Iman Seorang Anak Kecil
Seorang anak kecil menderita sakit yang parah.
Ibunya sangat sedih, ingin menggantikan posisinya.
Ayahnya sangat terpukul, namun berusaha keras memenuhi kebutuhan finansial yang sangat besar untuk biaya pengobatan Si Anak.
Kakak dan adiknya sedih dan kesepian, karena kehilangan seorang teman bermain.
Seorang anak kecil menderita sakit parah.
Yang sampai sekarang belum diketemukan obatnya...
Namun yang aneh tapi nyata, dia sungguh berharap dan beriman pada Yang Kuasa...
Imannya membuat orang-orang di sekitarnya terhibur...
Walaupun air mata tak henti turun dari yang mendengarnya...
" Tak apa, Ma... Yesus ada dan Dia selalu memegang tanganku... Dia takkan meninggalkanku sendirian..."
" Papa jangan kuatir ya, Pa... Yesus sudah sediakan segala sesuatunya bagi kita, Pa..."
Hati siapa yang takkan tersentuh?
Sekeras apa pun hati seseorang, bila dihadapkan pada kenyataan semacam ini, pastinya takkan ada yang bisa menghindari air mata yang jatuh....
Dia hanya seorang bocah lelaki berusia enam tahun.
Yang seharusnya menikmati masa-masa yang bahagia...
Yang semestinya sedang tertawa-tawa bermain dan bercanda bersama teman-temannya...
Bukan terbaring dengan selang infus yang panjang.
Dengan jarum suntik yang sudah jadi makanan sehari-harinya...
Juga obat-obatan yang begitu banyaknya...
Seorang anak kecil berpulang.
Untuk selamanya.
Meninggalkan jutaan kenangan bagi keluarga tercinta...
Meninggalkan keharuan dan kesedihan...
Juga KETEGARAN...
Keberanian untuk menghadapi keadaan...
Tak pernah tahu, hidup ini akan membawa kita ke arah mana...
Tak pernah pasti, apa yang akan kita jalani hari lepas hari...
Sedetik saja, segala sesuatu bisa berubah...
Namun bersama Yesus, kita hadapi semuanya dengan iman.
Dengan ketabahan...
Kita terkadang terlalu terpaku dengan 'happy ending' yang sering kita lihat di Drama Korea ataupun film-film Hollywood...
Namun, film kehidupan kita berbeda dengan film-film buatan manusia...
Karena film kita disutradarai oleh-Nya...
Semoga kita tetap memiliki iman seperti seorang anak kecil yang tak henti berharap kepada Yesus, meskipun menghadapi kesulitan.
Ya, semoga.
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" 18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka 18:3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. 18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. "
(Matius 18:1-5)
3 Maret 2015
fon@sg
*menari-narikan jemariku di atas keyboard laptop. All for His Glory. Lenten Season 2015.
*based on true story yang pernah kudengar terjadi di sekitar kita. Tuhan kuatkan anak-anak yang sakit keras, juga keluarganya dalam menghadapi keadaan yang sulit ini... Semoga mereka tetap merasakan kasih-Mu, juga menyadari bahwa Engkau takkan pernah meninggalkan mereka.
my writings especially dedicated for Jesus. For His goodness and never ending kindness in my life.
Monday, March 2, 2015
Monday, February 16, 2015
Februari yang Sibuk
Valentine's Day, Rabu Abu bagi yang Katolik, dan Imlek...
Februari yang sibuk...
Pusat perbelanjaan penuh, riuh...
Berdesak-desakakan
Ngantri...
Februari yang sibuk...
Pusat perbelanjaan penuh, riuh...
Berdesak-desakakan
Ngantri...
Februari yang sibuk...
Adakah saat hening itu masih kusediakan?
Saat untuk duduk diam di hadirat-Mu dan mendengar suara-Mu?
Jujur, kurindukan itu...
Di antara deru Februari atau bulan-bulan berikutnya...
Di antara kesibukan di setiap harinya...
Semoga aku tetap mempersembahkan waktuku untuk-Mu...
Saat untuk duduk diam di hadirat-Mu dan mendengar suara-Mu?
Jujur, kurindukan itu...
Di antara deru Februari atau bulan-bulan berikutnya...
Di antara kesibukan di setiap harinya...
Semoga aku tetap mempersembahkan waktuku untuk-Mu...
Februari 11, 2015
fon@sg
Labels:
doa,
Februari,
introspeksi,
sibuk,
waktu untuk Tuhan
Friday, December 12, 2014
Being Mom: Faith in His Timing
Being Mom: Faith in His Timing
5 Januari 2014
Masih teringat dalam benak saya, ketika kami mengawali tahun 2014 ini.
