Friday, November 27, 2009

Perempuan Berplester


Beberapa hari yang lalu, di milis para penulis renungan harian wanita dan teman-temannya, saya menemukan suatu pertanyaan yang amat menarik, dilemparkan oleh salah seorang dari kami yang berprofesi sebagai psikolog.

Tergelitik dengan tingkah laku pada teenagers yang setiap hari saya temui....... ada situasi yang ingin saya tanyakan.... silakan ditanggapi dengan cara apapun...

Kira-kira apa yang akan kalian lakukan jika suatu hari melihat seorang remaja perempuan (umurnya kira-kira 14 tahun....kamu cukup mengenalnya. .......beberapa bulan yang lalu kamu melihatnya dipangku oleh sang pacar di tempat umum dan sejak itu kamu tidak bisa lupa wajahnya)... .suatu pagi, dilehernya tertempel sebuah plester kecil (kira-kira berukuran 1x2 cm) (dulu sih waktu saya seusia itu....teman- teman yang menggunakan plester tersebut menutupi 'akibat perbuatan sang pacar' terhadap lehernya)... ...

What will you say or do to her???

Inilah kenyataan yang harus dihadapi. Mau tidak mau, suka tidak suka, anak remaja sekarang memiliki keberanian yang berbeda dengan yang ditunjukkan dengan generasi sebelumnya. Walaupun bukan berarti tingkah laku generasi sebelumnya lebih baik, namun harus pula diakui bahwa kemudahan teknologi, penyebaran informasi lewat internet dan media massa lainnya juga membuat mereka menjadi matang lebih cepat. Di zaman sekarang ini, mengasuh dan mendidik anak menjadi semakin sulit. Menjadi PR alias pekerjaan rumah yang tak ada habisnya bagi para orang tua, guru, pendidik, dan keluarga. Prihatin dengan keadaan ini, teman saya melemparkan pertanyaan tersebut. Dan ditanggapi dengan macam-macam jawaban. Dan salah satu jawaban yang paling menyejukkan dan melegakan, datang dari seorang sahabat dalam Kristus, Riko Ariefano sebagai berikut:

Dengan asumsi bahwa kita mau membawa anak ini kepada Tuhan dan Gereja, maka ada beberapa hal yang mungkin jadi reaksi saya pribadi. Secara umum ini adalah dasar-dasar pendekatan buat generasi ini, yang diwakili oleh remaja perempuan 14 tahun berplester di leher...

1. Tidak menghakimi.

Generasi ini sudah terlalu sering mendapat cap "bobrok", "tidak bermoral", "rusak" dan sebagainya, sehingga seringkali apapun perilaku orang-orang muda, mereka langsung dipandang dari sudut negatif. Ini stigma yang menyedihkan karena buah apel jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya. Dengan kata lain, orang muda sering dinilai gagal padahal mereka adalah korban kegagalan generasi sebelumnya - tanpa mengurangi segala hormat pada generasi senior. Plester di leher bisa saja bekas digigit serangga, plester di leher bisa saja bekas bisul yang mau ditutupi, walaupun plester di leher bisa juga akibat perbuatan pacarnya. Tapi yang terpenting adalah, sikap hati kita jangan terlalu cepat melemparkan "judgement" sehingga belum apa-apa, sikap ini justru sudah menjadi halangan terbesar bagi kita untuk merangkul orang-orang muda dengan kasih Tuhan.

