Saturday, August 31, 2013

Hina



Pernah dipandang orang lain dengan tatapan ‘menghina’ -dari ujung rambut sampai ujung kaki- yang bikin tidak enak hati alias risih?
Hmmm, saya pernah…
Pernah pula memandang orang lain yang dianggap kurang se-level atau tidak sehebat Anda dengan pandangan mengecilkan mereka?
Jujurnya saat introspeksi diri, walaupun berusaha keras untuk mengurangi hal itu, ternyata aku pun pernah melakukannya…

Ketika orang lain menganggap kita kecil, rasa apa yang timbul?
Tak berharga. Sendirian. Kesepian.
Tak diperhitungkan. Dikucilkan.
Tak ada perhatian.
Lalu muncul tindakan pengecilan terhadap diri sendiri…
Lalu mungkin pula muncul pertanyaan dalam hati:
“ Apakah hidupku ini sungguh berarti?”
Jika tidak, untuk apa aku hidup di dunia ini…
Bercampur frustrasi, terkadang beberapa orang yang depresi …
Mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya sendiri…
Ah, haruskah setragis ini???
                                                            ***

Di dalam doaku yang kupanjatkan kepada-Mu, Tuhanku…
Suara itu masuk dan memenuhi hatiku…
“Engkau anak-Ku… Aku menerimamu apa adanya…”

Perlahan, damai itu menyelimuti hatiku…
Ah, Tuhan saja tak pernah mengganggapku hina, mengapa aku harus menganggap diriku tak berharga hanya karena segelintir orang yang tak menganggapku se-level dengan mereka?
Hidup terlalu berharga daripada mempermasalahkan orang-orang yang menganggapmu remeh dan tak berharga…

Dan…
Tak jarang, aku pun menganggap orang lain rendah dan hina.
Rasanya bahagia menemukan cacat-cela dari orang-orang di sekitar kita…
Sampai selebriti di nusantara, Asia, atau dunia…
Entah, rasanya asyik saja…

Tetapi…
Jika aku yang dihina, dicerca, dan dicela….
Betapa sakit rasanya…
Hancur hati seketika…

Teringat kembali pepatah lama…
Jangan lakukan jika itu tak menyenangkan bagi orang lain…
Karena jika itu terjadi padamu, kausendiri takkan suka…
Hmmm…
Kita tidak pernah jadi manusia hina karena Tuhan sungguh inginkan hadirnya kita di dunia…
Hidup terlalu berharga untuk mencela dan berduka
Atas keberadaan diri kita di alam semesta…

Jika perbedaan itu bisa jadi ajang hina-menghina paling juara…
Aku juga bisa memandang orang lain hina ketika mereka melakukan yang berbeda…
Ah, tapi, apa untungnya menjadi sama seperti mereka?
Mana kasih Allah yang seharusnya menuntunku senantiasa?
Biarkan kelembutan-Nya hapuskan dendam yang membara….

Tuhan, jauhkanlah aku dari penghakiman itu…
Bahwa orang lain lebih hina dariku…
Aku pun takkan suka menanggung hinaan itu…
Jika itu terjadi pada diriku…

Tuhan, aku begitu membutuhkan-Mu…
Untuk membimbingku selalu…
Siramilah hatiku dengan kasih-Mu itu…
Sehingga aku mampu
Mengasihi diriku dan sesamaku…

‘kan terus kutanamkan kesadaran betapa berharganya aku…
Takkan kubiarkan rasa hina membelenggu…
Dan aku pun belajar untuk tak memandang hina sesamaku…
Tuhan, kumohon pimpinan-Mu…

31.08.2013
fon@sg
*Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia,  dan Aku ini mengasihi  engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.