Saat anak kami yang pertama-panggilannya Odri- memulai kursus renangnya di minggu pertama di bulan Januari.
Sebelum ini, hanya latihan-latihan biasa bersama papanya, namun belum benar-benar bisa.
Mau diajari agar kepalanya masuk ke dalam air, dia tak mau.
Sepertinya dia masih takut.
Namun, karena saya pribadi pernah punya pengalaman yang cukup membuat trauma saat Odri didorong ke kolam renang oleh seorang anak bule di tempat tinggal kami sebelumnya, jadi ada rasa kuatir juga kalau dia belum bisa renang.
Kursus renang ini bukan buat gengsi-gengsian, melainkan untuk 'survival', jika suatu saat ternyata harus 'kecemplung' lagi di kolam renang.
Sehingga, kami memutuskan-dengan persetujuan Odri yang mendadak pengen belajar juga- untuk mencari pelatih dan memulai kursusnya.
Minggu demi minggu berlalu.
Saya harus menunggu selama 1 jam, duduk di sisi kolam, melihat dia berlatih.
Pertama berlatih pernafasan, lalu diajari pelan-pelan gaya dada.
Pelajarannya menggunakan 'swimming float' untuk membantunya mengapung di permukaan.
Jujur, selama 1 jam, kadang emaknya mati gaya sendiri hihihi...
Mau ikutan renang, jujur lagi nih, agak malas.
Karena memang aku gak terlalu suka renang, juga sekaligus maunya melihat dia berlatih karena masih pemula, jadi gak berani dilepas..
Dari baca buku, berdoa, lihat gadget, semua dilakukan...
Satu sisi bersyukur juga, karena punya 'me time' yang dipaksakan, meskipun di sisi kolam renang saja.
Kadang bosan, kadang bengong, kadang ketawa sendiri lihat gadget (untung yang ini jarang, kalo sering, apa kata dunia? Hahaha...)
Minggu demi minggu, perlahan tapi pasti terlihat juga 'progress' Odri.
Memasuki bulan Desember ini, dia sudah menguasai gaya dada dan bisa berenang sepanjang kolam orang dewasa dengan standar olympic. Juga mulai belajar gaya bebas.
Intinya, saya melihat hasil yang nyata dari awal tahun dan akhir tahun ini...
Sungguh bersyukur banget:) Sukacita, senang...
***
Perjalanan menunggu Odri les renang ini mengingatkan saya akan arti menunggu di kehidupan ini.
Betapa sering dalam hidup, kita dihadapkan pada kenyataan: suka atau tidak, kita harus menunggu...
Terkadang proses menunggu itu berjalan menyenangkan, seperti menunggu kelahiran seorang bayi yang tengah dikandung oleh Bundanya....
Namun, tak jarang, proses menunggu itu malah menguras energi dan membuat kita kecewa, lemah iman, putus asa, mempertanyakan kepedulian Tuhan akan hidup kita, dan hal-hal negatif yang begitu menyerap hal-hal positif dalam hidup kita dan menggantikannya dengan kekuatiran.
Contohnya: saat menunggu Sang Jodoh yang tak kunjung tiba, menunggu anggota keluarga yang sakit keras, menunggu kehadiran bayi yang tak kunjung hadir di pernikahan yang sudah cukup lama, dan masih banyak peristiwa 'menunggu' di sekitar kita yang membuat kita begitu sulit menjalani hari lepas hari...
Di akhir tahun ini menjadi saat yang tepat bagi saya (semoga bagi kita bersama juga:)) untuk mengevaluasi, bagaimana sikap saya selama menunggu?
Apa saya menjadi marah, lemah iman, dan menjauh dari Tuhan?
Atau malah masa-masa ini menjadikan saya lebih mendekat kepada-Nya untuk mencari apa rencana-Nya dalam hidup saya?
Tahun ini, juga di tahun-tahun berikutnya, pasti ada kejadian yang mengharuskan kita menunggu.
Apakah kita menyiapkan diri dengan baik selama proses itu dan percaya akan waktu yang sudah ditetapkan-Nya bagi kita? Itu tetaplah menjadi pilihan kita.
Semoga demikian adanya.
Mari terus belajar untuk membangun iman yang kuat di dalam Tuhan.
Dan percaya, segala sesuatu akan indah pada waktu-Nya.
He has made everything beautiful in its time. He has also set eternity in the human heart; yet no one can fathom what God has done from beginning to end.
--- Ecclesiastes 3:11
13.12.2014
fon@sg
Wednesday, December 3, 2014
Saat Kukecewa
Selamat pagi, Bapa…
Pagi ini hujan turun
begitu derasnya, Tuhan….
Sebagaimana yang sering
kualami dalam hidupku…
Hujan, badai, gelombang
kehidupan yang kualami….
