Misteri
Minggu lalu, ketika membaca bertubi-tubi berita terbunuhnya Ade Sara, mahasiswi usia 19 tahun, ada rasa yang bergejolak di dada...
Sebagai seorang Ibu-jujur saja- saya sulit membayangkan kejadian ini.
Namun, membaca komentar Ayah-Ibu Ade Sara, sungguh saya memberikan acungan jempol setinggi-tingginya buat mereka.
Bahwa kasih dan label pemeluk kristiani, bukan hanya sekadar janji atau ucapan manis di mulut.
Tetapi, sungguh jika itu benar-benar dijalankan, akan membawa decak kagum semua orang.
Lintas agama, tanpa memandang suku-bangsa...
Bahwa kasih dan pengampunan sungguh menjadi hal yang begitu indah, walaupun pastinya orangtua Ade Sara mengalami kekecewaan yang begitu besar dan rasa kehilangan yang tak terlukiskan.
Mereka sudah menjadi contoh yang luar biasa di mata saya dan pastinya bagi banyak orang.
Belum lagi usai soal kekagetan akan terbunuhnya Ade Sara, datanglah berita hilangnya pesawat Malaysian Airlines MH370 secara mendadak dan sampai sekarang belum diketahui nasibnya.
Berita ini saya dapatkan pertama kali dari apps TRS- The Real Singapore di pagi hari, Sabtu 8 Maret yang lalu.
Rasa simpati dan kasihan langsung meraja di dada.
Bagaimana nasib lebih dari 200 penumpang di dalamnya? Yang setiap dari mereka punya kisah dan perjalanan hidup sendiri?
Sampai hari ke-10, perkembangan kasus makin menjadi-jadi.
Membuat kebingungan, membuat banyak spekulasi yang terkadang membuat saya mengelus dada.
Satu per satu kejadian yang belum terselesaikan ini seolah bagai misteri...
Hatiku pun berbisik:
"Ah, bukankah kehidupan itu sendiri adalah misteri Ilahi?"
Kematian itu sendiri, walaupun pasti terjadi, entah kapan atau di mana, juga bagaimana terjadinya masih merupakan misteri bagi setiap kita.
Jika yang ada di angan, di pikiran adalah jalan normal: meninggal di masa tua dalam kondisi sakit-sakitan... Mungkin itu jauh lebih diterima...
Dibandingkan dengan kehilangan mendadak sebagaimana kasus Ade Sara, atau
para penumpang MH370 yang masih tetap diharapkan hidup oleh para sanak saudara mereka jika benar bahwa dugaan bahwa pesawat ini dibajak...
Kelahiran seorang bayi pada umumnya diharapkan dan disambut dengan kebahagiaan...
Namun, kematian, ketika harus berhadapan dengan rasa kehilangan, tentunya tidak bisa dihadapi dengan keceriaan yang gegap-gempita...
Hidup dan segala misterinya menjadi seperti sebuah teka-teki yang seolah tak terpecahkan...
Namun, pada akhirnya, dengan menundukkan kepada...
Dengan seluruh rasa simpati dan sedih yang mungkin ada...
Kita harus berani mengakui...
Bahwa suatu saat, suka-tidak suka, kita harus menghadapi ujung dari hidup ini.
Suatu ketika, kita harus berkata sudah selesai.
USAI.
Mungkin kata ini bukanlah kata favorit kita...
Namun, inilah kenyataan yang harus dihadapi...
Suatu saat, kita harus kembali kepada Sang Pencipta...
Entah bagaimana caranya, juga tak tahu kapan atau di mana...
Namun, usai di dunia, bukan berarti usai pula bagi kita.
Ada satu babakan lain...
'Chapter' yang bernama keabadian...
Dalam kekekalan bersama Bapa...
Isn't it sweet?:)
Mungkin sulit untuk sampai pada pengertian itu tadi...
Mengingat betapa melekatnya kita pada dunia dan kehidupan yang kita jalani...
Sebagaimana hidup adalah misteri...
Mari kembali kepada Allah yang hakiki...
Hanya kepada Dia kita sandarkan diri dan sepenuh hati...
Dalam iman, semoga kuat menjalani...
Setiap keadaan bersama Dia yang menemani...
Sembari terus mendoakan ketenangan Ade Sara...
Juga keluarganya agar diberikan ketabahan...
Dan semoga MH370 mendapat titik terang...
Mohon Tuhan buka jalan dan singkapkan semua rahasia...
Sehingga pihak keluarga setidaknya mendapatkan kejelasan...
Sebagaimana hidup adalah misteri...
Mari kita kembali menapaki...
Hari lepas hari...
Dengan iman yang membalut hati...
Agar Tuhan tetap menjadi fokus hidup ini...
18.03.2014
fon@sg
my writings especially dedicated for Jesus. For His goodness and never ending kindness in my life.
Tuesday, March 18, 2014
Thursday, March 6, 2014
Dering Telepon
Dering Telepon
Senin siang, 24 Februari 2014
Siang itu, aku sedang berada di dokter gigi, sebagai kunjungan rutin yang sebetulnya sudah beberapa waktu belum kulakukan.