--- Yesaya 43:4

Saturday, August 17, 2013

Romo Yance Laka, This is For You…



Pertemanan di dunia maya yang tercipta bagiku, kupercayai atas perkenanan Yang Kuasa.
Beberapa sahabat bahkan jadi dekat, padahal tak pernah bertemu.
Tulisan ini mungkin agak aneh, kubuat bagi seseorang yang tak pernah jumpa denganku tetapi pernah beberapa kali berkontak via e-mail dan Facebook…
Namun, dari situ pun kita bisa merasakan, seperti apa orang yang bersangkutan…
Pertemanan di dunia maya agaknya cukup mirip dengan pertemanan di dunia nyata…
Dan kupersembahkan tulisan ini bagi Romo Yance Laka, Pr (Romo Yohanes Senda Laka, Pr).
This is for you…

6 Agustus 2013

E-mail yang mengejutkan kuterima dari milis yang kuikuti.
Dr. Irene dari milis KBKK mengabarkan kabar duka.
Romo Yance Laka dari Atambua sudah berpulang.
Agak aneh rasanya ketika menerima berita itu.
Aku membatin, bukankah Romo Yance masih muda?
Pikiran yang datang sesudahnya, kenapa ya, sampai beliau meninggalkan dunia? Apa sakit atau apa?

Lalu kumenuju ke Facebook, sudah banyak ucapan untuk beliau di wall Facebook-nya…
Semua bernada duka, tak percaya, dan satu per satu komentar yang kubaca di sana semua sungguh menyayangkan kepergian beliau yang begitu cepat walaupun tak pernah bisa menentang kehendak Yang Kuasa.
Semua merasa begitu kehilangan dirinya.

Dengan keterkejutan yang tersisa, aku mulai membuka kembali lembaran demi lembaran surat elektronik yang menjadikan kami sahabat di dunia maya…

Pertengahan tahun 2010

Romo Yance mengawali kontaknya via e-mail dan mengomentari salah satu tulisanku yang berjudul A House Is Not A Home. Beliau menambahkan komentar yang mendalam atas apa yang sudah kutuliskan disertai undangan yang ramah untuk kapan-kapan berkunjung ke tempat beliau di Atambua untuk mengadakan semacam seminar atau ‘workshop’ seputar tulis-menulis bagi anak didik ataupun bagi yang membutuhkan di sana.

Sungguh, saat itu aku merasakan ketulusannya.
Aku sebenarnya sungguh ingin ke sana…
Namun, kondisi anak yang masih balita ditambah kehamilan kedua yang sedang kujalani membuat aku sungguh tidak dapat berbuat apa-apa untuk memenuhi undangan itu.
Dalam lubuk hati, masih tersimpan keinginan itu.
Suatu saat nanti. Siapa tahu….

Kontak demi kontak berikutnya menjadikanku semakin mengerti, Romo ini sungguh seorang yang peduli.
Peduli pada siapa saja yang berkeinginan untuk maju, mencarikan jalannya, mau bersusah-payah mengontak mereka, asal keinginan baik dari anak didiknya tercapai.
Beliau mengontakku untuk mengedit kumpulan tulisan berupa puisi yang ingin dijadikan buku oleh seorang anak didiknya. Beliau sungguh ‘supportive’ dan bersedia mengontak beberapa penulis yang beliau kenal untuk mendukung niatan baik ini…
Aku pun menyetujuinya dan melakukan ‘editing’ yang dianggap perlu.
Aku merasakan beliau memang seorang yang baik dan ‘care’.

9 Agustus 2013

He is not a conglomerate, he is not a celebrity, and he is not a political figure, but 286 priests and almost 5000 people came to his funeral Mass with tears. How do you think he lived his life? 
Good bye Fr. 
Yance Laka... ( dari status seorang sahabat, Riko Ariefano).

