 100%, karena hanya aku yang mengalaminya. Bukan kamu, bukan dia, bukan mereka. Hanya aku!

Ketika kubawa bebanku kepada-Nya. Dia hanya bilang: pikullah kukmu. Jalani salibmu.

Ah, yang bener aja, God! Selalu urusan salib dan kuk… Katanya ringan. Koq masih berat begini, ujarku. Seolah hidup orang lain yang penuh jalan-jalan, foto-foto mesra dengan keluarga atau pacar, kenaikan peringkat, promosi dan sebagainya begitu menyenangkannya. Sementara aku? Tiap hari berkutat dengan problem yang sama. Aku tak punya tempat tinggal tetap, tak punya cukup uang, tak punya pangkat yang tinggi. Untuk jelasnya, dalam kehidupan ini: aku tak punya apa-apa yang berharga untuk kubanggakan.

Jadi, untuk apa aku hidup? Kalau tak punya kebanggaan… Kalau tak punya kebahagiaan? Tetapi, apakah kebahagiaan itu harus identik dengan apa yang kumiliki untuk kemudian kupertandingkan dengan teman-temanku. Suksesnya sudah sampai mana, mobilnya sudah pakai mobil mewah mana, rumahnya sebesar apa dan di kawasan mana?

Aku pernah merasa hidupku sia-sia. Tak berhasil, tidak sukses, tidak cukup kasih sayang. Serba merasa kurang.

Tetapi, apakah mereka yang terlihat bahagia itu memang bahagia? Atau mereka hanya ingin mempertontonkan sejumput kebahagiaan mereka di tengah ketidakbahagiaan yang mereka rasakan? Atau mereka hanyalah orang-orang yang bersyukur dengan apa yang ada, tanpa mengeluhkan apa yang tidak mereka miliki?

Mungkin juga terlalu sering aku melihat ke atas, tanpa pernah mau melihat ke bawah. Ketika kubaca di koran, 44 juta penduduk dunia masuk ke dalam lembah kemiskinan karena harga bahan pangan yang semakin membumbung tinggi memaksa mereka menghabiskan 50% dari penghasilannya hanya untuk makan… Membuatku merasa beruntung karena masih bisa makan tiga kali sehari. Bahkan membuang sisanya sesekali karena tak habis. Yang diam-diam sekarang kusesali karena aku seperti tak tahu terima kasih, padahal masih bisa makan. Kadang pun makan enak di restoran!

Ketika kulihat lagi, banyak orang yang tak seberuntung diriku… Cacat, tetapi tak kehilangan semangat. Bikin aku malu. Juga mereka yang sakit, mereka yang tak punya uang untuk sekolah… Tiba-tiba aku merasa beruntung. Bukan, bukan berpuas diri. Karena seringnya orang menganggap syukur itu identik dengan hilangnya keinginan untuk menjadi lebih baik lagi… Bukan itu… Tetapi tindakan mengoceh tanpa henti agaknya juga bukan tindakan yang terpuji…

Pada akhirnya kusadari, semua orang punya beban. Tanpa kecuali. Bebanku berbeda dengan bebanmu. Bebannya berbeda dengan beban mereka. Tetapi, setiap dari kita punya beban yang harus kita tanggung.

Bukan berarti aku harus merasa terbeban… Namun, biarlah beban ini membuatku mendekat kepada-Nya dan mau mengusahakan yang terbaik yang aku bisa dalam jalani ini semua… Tanpa beban ini, mungkin aku sudah terlalu sombong dan terlalu memuja kehebatan diriku sendiri… Dan lupa bahwa ada Dia, penguasa segala-galanya…

Ho Chi Minh City, 25 Feb. 2011

-fonny jodikin-

* Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya karena itu berarti sekali buat aku dan para blogger/facebookers yang mengandalkan blog dan notes dalam menulis. Trims.

Tuesday, March 1, 2011

Everyday is a Valentine’s Day

Hari Valentine’s jatuh pada tanggal 14 Februari.