2. Menjadi sahabat dan saudara

Pemberontakan - salah satu stigma yang melekat pada generasi ini, salah satunya juga berakar dari kurangnya figur "authority" yang baik di mata mereka, khususnya dari keluarga mereka, misalnya kurangnya figur bapa/ayah yang penuh kehangatan kasih tapi juga sekaligus berpegang teguh pada prinsip2 kebenaran. Pendekatan authoritative seperti menegur atau mengajar seringkali justru menjadi counter-productive bagi generasi ini (Elo mau ngajarin gue? Emangnya elo siapa?). Pintu masuk yang selalu baik adalah kasih, persahabatan, dan persaudaraan - berada di tengah-tengah mereka, menangis dan tertawa bersama mereka, serta mendengar dari dekat apa yang mau diserukan oleh debar jantung mereka. Kehadiran yang jujur dan tulus selalu mendapat tempat istimewa di hati orang muda. Ini termasuk berdoa untuk mereka (atau untuk si perempuan berplester). ..

3. Mencari akar masalah

Duduk di pangkuan pacar dan plester di leher (karena pacar) adalah gejala di permukaan, padahal masalahnya selalu lebih dalam daripada itu, dan selalu berujung pada luka serta kurangnya pengalaman dicintai dan diakui. Maka sharing pengalaman hidup dengan suasana persahabatan dan persaudaraan adalah jalan menuju akar masalah yang sesungguhnya. Ini pastinya mengandaikan "trust" yang sudah terbangun dengan baik.

4. Berbagi kasih dan kebenaran

Bila sudah terbangun persahabatan dan persaudaraan yang baik, maka jangan pernah takut untuk berbagi kebenaran! Orang muda selalu haus akan kebenaran dan kebahagiaan sejati - dan hanya kasih Tuhan yang bisa memuaskan kehausan ini secara utuh. Ceritakan (bukan ngajarin) pada mereka tentang Tuhan Yesus yang hidup dan ajak mereka untuk datang ke Dia. Berbagi kasih dan kebenaran yang sejati selalu berujung pada pengalaman perjumpaan dengan pribadi Yesus. Apabila mereka, atau si perempuan berplester ini, sudah berjumpa dengan pribadi Yesus yang sungguh memesona dan memenuhi hatinya dengan cinta, maka dia akan bersedia melepaskan pangkuan pacar dan plester di leher (karena pacar), karena dia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih indah dan berharga. Sesuatu ini ternyata adalah seorang pribadi bernama Yesus.

5. Mengajak berkomunitas

Hidup yang berubah karena berjumpa dengan Yesus harus didukung dengan kelompok sahabat-sahabat yang sama-sama berpusat pada Yesus. Maka penting banget untuk mengajak dia berkenalan dengan sebuah komunitas yang bisa saling mendukung di dalam kasih dan kebenaran sejati. Mudah-mudahan dengan hidup berkomunitas yang sehat, perempuan berplester ini kemudian juga punya hati untuk cerita tentang Yesus ke perempuan-perempuan berplester lainnya...

Catatan terakhir:

Menurut saya pribadi, masing-masing dari kita adalah perempuan berplester di leher akibat perbuatan pacar kita. Plester di leher itu kan hanya tanda bahwa kita punya plester di hati. Hanya saja pacar-pacar kita tidak/belum kelihatan orang lain (atau mungkin sudah?). Plester ini bisa jadi berupa seks, rokok, workaholic, pujian berlebihan dari orang lain, uang, dsb, atau bentuk kompensasi dari luka akibat kurangnya kasih Allah di hati kita masing-masing. Dan setiap dari kita butuh pengalaman perjumpaan dengan pribadi Yesus terus menerus, sampai hati ini meluap dengan cinta. Dengan pengalaman perjumpaan terus menerus, kita dimampukan untuk melepaskan plester-plester ini, dan melangkah meraih mimpi-mimpi hati kita bersama cinta Tuhan.

in HIS love,

R.

(dalam proses melepaskan plester juga, so please don't judge me, but love me instead)

Saya dan beberapa teman tersentuh sekaligus tergerak dengan jawaban Riko yang menyejukkan, merangkul dengan kasih Kristus, sekaligus mengingatkan bahwa kita semua adalah perempuan berplester. Berplester dalam arti memiliki luka yang ingin disembuhkan lewat kasih-Nya. Plester itu (kembali mengutip catatan Riko dan sedikit menambahkan dari versi saya) : berupa seks, narkoba, rokok, workaholic, gila pujian, uang, pornografi, pribadi yang penuh kemarahan, dan segala bentuk kompensasi dari luka akibar kurangnya kasih Allah dalam hati kita masing-masing.

