my writings especially dedicated for Jesus. For His goodness and never ending kindness in my life.
Monday, September 23, 2013
Berpautlah Kepada Tuhan
Sunday, February 24, 2013
Bartimeus Itu Aku
Sunday, July 25, 2010
ReSiPI: Nobody-Somebody-Everybody
Once upon a time…
I was nobody
Sometimes I felt hopeless
By kept repeating the same old mistakes
Over and over again
Then suddenly, I’m somebody.
I’ve proved to the world that
I can do many things and succeed
Now the feeling of comfort fills my heart.
Yes, I’m somebody…
I’m superb, I’m great…
Somehow, the pride took its way in me
And I’ve lost it because of my arrogance
Then, again…
I’m nobody…
But that voice fills my heart.
Saying:
“ You’re special to ME. You’re the apple of MY eyes.”
Really? Do YOU think so?
If You really think so, then why did those bad things happen to me?
If You really love me, how could You make me feel the lost again?
Then suddenly, the new understanding came to my mind…
Like a light that shines so bright along my long journey of thinking
Yes, I’m special…To experience the unpleasant things
Only to find that I’m nobody without You, Lord.
If I want to be somebody…
Let me be somebody in YOU.
Not with my pride nor with my strength.
But, with Your Grace, You enable me to become somebody…
So that everybody can see Your grace and goodness in me.
Yes, I’m somebody in Christ.
Yes, everybody will see Him more, and see me less.
Even I think that I’m nobody,
He still thinks that I’m special.
Thanks to You, Lord.
SG, 24-25 July 2010
-fon-
* ReSiPI: rubrik yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.
Thursday, June 3, 2010
Undangan

Hari-hari belakangan menjadi hari yang menggelisahkan bagi Rika. Pasalnya, sebagai orang yang dekat dengan Tia yang menyelenggarakan pesta ulang tahunnya di hari Sabtu nanti, Rika tidak termasuk dalam daftar undangannya. Panik, gelisah, marah, tertolak, merasa tidak dianggap teman dan bahkan tidak diperhitungkan, seluruh perasaan itu memenuhi otaknya.
Dia kecewa. Itu jelas!
Jadi, apa artinya pertemuan-pertemuan selama ini? Curhat-curhat mereka yang seolah begitu mendalam? Semuanya seolah tanpa arti dengan tidak diundangnya dirinya. Dari kejadian ini, Rika merasa seolah Tia sudah menabuh genderang perang. Permusuhan sudah dimulai. Dan bagi dirinya itu dimulai dengan menghapus Tia dari daftar ‘phone book’-nya, melakukan ‘removed as a friend’ terhadap Tia di situs Facebook, tidak lagi mau mengontaknya, bahkan memusuhinya. Tia, cukup sudah!
Pengalaman seperti yang dialami Rika, mungkin pernah terjadi dalam kehidupan teman kita atau kehidupan kita pribadi. Tak jarang saya jumpai mereka yang bercerita kepada saya soal undang-mengundang ini. Mungkin juga pernah terjadi saya yang kelupaan mengundang seseorang dan orang tersebut lantas menjadi sakit hati pada saya tanpa pernah mengungkapkannya. Soal undang-mengundang ini memang banyak mengundang konflik juga… Sensitif juga soalnya…
Permasalahan seputar kekecewaan akibat tak diundang, membawa saya ke perenungan tentang seseorang yang selalu mengundang kita sebetulnya. Saya sendiri sempat terpana dengan perkataan ini: “ Datanglah kepada-Ku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan padamu.” Atau undangan yang tak kalah menariknya sebetulnya, “ Mari. Ikutlah Aku.” Undangan tersebut dilontarkan tanpa henti oleh sebuah pribadi, sebuah figur, yaitu Tuhan Yesus sendiri.