Bukan barang baru, ‘kan? Semua sobat pembaca SMILE pasti sudah tahu:) Bahkan sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari mungkin. Yang berpasangan pastinya ingin memberikan yang terbaik di hari itu. Siap-siap cokelat, bunga, kartu, makan malam romantis candle light dinner, semua hanya untuk Si Dia. Tak kurang banyaknya, momen Valentine’s Day jadi momen yang indah dan bisa dikenang seumur hidup: siap-siap ‘nembak’ kecengan yang sudah dirindukan sekian lama, siap-siap mengajak tunangan atau bahkan mengajak ke jenjang yang lebih serius: lamaran pernikahan.

Indahnya hari yang berdominasi warna ‘pink’ alias merah jambu itu, pastinya tak terkira bagi para pasangan yang sedang dimabuk asmara. Para jomblowan dan jomblowati pun tidak ketinggalan, bikin acara sendiri: siapa bilang Valentine’s hanya buat mereka yang berpasangan?:)

Valentine’s Day lebih merupakan hari kasih sayang, di mana perhatian ekstra akan diberikan kepada yang tercinta. Apakah hanya satu hari itu saja, lalu esok-lusanya bubar jalan? Tentunya kita berharap bahwa kasih sayang yang terbina bisa bertahan lebih lama, bukan hanya sehari saja.

Menghubungkan Valentine’s Day dengan cinta Tuhan, dengan kasih-Nya, membuat saya tersadarkan: kalau bagi diri-Nya setiap hari adalah hari yang penuh cinta kasih bagi kita umat manusia. Dia adalah Allah yang penuh kasih. Sehingga tak salah bila kita katakan: God is love. Allah adalah kasih, sumber dari segala kepenuhan kasih ada pada-Nya. Cinta antarmanusia memiliki keterbatasan dan tak jarang mengakibatkan kekecewaan. Namun, bila kita pahami lebih dalam kasih-Nya (walaupun mungkin kita pernah kecewa pada-Nya tetapi bukan berarti Dia berhenti mengasihi kita, kita hanya salah paham pada-Nya)… Pada akhirnya kita akan mengerti bahwa bagi Dia everyday is a Valentine’s Day. Dia takkan berhenti mengasihi kita, seberapa buruk kelakuan kita atau seberapa berat dosa kita. Dia tetap menyayangi kita anak-anak-Nya.

So, mari kita belajar untuk lebih saling mengasihi, karena kita sudah sangat beruntung dikasihi-Nya. Sehingga hari-hari di bumi ini menjadi hari-hari damai penuh cinta, because everyday is a Valentine’s Day for Him :)

Ho Chi Minh City, 25 November 2010

Fonny Jodikin

NB: sudah dimuat di majalah SMILE edisi 11, Jan - Feb 2011, hal. 11.

* tautannya ada di:

Friday, December 24, 2010

Dekil



*** self-talk within me

“ Dekil, kamu…”

“ Emang… Aku gak pernah menganggap diriku putih tanpa noda, koq… Jadi, kuakui memang aku ‘dekil’ . Bukan berarti aku jarang mandi, lho… Tapi memang aku tak cukup bersih, masih diliputi dosa dan kesalahan… “

“ Jangan sok bersih, kamu…”

“ Oh, aku tidak pernah merasa diriku sok bersih. Malulah sama tetangga. Dan apa kata dunia? Haha… Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah tetapi terus berusaha untuk hidup lebih baik hari lepas harinya…”

“ Sekali dekil, tetap dekil. Merdeka!”

“ Wuih, aku tidak setuju sama yang satu itu… Kuakui memang kedekilan itu tidak bisa hilang 100%, tetapi dengan usaha yang lebih baik dan berjuang lebih keras, tentunya kedekilan itu bisa berkurang kadarnya. Besok-besok berkurang dekilnya lah yaw…”

“ So, apa kabar, Kil (baca: Dekil)? How’s your day lately?”

