Showing posts with label Yesus. Show all posts
Showing posts with label Yesus. Show all posts

Sunday, March 3, 2013

The Art of Waiting



lelahku menunggu
letihku menanti
bersama berlalunya Sang Waktu
masih merindukan jawaban pasti

sadarku kembali ingatkanku
kepastian tak selamanya akan berada di dekatku
beranikah diriku temukan tantangan baru
dalam bentuk perubahan-perubahan yang menyapaku?

secara manusiawi sungguh kusadari
aku bisa gelisah, resah, bahkan putus asa
ketika yang kunanti tak kunjung tiba
itu semua sungguh suatu proses alami yang harus dihadapi

satu hal yang kutahu pasti
Engkau, Tuhan selalu ada di setiap episode kehidupanku
Tak pernah barang sedetik pun Engkau pergi
Sungguh besar kasih setia-Mu

kini dalam seluruh proses penantianku…
kembali kusujud di hadapan-Mu
ini bukan pertama kali aku harus menunggu
berkali-kali dalam hidup ini harus kujalani proses itu…

kupercayakan sekali lagi hidupku…
hanya ke dalam tangan kasih-Mu
tak hendakku menjadi terlalu terserap dalam proses menunggu
dan menjadikanku sulit bersukacita di hidupku…

yang pasti di hidup ini hanyalah perubahan demi perubahan
dan aku hendak bertekun di dalam iman
belajar menghadapinya dengan tabah bersama Tuhan.
Yesusku, kumohonkan kekuatan…

03.03.2013
fon@sg


Sunday, February 24, 2013

Bartimeus Itu Aku




Jumat sore, 22 Februari 2013.
Pukul 4.45 sore.

Saya sedang berada di halte bus depan Lucky Plaza mencari bus menuju Plaza Singapura (Dhoby Ghaut MRT Station). Bus pertama yang datang segera saya naiki karena saya bertujuan menjemput anak kami yang sedang kursus di dekat sana.
Bus nomor 175 itu mendekat dan saya langsung naik setelah melihat bus ini lewat Plaza Singapura. Tak lama, bus melaju dengan kecepatan pelan melintasi Orchard Road yang tetap ramai dan indah di sore hari itu.
Cuaca pun cerah sehingga menambah semarak keindahan jantung kota tempat banyak mal berjejer sekaligus juga adalah surga pejalan kaki karena jalur untuk pejalan kaki sungguh lebar…

Tak lama, di halte depan Robinson dan berseberangan dengan Sommerset 313, ada seorang yang buta (saya lebih suka menuliskannya dengan yang penglihatannya kurang sempurna sebetulnya…) naik bus yang sama dengan saya. Sebelum naik, dia bertanya dalam Bahasa Mandarin apa bus ini menuju ke Dhoby Ghaut? Dan Sang Pengemudi menjawab, “Iya.”

Dengan perlahan dia menggerakkan tongkatnya dan memegang tiang bus di dekatnya. Dia pun tidak mau ditawari tempat duduk karena hanya sebentar saja sudah sampai ke Plaza Singapura.
Dia berdiri dekat pengemudi bus. Lalu, dia turun di halte bus yang sama dengan saya. Sebentar dia pun berlalu, tetapi kesan mengenai kemandiriannya sungguh sudah masuk ke dalam hati saya.

***

Memperhatikan dia dan perjuangannya untuk naik-turun bus saja sudah membuat saya kagum.
Juga membuat saya malu hati sekali lagi, terkadang saya yang dikarunia mata
yang sempurna untuk melihat ini, tidak selalu bisa memandang dengan tulus kepada orang lain. Terkadang saya bisa sinis, bisa cuek, bisa tak peduli, karena mungkin saya sendiri tengah kelelahan atau sumpek dengan masalah saya sendiri…
Terkadang saya merasa belum memaksimalkan karunia penglihatan yang Tuhan berikan ini dalam keseharian saya.
God, please forgive me…

Saya pun teringat ayat di Kitab Suci tentang Bartimeus yang buta. Yang dengan tanpa menyerah terus berseru kepada Yesus, mohon dikasihani.
Ketika yesus menanyakan kepadanya :
“ Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”
Jawab orang buta itu: “ Rabuni, supaya aku dapat melihat!”

