Monday, August 9, 2010

ReSiPI: Hakim-Hakim


Pernah terjadi, ketika saya melihat seseorang melakukan hal yang buruk, langsung otak saya berpikir dan mencapai suatu konklusi. Seringnya, konklusi itu adalah penghakiman atas diri orang tersebut. Contohnya: ih, tuh orang sombong sekali! Norak pula, mau pamer saja kerjanya. Tanpa sadar, saya pun begitu, jadi saya memperhatikan apa yang tidak saya sukai dari diri saya dengan melihatnya pada diri orang lain. Contoh lain: mungkin kita tidak suka dengan seorang teman yang tukang gosip, tanpa sadar kita pun menempatkan gosip sebagai hobi di peringkat pertama. Mengenaskan, bukan? Seolah kita begitu mulia dengan menghakimi orang lain, padahal kita sendiri? Sama saja, bahkan mungkin saja lebih buruk dari mereka.

Maka benarlah Kitab Roma bab 2:1, ketika mengatakan hal sebagai berikut:

Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.

--- Roma 2: 1

Hakim-hakim yang merasa superadil itu (baca: diri kita), sebetulnya tidak bebas dari salah. Semua manusia, tanpa kecuali pasti pernah salah. Maka dari itu, sebelum jadi hakim bagi orang lain, mari kita berkaca dan introspeksi diri dulu. Adakah aku sendiri sudah hidup benar? Kalau masih sama-sama berusaha, ada baiknya jika penghakiman atas diri orang lain kita minimalkan. Hakim-hakim? Sudahkah kita bercermin?

HCMC, 13 Juli 2010

-fon-

* ReSiPI: rubrik baru yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

No comments:

Post a Comment