Sedang berada di ruang tunggu, tiba-tiba telepon berdering.
Hari itu, aku harus menerima kabar dari Mrs. Xiu-pengemudi bus sekolah Odri, yang mengabarkan bahwa bus sekolah yang membawa anak sulung kami dan teman-temannya itu baru saja mengalami kecelakaan.
Sungguh hatiku langsung kacau-balau.
Tetapi, Mrs. Xiu langsung menenangkan dan mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa, hanya kepala Odri, terutama bagian keningnya, terkena benturan kursi depan dan mengalami benjol sedikit...
Antara harus menyelesaikan janji dengan dokter gigi dan harus juga melihat keadaan anak kami di sekolah, konsentrasiku terpecah.
Akhirnya, satu per satu selesai.
Urusan dokter gigi kelar, langsung aku menuju sekolah.
Puji Tuhan, Odri baik-baik saja.
Sungguh bersyukur atas perlindungan Tuhan, bahwa tidak terjadi sesuatu apa pun.
Kupeluk dia, dan dia kembali ke ruang kelasnya, melanjutkan pelajaran di hari itu.
***
Tidak semua telepon kita harapkan.
Ada yang membuat sedih, kesal, marah, atau kuatir.
Walau ada pula kabar yang membahagiakan yang dibawanya...
2 Juni 1993, lebih dari 20 tahun yang lalu...
Telepon yang kuterima hari itu betul-betul mengejutkan.
Walaupun sudah setengah siap karena kondisi Papa yang cukup mengkhawatirkan selama enam tahun sebelumnya, namun dering telepon yang mengabarkan bahwa Papa harus pergi untuk selamanya, bukanlah sesuatu hal yang mudah kuterima.
Perasaan bahwa aku belum bisa membalas budi orangtua karena belum menyelesaikan pendidikan, masih tersimpan jelas di kala itu.
Namun, itulah kenyataan yang cukup menghentak.
Suka atau tidak, siap atau tidak, suatu saat kita harus mengucap selamat tinggal kepada orang-orang terkasih.
Bagiku, kasus itu adalah perpisahan dengan Papa yang tanpa terasa hampir memasuki tahun ke-21 di bulan Juni tahun 2014 ini.
Waktu itu aku belum menjadi seorang Katolik.
Juga belum mengenal Yesus secara pribadi.
Yang ada hanyalah kemurungan, kesedihan yang berlarut-larut.
Sulit menerima kenyataan, walaupun tahu harus berjalan dalam hidup ini...
***
Tidak semua dering telepon kita harapkan.
Juga seiring perkembangan zaman dan teknologi...
Pesan-pesan di WhatsApp, BBM messenger, atau aplikasi chatting lainnya...
Beberapa berita duka, berita tentang seseorang yang dekat dengan kita terkena penyakit parah yang belum ada obatnya, membuat kita tersentak.
Sekali lagi, pesan-pesan membahagiakan juga bermunculan di sana...
Ada berita kelahiran, kenaikan kelas, wisuda, pernikahan...
Ah, dering telepon yang membahagiakan pun mewarnai dunia kita...
Pada akhirnya, sebagaimana misa Rabu abu lalu, Fr. John Derrick Yap, OFM dari Gereja St. Mary of the Angels Singapura berucap...
All that we have, one day is going back to ashes.
Only God and love that remain...
Dering telepon yang kita terima di masa depan, mungkin akan membahagiakan.
Mungkin pula akan mengecewakan, bahkan begitu menyakitkan.
Apa pun itu, mari tetap berpegang kepada Tuhan...
Percaya bahwa Yesus adalah Allah yang setia...
Persembahkan segala rasa...
Suka, duka, kecewa, dan bahagia...
Niscaya, ketenangan itu 'kan menyapa...
Tuhan ada, Dia akan memelihara...
Setiap dari kita, umat-Nya....
07.03.2014
fon@sg
Senin siang, 24 Februari 2014
Siang itu, aku sedang berada di dokter gigi, sebagai kunjungan rutin yang sebetulnya sudah beberapa waktu belum kulakukan.
Sedang berada di ruang tunggu, tiba-tiba telepon berdering.
Hari itu, aku harus menerima kabar dari Mrs. Xiu-pengemudi bus sekolah Odri, yang mengabarkan bahwa bus sekolah yang membawa anak sulung kami dan teman-temannya itu baru saja mengalami kecelakaan.
Sungguh hatiku langsung kacau-balau.
Tetapi, Mrs. Xiu langsung menenangkan dan mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa, hanya kepala Odri, terutama bagian keningnya, terkena benturan kursi depan dan mengalami benjol sedikit...
Antara harus menyelesaikan janji dengan dokter gigi dan harus juga melihat keadaan anak kami di sekolah, konsentrasiku terpecah.
Akhirnya, satu per satu selesai.
Urusan dokter gigi kelar, langsung aku menuju sekolah.
Puji Tuhan, Odri baik-baik saja.
Sungguh bersyukur atas perlindungan Tuhan, bahwa tidak terjadi sesuatu apa pun.