Kita semua adalah perempuan berplester, kalau saja kita mampu melihat para remaja dengan cara yang sama. Kalau saja kita bisa melihat orang lain dengan cara yang sama. Bahwa kita semua terluka. Everybody hurts, including me. Semua orang terluka, termasuk saya juga. Jadi, saya tahu rasanya terluka dan itu menyakitkan. Saya tahu rasanya lari dari luka itu dan mencoba untuk sembuh. Dengan berbagai cara yang saya kira akan menyembuhkan, namun nyatanya semakin membawa saya kepada dosa yang memisahkan saya semakin jauh dengan Allah. Anak muda ingin dipandang dengan kasih. Dengan tidak dihakimi. Begitu pun dengan diri kita. Dengan diri orang lain juga begitu. Tak ada yang suka dihakimi. Namun, takkan ada yang menolak bila pendekatan itu dilakukan dengan kasih. Dengan cinta Allah. Kita semua pernah mengalami, pernah merasakan, bahkan mungkin masih berjuang akan miskinnya kasih dalam diri kita. Namun, dengan merangkul sesama, siapa pun mereka tak terkecuali para generasi muda penerus bangsa dalam tindakan cinta yang penuh kasih, saya yakin generasi harapan bangsa itu akan mendapatkan sesuatu yang berbeda. Karena kasih Allah selalu menjadikan semuanya baru. Dengan kepenuhan di dalam kasih-Nya, orang tidak akan lagi lari mencari sesuatu yang bukan dari-Nya. Karena mereka tahu, semua yang bukan dari Allah adalah sementara. Hanya berupa loncatan dari satu dosa ke dosa lainnya. Satu ketergantungan ke ketergantungan lainnya. Hanya bersama DIA, kebebasan sepenuhnya akan tercipta. Iman akan Allah melepaskan ketergantungan negatif lainnya.

Kita semua perempuan berplester yang ingin sembuh, ingin melepaskan plester, koyok, perban, yang selama ini ada di tubuh kita. Yang selama ini ada di hati kita. Mari kita kembali kepada kasih Allah yang sejati. Kristus sendiri. Yang selalu mampu memulihkan dan membasuh semua luka dengan kasih-Nya. Proses yang terus-menerus ini hendaknya dimulai saat ini. Jangan hakimi orang lain, jangan hakimi remaja berplester, namun rangkul mereka dengan cinta. Tuhan, penuhi diri kami yang berplester ini dengan cinta-Mu.

HCMC, 27 November 2009

-fon-

* trims buat Ika Sugianti dan Riko Ariefano buat kesediaannya membagikan hal ini untuk saya jadikan tulisan. GBU frenz…! :)

Tuesday, November 24, 2009

Pertama Kali Kujumpa Dia


Ini bukan cerita cinta anak muda, walaupun judulnya seolah lagu Chrisye zaman baheulaJ

Namun, biarlah ini menjadi kenangan akan perjumpaan secara pribadi, di saat saya merasakan kedekatan yang pertama kalinya dengan Bunda Maria.

Dulu, saya senang sekali berkunjung ke PD Kristen, di mana begitu banyak musisi dan singer yang bagus-bagus. WL (Worship Leader)- nya keren, singer-nya keren, musiknya? Ala café. Itu amat menarik hati saya yang memang suka musik. Di saat itu, saya juga tengah katekumen di salah satu gereja Katolik di bilangan Jakarta Barat. Terus terang, Salam Maria walaupun doanya saya hafal luar kepala mulai dari SD karena saya bersekolah di sekolah Katolik, jauh dari pengertian saya akan pengenalan tentang Bunda.