Hari ini saya merasa seperti Bartimeus.
Saya mohonkan kepada Yesus untuk menerangi mata batin saya…
Mata hati saya…
Mata yang sering tertutup oleh perasaan-perasaan negatif yang datang tanpa diundang atau memang sudah terlanjur tersimpan di salah satu lorong hati saya…
Tuhan Yesus, rabuni aku supaya aku dapat melihat…
Dapat melihat kebaikan orang daripada keburukannya…
Dapat melihat orang-orang yang perlu dibantu dan ditolong karena mungkin keadaan mereka sungguh dalam kondisi berbeban berat…

Tuhan Yesus, kasihanilah aku…
Aku tak selalu bisa melihat dengan kasih…
Mata jasmaniku mungkin melihat, tetapi mata hatiku kerap kali tertutup oleh egoisme dan sikap mementingkan diri sendiri…
Rabuni aku, Yesus…
Bukakan mataku….

Bartimeus itu aku.
Aku terkadang ‘buta’.
Tak mau memandang dengan kasih…
Tak selalu bisa tulus dalam memberi…
Tak selalu mau membantu mereka yang berteriak minta tolong di hadapanku…

Bartimeus itu aku…
Dan aku datang kepada-Mu, Yesusku…
Aku mohonkan dengan imanku, tolong bukakan mataku…
Kasihanilah aku…
Dan izinkan aku mengikuti-Mu sampai akhir hidupku.
Melakukan kehendak-Mu dan menyenangkan-Mu.

24.02.2013
fon@sg
*sudah dimuat pula di blog Jesus, I Adore You
*berdasarkan bacaan Markus 10:46-52
10:46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. 10:47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret,  mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud,  kasihanilah aku!" 10:48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" 10:49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." 10:50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. 10:51 Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni,  supaya aku dapat melihat!" 10:52 Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan  engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti  Yesus dalam perjalanan-Nya.

Wednesday, December 7, 2011

Christmas is All About Jesus



Natal segera tiba!

Sudah waktunya untuk siapkan kado buat seluruh keluarga dan teman-teman dekat, merancang liburan yang asyik, juga siap-siap jalan-jalan ke mal yang indah dan cantik yang dipasangi Pohon Natal istimewa. Restoran dan hotel pun berlomba untuk memasarkan menu khusus dengan harga yang khusus pula. Mulai dari Christmas Eve Dinner atau Christmas Day Brunch. Lengkap dengan wine atau champagne. Hmmm, keren!

Saya ingat, ketika diberi-Nya kesempatan tinggal di Singapura beberapa tahun yang lalu, Orchard Road sungguh indah. Bersolek selama sebulan penuh dengan hiasan natal yang modern dan cantik. Bukan hanya satu-dua mal. Tetapi seluruhnya plus sepanjang jalan juga! Suasana yang tercipta benar-benar indah dan meriah.

Tidak jarang dengan persiapan yang begitu indah dan megah, terkadang juga mewah, kita malah melupakan esensi dari Hari Natal itu sendiri. Natal kini identik dengan kado, liburan, makan bersama, diskon belanja khusus, dsb… Semuanya itu membuat kita melupakan Tuhan Yesus sendiri yang kita rayakan ulang tahunnya.

Kehadiran-Nya di dunia amatlah sederhana. Dia lahir di palungan tanpa suasana rumah sakit elite. Kesederhanaan yang memancar dari lahirnya Kristus seolah terlupa oleh ‘festivity’ saat Natal dianggap sebagai suatu perayaan atau pesta belaka.

Tidak salah juga merencanakan segala sesuatunya untuk kegiatan bersama keluarga. Tetapi, semoga kita tetap ingat, bahwa Christmas is all about Jesus. Jangan sampai kesibukan kita akan kado, liburan dan makan-makan melupakan Tuhan Yesus sendiri. Kehadiran-Nya di dunia adalah untuk menyelamatkan kita umat manusia. Sungguh suatu hal yang mulia, karena siapakah kami ini Tuhan, sehingga Engkau menyelamatkan kami, padahal kami ini sungguh orang berdosa? Hanya karena kasih-Mu saja, Engkau lakukan itu sepenuh cinta…

Marilah kita kembali kepada kesederhanaan. TIdak selalu Natal harus mewah, tidak selalu harus meriah. Karena esensi Natal yang terletak pada Yesus Kristus sajalah yang patut kita perhatikan dengan seksama. Bahagia, rasa syukur, bercampur terima kasih dari lubuk hati yang terdalam, karena Dia mau lahir ke dunia bagi kita semua.