Sangat disayangkan apabila kita tak memedulikannya. Padahal, undangan itu adalah untuk kebaikan kita pribadi. Dan apabila saya kembalikan ke kejadian Rika yang begitu sakit hati karena tak diundang, sementara kita yang sudah diundang koq malah menyia-nyiakan undangan tersebut. Bukankah itu sesuatu hal yang aneh? Mungkin sebegitu tertutupnya pikiran kita akan permasalahan kita. Begitu terpusatnya diri kita hanya pada diri sendiri, sehingga hal-hal lain, apalagi seseorang yang peduli namun tak kelihatan, menjadi semakin kabur dan tak jelas dalam pandangan kita. Pernahkah kita memikirkan perasaan-Nya yang mengundang kita, kemudian kita tolak? Tentunya, Tuhan memang Mahatahu dan Maha segala-galanya. Jadi, kita yang belum membuka hati bagi-Nya pun tidak akan bagaimana-bagaimana, sih… Tetapi, tetap saja Dia rindu agar kita berkomunikasi dengan-Nya, berdoa, curhat sebagaimana terhadap seorang sahabat baik, memuji dan memuliakan nama-Nya, dan menjadi anak-anak kebanggaan-Nya.
Undangannya masih sama: tergantung maukah kita buka hati kita untuk-Nya? Dia sudah berdiri di depan pintu hati kita, mengetuk pintu itu. Maukah kita bukakan untuk-Nya?
Undang-mengundang. Diundang-tak diundang. Bikin masalah, bikin sakit hati, bikin hati kesal dan kecewa dalam hubungan antarmanusia. Sedangkan dalam konteks hubungan kita dengan Sang Pencipta, timbul pertanyaan juga : mengapa tidak menerima undangan-Nya yang mampu menyembuhkan itu semua? Manusia amat mungkin mengecewakan kita, tetapi Tuhan tidak (asal kita mengerti bahwa Dia memang baik: konsep yang seringnya keliru adalah kita pikir, kita rasa Tuhan tidak baik atau menjauh dari kita. Benarkah? Atau kita yang sudah terlanjur menghakimi Dia dengan perasaan dan pikiran kita, karena kejadian di hidup kita yang begitu mengecewakan sehingga kita merasa tak lagi mampu untuk percaya pada-Nya?).
Undangan dari-Nya tetap terbuka. Menyambut-Nya atau tidak, itu memang pilihan kita. Dia tak pernah memaksakan kehendak-Nya. Semoga semakin banyak hati yang mau membukakan pintu bagi Dia yang terus mengetuk tanpa henti:)
HCMC, 3 Juni 2010
-fon-
Thursday, April 29, 2010
How Can I Put My Trust in YOU?

Anak-anak kecil, tak bersalah, tak berdosa…
Jadi korban perang, perkosaan dan pelecehan…
Yang tukang bikin masalah terkadang malah orang dekat, orang kepercayaan, tetangga, teman, sampai orang yang dianggap rohani.
Hal yang lebih ganas dilakukan, bahkan lebih dari binatang buas yang tak makan anak sendiri. Membuatku merinding tiap kali membaca hal-hal seperti ini. Seolah manusia yang tampaknya dan seharusnya takwa malah seolah tak punya nurani.
Kalau lihat yang seperti ini, pernah pertanyaan ini timbul juga: bagaimana aku bisa beriman pada-Mu, Tuhan?
Kemunafikan meraja lela. Setiap orang seolah perlu topeng untuk amankan mukanya. Dari murka dunia, dari rasa bersalah, cukup kenakan topeng, selesailah sudah. Ironisnya yang munafik malah jaya dan kaya raya. Sementara yang kerja keras, jujur, dan baik hati malah ada yang miskin tiada
Melihat kenyataan pahit begini, sekali waktu pernah kutanya pada-Mu, Tuhan.
‘ How can I put my trust in You?’
Lilitan kawat duri ketakutan melingkari setiap hati yang ragu untuk melangkah. Entah karena kekuatiran akan hari esok, entah karena bayang masa silam yang tak jua lepas dari ingatan. Bayang kesedihan tak berujung. Melihat kenyataan yang ada, kondisi keuangan yang tak menunjang sementara harga melaju tinggi tanpa kendali, kembali tanya ini penuhi banyak hati:
‘How can I put my trust in You, Lord?’
Bencana alam bertubi-tubi. Gempa, angin ribut, longsor, badai, sampai banjir.
Nyawa hilang seolah begitu mudah, seolah kucing yang punya sembilan nyawa. Hanya ini tak ada gantinya, karena mereka manusia. Dalam hati miris tak terkira, kutanya:
“ Bagaimana aku bisa terus percaya pada-Mu, Tuhan?”