Kupeluk dia, dan dia kembali ke ruang kelasnya, melanjutkan pelajaran di hari itu.
***
Tidak semua telepon kita harapkan.
Ada yang membuat sedih, kesal, marah, atau kuatir.
Walau ada pula kabar yang membahagiakan yang dibawanya...
2 Juni 1993, lebih dari 20 tahun yang lalu...
Telepon yang kuterima hari itu betul-betul mengejutkan.
Walaupun sudah setengah siap karena kondisi Papa yang cukup mengkhawatirkan selama enam tahun sebelumnya, namun dering telepon yang mengabarkan bahwa Papa harus pergi untuk selamanya, bukanlah sesuatu hal yang mudah kuterima.
Perasaan bahwa aku belum bisa membalas budi orangtua karena belum menyelesaikan pendidikan, masih tersimpan jelas di kala itu.
Namun, itulah kenyataan yang cukup menghentak.
Suka atau tidak, siap atau tidak, suatu saat kita harus mengucap selamat tinggal kepada orang-orang terkasih.
Bagiku, kasus itu adalah perpisahan dengan Papa yang tanpa terasa hampir memasuki tahun ke-21 di bulan Juni tahun 2014 ini.
Waktu itu aku belum menjadi seorang Katolik.
Juga belum mengenal Yesus secara pribadi.
Yang ada hanyalah kemurungan, kesedihan yang berlarut-larut.
Sulit menerima kenyataan, walaupun tahu harus berjalan dalam hidup ini...
***
Tidak semua dering telepon kita harapkan.
Juga seiring perkembangan zaman dan teknologi...
Pesan-pesan di WhatsApp, BBM messenger, atau aplikasi chatting lainnya...
Beberapa berita duka, berita tentang seseorang yang dekat dengan kita terkena penyakit parah yang belum ada obatnya, membuat kita tersentak.
Sekali lagi, pesan-pesan membahagiakan juga bermunculan di sana...
Ada berita kelahiran, kenaikan kelas, wisuda, pernikahan...
Ah, dering telepon yang membahagiakan pun mewarnai dunia kita...
Pada akhirnya, sebagaimana misa Rabu abu lalu, Fr. John Derrick Yap, OFM dari Gereja St. Mary of the Angels Singapura berucap...
All that we have, one day is going back to ashes.
Only God and love that remain...
Dering telepon yang kita terima di masa depan, mungkin akan membahagiakan.
Mungkin pula akan mengecewakan, bahkan begitu menyakitkan.
Apa pun itu, mari tetap berpegang kepada Tuhan...
Percaya bahwa Yesus adalah Allah yang setia...
Persembahkan segala rasa...
Suka, duka, kecewa, dan bahagia...
Niscaya, ketenangan itu 'kan menyapa...
Tuhan ada, Dia akan memelihara...
Setiap dari kita, umat-Nya....
07.03.2014
fon@sg
Wednesday, March 5, 2014
God Will Provide
One day right in the beginning, we had no rice for dinner and then a lady came and brought rice. She said she was coming back from the office "and something in me told me to go to Mother Teresa and bring her rice." And so she brought rice. I said: "Please excuse me, I will measure first and then I will tell you." It was exactly the amount we cooked for dinner, no less, no more, not even half a cup. I told that lady what had happened and she began to cry. She was a Hindu, and she said, " To think that God used me, spoke in my heart. In the whole world, there are millions and millions of people, there are millions of people only in India, and God's concern for Mother Teresa." His tender love --- you must experience that... even when it is hard, when there is suffering, when there is humiliation.
(Where There Is Love, There Is God - Mother Teresa)
Di antara begitu banyak keindahan kasih Allah yang saya temui di buku Bunda Teresa yang berjudul Where There Is Love, There Is God yang saya pinjam dari National Library Singapore ini, paragraf di atas sungguh membuat saya tersentak sekali lagi.
Betapa Tuhan begitu peduli dan menyediakan segala sesuatunya tepat dengan kebutuhan kita.
Sebagaimana yang kita baca, hari itu Bunda Teresa tidak punya beras untuk makan malam. Namun, ada seorang wanita yang mampir sepulang dari tempatnya bekerja. Ia mampir atas dorongan suara hati yang seolah menuntun dia menuju tempat Bunda Teresa dan membawakan beras.
Dan sungguh menakjubkan, beras yang dibawa oleh Sang Wanita tadi adalah jumlah yang pas dengan apa yang dibutuhkan oleh Bunda Teresa untuk makan malamnya.
Tidak kurang, tidak lebih, setengah cangkir pun tidak!
Mungkin, kita pernah mengalami hal serupa, walaupun tak sama persis.
Di mana Tuhan menyediakan yang kita butuhkan.
Tepat waktu-Nya, tidak kurang-tidak lebih...
Itulah jumlah yang kita butuhkan.
Mungkin kita butuh uang untuk membeli seragam anak sekolah atau membayar uang sekolah.
Mungkin kita perlu untuk membeli susu bayi yang baru lahir...
Mungkin, dan mungkin...