Segalanya yang ingin
selalu kupersembahkan kepada-Mu…
Namun, pada kenyataannya,
tak selalu bisa kupersembahkan itu semua dengan rela…
Dengan keikhlasan penuh di
hatiku…
Tak jarang, aku harus
menghadapi bagian dari diriku yang sungguh-sungguh kecewa…
Kecewa karena rencanaku
tak terlaksana…
Biarpun aku percaya bahwa
rencana-Mu yang terbaik bagiku, tak semudah itu aku langsung melangkah ke
jenjang berikutnya…
Terkadang butuh waktu dan
proses yang cukup lama..
Memakan waktu yang panjang
untuk berdamai dengan diriku, untuk tidak menyalahkan siapa pun, terutama juga
untuk tidak menyalahkan-Mu…
Aku sadar, aku terkadang
bisa merasa Kau tidak lagi peduli padaku…
Saat doa-doaku tak
terjawab…
Saat kenyataan begitu
menghancurkan hati…
Sering kali, aku bertanya,
“ Tuhan, Kau di mana?”
Adakah Engkau di setiap
langkahku? Selalu?
Jujur saja, saat aku
begitu kecewa, aku jadi begitu meragukan itu semuanya itu.
Dalam naik-turunnya proses
kehidupan yang harus dijalani semua orang, termasuk diriku…
Aku sebetulnya terus
berusaha belajar untuk menerima…
Bahwa rancangan-Mu
pastilah yang terbaik bagiku…
Namun, satu demi satu
kecewa yang tak kukendalikan dengan baik itu...
Mulai menumpuk satu demi
satu…
Kegagalan demi kegagalan…
Sakit hati yang tertahan
dan tak terselesaikan…
Luka batin yang menoreh bagian
hati yang terdalam…
Tak semudah itu
terlepaskan…
Dan, kenyataan ini begitu
berat kurasakan…
Mudah bagiku untuk
berseru, “ Tiada yang mustahil bagi-Mu,” ketika aku tengah bersuka.
Ketika begitu banyak
kemudahan dilimpahkan kepadaku.
Ketika kesuksesan
menyapaku.
Namun, ketika semua hal
itu berbalik dariku…
Tak semudah itu bagi
mulutku untuk tetap memuji-Mu…
Secara jujur, kuakui bahwa
inilah aku, Tuhan…
Dengan segala kelemahan
manusiawiku…
Dengan segala kekuranganku…
Namun, terlepas dari
semuanya itu…
Aku mau tetap menjadi
kesayangan-Mu, menjadi murid-Mu yang setia sampai akhir hidupku…
Aku tetap mau menjalani
hidupku bersama-Mu, meskipun tak seindah yang kukira dulu…
Grafik relasi yang
naik-turun pun kualami bersama-Mu…
Di sini, saat ini…
Dengan segala kerendahan
hati, kumohonkan bimbingan Roh Kudus-Mu…
Untuk senantiasa
memimpinku ke jalan yang benar…
Ke jalan yang memuliakan
nama-Mu…
Segala kecewaku, sakit
hati, luka batin, rasa sepi, perasaan ditinggalkan, perasaan tak lagi
dipedulikan, perasaan minder, perasaan bahwa aku tak layak bagi-Mu, dan
segudang perasaan-perasaan negatif lainnya kubawa kepada-Mu.
Kembali kupercayakan
hidupku kepada-Mu.
Aku percaya, Tuhan,
setelah segala badai dan gelombang yang mengguncangkan hidupku…
Akan ada lagi pelangi yang
indah yang Kausediakan bagiku…
Sebagaimana Sang Pelangi
sering muncul seusai hujan…
Aku percaya, akan adanya
warna-warni yang menceriakan itu akan kembali Kauhadirkan…
Di proses ini, aku belajar…
Untuk menerima (kembali),
bahwa Engkau adalah Allah yang setia…
Yang selalu ada di setiap
episode kehidupanku…
Engkau takkan pernah
meninggalkanku…
Engkau tahu yang terbaik
bagi setiap anak-anak-Mu, termasuk diriku…
Dan, aku harus belajar
terus merencanakan segala sesuatu, namun juga fleksibel ketika itu semua
berubah haluan…
Aku percaya kepada-Mu.
Jesus, I
trust in You.
On
days when I am afraid,
I put
my trust in you. (Psalm 56:3)
I’ll
walk with You and won’t lean on my own understanding.(Proverbs 3:5)
I will
trust the Lord with all my heart.
Jesus,
I trust in You.
04.12.2014
fon@sg
Tuesday, October 14, 2014
Kuman di Seberang Lautan Tampak
Kuman di Seberang Lautan Tampak
Judul tulisan kali ini, tentunya sangat familiar bagi kita, terutama ketika pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu.