Tetapi entah mengapa, saya juga tidak berniat untuk dibaptis secara Kristen. Saya menikmati musiknya, saya menyukainya, tetapi saya tidak berkeinginan untuk dibaptis di sana. Walaupun saya belum mengerti banyak, tetapi di awal tahun 2000 itu, saya tetap berkeinginan untuk jadi Katolik.

Tokh yang penting relasi saya dengan Allah Bapa, dengan Yesus, sisanya…? Maria kan tidak harus…Dan mungkin juga bisa menyusul belakangan. Jadi, di satu sisi, saya tidak memaksakan diri juga walaupun saya tahu, Katolik sangat menghormati Bunda.

Setelah dibaptis secara Katolik di akhir tahun 2000, saya pun mengikuti beberapa retret. Di saat itu, saya mengikuti satu retret yang mungkin sekarang sudah tidak diperkenankan lagi, yaitu retret pohon keluarga. Saya merasa bahwa itulah retret yang paling tidak ada hasilnya bagi saya. Maksudnya ketika ikut retret awal atau retret luka batin, saya langsung merasakan perubahan seketika. Dari insomnia, bisa tidur. Dari stress menjadi lebih tenang. Tetapi apa yang saya kira tidak berguna, menjadi perubahan yang sangat drastis ketika saya sampai di rumah.

Di kamar kos saya yang sedang besarnya itulah, pelan-pelan saya mulai berdoa. Yang entah mengapa kali itu mengumandangkan doa Salam Maria tanpa henti. Sampai saya merasakan hadirat-Nya. Sampai saya merasa tunduk atas-Nya sekaligus percaya bahwa Bunda Maria memang sungguh ada, sungguh istimewa, dan patut kita berdoa melalui perantaraannya.

Di hari itu, saya percaya dan menerima Bunda Maria sebagai Bunda gereja, sekaligus Bunda saya pribadi. Saat saya berkeluh kesah, saya pun berdoa melalui perantaraan Bunda. Sama sekali tidak saya kira, apa yang sepertinya sia-sia, ternyata berubah menjadi lautan suka cita yang lebih dalam bahkan melebihi kedamaian yang saya rasakan ketika pulang dari retret awal dan luka batin.

Setelah itu saya rajin berdoa Salam Maria, tetapi belum terlalu mau Rosario, karena berpikir itu doa yang panjang dan butuh konsentrasi. Saya masih merasa agak segan, mungkin agak malas, berdoa terlalu panjang. Lagi-lagi dikarenakan saya belum mengerti esensinya bahwa Doa Rosario bila didoakan secara serius adalah semacam meditasi yang amat baik juga.

Perubahan kembali terjadi. Ini adalah kali pertama di mana saya mendoakan Doa Rosario tanpa putus dari bulan Mei 2008 sampai hari ini saat saya menuliskan sharing ini. Juga ditambah Novena Tiga Salam Maria selama 2 minggu di bulan September awal, karena saya sungguh butuh Bunda dalam menghadapi beberapa hal besar di keluarga. Hasilnya? Puji Tuhan, masalah yang didoakan mulai membaik, ada titik terang. Juga saya merasakan damai luar biasa kembali percaya bahwa Tuhan berikan yang terbaik setelah sebelumnya terseok-seok menjalani roda kehidupan yang terasa berat. Berdoa melalui perantaraan Bunda memberikan saya kekuatan ekstra sekaligus berusaha menjalankan apa yang Bunda contohkan, “ Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Saya kira, ini hanya awalnya. Saya percaya bahwa Tuhan mendengarkan Bunda. Apabila kita berdoa melalui perantaraan Bunda, dia akan sampaikan kepada Putera-Nya dan apabila itu sesuai dengan kehendak-Nya, Dia tidak akan menolak permintaan itu.