Berjuta kemungkinan yang bakal terjadi terlintas di kepala...
Betapa memang Allah sungguh peduli dan mengasihi segenap umat-Nya...
Betapa ayat berikut ini, bukanlah isapan jempol semata:
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
--- Filipi 4:19
Sungguh bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan dalam hidupku...
Dalam hidup kita...
Dia menyediakan yang kita butuhkan...
Bukan melulu yang kita inginkan...
Karena terkadang keinginan kita belum tentu yang terbaik bagi kita...
Mungkin itu hanya keinginan yang dilandasi egoisme pribadi...
Mungkin keinginan kita hanya untuk cari sensasi, membuat iri orang lain, atau keinginan yang mengarah kepada hal-hal yang lebih negatif ketimbang positifnya...
Selain itu pula, selain mempercayakan seluruh penyelenggaraan hidup kita kepada-Nya...
Ada baiknya juga bagi kita untuk belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan sebagaimana yang tercantum dalam Kitab Filipi berikut ini:
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
--- Filipi 4:11-12
Mari belajar mencukupkan diri dalam segala hal.
Bukan melulu yang kita inginkan adalah yang terbaik bagi kita, melainkan yang kita butuhkan dan dianggap perlu oleh-Nya...
Ajar kami untuk bijaksana dalam mengelola segala yang Kautitipkan pada kami...
Termasuk manajemen keuangan...
Bimbing kami, Tuhan, untuk mempergunakan uang dengan bijaksana...
Sehingga tidak terjadi besar pasak daripada tiang...
Dan seberapa pun yang Kaupercayakan kepada kami, semoga kami bisa mempergunakan sebaik-baiknya untuk kemuliaan-Mu...
Bila yang berpunya mau berbagi dengan mereka yang berkekurangan...
Bila mereka yang menderita dan sengsara juga dipedulikan oleh sesamanya..
Alangkah indahnya dunia...
Betapa kasih-Nya terasa semakin hidup di dunia yang semakin hari semakin egois dan mementingkan diri sendiri ini...
Engkaulah Bapa yang penuh kasih...
Kami percaya penyelenggaraan-Mu..
Tuhan sudah sediakan yang kami perlukan...
Bagian kami hanyalah berusaha segiat yang kami bisa...
Dan dengan bijaksana, mempergunakan semua yang Tuhan berikan kepada kami, semoga demi tindakan kasih...
Penuhi hati kami dengan kasih-Mu...
Kepedulian-Mu...
Sehingga kami pun mampu peduli kepada mereka yang sungguh butuh pertolongan dan berteriak putus asa...
Sehingga mereka pun merasakan keindahan kasih-Mu di dunia ini...
Semoga...
Ya, semoga...
06 Maret 2014
fon@sg
(Where There Is Love, There Is God - Mother Teresa)
Di antara begitu banyak keindahan kasih Allah yang saya temui di buku Bunda Teresa yang berjudul Where There Is Love, There Is God yang saya pinjam dari National Library Singapore ini, paragraf di atas sungguh membuat saya tersentak sekali lagi.
Betapa Tuhan begitu peduli dan menyediakan segala sesuatunya tepat dengan kebutuhan kita.
Sebagaimana yang kita baca, hari itu Bunda Teresa tidak punya beras untuk makan malam. Namun, ada seorang wanita yang mampir sepulang dari tempatnya bekerja. Ia mampir atas dorongan suara hati yang seolah menuntun dia menuju tempat Bunda Teresa dan membawakan beras.
Dan sungguh menakjubkan, beras yang dibawa oleh Sang Wanita tadi adalah jumlah yang pas dengan apa yang dibutuhkan oleh Bunda Teresa untuk makan malamnya.
Tidak kurang, tidak lebih, setengah cangkir pun tidak!
Mungkin, kita pernah mengalami hal serupa, walaupun tak sama persis.
Di mana Tuhan menyediakan yang kita butuhkan.
Tepat waktu-Nya, tidak kurang-tidak lebih...
Itulah jumlah yang kita butuhkan.
Mungkin kita butuh uang untuk membeli seragam anak sekolah atau membayar uang sekolah.
Mungkin kita perlu untuk membeli susu bayi yang baru lahir...
Mungkin, dan mungkin...
Berjuta kemungkinan yang bakal terjadi terlintas di kepala...
Betapa memang Allah sungguh peduli dan mengasihi segenap umat-Nya...
Betapa ayat berikut ini, bukanlah isapan jempol semata:
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
--- Filipi 4:19
Sungguh bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan dalam hidupku...
Dalam hidup kita...
Dia menyediakan yang kita butuhkan...
Bukan melulu yang kita inginkan...
Karena terkadang keinginan kita belum tentu yang terbaik bagi kita...
Mungkin itu hanya keinginan yang dilandasi egoisme pribadi...
Mungkin keinginan kita hanya untuk cari sensasi, membuat iri orang lain, atau keinginan yang mengarah kepada hal-hal yang lebih negatif ketimbang positifnya...
Selain itu pula, selain mempercayakan seluruh penyelenggaraan hidup kita kepada-Nya...