Semoga kedamaian Natal melingkupi hati kita. Semoga Natal membawa sukacita bagi kita bersama. Happy birthday, Jesus!

Ho Chi Minh City, 7 Oktober 2011

Fonny Jodikin

  • sudah dimuat di Smile Magazine, Jakarta

Monday, October 31, 2011

Datanglah Kepada-Ku…



Saya ingat kembali, ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di sebuah pertapaan di kawasan Puncak tepatnya di akhir tahun 1999. Saya mengikuti misa hari itu bersama beberapa teman saya, padahal saya masih belum memeluk agama Katolik. Saya tidak merasa asing, karena dari kecil-tepatnya dari Sekolah Dasar (SD), saya disekolahkan orangtua saya di sekolah Katolik. Saya menghormati dan menaruh toleransi yang besar terhadap setiap agama, karena saya mempercayai bahwa setiap agama pada dasarnya adalah baik karena mengajarkan keselamatan bagi para pemeluknya. Juga niatan di awal setiap agama tentunya membawa kedamaian dan bukan sarana yang disetir atau dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk indoktrinasi, brain-wash, atau mencari keuntungan sendiri misalnya memperkaya diri, dan seterusnya. Semua itu adalah hal-hal yang menjauhkan agama dari tujuannya semula.

Saya tetap memeluk kepercayaan saya yang lama sampai saya lulus kuliah dan bekerja. Lagi-lagi, saya pikir, saya memang menghormati agama lain, tetapi saya tak pernah berniat untuk pindah agama. Karena selama bersekolah di sekolah Katolik pun, walaupun mengenal doa-doa seperti Salam Maria, Bapa Kami, maupun tata cara perayaan ekaristi, tetapi tidak membuat saya merasa terpaksa harus pindah. Saya nyaman-nyaman saja dengan kepercayaan yang saya anut dan tidak ada pemaksaan sedikit pun dari pihak sekolah atau pihak mana pun. Saya bebas menganut kepercayaan saya dan pilihan itu terletak di tangan saya. Saya pikir, akan selamanya saya menganut kepercayaan saya yang lama. Tetapi, di misa di tahun 1999 itu, ada sesuatu yang terjadi, yang tak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Saya menyukai tempat beribadah yang tenang dan asri. Dan pagi itu, saya dapatkan semuanya di situ. Sembari menikmati suasana hening yang tercipta, tiba-tiba saat Romo berhomili, saya tersentak dengan kata-kata: “ Datanglah kepadaku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Entah mengapa saya mulai menangis. Hal yang tak pernah saya duga akan terjadi. Sebelumnya saya terkenal keras, logis, dan tak mudah menyerah. Jadi, mengapa kata-kata yang seperti itu saja seolah membuat saya terharu?

Saya tidak habis pikir. Dan tepatnya saya tak sempat berpikir banyak. Hanya menikmati suasana damai yang tiba-tiba memenuhi seluruh dinding hati saya. Tak terucapkan dengan kata-kata. Speechless. Hanya damai dan perasaan dikasihi mengaliri sekujur tubuh saya. Mungkin saya terlalu letih. Mungkin saya memang berbeban berat. Mungkin saat itulah Tuhan menyentuh hati saya untuk pertama kalinya. Roh kudus dengan lembut membisikkan bahwa saya tidak sendirian dalam menghadapi permasalahan dalam hidup ini. Bahwa saya dimengerti, bahwa ada kelegaan, itu saja yang saya alami hari itu. Saya diam. Masih kesulitan berkata-kata. Tetapi saya sadar, saat itulah Tuhan Yesus sudah mengetuk hati saya dan saya membukanya. Mungkin selama ini Ia selalu mengetuk, tetapi saya tengah sibuk. Terlalu sibuk dengan masalah yang selalu saya coba cari jalan keluarnya dengan kekuatan saya sendiri. Tetapi tak jarang buntu dan sempat membuat saya putus asa. Hari itu, seolah sebuah kekuatan baru dipompakan dalam hidupku. Dan saya sadar, itu karena-Mu, Yesus!