Pertama kali kujumpa dia, aku terkesan sekaligus terkesima. Itu perasaan saya yang saya simpan sampai hari ini. Dia betul-betul ada dan hidup dalam doa-doa yang kita daraskan. Dia menjadi contoh ketaatan manusia akan rencana-Nya dan percaya bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik bagi dirinya.

Semoga kita bisa menjadikan Bunda sebagai teladan dalam hidup kita. Berdoa rosario, berdevosi, ataupun bernovena? Sudah bukan suatu hal yang aneh bagiku, bahkan itu sudah menjadi bagian hidupku. Thanks to Mother Mary. Thanks to Jesus. Thanks to the Lord. (-fon-)

November 2009

Sudah dimuat di majalah Katolik di Jakarta di tahun yang sama.

Friday, November 13, 2009

Kerahiman Ilahi Tetap Berjaya



Setelah saya menuliskan artikel yang berjudul Yesus Andalanku beberapa hari yang lalu, saya mulai membolak-balik buku kecil yang berjudul Devosi Kepada Kerahiman Ilahi karya Bapak Stefan Leks yang diterbitkan oleh Kanisius, 1993. Saya pun mulai mendoakan beberapa doa yang terdapat di dalamnya. Satu bagian yang hari ini terus terngiang di benak saya adalah ketika membaca catatan Suster Faustina berikut ini:

Pada tahun 1938, Suster Faustina mencatat:

Aku telah melihat kemuliaan ilahi yang memancar dari lukisan itu. Banyak jiwa menerima rahmat walaupun mereka tidak membicarakannya dengan lantang. Biarpun nasibnya kurang menentu, namun melalui lukisan ini Allah menerima kemuliaan, sedangkan usaha Iblis dan orang-orang jahat hancur berantakan dan sia-sia belaka. Biarpun Iblis mengamuk, kerahiman ilahi akan berjaya atas seluruh dunia dan akan dihormati oleh semua orang. (BCH/Buku Catatan Harian Suster Faustina, no.1789).

Saya perlu menjelaskan pandangan saya tentang Iblis terlebih dahulu. Jujur, topik ini bukanlah topik kegemaran saya. Saya amat jarang membicarakan soal Iblis. Yang walaupun memang saya yakini ada, namun saya juga tak hendak menghakimi bahwa Iblislah biang kerok segala sesuatu yang buruk yang terjadi di dunia ini. Sakit tidak sembuh-sembuh, karena Iblis. Tingkah laku tidak karuan, salahkanlah Iblis. Saya masih berpendapat bahwa tiap orang juga harus mengambil tanggung jawab atas perbuatan mereka. Kalau salah, ya salah. Terima dan kemudian perbaiki diri.Tidak perlu menjadikan Si Iblis sebagai kambing hitam. Mungkin pandangan ini juga bermula dari salah satu mata kuliah saya di Kursus Pendidikan Kitab Suci (KPKS) Santo Paulus, yang mendiskusikan kitab Yudas.

Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: "Kiranya Tuhan menghardik engkau!"(Yudas 1:9)

Dalam hal ini, saya tertarik dengan Mikhael, sang penghulu malaikat. Yang walaupun bertengkar dengan Iblis tidak berani menghakimi Iblis dengan menghujatnya, sebaliknya Mikhael berkata: “ Kiranya Tuhan menghardik engkau!”

Berpegang dari situ, saya tak hendak menghakimi Iblis. Biarlah Tuhan yang menghardiknya. Malaikat saja tak berani menghakimi Iblis. Sedangkan saya? Yang hanya manusia dan berdosa pula, mana berani saya menghakimi Iblis? Karena saya masih jauh dari level malaikat jadi bukanlah hak saya untuk menghakimi Iblis.