“ Oh, aku baik-baik saja. Trying my best to cope with whatever I encounter in my daily life…Dan dengan hadir-Nya di hidupku, setidaknya aku bisa meminimalisasi kedekilan itu…Karena sudah hadir, detergen terampuh untuk mencuci semua kedekilanku yaitu kasih-Nya. Kuakui ku tak sempurna, banyak salah, masih pernah iri-dengki-cemburu-dendam… Tetapi, dengan kasih-Nya, kuyakin aku bisa melampaui itu semua. Bukan karena kekuatanku, tetapi karena dukungan-Nya yang tak henti pada diri mereka yang terus berjuang untuk mencerminkan hidup yang bercirikan karakter yang lebih baik lagi…”

“ Jadi! Usahlah kauganggu diriku dengan hinaan bernada dekil begitu…. Biarkan aku maju, bergerak menjadi seputih salju dengan bimbingan-Nya yang menuntun tanganku…Gih, minggirrrr…. Permisiiiii, aku mau lewatttt…”

Demikianlah percakapan yang terjadi di dalam hati menjelang Natal ini. Biarlah kupercayakan sekali lagi, aku yang ‘dekil’ dan tak sempurna ini, punya kesempatan untuk jadi putih berseri… Dalam iman kupercaya bahwa Tuhan akan mampu ubahkan diriku asalkan adanya niatan yang kuat di hatiku.

Selamat Natal buat semua yang merayakan. Bersyukur untuk hadirnya Yesus di hidup para pengikut-Nya dan semoga kita tidak menyia-nyiakan semua kebaikan-Nya di hidup kita…

Ho Chi Minh City, 24 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya

sumber gambar:

zastavki.com

Friday, December 17, 2010

ReSiPI- Lord, Don’t Move the Mountain



Oh Lord You Don't Have To Move The Mountain
But Give Me The Strength To Climb
And Lord, Don't Take Away My Stumbling Blocks
But Lead Me All Around

(Lord, Don’t Move the Mountain – one of the Soundtrack from The Pursuit of Happyness)

Ketika gunung permasalahan berada di hadapan. Apa doa kita? Apa kita memohon agar gunung itu dipindahkan, bahkan dihilangkan begitu saja dari kehidupan kita? Ah, ‘kan Tuhan Mahakuasa… Pastinya gunung permasalahanku kecil saja di tangan-Nya. Sentil sedikit, hilang sudah. Mengapa tidak Kaubantu aku untuk melenyapkannya seketika? Mungkin itu pinta kita…

Tetapi, lagu dari film Will Smith yang berisi ketegaran seorang pria dalam menapaki kehidupan yang tidak mudah sampai dia berhasil – The Pursuit of Happyness- itu mengajarkan saya untuk terus memohon kepada Tuhan dengan cara yang berbeda.

“ Tuhan, Kau tak perlu memindahkan gunung permasalahanku, tetapi berikanlah aku kekuatan untuk mendakinya.”

Permasalahan takkan berhenti. Persoalan akan datang silih berganti. Tetapi kita percaya bahwa dengan mengandalkan Tuhan, kita akan dimampukan untuk mendaki segala gunung permasalahan yang ada untuk kemudian menjadi kuat di dalam hidup ini. Bukan melulu dengan kuat kita, karena kita tak selalu sanggup untuk jalan sendirian… Namun, dengan bimbingan-Nya. Semoga kita senantiasa mau berdoa dan terus berusaha sambil mengharapkan-Nya di saat semua permasalahan melanda… Sehingga kita bisa berseru: Tuhan, beri aku kekuatan untuk melewati semua permasalahan ini bersama-Mu. Amin.

Ho Chi Minh City, 17 Desember 2010

-fon-

* ReSiPI: rubrik yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

sumber gambar:

ourayvacations.com

Monday, December 6, 2010

Kau Memang Layak Dikagumi!


* featuring: Franky Sihombing via lagunya dan imajinasiku..