Kita tak pernah tahu seberapa berharganya diri kita, mungkin sampai saat terakhir kita meninggalkan hidup ini.
Kita takkan tahu, bahkan tak pernah tahu…
Tetapi, oranglah yang akan menilai…
Sebagaimana gajah yang mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, demikianlah manusia pada akhir hidupnya…

Wall Facebook Romo Yance Laka berbicara banyak.
Setiap mampir ke sana selama masa-masa awal berpulangnya beliau, air mataku masih menetes.
Sungguh, beliau orang yang luar biasa.
Sebagaimana yang ditulis dan ingin beliau tuliskan di makamnya.
He’s a great priest with a big heart!

Sungguh benar seperti yang Riko tuliskan.
Romo Yance bukanlah seorang konglomerat, bukan pula seorang selebriti, dan dia bukan tokoh politik. Tetapi, yang menghadiri misa pemakamannya membludak! 286 Romo dan 5000 orang yang datang dan semua menangis.
Sungguh luar biasa teladan hidupnya bagi kita semua…
How do you think he lived his life? Tanya Riko…
And how should we live our life??? (lanjutku dalam hati…)

Jika hidup hanya sekali, bagaimanakah seharusnya kita hidup?
Apakah kita sudah hidup dan menampakkan kasih Tuhan pada orang-orang yang kita temui di sekitar kita?

Dan Romo Yance sudah menyelesaikan pertandingannya dengan hebat (I have to say…).
He has lived his life amazingly. Wonderfully. Greatly…
He’s fighting his battle of life with all his heart…

Terima kasih, Romo untuk teladan hidupmu.
Inspirasimu.
Membuatku dan setiap orang yang membaca dinding Facebook-mu…
Apalagi mereka yang sudah tersentuh sedemikan rupa karena begitu dekat denganmu, merasakan kebaikan Tuhan yang luar biasa melalui engkau…
Dan betapa hidup yang sudah pernah tersentuh kasih itu tak pernah lagi sama…
Aku bersyukur mengenalmu…

Epilog…

Hidup itu singkat.
Sementara.
Dan bagaimana kita seharusnya melangkah dalam hidup ini terkadang kita pun ragu sendiri…
Tetapi, beberapa orang bahkan menjadi inspirasi…
Bahwa hidup dan panggilan yang dijalani sepenuh hati dalam kasih Kristus akan menghasilkan buah-buah yang tak tanggung-tanggung…
Yang begitu terasa kehilangannya jika yang bersangkutan itu harus pergi.
Apalagi sampai selamanya ke Rumah Bapa…

We thank you, Fr.Yance Laka.
Terima kasih karena teladan hidupmu. Karena kebaikanmu.
Membuatku terinspirasi untuk memberikan yang terbaik dalam hidup ini…
Bukan untuk siapa-siapa…
Hanya untuk memuliakan nama Yesus semata.

You’ll surely be missed…       
But we know that life goes on…
And from above, you’re watching all of us with your great smile.

This is for you, Romo Yance…     
Seorang sahabat di dalam Kristus.
Au Revoir, Romo…
‘Till we meet again.

Singapura, di hari Merdeka, 17.08.2013

fon@sg

Saturday, July 13, 2013

Tuhan, Kasihanilah…



Saat begitu banyak hal terjadi, jauh dari apa yang kumengerti…
Aku hanya berucap
Tuhan, kasihanilah…

Saat begitu banyak kekecewaan yang terjadi, bahkan bertubi-tubi…
Aku membawa segalanya ke hadirat-Mu
Tuhan, kasihanilah…

Saat aku kehabisan kata-kata kala berdoa…
Dan hanya kesesakan bercampur tangisan yang ada di sana…
Tuhan, kasihanilah…

Saat beribu ketidakpastian ada di depan mata…
Saat kegagalan lagi-lagi menyapa…
Tuhan, kasihanilah…

Saat luka-luka lama kembali menganga…
Dendam berkuasa membakar di dada…
Tuhan, kasihanilah…

Saat keperihan demi keperihan kulalui…
Bersama rasa sepi dan kesendirian di hati…
Tuhan, kasihanilah…