Saya tahu bahwa Iblis itu ada. Dan Iblis memang mengerjakan hal-hal yang jahat di dunia. Misalnya: pelan-pelan memasuki pikiran seseorang dan mulai meracuninya dengan pikiran-pikiran negatif. Contohnya: menyuruh bunuh diri, mengatakan diri kita tak berharga, mengatakan kita makhluk berdosa yang tidak pantas untuk menikmati kebaikan Tuhan. Mengulangi terus ketidakpantasan dan ketidaklayakan kita untuk mendapatkan hal-hal yang baik dan mengingatkan kita akan masa lalu yang kelam yang pernah jadi bagian dari hidup kita. Baiklah, anggaplah itu ‘job description’ Sang Iblis. Tapi, masalahnya, kembali lagi kepada diri kita, apa kita mau ikuti kata-kata negatif itu? Atau kita memilih untuk mengakui memang pikiran itu pernah ada, namun kita tidak mengikutinya melainkan membawa hal negatif tersebut kepada Tuhan. Sehingga bisa tergantikan dengan hal-hal positif yang berasal dari-Nya. Mengakui bahwa aku memang bersalah, memang berdosa, namun Tuhan sudah mengampuni dosa kita. Asalkan kita mau bertobat.

Iblis boleh berusaha keras merusakkan dunia. Iblis boleh dengan gigihnya berusaha memasuki pikiran manusia lewat hal-hal berbau penghakiman terutama soal dosa-dosa dan ketidaklayakan seseorang. Dan Iblis boleh mengamuk dengan ganasnya. Namun, pada akhirnya, menurut BCH Santa Faustina no.1789 di atas, kerahiman ilahi akan berjaya atas seluruh dunia dan akan dihormati oleh semua orang.

Lebih baik kita melihat rahmat dan karya Tuhan dalam hidup ini, daripada terus-terusan melihat segala sesuatu disebabkan oleh Iblis dan Iblislah yang merusakkan semuanya. Daripada main tuding sana-sini, orang lain, ataupun Iblis, lagi-lagi saya lebih suka mengambil tanggung jawab atas semua tindakan yang pernah dilakukan dan mau bertobat bila memang saya melakukan kesalahan. Dengan tidak membiarkan Iblis berlama-lama menyusupi pikiran kita, sebaiknya kita mulai lebih kuat membina iman kita dengan kedekatan relasi melalui doa yang dipanjatkan kepada-Nya. Dengan demikian kita makin percaya bahwa kerahiman ilahi pada akhirnya akan berjaya. Bukan saja di hari ini, namun untuk selama-lamanya. Tidak perlu takut ataupun ragu akan kerahiman-Nya. Akan belas kasih-Nya pada dunia ini. Seburuk apa pun kondisi dunia pada saat ini, sejelek apa pun nantinya yang akan terjadi akibat pengaruh kejahatan yang terus berkembang tanpa kendali, saya tetap percaya bahwa Tuhan Yang Maha Rahim akan tetap berjaya. Kerahimannya akan terus terbukti dan dihormati semua orang. Senang mengetahui bahwa inilah yang akan terwujud. Dan marilah kita berdoa, berdevosi, bahwa Yesuslah andalan kita satu-satunya dalam kehidupan ini. Tiada yang lain, hanya Yesus!

HCMC, 13 November 2009

-fon-

sumber gambar:

http://www.drstandley.com/images/saints/St_FaustinaKowalska.jpg

Monday, November 9, 2009

Yesus Andalanku



Dua hari sebelum berangkat ke Saigon

Seorang teman baik, memberikan saya salib. Bentuknya kecil, cukup mungil sehingga memudahkan saya untuk membawanya. Dia bilang, maksudnya untuk tetap mengingatkan saya agar tetap berdoa. Namun, saya memandangnya sebagai hal yang lain. Saya merasa diingatkan agar selalu setia pada salib yang saya pikul. Kesetiaan yang setidaknya mengacu kepada kesetiaan Yesus yang tetap setia sampai mati di kayu salib.