Franky:

Belum pernah ada
Kasih di dunia
Sanggup menerima diriku apa adanya
Selain kasih-Mu, Yesus

Fon:

Bener banget, tuh Kak Franky…

Aku juga sudah merasakan hal yang sama. Begitu kasihnya Allah pada diriku, juga diri kita semua, jika saja kita menyadarinya. Pernah di satu masa, aku merasa seolah aku bukanlah orang yang layak dikasihi atau mendapatkan cinta sejati. Terkadang sikap mengasihani diri juga timbul, karena aku belum tahu akan figur yang penuh kasih itu. Saat momen indah itu tiba, kuterima Yesus dan merasakan kasih-Nya yang luar biasa… Aku merasa amat bahagia, sukacita… Tak pernah kurasakan sebelumnya. Walaupun hari-hari sesudahnya mungkin rasa berbunga-bunga itu sudah berganti menjadi rasa tenang dan damai, aku tetap mengingatnya sebagai perubahan drastis dalam hidupku. Saat aku mengenal-Nya secara pribadi, saat Dia masuk ke dalam hidupku pertama kalinya. Terima kasih, Yesus:)


Franky:
Tak
kan ada lagi
Kasih seperti ini
Sanggup mengubahkan hidupku
Menjadi baru
Selain kasih-Mu, Yesus

Fon:

Memikirkan dan merasakan kasih-Mu yang nyata dalam hidupku, Yesus… Membuatku merasa harus terus mengucap syukur dan berterima kasih yang tak kunjung putusnya. Aku berterima kasih atas hadir-Mu, kemampuan-Mu mengisi kekosongan di dalam hatiku. Yang aku tahu, takkan pernah mampu diisi atau digantikan oleh siapa pun atau apa pun. Aku bisa mencobanya dengan mencari dari berbagai sumber di dunia ini… Sumber cinta dan kepenuhan yang kukira bisa menggantikan kasih-Mu… Tetapi aku tahu, pada akhirnya kesemuanya itu akan tetap menempatkanku pada kehampaan. Mungkin kebahagiaan semu yang sementara, tetapi sekejap berlalu dan kosong itu kembali memonopoli hatiku. Kusadari bahwa hanya kasih-Mu yang sanggup menjadikanku baru di setiap harinya. Dan kasih itu pulalah yang memampukan aku mengasihi sesama. Mengasihi keluarga, teman, dan orang-orang yang kujumpai dalam perjalanan hidupku dengan lebih baik lagi. Karena aku mendapatkan kekuatan baru untuk mengasihi dari-Mu yang penuh cinta. Terima kasih, Yesus:)



Franky:

Kau...
Ku kagumi dalam hati
KasihMu tiada duanya
Sampai kini, ku akui
Kasih-Mu tiada duanya.

Fon:

Dannnn pada akhirnya….

Apa lagi yang harus kukatakan?

Selain: aku memang mengasihi dan mengagumi Engkau, Yesus. Karena Kau memang layak dikagumi. Pribadi-Mu yang penuh kasih, penerimaan-Mu yang luar biasa atasku-atas kami semua anak-anak-Mu…. Kebaikan-Mu untuk mau mati di kayu salib bagi kami semua…

Ah, aku kehabisan kata-kata, Yesus!

Kau kukagumi dalam hati, seperti kata Bung Franky…

Bukan hanya dalam hatiku semata, kuharap kekaguman itu membawaku melangkah lebih tinggi dalam kehidupan ini…

Dengan menunjukkan kebanggaan itu pada sesama dan menapaki hari-hari penuh cinta bersama-Mu…

Hanya bersama-Mu…

Setia pada-Mu,

berusaha terus dekat dengan-Mu,

bergiat menjalankan perintah-Mu…

Sebagai bukti kekagumanku dan luapan rasa terima kasihku!

Thank You, Jesus!:)

Ho Chi Minh City, 6 December 2010

-fon-

*Special thanks to Franky Sihombing’s Song: Kasih-Mu Tiada Duanya. Dan duetnya dengan tulisanku di malam ini. The biggest thanks should go to Jesus for your everlasting kindness and goodness in my life..