Untuk lengkapnya, peribahasa ini berbunyi sebagai berikut:
Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak .
Udah gajah, di pelupuk mata, gak keliatan lagi...
Kuman yang di seberang lautan yang begitu kecilnya, malah kelihatan.
OMG-Oh My God!
Gejala apa ini?
Mungkin ini semua terjadi pada kita.
Saya pun mengalaminya dan ini sangat relevan dengan pengalaman sebagai Editor di tahun yang kedua untuk renungan harian wanita Katolik-dari wanita untuk wanita yang bertajuk Treasuring Womanhood.
Setelah beberapa tahun menjadi salah satu penulis wanita di renungan harian yang luar biasa ini, ada kesempatan untuk menjadi Editor yang pada tahun ini memasuki tahun kedua.
Ternyata, saya menikmati peranan dan tugas ini.
Membaca renungan yang bagus-bagus dari para penulisnya, memberikan banyak inspirasi juga, terkait dengan tulisan renungan harian pribadi yang setiap hari harus saya tuliskan: Thought of the Day.
Sebagai sebuah kesetiaan kecil kepada-Nya, sebagai ucapan syukur atas kesetiaan yang teramat besar yang sudah saya nikmati dari Yesus.
Oke, kembali ke peranan Editor.
Saya selalu dituntut untuk kritis.
Melihat panjang naskah, tata bahasa, apakah ada salah ketik atau tidak.
Juga, sedapat mungkin saya membuat kalimat-kalimat dalam renungan tersebut menjadi sesuatu yang terangkai indah dan moga-moga dimengerti pembacanya.
Sehingga pesan-pesan itu bisa tersampaikan dengan baik lagi.
Tentunya di luar segala faktor manusiawi yang bisa saya lakukan, ada faktor yang utama dan paling penting yaitu untuk selalu memohon bimbingan Roh Kudus tiap kali membaca ayat alkitab atau renungan harian.
Agar Dia membuka mata hati kita saat membaca dan merenungkan firman-Nya.
Seolah mudah menemukan kekurangan para penulis.
Walaupun itu memang tugas saya, tetapi di dalam hati, saya terus diingatkan...
Bahwa memang mudah untuk melihat kesalahan orang lain, namun sulit untuk melihat kesalahan diri sendiri-bahkan untuk mengakuinya dan bertanggung jawab atasnya.
Kuman di seberang lautan memang tampak, bahkan teramat besar!
Apakah sebagai penulis saya tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal ejaan maupun dalam hal merangkai kata-kata untuk menjadi kalimat bermakna?
Tentu saja pernah! Sering malah:)
Untuk itulah, saya pun membutuhkan seorang Editor ketika hendak menerbitkan buku secara pribadi ataupun berkelompok bersama teman-teman.
Ini saya alami sendiri, ketika melakukan penerbitan buku Chapters of Life: From Nothing Into Something (Menuliskan Kebaikan dari Hal-hal Sederhana), juga beberapa buku keroyokan semisal dari para perantau Katolik di berbagai belahan dunia yang menuliskan kisah perjalanan iman mereka dan dirangkum dalam buku berjudul: Kutemukan Kasih Tanpa Syarat.
Ketika melakukan refleksi pribadi, saya pun menemukan, begitu mudah kita menjadi marah atau kecewa terhadap orang lain. Juga kepada Tuhan.
Kehidupan doa yang menjadi kering, jarang berdoa karena merasa permintaan kita tak dikabulkan, juga adalah gejala bahwa kita menyimpan sesuatu yang kita anggap sebagai 'kesalahan.'
Hal ini sungguh sangat berbeda dengan apa yang dituliskan dalam 1 Korintus 13, ayat-ayat yang begitu sering kita dengar tentang kasih.
Di antaranya, terutama pada ayat 5, terdapat hal yang relevan dengan tulisan kali ini:
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
--- 1 Korintus 13:5
Bahwa kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Berkaca dari ayat ini, saya pun terkadang menyesali kesalahan saya.
Bahwa terkadang masih sering marah dan menyimpan kesalahan orang lain.
Sementara, ketika saya salah, begitu inginnya saya dimengerti dan diampuni...
Berharap ada kesempatan baru: kedua, ketiga, dan seterusnya bagi saya untuk memulai kembali.
Sementara, ketika orang lain (terutama mereka yang dekat dan setiap hari berinteraksi dengan kita: suami/istri, anak-anak, atau para asisten rumah tangga, dan seterusnya) melakukan kesalahan, kita begitu sulit 'move on' untuk memaafkan mereka.
Bagaimana jika kita yang melakukan kesalahan terhadap Tuhan?