Ada baiknya juga bagi kita untuk belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan sebagaimana yang tercantum dalam Kitab Filipi berikut ini:
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
--- Filipi 4:11-12
Mari belajar mencukupkan diri dalam segala hal.
Bukan melulu yang kita inginkan adalah yang terbaik bagi kita, melainkan yang kita butuhkan dan dianggap perlu oleh-Nya...
Ajar kami untuk bijaksana dalam mengelola segala yang Kautitipkan pada kami...
Termasuk manajemen keuangan...
Bimbing kami, Tuhan, untuk mempergunakan uang dengan bijaksana...
Sehingga tidak terjadi besar pasak daripada tiang...
Dan seberapa pun yang Kaupercayakan kepada kami, semoga kami bisa mempergunakan sebaik-baiknya untuk kemuliaan-Mu...
Bila yang berpunya mau berbagi dengan mereka yang berkekurangan...
Bila mereka yang menderita dan sengsara juga dipedulikan oleh sesamanya..
Alangkah indahnya dunia...
Betapa kasih-Nya terasa semakin hidup di dunia yang semakin hari semakin egois dan mementingkan diri sendiri ini...
Engkaulah Bapa yang penuh kasih...
Kami percaya penyelenggaraan-Mu..
Tuhan sudah sediakan yang kami perlukan...
Bagian kami hanyalah berusaha segiat yang kami bisa...
Dan dengan bijaksana, mempergunakan semua yang Tuhan berikan kepada kami, semoga demi tindakan kasih...
Penuhi hati kami dengan kasih-Mu...
Kepedulian-Mu...
Sehingga kami pun mampu peduli kepada mereka yang sungguh butuh pertolongan dan berteriak putus asa...
Sehingga mereka pun merasakan keindahan kasih-Mu di dunia ini...
Semoga...
Ya, semoga...
06 Maret 2014
fon@sg
Wednesday, December 18, 2013
Christmas Isn't Christmas (Till It Happens In Your Heart)
Christmas isn't Christmas 'till it happens in your heart.
Somewhere, deep inside you, is where Christmas really starts
So, give your heart to Jesus, you’ll discover when you do
That’s it Christmas, really Christmas for you.
Jesus brings warmth like a winter fire, a light like a candle’s glow
He’s waiting now to come inside, like He did so long ago
Jesus brings gifts of truth and life and makes them bloom and grow
So welcome Him with a song of joy, and when He comes you’ll know….
That Christmas isn’t Christmas ‘til it happens in your heart
Somewhere, deep inside you, is where Christmas really starts
So, give your heart to Jesus, you’ll discover when you do
That’s it Christmas, really Christmas
Christmas, really Christmas
Christmas, really Christmas for you
(lyrics Christmas Isn't Christmas)
National University of Singapore-Cultural Hall, 2 November 2013.
It was our daughter's graduation day.
So blessed to witness a chapter in her life. She's just graduated from her Kindergarten.
Getting ready to welcome her further mile in this life.
This song was there.
Filling my heart with gladness, joy, and also realizing the fact that really, it's our heart that we need to prepare while welcoming Christmas.
It's not easy to do so. I know it for sure:)
Singapore is just so gorgeously decorated- full of festive atmosphere.
Along Orchard Road, it's just very beautiful. Full of Christmas' ornaments whether inside or outside the malls. Along the road. Everywhere:)
Inside malls and supermarkets, all festive goods are sold.
I remembered Ho Chi Minh City for a glance...
It's also busy preparing Christmas in its own way.
Simple, but yet full of warmth...
Christmas nowadays are so identical with parties, festivities, holidays, which are dragging us further from the essence of Christmas itself.
19th of December 2013.
6 days before Christmas.
Many things inside my heart.
Many things on my mind.
Wondering. Pondering. Reflecting.
Apart of so many festivities atmosphere, will I still be able to prepare my heart in welcoming Christ?
I know I should, but yet I know that's not an easy thing to do.
I need to do my very best for that...
Realizing that Christmas will never be complete, will never be at its fullness, without preparing my heart for Christ.
Embracing Him with all the love that I've got.
For God so loved the world that He gave His only Son, Jesus Christ.
I'm grateful for that.
For Christ who was born for us.
He came to save us.
He even wanted to share our feelings as human...
He's true God and true man.
I can't express my thoughts in words now...
I'm amazed.
In an awe...
For knowing that He's there to help us.
To love us.
To forgive us...
As Catholics prepare themselves these weeks as Advent weeks.
Let's prepare our heart as well.
That's the main and important essence of Christmas...
Because Christmas isn't Christmas, 'till it happens in our heart.
Hopefully, all the festivity doesn't overwhelmed us too much.
Hopefully, we still put Jesus Christ as the main centre of the celebration.
Welcoming Him to this world, welcoming Him in our hearts.
19.12.2013
fon@sg
Somewhere, deep inside you, is where Christmas really starts
So, give your heart to Jesus, you’ll discover when you do
That’s it Christmas, really Christmas for you.