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

Wednesday, December 1, 2010

ReSiPI (Renungan Singkat Penyegar Iman)-Tuan dan Hamba


Bos-anak buah, atasan-bawahan, majikan-pembantu/sopir/buruh, adalah relasi yang selalu ada di dalam kehidupan ini. Terkadang kita tengah berada di posisi baik dan berada di puncak prestasi. Tengah dipercayakan-Nya kendali perusahaan, diberikan-Nya kelimpahan, dan tengah menerima berjuta kesenangan dalam jabatan. Semoga kita tetap ingat untuk berlaku jujur kepada hamba-hamba (orang yang di bawah kuasa kita), karena kita pun punya Tuan dari segala Tuan yang ada di surga yang terus mengetahui tingkah laku kita sepandai apa pun kita menutupinya. Allah tak pernah tertidur.

Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.

--- Kolose 4:1

Sedangkan bila kita tengah berada di posisi tengah, punya atasan dan punya bawahan, tentunya kita pun tahu bagaimana harus bersikap. Menempatkan diri sebaik yang kita bisa, tanpa perlu bersombong diri agaknya menjadi pilihan yang tepat. Dan ketika diberikan suatu tugas, hendaknya kita lakukan dengan baik. Tulus, bukan hanya di depan mereka saja seperti yang kita kenal dengan gejala ABS ( Asal Bapak Senang)… Melainkan berusaha dengan keras untuk tetap konsisten melakukan yang terbaik, walaupun bos tidak sedang di tempat.

Begitu pula saat kita tengah berada di posisi terbawah, menjadi ‘hamba’ misalnya. Tak perlu berkecil hati, tetaplah setia pada perkara kecil karena dengan demikian bila waktu-Nya tiba, Dia akan percayakan perkara-perkara yang lebih besar. Tetaplah bekerja keras dan jujur, tak peduli di mana pun posisi kita saat ini.

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

--- Kolose 3: 22-23

Semoga kita semua bisa berbuat seolah demi kemuliaan Tuhan dan bukan untuk manusia-apa pun peranan atau di mana pun posisi kita pada saat ini. Tentunya, ini bukanlah hal yang mudah. Pasti butuh proses dan perjuangan di tiap harinya. Pasti mengalami jatuh-bangun juga. Tetapi, mari kita tak menjadi putus asa untuk terus berbuat baik bagi Tuhan dan semoga itu tercerminkan dalam sikap kita kepada sesama. Tak peduli mereka Tuan ataupun hamba, tetap kita berlaku penuh kasih sekuat yang kita bisa. Terus usaha, with God there’s no such mission impossible. With God, impossible is nothing. :)

Ho Chi Minh City, 2 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.


* ReSiPI: rubrik yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

Monday, November 22, 2010

Seruan Hatiku


***Based on 1 Samuel 1:1-28

Tak ada orang yang akan mengerti perasaanku.Tidak ada!

Yang mereka lakukan hanyalah mencemooh diriku. Menorehkan luka di hatiku. Terlebih lagi, maduku itu. Dia-yang sudah memberikan banyak anak pada suamiku-merasa lebih tinggi martabatnya ketimbang diriku.

Terbayang tatapan dan ucapan sinisnya.

“ Dasar mandul! Sekali mandul ya tetap mandul!”

Aku diam.

Mencoba menenangkan perasaanku yang sebetulnya menjerit minta dikasihani. Tetapi, setelah tahun demi tahun kandunganku selalu kering- tak pernah berisi seorang jabang bayi pun-aku jadi terbiasa. Menahan sakit hati, bukanlah hal baru bagi diriku. Dia sudah jadi bagian hidupku.

Kugigit bibirku sendiri, sampai sedikit berdarah. Aku tak sanggup lagi sebetulnya menerima kenyataan ini. Terlalu pahit bagiku harus melihat kemegahan itu di hadapanku setiap hari. Megah bagiku, karena aku tak memiliki sedikitpun bagian dari itu.

Kami serumah dan dia-maduku itu- merajalela.

Juga anak perempuan dan lelakinya. Sedangkan El, suamiku oh maksudku suami kami (tak rela ungkapkan ini, tapi inilah kenyataan yang ada) terlalu sibuk untuk memperhatikan diriku. Mungkin juga perasaannya yang telah berubah padaku karena aku tak kunjung memberikan keturunan padanya. Aku merasa dia lebih memperhatikan maduku. Iri? Atau cemburu? Mungkin gabungan keduanya… Karena dia punya segala yang kuimpikan: anak dari rahimku sendiri.