Tuhan selalu mengampuni kita, asalkan kita berbalik ke jalan-Nya serta mengakui segala kesalahan kita. Seperti ayat dari Mazmur 103:12, "Sejauh timur dari barat, sejauh itu dibuang-Nya dosa-dosa kita."
Buat kita yang Katolik, ada 'privilege' dalam bentuk Sakramen Pengakuan Dosa yang sungguh membuat kita merasa lega karena merupakan penyembuhan bagi batin kita.
Dari tugas 'editing' kali ini, saya pun kembali diingatkan...
Jadi orang itu jangan terlalu suka mencari-cari kesalahan orang lain.
Karena ketika giliran kita yang salah dan orang lain yang mencari-cari kesalahan kita, akankah kita suka diperlakukan demikian?
Benahi dulu gajah yang tampak di pelupuk mata.
Benahi diri, benahi hati, demi menjadi murid Kristus yang lebih mau mengampuni dalam kasih Tuhan yang tak terhingga.
Kita mungkin pernah terluka, sehingga sulit untuk mengampuni...
Namun, dengan menggenggam luka serta mencari-cari kesalahan orang lain, takkan membuat kita ke mana-mana.
Hanya berada di pusaran luka yang kita ciptakan dan pertahankan sendiri.
Yuk mari, 'move on' untuk mengampuni kesalahan orang lain...
Juga terus introspeksi diri...
Sekian tulisan kali ini.
Semoga tidak terlalu panjang buat disimak dan dibaca...:)
Salam dalam kasih Kristus buat teman-teman semua, di mana pun Anda berada.
14.10.2014
fon@sg
* sudah diposting di blog Jesus, I Adore you http://fon4jesus.blogspot.sg/2014/10/kuman-di-seberang-lautan-tampak.html
Judul tulisan kali ini, tentunya sangat familiar bagi kita, terutama ketika pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu.
Untuk lengkapnya, peribahasa ini berbunyi sebagai berikut:
Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak .
Udah gajah, di pelupuk mata, gak keliatan lagi...
Kuman yang di seberang lautan yang begitu kecilnya, malah kelihatan.
OMG-Oh My God!
Gejala apa ini?
Mungkin ini semua terjadi pada kita.
Saya pun mengalaminya dan ini sangat relevan dengan pengalaman sebagai Editor di tahun yang kedua untuk renungan harian wanita Katolik-dari wanita untuk wanita yang bertajuk Treasuring Womanhood.
Setelah beberapa tahun menjadi salah satu penulis wanita di renungan harian yang luar biasa ini, ada kesempatan untuk menjadi Editor yang pada tahun ini memasuki tahun kedua.
Ternyata, saya menikmati peranan dan tugas ini.
Membaca renungan yang bagus-bagus dari para penulisnya, memberikan banyak inspirasi juga, terkait dengan tulisan renungan harian pribadi yang setiap hari harus saya tuliskan: Thought of the Day.
Sebagai sebuah kesetiaan kecil kepada-Nya, sebagai ucapan syukur atas kesetiaan yang teramat besar yang sudah saya nikmati dari Yesus.
Oke, kembali ke peranan Editor.
Saya selalu dituntut untuk kritis.
Melihat panjang naskah, tata bahasa, apakah ada salah ketik atau tidak.
Juga, sedapat mungkin saya membuat kalimat-kalimat dalam renungan tersebut menjadi sesuatu yang terangkai indah dan moga-moga dimengerti pembacanya.
Sehingga pesan-pesan itu bisa tersampaikan dengan baik lagi.
Tentunya di luar segala faktor manusiawi yang bisa saya lakukan, ada faktor yang utama dan paling penting yaitu untuk selalu memohon bimbingan Roh Kudus tiap kali membaca ayat alkitab atau renungan harian.
Agar Dia membuka mata hati kita saat membaca dan merenungkan firman-Nya.
Seolah mudah menemukan kekurangan para penulis.
Walaupun itu memang tugas saya, tetapi di dalam hati, saya terus diingatkan...
Bahwa memang mudah untuk melihat kesalahan orang lain, namun sulit untuk melihat kesalahan diri sendiri-bahkan untuk mengakuinya dan bertanggung jawab atasnya.
Kuman di seberang lautan memang tampak, bahkan teramat besar!
Apakah sebagai penulis saya tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal ejaan maupun dalam hal merangkai kata-kata untuk menjadi kalimat bermakna?
Tentu saja pernah! Sering malah:)
Untuk itulah, saya pun membutuhkan seorang Editor ketika hendak menerbitkan buku secara pribadi ataupun berkelompok bersama teman-teman.