Jesus brings warmth like a winter fire, a light like a candle’s glow
He’s waiting now to come inside, like He did so long ago
Jesus brings gifts of truth and life and makes them bloom and grow
So welcome Him with a song of joy, and when He comes you’ll know….
That Christmas isn’t Christmas ‘til it happens in your heart
Somewhere, deep inside you, is where Christmas really starts
So, give your heart to Jesus, you’ll discover when you do
That’s it Christmas, really Christmas
Christmas, really Christmas
Christmas, really Christmas for you
(lyrics Christmas Isn't Christmas)
National University of Singapore-Cultural Hall, 2 November 2013.
It was our daughter's graduation day.
So blessed to witness a chapter in her life. She's just graduated from her Kindergarten.
Getting ready to welcome her further mile in this life.
This song was there.
Filling my heart with gladness, joy, and also realizing the fact that really, it's our heart that we need to prepare while welcoming Christmas.
It's not easy to do so. I know it for sure:)
Singapore is just so gorgeously decorated- full of festive atmosphere.
Along Orchard Road, it's just very beautiful. Full of Christmas' ornaments whether inside or outside the malls. Along the road. Everywhere:)
Inside malls and supermarkets, all festive goods are sold.
I remembered Ho Chi Minh City for a glance...
It's also busy preparing Christmas in its own way.
Simple, but yet full of warmth...
Christmas nowadays are so identical with parties, festivities, holidays, which are dragging us further from the essence of Christmas itself.
19th of December 2013.
6 days before Christmas.
Many things inside my heart.
Many things on my mind.
Wondering. Pondering. Reflecting.
Apart of so many festivities atmosphere, will I still be able to prepare my heart in welcoming Christ?
I know I should, but yet I know that's not an easy thing to do.
I need to do my very best for that...
Realizing that Christmas will never be complete, will never be at its fullness, without preparing my heart for Christ.
Embracing Him with all the love that I've got.
For God so loved the world that He gave His only Son, Jesus Christ.
I'm grateful for that.
For Christ who was born for us.
He came to save us.
He even wanted to share our feelings as human...
He's true God and true man.
I can't express my thoughts in words now...
I'm amazed.
In an awe...
For knowing that He's there to help us.
To love us.
To forgive us...
As Catholics prepare themselves these weeks as Advent weeks.
Let's prepare our heart as well.
That's the main and important essence of Christmas...
Because Christmas isn't Christmas, 'till it happens in our heart.
Hopefully, all the festivity doesn't overwhelmed us too much.
Hopefully, we still put Jesus Christ as the main centre of the celebration.
Welcoming Him to this world, welcoming Him in our hearts.
19.12.2013
fon@sg
Friday, December 13, 2013
Give Us A Grateful Heart, Oh Lord…
It’s been my second time
visiting this hospital within the week.
I’ve been to Mount Elizabeth
Hospital in city central, not far from
the beautiful and prestigious Orchard
Road area in Singapore .
There I was, looking at so
many people with so many sicknesses that we couldn’t have ever imagined.
I visited one of my dear
friend from Indonesia
who had a surgery there.
While going to her ward, I
heard some people speaking my own language.
So many Indonesians around
here.
And while at the same
time, I realized that there are so many people who are currently helpless with
their situation.
Some of them were sitting
hopelessly.
Wondering.
In pain.
Walking so slowly, maybe
after some surgeries.
Having those experiences,
made me realized that: how we (read: I) frequently take things for granted.
It’s so hard for me to
stay thankful.
I always want more.
Sometimes, the feeling of
competition is running fast…
So seldom I could be
thankful for what I've got.
Health is a blessing.
Being able to spend time
with our loved ones, even only for simple things such as watching TV together,
having a meal together, having a walk in the park together, or even praying together is such a wonderful thing.
Again, it’s simple thing
that counts…
Condition can deteriorate
very fast, but we should treasure what we have at this moment.
Thanking God for His
guidance.
Thanking Him for every
single blessing in our life.
Here I am, Lord…
Calling on You…
Kneeling down on prayers
to You…
Please give us a grateful
heart…
Please give us a heart
that’s full of thanksgiving…
We don’t need many things
as we always want…
If only we could be
thankful for simple things, then we realize that life indeed is beautiful in
its simplicity.
Thanks for the breath of
life, God…
Thanks for wonderful time
we’ve had…
Thanks for the problems as
well, as they make us stronger.
Thank You, Lord.
Thank You for everything.
04.12.2013
fon@sg
Labels:
grateful heart,
take things as a granted,
thankful
Monday, November 18, 2013
Jadikanlah Dirimu Teladan
Jadikanlah Dirimu Teladan
Laki-laki yang tua hendaklah hidup
sederhana , terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan
dalam ketekunan. 2:3 Demikian juga perempuan-perempuan yang
tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi
hamba anggur , tetapi cakap
mengajarkan hal-hal yang baik 2:4 dan dengan demikian mendidik
perempuan-perempuan muda
mengasihi suami dan anak-anaknya , 2:5 hidup bijaksana dan suci, rajin
mengatur rumah tangganya,
baik hati dan taat kepada suaminya,
agar Firman Allah
jangan dihujat orang. 2:6 Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah
mereka supaya mereka menguasai diri
dalam segala hal 2:7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu
teladan dalam
berbuat baik.