Saya aktif mencari-Nya juga di kala memeluk kepercayaan saya sebelumnya. Saya ikut banyak kebaktian setiap minggunya juga sampai mencari-Nya melalui peziarahan ke kota lain. Jauh, sendirian, hanya ingin mencari hadirat-Nya. Karena pada dasarnya saya percaya, kepenuhan hidup hanyalah di dalam Dia. Apa pun bisa terjadi dalam hidup ini, selama saya berpegang kepada-Nya, saya tidak akan goyah. Tetapi, tanpa sadar, saya terbiasa menghadapi apa-apa dengan kekuatan sendiri. Bersandar pada keyakinan, saya pasti bisa bahkan saya harus bisa. Lama-lama, menjadikan saya lelah, letih, dan merasa betul-betul sendirian dalam menghadapi kehidupan yang keras dan tak pernah mudah ditebak ini. Di saat itulah Yesus hadir dalam hidup saya dan membuat perbedaan. Beda karena di dalam diri-Nya, saya temukan sosok sahabat setia yang selalu ada di tiap detik kehidupan saya. Setiap babakan kehidupan dalam setiap halaman buku kehidupan saya bahkan telah dituliskan-Nya dengan sempurnya. Dia yang mengetahui segalanya, awal sampai akhir kehidupan saya. Bersama Dia, saya bisa curhat, sharing, akrab dalam doa. Saya sungguh bahagia. Kata yang lebih tepat menggambarkannya adalah sukacita. Sukacita tak tergantung suasana di luar. Mungkin masalah hidup saya belum selesai, tetapi saya punya seorang sahabat setia tempat saya berbagi semua yang saya alami dan yang saya rasakan dalam diri Yesus Kristus. Dan bukankah hidup adalah serangkaian masalah? Kalau mau kehidupan tanpa masalah, nanti ada saatnya, saat manusia berpulang ke rumah Bapa, bukan? Saya sungguh bahagia!

Setelah itu, saya langsung mengikut katekumen di sebuah Gereja Katolik di bilangan Jakarta Barat. Saya katekumen selama 1 tahun, didaftarkan oleh kakak tertua saya. Saya mengalami hal-hal yang menakjubkan dari sisi iman. Dan tentunya iman yang mula-mula itu dipenuhi semangat yang membara, seolah tak ada kecewa bersama Dia. Di akhir tahun 2000, saya dibaptis secara Katolik. Setelah itu, saya pun mengikuti beberapa seminar, kursus, retret, untuk menambah pengetahuan saya yang masih amat minim soal Kekatolikan. Sehingga, apabila saya ditanyai mengapa saya memilih Katolik, saya masih banyak bengongnya haha… Karena saya hanya mengikuti kata hati saya yang terbuka terhadap panggilan-Nya. Tanpa alasan yang jelas juga mengapa. Untuk itulah saya kira, saya memerlukan banyak bantuan dari teman-teman seiman yang lebih senior, juga retret, kursus atau seminar yang semakin mendekatkan diri saya pada-Nya.

Perlahan tetapi pasti, saya semakin terbuka pada-Nya. Hati yang menyala-nyala ingin melayani-Nya dan membagikan kasih-Nya yang sudah begitu nyata dalam diri saya kepada sesama berbuah beberapa pelayanan yang Dia percayakan pada saya. Dia selalu memakai sesuatu yang ada di dalam diri kita. Bukan sesuatu yang jauh. Dan saya percaya, bila Tuhan inginkan, Dia akan tambahkan sepanjang perjalanan kita. Karena suka menyanyi, bahkan sebelum dibaptis, dibukakan-Nya jalan untuk bergabung dengan tim pujian sebuah persekutuan doa di bilangan Jakarta Pusat. Saya mulai hafal lagu-lagu rohani, lalu kemudian melayani-Nya di bidang pujian sebagai ‘singer’. Tak lama, pertemuan dengan beberapa sahabat yang lebih senior, membukakan jalan bagi saya untuk menyanyi di band rohani sebagai singer. Suatu hal yang amat menyukakan bagi saya. Karena saya suka menyanyi dan apa lagi yang lebih indah dari menyanyi bagi kemuliaan-Nya?