Ini saya alami sendiri, ketika melakukan penerbitan buku Chapters of Life: From Nothing Into Something (Menuliskan Kebaikan dari Hal-hal Sederhana), juga beberapa buku keroyokan semisal dari para perantau Katolik di berbagai belahan dunia yang menuliskan kisah perjalanan iman mereka dan dirangkum dalam buku berjudul: Kutemukan Kasih Tanpa Syarat.
Ketika melakukan refleksi pribadi, saya pun menemukan, begitu mudah kita menjadi marah atau kecewa terhadap orang lain. Juga kepada Tuhan.
Kehidupan doa yang menjadi kering, jarang berdoa karena merasa permintaan kita tak dikabulkan, juga adalah gejala bahwa kita menyimpan sesuatu yang kita anggap sebagai 'kesalahan.'
Hal ini sungguh sangat berbeda dengan apa yang dituliskan dalam 1 Korintus 13, ayat-ayat yang begitu sering kita dengar tentang kasih.
Di antaranya, terutama pada ayat 5, terdapat hal yang relevan dengan tulisan kali ini:
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
--- 1 Korintus 13:5
Bahwa kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Berkaca dari ayat ini, saya pun terkadang menyesali kesalahan saya.
Bahwa terkadang masih sering marah dan menyimpan kesalahan orang lain.
Sementara, ketika saya salah, begitu inginnya saya dimengerti dan diampuni...
Berharap ada kesempatan baru: kedua, ketiga, dan seterusnya bagi saya untuk memulai kembali.
Sementara, ketika orang lain (terutama mereka yang dekat dan setiap hari berinteraksi dengan kita: suami/istri, anak-anak, atau para asisten rumah tangga, dan seterusnya) melakukan kesalahan, kita begitu sulit 'move on' untuk memaafkan mereka.
Bagaimana jika kita yang melakukan kesalahan terhadap Tuhan?
Tuhan selalu mengampuni kita, asalkan kita berbalik ke jalan-Nya serta mengakui segala kesalahan kita. Seperti ayat dari Mazmur 103:12, "Sejauh timur dari barat, sejauh itu dibuang-Nya dosa-dosa kita."
Buat kita yang Katolik, ada 'privilege' dalam bentuk Sakramen Pengakuan Dosa yang sungguh membuat kita merasa lega karena merupakan penyembuhan bagi batin kita.
Dari tugas 'editing' kali ini, saya pun kembali diingatkan...
Jadi orang itu jangan terlalu suka mencari-cari kesalahan orang lain.
Karena ketika giliran kita yang salah dan orang lain yang mencari-cari kesalahan kita, akankah kita suka diperlakukan demikian?
Benahi dulu gajah yang tampak di pelupuk mata.
Benahi diri, benahi hati, demi menjadi murid Kristus yang lebih mau mengampuni dalam kasih Tuhan yang tak terhingga.
Kita mungkin pernah terluka, sehingga sulit untuk mengampuni...
Namun, dengan menggenggam luka serta mencari-cari kesalahan orang lain, takkan membuat kita ke mana-mana.
Hanya berada di pusaran luka yang kita ciptakan dan pertahankan sendiri.
Yuk mari, 'move on' untuk mengampuni kesalahan orang lain...
Juga terus introspeksi diri...
Sekian tulisan kali ini.
Semoga tidak terlalu panjang buat disimak dan dibaca...:)
Salam dalam kasih Kristus buat teman-teman semua, di mana pun Anda berada.
14.10.2014
fon@sg
* sudah diposting di blog Jesus, I Adore you http://fon4jesus.blogspot.sg/2014/10/kuman-di-seberang-lautan-tampak.html
Tuesday, August 26, 2014
Sempurna di Mata-Mu
Jika
hidup ini sempurna bagiku…
Selalu
kudapat apa yang kumau…
Selalu
sukses dan bahagia…
Tak
pernah ada duka apalagi tetes air mata…
Tentunya
aku ‘seolah’ menjadi Ratu (baca:penguasa utama) atas duniaku…
Segala
yang kumau bisa kuraih dengan mudah
Tanpa
perlu ada usaha yang berarti…
Namun,
nyatanya…
Banyak
kali rencanaku gagal…
Sering
kali aku harus menangis dalam duka yang mendalam…
Ketika
hidup tak berjalan seperti yang kuharapkan…
Ketika
harus ditinggal orang-orang terkasih yang dekat di hati…
Kata
SEMPURNA, seolah begitu jauh dariku…
Apakah
kemudian hidup ini masih memberi arti?
Begitu
tanya hatiku…
Setelah
berjalan sekian lama…
Memasuki
proses kedewasaan diri…
Aku
kembali memberanikan diri berkata…
Ya,
Tuhan…
Tidaklah
mengapa jika hidup ini tak sempurna bagiku…
Karena
memang, itu tidaklah mungkin..