--- Titus 2:2-7
Apa reaksi kita saat
membaca ayat-ayat dari Titus di atas?
Hmmm, mungkin bervariasi.
Mungkin merasa, aduh,
berat banget ini ayat-ayat, gimana gue bisa ngejalanin semuanya itu? Koq kedengarannya
so perfect sekaleee. Mana gue sanggup?
Coba kita lihat sekali
lagi.
Buat lelaki tua, hidup
sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam
ketekunan.
Perempuan tua, jangan
memfitnah, harus hidup sebagai orang yang beribadah, dan harus cakap
mengajarkan hal-hal yang baik.
Mendidik perempuan muda
mengasihi suami dan anak-anak mereka, hidup bijaksana dan suci, dan
seterusnya….
Sungguh berbeda dengan
gambaran dunia.
Memfitnah, bergunjing,
bergosip, sudah jadi makanan sehari-hari.
Apa mungkin menjaga mulut
sekaligus hati, supaya tidak terlalu menjadi-jadi?
Agaknya merupakan hal yang
butuh perjuangan untuk melakukannya.
Dan untuk orang muda,
nasihatilah mereka supaya menguasai diri dalam segala hal.
Jadikanlah dirimu sendiri
suatu teladan dalam berbuat baik.
Ini lebih berat lagi.
Oh my Godddd, disuruh menguasai diri, dalam segala hal pula.
Apa mungkin?
Godaan zaman sekarang ‘kan begitu besar, Tuhan.
Mana sanggup???
Mungkin itu perkataan
kita.
Mungkin itu yang ada di
pikiran kita.
Salahkanlah teknologi.
Salahkanlah sosial media.
Yang konon membuat orang
semakin gampang berselingkuh, semakin mudah berselancar internet untuk mencari
situs yang berbau pornografi dan hal-hal negatif lainnya.
Namun, jika kita mau
telusuri lebih dalam lagi: apa memang itu semua yang salah? Atau lebih ke kita
yang tidak pandai memilih atau memilah?
Apakah kita yang memilih
untuk selingkuh?
Sementara pasangan dan
anak di rumah yang kena akibatnya?
Apakah internet hanya bisa
dipakai untuk ‘browsing’ hal-hal buruk?
Apa tidak bisa untuk
hal-hal baik?
Siapa atau apa yang salah?
Apa kita menyalahkan
sesuatu atau seseorang untuk kemudian berusaha lari dari tanggung jawab untuk
mengakui bahwa saya yang salah?
Saya yang salah karena
tidak memanfaatkan segala fasilitas itu untuk kebaikan.
Sosial media bisa jadi
ajang pertemanan yang positif, jadi ajang penyebaran hal-hal yang bernilai
seperti kebaikan dan ketaatan akan Tuhan.
Jika kita memilih melakukan
hal-hal yang buruk dengan itu semua, siapa yang salah?
No matter what, Alkitab dengan tegas mengajak kita untuk menjadi teladan.
Di tiap usia yang tengah
kita jalani, di tiap karya yang Tuhan percayakan kepada kita.
Di tiap tindakan di hidup
kita agar firman-Nya jangan dihujat orang gara-gara perbuatan kita.
Agar kita tidak menjadi
batu sandungan…
Dan tetap menjadi teladan
dalam hidup ini…
Jangan bilang tidak
sanggup…
Kalau dipikir-pikir,
mungkin tidak ada yang sanggup atau layak…
Tetapi, jangan terlalu dipikirin :)
Jalani saja. Do our best.
Percayakan kepada Tuhan
selanjutnya…
Mohon pengendalian diri
yang kuat, Tuhan, atas kelemahan dan kedagingan kita ini…
Biar Roh Kudus yang
memimpin kami kepada buah-buah yang indah.
Kasih, sukacita, damai
sejahtera, kesabaran,
kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri
(berdasarkan Galatia
5:22-23)
Amin.
19.11.2013
fon@sg
Tuesday, October 29, 2013
Meninggalkan Zona Nyaman Bersama Tuhan
Kita semua agaknya punya ‘comfort zone’- zona nyaman.
Mungkin itu suatu tempat yang begitu melekat dengan kita.
Mungkin itu pekerjaan kita…
Mungkin itu persahabatan yang begitu dekat dan erat…
Mungkin itu apa saja…
Sesuatu yang membuat kita terbiasa dan nyaman…
Saya pernah memiliki itu semua ketika saya berada di Jakarta .
Saya seolah punya semua yang saya inginkan.
Pekerjaan yang baik, persahabatan yang erat, pelayanan di ladang Tuhan yang sesuai dengan talenta yang dititipkan-Nya…
Pekerjaan yang baik, persahabatan yang erat, pelayanan di ladang Tuhan yang sesuai dengan talenta yang dititipkan-Nya…
Keluarga, kegiatan harian yang menyenangkan di mana saya bisa olahraga
secara teratur…
Seolah semuanya sangat menyenangkan dan saya menikmati itu semua…
Namun hidup tidak berhenti di titik itu saja…
Hidup selalu bergerak, dinamis…
Perubahan adalah bagian dari hidup yang tak terhindarkan…
Lalu, datanglah perubahan itu bagi saya.