Salib bagi tiap orang memang macam-macam. Terkadang bagi orang lain, terlihat seperti sesuatu yang ringan atau sebaliknya terlihat sebagai sesuatu yang berat. Bagi orang yang menjalankannya, tergantung pemahamannya akan salib. Tergantung pula relasi yang bersangkutan dengan Allah. Tergantung pula akan cara pandangnya terhadap hidup dan kemauan untuk belajar terus untuk menjadi lebih baik. Salib, mengingatkan saya bahwa saya berjalan dalam hidup yang tidak selalu mudah, tetapi salib (dosa manusia) yang tidak seharusnya ditanggung Yesus pun, mau Dia tanggung. Mengapa saya tidak mau tabah dalam memikul salib saya? Hal itu pun menyadarkan saya untuk mengandalkan Yesus dalam hidup ini. Karena saya tidak selalu kuat, saya tidak pernah tahu di depan nanti ada permasalahan macam apa yang ditawarkan kehidupan kepada saya. Namun, dengan mengandalkan Yesus, dengan setia bersama Dia, segala perkara mampu ditanggung di dalam Dia yang mengasihi kita.


Misa pertama saya di gereja lokal Vietnam kemarin…

Di Na Tho Thi Nghe inilah saya mendapatkan pengalaman pertama misa dalam Bahasa Vietnam. Na Tho berarti Gereja. Thi Nghe adalah nama gerejanya. Bahasa di misa tidak saya mengerti sama sekali. Tidak ada satu pun kata yang nempel di otak saya ketika saya mendengarnya. Tetapi, ada beberapa lagu yang mirip dengan lagu Bahasa Indonesia, seperti lagu ini yang pernah saya dengar di misa Taize:

Tuhan dengarlah doaku ini, hadirlah disini
Tuhan dengarlah doaku ini, dengarkanlah aku...

Lagu ini dinyanyikan ketika doa umat dipanjatkan, setiap akhir doa umat, disambung dengan irama lagu ini. Dan ternyata misa dalam Bahasa Vietnam amat kaya akan lagu. Dari awal sampai akhir, saya sudah mendengar lagu-lagu berirama sederhana yang memenuhi pembukaan sampai penutup misa. Banyak bagian yang biasa diucapkan Romo dalam Bahasa Indonesia atau misa dalam Bahasa Inggris, dinyanyikan dalam Bahasa Vietnam. Lucu juga sekaligus menyenangkan memiliki pengalaman baru seperti ini. Minggu-minggu depan, saya akan mencari misa dalam Bahasa Inggris yang ada di dua gereja di sini. Salah satunya di Saigon Notre- Dame Basilica yang juga merupakan salah satu obyek wisata terkemuka di sini. Mumpung ada tetangga, seorang Vietnam yang mengajak ke gereja lokal minggu ini, biarlah pengalaman ini menjadi pengalaman baru yang memperkaya saya.

Anak-anak kecil yang tengah katekumen (belajar agama) masih dilatih menyanyikan lagu (yang saya duga) semacam Aku percaya atau kemuliaan. Dari pukul 07.30 mereka menyanyi sampai menjelang misa pukul 08.00 pagi. Hati saya campur baur, satu sisi memang tidak mengerti, sisi lain mengagumi kebesaran Tuhan yang disembah oleh seluruh bangsa dalam berbagai bahasa. Namun, Tuhan yang kita sembah dan kita puja itu adalah satu, Kristus sendiri. Pengalaman ini menakjubkan! Terbayang, di banyak belahan dunia: dari Afrika, Eropa, Asia, Amerika, Australia, dan Antartika, Tuhan Yesus disembah dalam segala bahasa lokal. Namun, tidak mengurangi kekhusyukan mereka dalam berdoa. Tuhan memang ajaib! Dia bisa menyentuh hati setiap insan. Dalam budaya, bahasa, adat, kebiasaan yang berbeda, Tuhan selalu menyapa dengan khas. Tuhan mengerti hati setiap manusia. Tuhan mengerti hati setiap umat-Nya!