Saat hati begitu risau…
Galau…
Tuhan, kasihanilah…

Saat iri hati dan dengki mencoba menghampiri…
Ditambah lagi keegoisan diri…
Tuhan, kasihanilah…

Saat begitu banyak orang yang mencari cara untuk lari dari janji suci…
Ikrar setia sampai mati dalam mahligai pernikahan sejati…
Tuhan, kasihanilah…

Betapa kami adalah makhluk yang lemah dan tak sempurna…
Tetapi, itu bukan alasan untuk tidak setia…

Kusadari, Tuhan…
Tanpa-Mu, kami bukan siapa-siapa…
Bersama-Mu kuyakin kami bisa lewati semua…

Biarkan harapan itu menyala…
Iman itu meraja…
Dan rasa damai kembali singgah dengan indahnya..

9 Juli 2013
fon@sg

* in silent prayer, Lord have mercy. Christ have mercy. 

Sunday, June 30, 2013

Mendengar Suara-Mu


 
Di hadirat-Mu, kubersujud

menikmati kehadiran-Mu

Kubuka hati saat ini 'tuk mendengar suara-Mu



Reff:

Firman-Mu Tuhan ya sungguh benar

menerangi jalanku

Firman-Mu Tuhan membentuk hidupku

Kubersyukur pada-Mu
(lirik lagu: Mendengar Suara-Mu)
 
Lagu itu bergema merdu di ruangan auditorium Blessed Sacrament Church hari ini. Saat kuhadiri misa minggu sore. Misa berbahasa Indonesia.
Sungguh membangkitkan kenangan lama akan lagu-lagu rohani semacam ini. 
Suddenly, a sentimental feeling fills my heart…
 
Sepertinya air mata sudah ingin turun, tetapi entah mengapa mengurungkan niatnya.
Keharuan sungguh menyelimuti hatiku.
Begitu rinduku, Tuhan, akan saat-saat itu…
Bersekutu, memuji dan memuliakan nama-Mu…
Begitu indah, begitu hening, begitu mulia-Nya Engkau..
Kurasakan pula begitu dekatnya Engkau di hati…
 
Setelah sekian lama aku tak lagi memiliki waktu untuk ikut aktif di kegiatan-kegiatan rohani…
Agaknya, ‘siraman kesejukan’ yang kurasakan sore ini sungguh patut kusyukuri.
Doa-doa harianku pun terkadang tidak selalu fokus, karena terbentur kegiatan mengurus anak plus kurang tidur yang sudah kualami setahun belakangan ini… Walaupun itu bukanlah alasan, namun kurasakan sedikit-banyak keadaan yang tak lagi sama seperti dulu dalam berelasi dengan-Nya. 
Satu hal yang kupegang, aku terus berusaha menyertakan Dia dalam segala kegiatan harianku. Segala yang kurasakan, segala pergumulan, segala kesukaan, segala keceriaan, kuingin berbagi hanya dengan-Mu, Yesusku…
 
Berbagai peristiwa, kelelahan, dan keraguan pun menerpa…
Hal-hal penting yang tengah kami tunggu saat ini…
Seputar pendaftaran sekolah SD anak kami yang akan datang sebentar lagi, sementara kepastian akan izin tinggal tetap kami di sini belumlah keluar…
Dan beberapa rencana penting terpaksa harus tertunda…
Kalau dulu pastilah aku sudah begitu kacau…
Sekarang? Walaupun secara manusiawi aku pun merasa lelah menunggu segala kepastian dari-Mu, Tuhan… Tetapi, tak kurang keyakinanku akan rancangan-Mu dalam hidupku…
Sebagian dari hatiku terus berbisik bahwa Engkau tahu yang terbaik bagi kami. Engkau pasti datang tepat waktu. Engkau pasti memiliki ‘ending’ bagi beberapa masalah yang tengah kami tunggu. Jauh lebih indah dari ‘ending’ yang kami kira akan terjadi…
Kuserahkan ini semua ke dalam tangan-Mu…
Dan biarkan saat ini, aku hanya ingin …
Bersujud pada-Mu…
Menikmati kehadiran-Mu…
Dan…
Mendengar suara-Mu…
Biarlah aku membuka seluruh hati dan keberadaan diri-Ku…
Untuk-Mu…
 