Seorang anak korban pelecehan Bapak tirinya, tak pernah tahu apa arti seorang Bapa. Dia hanya tahu, ayah tirinya itu bukanlah orang baik. Mungkin tampaknya baik, tapi ternyata tak cukup baik. Dia yang sudah ternoda, hanya bertanya:
“ Jika yang tampak di depan mata sudah macam ini, apa Engkau yang tak kasat mata bisa peduli?”
Jika dipikirkan, iman itu lebih dari sekadar pikiran.
Jika hanya mengandalkan apa yang terlihat, percaya itu lebih dari sekadar ucapan di bibir atau apa yang terlihat dengan mata saja.
“ Iman mampu memindahkan gunung. Orang-orang yang berjalan di dalam iman, takkan berhenti berharap. Takkan berhenti percaya, walaupun kenyataan begitu pahit. Begitu memilukan. Orang-orang yang takwa akan terus mencari hadirat-Nya, takkan berhenti, walau seluruh hidupnya diliputi luka dan kesakitan. Karena percaya, sumber penyembuh sejati hanya ada pada diri-Nya. Bukan yang lain.”
Dunia boleh bilang, “ Tuhan tidak adil.”
Dunia boleh kecam, “ Rasanya sukar mengandalkan Tuhan di masa sulit seperti ini.”
Dunia boleh tertawa dan mempertanyakan, “ Tuhan? Adakah Dia?”
Dunia boleh lakukan apa saja…
Namun, kita tak boleh menyerah.
“ How can I put trust in You?”
‘ Of Course, you can!’
Percaya datangnya dari hal sederhana. Iman datang dari kecintaan akan Dia. ‘Trust comes from simple things but yet is able to bring your faith to another level. Nearer to Him.’
Percaya bukan berarti tak pernah kecewa akan kenyataan yang ada. Namun, percaya berarti tetap mau memilih dekat dengan-Nya dalam kondisi sesulit apa pun. Dalam setiap duka yang seolah tak terselesaikan. Mengandalkan Tuhan seolah jadi omong kosong bagi beberapa orang, namun tidak bagi Tuhan itu sendiri. Justru dalam setiap masalah yang tak terselesaikan, pertanyaannya:
“ Sudahkah kauundang Dia dalam hidup-Mu? Untuk memimpinmu sekali lagi dalam hidup ini?”
Dunia mungkin akan tambah kacau… Tetapi, kita tidak boleh kacau. Di tengah orang yang mengaku rohani yang masih melakukan kejahatan, di tengah kondisi orang yang seharusnya dipercayai malah menorehkan kepercayaan itu dengan pelecehan dan bangkitkan dendam…Di tengah itu semua….Hanya bisa mohonkan kasih Tuhan, rahmat Tuhan untuk bisa menerima segala sesuatunya dan percaya: ‘everything happens for a reason.’
Bo Sanchez dilecehkan oleh pembimbing rohaninya. Dia bangkit di dalam Tuhan dan memulai hidup yang baru, yang amat luar biasa dan menjadikannya seperti hari ini. Penulis, ‘business man’, pewarta, dan ‘trainer’ luar biasa.
Alison Botha diperkosa dan hampir mati, selamat, dan menjadi motivator ulung ke seluruh dunia agar mengajarkan semua orang untuk menghargai kehidupan sendiri.
Nick Vujicic lahir tanpa kaki, sekarang motivator ulung di dunia, sukses dan tak jarang bikin malu hati orang-orang yang fisiknya sempurna…
Apa yang kita pikir kemalangan, belum berarti kemalangan. Sejarah juga membuktikan, mereka yang mengandalkan Tuhan, percaya dan terus berjalan di dalam Dia, takkan ditinggalkan-Nya. Malah segala hal yang berbau kemalangan, Dia ubahkan jadi sukacita terbesar.
‘How can I put trust in You?’
‘You can do it by praying more, ask for His love, and just stay faithful even you haven’t seen anything. Because He has seen the whole picture of your life.’
‘Stay faithful:)’
'God, I want to put my TRUST in YOU. Amen.'
HCMC,
-fon-
* smoga kita tersadarkan untuk meningkatkan iman dan perbuatan kita. Karena iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Iman kita semoga menjadikan kita orang-orang yang semakin tabah di dalam menjalani hidup. Di dalam kasih-Nya. Amin.
Sumber gambar:
http://farm3.static.flickr.com/2347/2280222251_f2e7e2e8a4.jpg