Dalam sedih dan kepiluan mendalam… Aku mencari rumah ibadah, tempat kami biasa datang sekeluarga bila ada perayaan khusus. Hatiku hancur luar biasa. Dan dalam keremukan itu, aku memanjatkan doa:

“ Tuhan, bila Kau mengizinkan aku menimang seorang anak dari rahimku sendiri. Akan kupersembahkan dia kepada-Mu untuk mengabdi dan setia sepanjang hidupnya.”

Ah, kutepis inginku. Juga anganku. Mungkin aku bermimpi karena pada kenyataannya sudah sekian lama aku tak jua mampu memberikan seorang anak bagi suamiku. Tiba-tiba kusadari, tak ada orang lain yang lebih mengerti perasaanku selain diri-Nya. Keyakinan itu berpadu dengan keraguan yang menyapa dan menyergapku secara mendadak. Mungkinkah Dia mengerti? Bukankah tak seorang pun tahu keluhku? Mereka cenderung hanya bisa memojokkanku dan membuatku terpuruk dalam untaian kesedihan tanpa akhir…

Tuhan, adakah Kaudengar seruan hatiku?

Aku komat-kamit berdoa. Beberapa orang memandangiku dengan aneh. Bahkan kudengar mereka berbisik bahwa ada seorang gila di rumah ibadah ini. Pasti maksudnya diriku!

Aku tak hendak melawan. Biarlah mereka bicara sesuka hati mereka. Dan biarlah aku lakukan apa yang membuat diriku tenang. Karena ketiadaan keturunan selama ini sudah membuat diriku dipenuhi lautan kepedihan tanpa batas yang kukira tak seorang pun tahu.

Aku pulang dan berlalu. Berharap kali ini doaku akan dijawab. Tetapi aku tak berani berharap banyak, karena kekecewaan sudah bertubi-tubi menghantamku. Harap, mungkinkah kausirami hatiku yang gersang ini kembali?

***

Ajaib!

Setelah doa dan keluhan penuh rasa amarah-frustrasi dan kecewaku itu, aku dinyatakan hamil. Dan yang amat membahagiakan adalah ketika dia lahir dan aku memeluk dirinya. Anakku yang sudah kutunggu-tunggu bertahun-tahun lamanya. Dia hadir memenuhi hari-hariku dengan tangisnya, dengan ompolnya, dengan celotehnya yang belum kumengerti. Dan suamiku jadi lebih betah tinggal di dekatku. Samuel, jadi berkat bagi kami sekeluarga…

Maduku?

Oh, dia tak lagi bersuara… Dia tak lagi bisa menuduhku sebagai perempuan mandul karena Samuel adalah bukti kasih Tuhan kepadaku.

Aku amat bahagia. Dia memang selalu dengarkan seruan hati kita semua umat manusia. Dalam keputusasaan, terkadang aku merasa mungkin Dia terlalu sibuk bahkan sudah melupakan diriku yang kecil dan tak berarti ini. Namun, kenyataan kembali membuktikan bahwa Dia selalu dengar setiap doa. Dia memonitor setiap seruan hati yang diutarakan secara tulus kepada-Nya.

Tuhan, terima kasih. Kupersembahkan anak kami kepada-Mu. Seumur hidupnya, terserahlah ia kepada-Mu, Tuhan…

Aku percaya bahwa Tuhan tak pernah meninggalkanku. Samuel adalah bukti terindah bahwa kesetiaan-Nya akan janji-Nya takkan pernah berubah. Terima kasih, Tuhan!

Ho Chi Minh City, 23 November 2010

-fon-

* mengingat kembali saat-saat mata kuliah Narasi di KPKS. Mencoba menuangkannya dengan nuasa penulisanku sambil mencoba menangkap perasaan Hana di teks Kitab Samuel tersebut.

sumber gambar:

fpbookroom.org