30 Juni 2013
fon@sg

Tuesday, June 25, 2013

Haze (Kabut Asap)


Di akhir liburan, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa Singapura tertutup haze (kabut asap) yang disebabkan oleh pembakaran hutan di daerah Riau.
Tentu saja saya cukup cemas, tetapi akhirnya memutuskan untuk pulang tepat waktu. Karena sekitar seminggu lagi, sekolah anak-anak akan segera dimulai kembali.

Perihal kabut asap ini, membuat saya pun ditanyai oleh beberapa sahabat mengenai kondisi kami dan keluarga. Sungguh terima kasih tak terkira atas perhatian Sahabat sekalian. Beberapa hari ini, cuaca Singapura cukup cerah, konon disebabkan oleh berubahnya arah angin, malah Malaysia yang menyatakan negaranya dalam keadaan darurat (‘state of emergency’) dikarenakan oleh kabut asap juga. Dan tentu saja, kita berharap keadaan ini segera pulih.

Misa Minggu Sore 23 Juni 2013, St. Bernadette Church @ Zion Road…

Romo Sambodo, SS.CC membuka misa dengan sesuatu yang ‘up to date’ dan merangkainya dengan indah.
Seperti Singapura yang ditutupi kabut, asap… Begitu pun kondisi hati kita yang sering tertutup kabut dan asap sehingga tak mampu melihat dan merasakan kasih Allah dalam hidup kita…

Aku tersentak.
Begitu benar ungkapan itu.
Tak jarang kabut dan asap menyelimuti hatiku, hatimu, hati kita.
Sehingga pandangan kita pun tak jelas, samar-samar, tak tertuju pada-Nya.

Hari itu, aku sungguh berdoa agar Tuhan singkapkan semua kabut di hati yang menghalangi kasih-Nya masuk dan memenuhi hatiku.
Mungkin itu berupa kebencian, amarah, dendam, ataupun luka yang masih menganga…
Sungguh, kuingin itu semua berada dalam kendali. Bukan berarti aku melupakan itu semua seolah amnesia. Tentu saja bukan!
Tetapi, biarlah itu semua menjadi pelajaran bagi diriku sendiri. Membuatku belajar lebih baik lagi dalam hal mengasihi. Dan itu semua-agaknya- takkan mungkin terjadi tanpa campur tangan Allah sendiri.

Hari ini…
Konon hujan es batu mengguyur bagian Barat Singapura. Beberapa daerah seperti Bukit Batok, Jurong East, dan beberapa bagian lainnya merasakan hujan es batu itu. Sekitar tempat tinggalku tidak, walau terlihat begitu hitam mendung yang menggayuti langit sore ini…
Kabut sudah berlalu, namun mungkin akan kembali.
Berganti hujan es batu yang memenuhi hari sebagian warga di sini…

Aku tetap berdoa agar segala musibah ini bisa berlalu.
Paniknya rakyat di sini yang memburu masker N95. Keadaan yang begitu berasap yang bahkan terasa sampai di dalam tempat tinggal- seolah tetangga sedang bakar-bakar kertas, semoga tak lagi mengisi hari-hari ke depan nanti…

Dan aku pun berdoa…
Agar damai Tuhan menghampiri setiap hari…
Agar kasih-Nya mengisi setiap relung hati…
Agar setiap kerinduan akan-Nya tak lagi tertutupi…
Ya Tuhan, bukalah mata hati kami…
Jangan ada batas-batas itu lagi…
Kabut asap silakan pergi…
Biarlah mentari kasih-Nya yang ganti menyinari…
Pancaran kelembutan yang indah dan begitu dinanti…
Setiap insan manusia di bumi ini.