Namun,
biarlah hidup ini sempurna di mata-Mu…
Karena
…
Engkaulah
Sang Maha Tahu apa yang terbaik bagiku…
Engkaulah
Yang Empunya Rencana paling hebat …
Dari
awal sampai akhir hidupku…
Menghadapi
kegagalan dengan senyuman…
Bukan
karena kuatku…
Sekali
lagi BUKAN…
Itu
semua hanya karena kasih-Mu yang memampukan aku…
Untuk
jalani hidupku…
Agar
nantinya semua itu sempurna di mata-Mu.
27.08.2014
fon@sg
·
Sebab
Tuhanlah Sang Maha Sempurna. Sekarang dan selamanya.
Monday, June 30, 2014
Veni Sancte Spiritus
Mary Immaculate Parish, Quakers
Hill-Schofields, Sydney.
8 Juni 2014.
Minggu pagi yang dingin.
Cuaca musim dingin di Australia seolah
membuat tubuhku sedikit kaku.
Kami baru saja tiba sehari sebelumya di
Negeri Kangguru ini, untuk mengunjungi saudara sekaligus berliburan.
Minggu itu, Minggu Pentakosta.
Niatan untuk Misa begitu kuat dan rasanya
harus kulaksanakan.
Aku ingin selalu mendekat pada-Mu, ya
Tuhan...
Sebagai ungkapan syukurku atas
perlindungan-Mu di dalam hidupku...
Kulangkahkan kakiku masuk ke Gereja...
Misa pukul 09.00 pagi...
Gereja masih terbilang sepi. Masih cukup
banyak tempat duduk yang belum terisi.
Suasana hikmat...
Ini Minggu Pencurahan Roh...
Hatiku berbunga-bunga.
Teringat kembali masa-masa aku menikmati
kasih-Nya saat minggu-minggu Pentakosta sebelumnya.
Tanpa terasa, sudah hampir 14 tahun aku
dibaptis:)
Perjalanan imanku terlintas satu-satu...
Bak film yang tengah terputar di
benakku...
Perjalanan naik-turun untuk bertahan
sebagai Pengikut Kristus...
Di tengah arus dunia yang begitu banyak
godaan...
Masihkah aku tetap bisa setia?
Di tengah banyak kekecewaan dan kegagalan
yang melemahkan?
Masihkah aku mampu mencari Sang Sumber Pengharapan?
Masihkah aku mampu mencari Sang Sumber Pengharapan?
Aku berusaha fokus pada Misa.
Udara dingin tergantikan kehangatan di dalam karena gereja dilengkapi alat pemanas (heater) yang cukup membuat para pengunjungnya merasa nyaman.
Udara dingin tergantikan kehangatan di dalam karena gereja dilengkapi alat pemanas (heater) yang cukup membuat para pengunjungnya merasa nyaman.
***
Sepanjang Misa kulalui dengah khusyuk.
Kelelahan persiapan perjalanan dan
masa-masa penerbangan seolah terbayarkan dengan kesegaran alam yang
indah, juga hadirnya aku di rumah-Mu, Tuhan...
Terima kasih.
Terima kasih.
Tiba-tiba, sebuah suara bening memecah
keheningan.
Solis perempuan itu menarik perhatian
seluruh umat, termasuk diriku.
Wajahnya tak jelas dari tempatku duduk,
namun suaranya sungguh bening dan indah.
Terlebih lagi lagu yang dilantunkan
membuatku tak bisa lagi berkata-kata.
Speechless. In amazement.
Come, Holy Spirit, from heaven
shine forth with your glorious light.
Veni Sancte Spiritus
Come, Father of the poor, come,
generous Spirit, come, light of our hearts.
Veni Sancte Spiritus
Come from the four winds, O Spirit,
come breath of God; disperse the shadows over us, renew and
strengthen your people.
Veni Sancte Spiritus
Most kindly warming light! Enter
the inmost depths of our hearts, for we are faithful to you.
Without your presence we have
nothing worthy, nothing pure.
Veni Sancte Spiritus
You are only comforter, Peace of
the soul.
In the heat you shade us; in our
labour you refresh us, and in trouble you are our strength.
Veni Sancte Spiritus
On all who put their trust in you
and receive you in faith, shower all your gifts.
Grant that they may grow in you and
persevere to the end. Give them lasting joy!
Veni Sancte Spiritus
Seketika suasana hatiku dipenuhi rasa tenang yang luar biasa.
Diliputi rasa syukur tak terhingga.
Kelelahan, kekeringan, dahaga, seolah terpuaskan oleh kehadiran-Nya.
Veni Sancte Spiritus.
Datanglah Roh Maha Kudus...
Penuhilah setiap hati yang mendambakan-Mu...