Selain itu, karisma yang tertinggi dalam diri saya berdasarkan seminar karisma adalah karisma menulis. Hal yang tak pernah saya duga sebelumnya. Terheran-heran juga, karena saya memang pernah menulis dan cukup suka, tetapi untuk menulis hanya bagi kemuliaan-Nya? Wah, saya tidak tahu ya… Apa saya bisa, Tuhan? Keraguan demi keraguan terjawab sudah. Dengan tetap berpegang pada tangan-Nya, serta bergiat melakukan yang terbaik bagi-Nya, perlahan saya pun mulai menuliskan kebaikan-Nya dalam hidup saya serta membagikan kepada teman-teman saya terlebih dahulu untuk kemudian memberanikan diri mengirimkannya ke beberapa milis Katolik.

Naik-turunnya perjalanan iman saya bersama Kristus pasti pernah terjadi juga. Apalagi pemahaman saya yang masih muda ini, barulah 11 tahun saya jadi pengikut Kristus. Tetapi, setiap hari saya hanya memohonkan rahmat agar saya semakin terbuka pada-Nya sehingga apa pun yang ingin Dia tambahkan dalam hidup saya, saya terima dan berkata: “Ya, Tuhan. Inilah aku, pakai diriku seturut kehendak-Mu.”

Ada waktunya di mana saya merasa Tuhan tidaklah sama seperti waktu saya kenal pertama. Ada yang bilang itu adalah kasih mula-mula. Tetapi, sebagaimana halnya semua relasi, pasti ada naik turunnya, juga kemudian ada pengertian baru yang ditambahkan dari kedua belah pihak, untuk kemudian tercipta relasi yang makin kokoh dan kuat seiring berjalannya waktu.

Pernahkah saya kecewa dengan Tuhan? Tentu pernah, ya. Tetapi, untungnya…Puji Tuhan, tak lama saya pun disadarkan bahwa saya yang salah mengerti akan diri-Nya. Karena pada dasarnya Dia adalah baik dan akan selalu baik dalam hidup saya. Saya yang terlalu ‘demanding’, ingin ini dan itu, terkadang bahkan memaksakan kehendak saya pada-Nya. Ketika tidak mendapat apa yang saya inginkan, terkadang saya marah. Padahal, Dia yang tahu apa yang saya butuhkan, dan selama ini Dia selalu cukupkan segala sesuatu.

Hari-hari selanjutnya menjadi hari yang semakin kokoh di dalam iman. Karena saya percaya Tuhan tak pernah lepas tangan. Lewati semua rintangan kehidupan? Saya yakin dimampukan-Nya, karena Tuhan selalu bersama-sama saya. Jika saya membayangkan diri saya yang kecil di tengah dunia yang begitu luas, tentunya saya tidak berani, ya. Untunglah, Tuhan selalu setia menyertai kita dalam setiap kejadian dan episode hidup kita…. Ku tak takut, karena Kau selalu sertaku.

Saya percaya, Tuhan selalu ada bagi kita. Selalu memberikan yang terbaik di dalam rencana-Nya walaupun itu berarti amat berbeda dengan rancangan pribadi kita. Tetapi, Dialah Tuhan yang Maha Tahu. Tahu yang terbaik bagi semua anak-anak-Nya.

Undangan-Nya masih sama kepada setiap kita yang mau membuka hati kita pada-Nya… “ Datanglah kepada-Ku…”

Dan jawabku: “ Ini aku datang, Ya Tuhan… Memenuhi panggilan-Mu…”

Tulisan ini dibuat sebagai ucapan syukur dan rangkaian terima kasih tak terhingga yang tulus dari lubuk hatiku, karena kesetiaan-Mu, penyelenggaraan-Mu, dan seluruh kebaikan-Mu dalam hidupku, Yesusku…

HCMC, 25 Oktober 2011

-fon-