25.06.2013
fon@sg

  • badai pasti berlalu. Kabut asap pun begitu #in faith I believe in You.

Saturday, April 13, 2013

Being Mom – Bekal




Setiap pagi saat masa sekolah, saya selalu menyiapkan bekal makanan bagi kedua putri saya.
Ada dua botol air minum  yang selalu saya siapkan, lalu juga ada kotak makanan…
Yang satu akan saya isi roti selai, yang satu lagi isi biskuit atau ‘snack’ lainnya. Kecuali Jumat, saya akan siapkan buah-buahan buat Si Kakak karena Friday is a Fruit Day di sekolah mereka. Setiap anak dianjurkan untuk membawa buah-buahan dan makan bersama teman-temannya di sekolah sebagai upaya hidup sehat.
Ya, anak-anak saya hanya bersekolah 2-4 jam per hari, jadi tak perlu makanan yang terlalu berat.
Dan anak kami yang tertua mendapatkan ‘lunch’ di sekolah.
Jadi, saya siapkan roti selai hanya jika dia ada les tambahan di sekolahnya, sekitar seminggu tiga kali.

Entah mengapa, kemarin, seolah kata ‘bekal’ itu begitu kuat di benak saya.
Saya memang membekali mereka dengan makanan jasmani…
Tetapi itu saja belumlah cukup…
Tak lupa pula, ‘bekal’ yang lebih penting untuk di kemudian hari, ketika suatu saat mereka menjadi dewasa nanti…
Bekal pendidikan, bekal  kasih Tuhan… Terus saya upayakan untuk ditanamkan di tengah seluruh kesibukan saya mengurus keluarga…
Tentunya tidak mudah, karena dalam kondisi yang kelelahan tak jarang saya pun sulit untuk selalu tersenyum ceria pada mereka.
Tak jarang pula upaya pendisiplinan mereka menjadikan saya harus menegur, mengingatkan, mungkin juga ‘marah’ agar mereka tetap berada pada jalur yang benar…
Menjadi orang-orang yang berkarakter baik dan terus menjadi perpanjangan tangan Tuhan di tengah kondisi masyarakat yang entah bagaimana di dua puluh sampai tiga puluh tahun ke depan…
Secara manusia, saya sadar, saya sangat terbatas.
Saya tidak sanggup jalankan segalanya sendirian…
Saya sungguh membutuhkan bantuan Tuhan dalam mendidik anak-anak karunia-Nya agar tetap di jalan-Nya…

Bekal…
Kata ini masih begitu meresap di hati…
Sampai di malam hari…
Ketika putri tertua kami, Odri, memeluk saya dan berbisik di telinga saya…
“ Mom, will you still love me when I'm older?”

Saya pun menjawab:
“ Of course, Odri. Mommy will always love you.”

Saya sadar, saya sungguh jauh dari gambaran Ibu yang sempurna. Tetapi, gambaran itu-jika memang ada- adalah perjuangan setiap hari dari setiap Mama… Entah seorang Ibu yang juga berkarier atau seorang Ibu yang sepenuh waktu menjaga anak seperti saya…
Karena dulu sempat bekerja, saya pernah pula merasakan keinginan untuk berpenghasilan lagi. Sekarang semuanya itu seolah tertunda, tetapi saya pun setiap hari berjalan dalam iman, bahwa Tuhan akan cukupkan. Bahwa Tuhan tahu waktu yang paling tepat kapan bagi saya untuk kembali bekerja kembali atau harus kerja dari rumah atau apa saja.
Saya percayakan kepada-Nya…

Setiap hari, saat ini, adalah pembekalan bagi dua putri-putri kami…
Di tengah keterbatasan saya, saya pun menimba kekuatan dari-Nya…
Tuhan yang Kuasa…
Yang akan selalu menolong setiap umat yang mencari wajah-Nya…