Ketika saya harus pindah dari Jakarta .
Meninggalkan bumi pertiwi Indonesia saat saya harus ikut
suami yang dipindah-tugaskan…
Dunia saya?
Berantakan.
Berantakan.
Porak-poranda.
Kacau-balau…
Pertama-tama, seolah saya menikmati perubahan itu, namun ternyata,
perubahan yang sangat bertubi-tubi tidak siap saya terima saat itu juga…
Kehamilan, kehadiran seorang bayi yang lucu namun ternyata mengasuh
sendiri bukan pekerjaan gampang. Ketiadaan pekerjaan, jauh dari sahabat, dan
belum terbiasa tinggal di negeri baru walaupun itu bukan suatu negara yang
jauh, membuat saya ternyata merindukan ‘comfort zone’ saya…
Seolah semua kenyamanan itu ditarik dari saya, tanpa saya sempat
bereaksi.
Tanpa saya bisa.
Karena perubahan itu begitu cepat terjadi…
Saya pun menjadi lupa, bahwa itu semua adalah titipan-Nya.
Mudah bagi saya untuk berucap semua adalah titipan Tuhan saat segala hal
berlangsung normal dan biasa…
Namun, ketika semua berubah, saya pun seolah lupa bahwa itu semua hanya
karena anugerah-Nya.
Perlahan, saya pun kembali belajar…
Bahwa itulah hidup…
Hidup bisa membawa kita ke mana saja…
Bahkan ke tempat atau keadaan yang tak pernah kita bisa prediksi
sebelumnya.
Namun, saya pun belajar bahwa di dalam Tuhan, meninggalkan zona nyaman
berarti mempercayakan hidup saya ke dalam penyelenggaraan-Nya.
Percaya bahwa ini semua akan baik adanya…
Percaya bahwa segenap perubahan yang terjadi ini adalah baik bagi
perkembangan kedewasaan iman saya di kemudian hari…
Percaya, bahwa perubahan ataupun kondisi yang seolah tidak ‘pro’ pada
saya, tidak menguntungkan saya bahkan terasa mengecilkan diri saya, memiliki
tujuan dalam rencana-Nya…
Lalu, saya menemukan kegiatan baru.
Karena kondisi kehamilan kurang baik, saya seolah dipaksa keadaan untuk
tinggal di rumah.
Dari terbiasa aktif, jujur, itu merupakan siksaan bagi saya.
Namun, apa daya, demi Sang Bayi saya harus melakukannya juga.
Di rumah di Singapura, saya mulai menemukan ‘pelampiasan’ baru yang
sudah saya mulai sebelumnya.
Saya mulai menulis lebih intens.
Dari situlah cikal-bakal seluruh blog yang sekarang ada.
Juga seluruh dunia tulis-menulis yang dipercayakan-Nya kepada saya.
Saya belajar, bahwa segala hal bukanlah milik saya.
Itu hanya perkenanan Tuhan yang begitu baik menganugerahkannya pada
saya.
Saya hanya bisa mensyukuri tiap detiknya dan belajar untuk tidak terlalu
melekat pada segala sesuatunya.
Belajar dan terus belajar.
Bahwa perubahan adalah pasti.
Namun, menyertakan Tuhan di dalam segala episode kehidupan akan membuat
kita berani menghadapi segalanya bersama-Nya.
Dari satu negara pindah ke negara berikutnya.
Dan kini, kembali ke negeri di mana awal saya merantau dari Jakarta .
Di sini, di Singapura, saya berusaha menjalani hidup sebaik yang saya
bisa.
Terus berusaha menjadi terang-Nya…
Walau tak jarang perasaan-perasaan negatif pernah menyapa.
Kekecewaan, kesepian, rasa sendirian, mungkin juga bagian dari luka-luka
di masa lalu yang kembali muncul.
Namun, kembali kasih-Nya menyadarkan saya bahwa Dia selalu ada…
Tak perlu terlalu tergantung pada apa pun atau siapa pun…
Hanya dengan berpegang kepada Tuhan, kita akan temukan kekuatan dalam
menjalani kehidupan ini…
Perjuangan Anda dan saya mungkin berbeda…
Namun, kita sama-sama berjuang dalam hidup yang Tuhan percayakan bagi
kita…
Mari, berjuang dan menjalani kehidupan dengan sungguh…
Sepenuhnya mempercayakan hidup kita kepada Yang Kuasa…
Ke mana pun Dia menempatkan kita, ke mana pun Dia mengutus kita, Dia
pasti akan memberikan kekuatan.
Dia pasti akan menyertai kita.
Sekarang dan selamanya.
Bukankah telah
Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN,
Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.
--- Yosua 1:9
29.10.2013
fon@sg
Subscribe to:
Posts (Atom)