Juga setiap orang yang seolah melupakan kehadiran-Mu...
Engkaulah Roh Penghibur di dalam kesedihan...
Roh pengetahuan yang membuka setiap jalan yang kami tak ketahui...
Engkau adalah Roh yang diutus Allah untuk membantu setiap umat-Nya dalam menghadapi setiap permasalahan yang timbul...
Tanpa terasa air mataku menetes perlahan.
Bukan, ini bukan air mata kesedihan!
Namun, sukacita...
Terbayang, sudah beberapa lama kekeringan itu timbul di hatiku...
Walaupun terus berusaha menulis dan menulis, tak jarang rasa kesepian maupun rasa khawatir juga pernah singgah.
Dalam segala ketidakpastian, dalam segala perasaan yang campur-aduk, kurasakan kembali damai itu sebagaimana yang kualami di sebuah pertapaan di Indonesia saat pertama aku mengikuti Misa Pentakosta di tahun 2000...
Roh Kudus, datanglah...
Penuhilah hati kami dengan semangat baru...
Bak lidah-lidah api yang turun dan memenuhi setiap kami...
Membakar dan memberikan peneguhan...
Memberikan motivasi yang takkan pernah kami dapatkan dari manusia mana pun...
Karena Tuhan sendirilah Sumber Motivasi Sejati yang tak pernah kering...
Sampai berakhirnya Misa, hatiku masih terus memuji-Nya...
Syukur kepada Allah, aku diperkenankan mengalami ini semua.
Jauh dari tempat tinggal kami, setelah menempuh kurang lebih delapan jam penerbangan...
Di sinilah aku, merasakan kembali kasih-Mu, peneguhan dari-Mu...
“Tak usah takut, karena Aku besertamu...”
Suara itu terus bergema di hatiku...
Ya, Tuhan, terima kasih.
Kuanggukkan kepalaku tanda setuju...
Terima kasih sudah mengirimkan Roh Kudus pada kami, untuk menemani perjalanan kami.
Kau tahu, perjalanan ini tidak mudah untuk dilalui...
Namun, selama kami berpegang kepada-Mu...
Dalam tuntunan Bapa, Putera, dan Roh Kudus...
Segala sesuatunya menjadi sesuatu yang mungkin untuk dijalani..
1 Juli 2014. Singapura.
Ada sesuatu yang mendorongku untuk terus membuka lagu Veni Sancte Spiritus di Youtube dan terus mendengarkan versi Taize ini...
Ada yang terus mendorongku untuk menuliskan pengalaman ini...
Saya yakin, itu bukan dari diriku sendiri...
Sebagaimana setiap inspirasi yang Dia izinkan untuk singgah dalam diri dan mampu kutuangkan dalam bentuk tulisan, semua itu kuyakini atas seizin Yang Kuasa...
Terima kasih untuk itu semua, Tuhan...
Engkau tahu apa yang kualami...
Engkau tahu apa yang kualami...
Kehidupan di rantau kerap kali terlihat 'wow' dan kemilau bagi banyak orang...
Namun, kami pun harus menghadapi kehidupan yang jauh dari keluarga dan tidak di setiap tempat kami disambut dengan senyum dan tawa...
Banyak kali kami harus mengalami hal-hal yang kurang mengenakkan, mungkin rasisme, mungkin diskriminasi...
Kami tetap percaya, Tuhan, apa pun yang kami alami hari ini adalah atas kehendak-Mu dan ada di dalam rencana-Mu...
Semoga kami terus berusaha dekat pada-Mu...
Meski itu bukan hal mudah, meski banyak godaan yang datang...
Ajar kami untuk tetap setia...
Pengalaman yang indah ini kusyukuri sebagai bagian dari babakan hidupku...
Sebuah bagian yang kusimpan rapat-rapat di hatiku...
Yang sesekali akan kembali kubuka dan kutatap dengan senyuman...
Pengalaman bahwa aku dihargai, dicintai, dikasihi...
Pengalaman bahwa aku kembali meyakini bahwa aku takkan pernah ditinggalkan sendirian karena Allah selalu besertaku. Beserta kita.
Selamat malam Roh Kudus, teruslah mengobarkan semangat dalam hati kami...
Semangat melayani, semangat untuk lebih mengasihi...
Di tengah semua keterbatasan kami, Tuhan sudah mengirimkan sesuatu yang spesial.
And that something special is The Holy Spirit! :)
01.07.2014
* dalam kesukacitaan dan kedamaian yang masih terus meliputi hatiku... How could I ever thank YOU, Lord? I just feel so blessed:)
Labels:
Pentakosta,
Roh Kudus,
sukacita,
veni sancte spiritus
Subscribe to:
Posts (Atom)