Dan malam hari, saat doa malam…
Saya kembali tersenyum saat Lala-anak kedua kami-berdoa dengan kepolosan seorang anak di usia dua tahun dan diucapkannya dengan cukup lancar…
“ Thank you, Jesus for today…
For Mama, for Daddy, for Lala, for Cie-cie Odri, for Teddy Bear, dan seterusnya- dan sebagainya…”

Tuhan, terima kasih.
Betapa setiap detik kusyukuri sebagai anugerah-Mu atas ‘motherhood’ yang dikaruniakan bagiku. Dengan segala tawa, canda-ceria, dan juga derai air mata yang mengiringinya…

Semoga Engkau membekaliku dengan kasih-Mu sehingga bisa berbagi kasih kepada kedua putriku dan orang-orang di sekitarku.
Amin.

12.04.2013
fon@sg

Monday, April 8, 2013

Ranting yang Patah


Ranting yang Patah

Sebatang ranting yang patah terkulai di antara rerumputan.
Lemah. Kering. Kecil. Seolah tanpa daya.
Mengingatkanku akan kehidupan itu sendiri.
Begitu rapuh. Fragile.
Dan begitu sementara saja.

Di masa lalu pastilah ranting itu pernah kuat.
Pernah pula dia bertumbuh dari masa kecilnya menjadi remaja, lalu menua.
Ya, seperti kita. Manusia.

Sementara itu rapuhnya ranting itu juga mengingatkanku akan perasaanku sendiri.
Bahagia yang seolah membuncah. Rasa yang membara di dada.
Sebentar saja bisa sirna. Begitu mudahnya.

Kesedihan yang menggantikannya pun sama.
Tak abadi. Walaupun mungkin begitu sulit dilalui.
Seolah secercah harapan yang dipegang detik ini, bisa berlalu begitu saja.
Ya, dalam hitungan detik.
Itu pun tak akan berlangsung selamanya.

***

Ranting yang patah itu tertiup angin.
Masih tergolek lemah. Tanpa daya.
Seperti kita di suatu ketika.
Yang pernah merasakan hati yang hancur berkeping-keping.
Terkadang bukan lagi berbentuk kepingan.
Irisan? Atau serpihan hati?
Hmmm, aku pernah merasakannya.
Dan itu memang menyakitkan…

Ranting yang patah itu pernah punya dahan yang kuat.
Dia pernah jadi bagian suatu pohon yang begitu kuatnya.
Beruntung kita, memiliki Tuhan yang terus jadi pohon kekuatan dan pegangan kita…
Dan itu takkan berhenti di satu titik saja.
Dia ada untuk selama-lamanya bagi kita…
#rasa syukur meraja di dada, sambil terus menyadari bahwa begitu lemahnya kita Si Ranting-Ranting Kecil kehidupan ini…

Kupandangi ranting kecil itu. Lagi.
Kali ini rasa syukur mengalir hangat di hati.
Terima kasih, Tuhan.
Engkaulah pokok Anggur dan kami ranting-ranting-Mu…
Jika kami tinggal di dalam-Mu dan Engkau di dalam kami…
Kami akan berbuah…

Ada harapan ketika mengetahui bahwa kita adalah ranting-ranting-Nya…
Terus bersama-Nya.
Terus berbuah di dalam Dia.
Dan terus berbagi kepada sesama kita….

Permenungan ranting yang patah sampai di sini.
Karena di dalam Tuhan, kita bukan lagi menjadi ranting yang patah.
Melainkan terus berbuah. Bersama-Nya.

Tinggallah di dalam Aku  dan Aku di dalam kamu.  Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. 15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
--- Yohanes 15:4-5

08.04.2013
fon@sg
* inspirasi dari ranting-ranting yang patah yang kujumpai sepanjang perjalanan mengantar-jemput anak kami. Thank God for this inspiration!