Di samping kanan altar, terdapat gambar Yesus Andalanku. Dari seminar Devosi Kepada Kerahiman Ilahi yang saya ikuti di Jakarta beberapa tahun yang lalu, dosen saya di KPKS (Kursus Pendidikan Kitab Suci) Santo Paulus, Bapak Stefan Leks sempat menjelaskan soal gambar Yesus, Engkaulah Andalanku. Dan sedikit cuplikan yang saya ambil dari internet adalah sebagai berikut:

Pada tanggal 22 Februari 1931, Tuhan kita menampakkan diri kepada St Faustina dalam suatu penglihatan. Ia melihat Yesus berjubah putih dengan tangan kanan-Nya terangkat untuk menyampaikan berkat, sementara tangan kiri-Nya menunjuk pada hati-Nya, darimana dua sinar besar memancar, satu berwarna merah dan yang lainnya berwarna pucat. St Faustina terpaku menatap Tuhan dalam keheningan, jiwanya diliputi rasa takut sekaligus sukacita yang besar. Yesus berkata kepadanya:

“Buatlah sebuah lukisan menurut gambar yang engkau lihat dengan tulisan di bawahnya: Yesus, Engkau Andalanku…. Aku berjanji, jiwa yang menghormati lukisan ini tak akan binasa. Aku juga menjanjikan kemenangan atas para musuhnya bahkan sejak di bumi ini, dan teristimewa pada saat ajal. Aku Sendiri yang akan membelanya sebagai kemuliaan-Ku (47,48).… Aku menawarkan timba kepada jiwa-jiwa dengan mana hendaknya mereka terus-menerus menimba rahmat-rahmat dari sumber belas kasih. Timba itu adalah lukisan ini dengan tulisan: `Yesus, Engkau Andalanku' (327)…. Aku menghendaki lukisan ini dihormati, pertama-tama di kapelmu, dan lalu di seluruh dunia (17).”

Taat pada permintaan pembimbing rohaninya, St Faustina menanyakan kepada Tuhan makna kedua sinar yang memancar dari hati-Nya. Maka, ia mendengar kata-kata berikut sebagai jawaban:

“Kedua sinar itu melambangkan Darah dan Air. Sinar pucat melambangkan Air yang menguduskan jiwa-jiwa. Sinar merah melambangkan Darah yang adalah hidup jiwa-jiwa. Kedua sinar ini memancar dari kedalaman belas kasih-Ku saat Hati-Ku yang sengsara dibuka oleh sebilah tombak di atas Salib… Berbahagialah jiwa yang tinggal dalam naungannya, sebab tangan keadilan Tuhan tidak akan menimpanya (299).… Dengan sarana lukisan ini, Aku akan menganugerahkan banyak rahmat kepada jiwa-jiwa. Lukisan ini akan menjadi sarana pengingat akan tuntutan-tuntutan belas kasih-Ku, sebab bahkan iman yang terkuat sekalipun tak akan ada gunanya tanpa perbuatan (742).”

Pada tanggal 2 Januari 1934, Sr Faustina untuk pertama kali meminta Tn. Kazimierowski melukis gambar Yesus Yang Maharahim.

Pada bulan Juni 1934 lukisan selesai dibuat, tetapi Faustina menangis kecewa karena lukisan tidak seindah penampakan yang disaksikannya. Kepada Yesus ia mengeluh, “Siapakah kiranya yang akan dapat melukis Engkau seagung Engkau sendiri?” Sebagai jawab, ia mendengar kata-kata berikut:

“Keagungan lukisan ini bukan terletak pada indahnya warna ataupun goresan kuas, melainkan dalam rahmat-Ku (313).”

Oleh karenanya, walau sekarang ini ada banyak versi lukisan “Yesus, Engkau Andalanku,” kita dapat senantiasa yakin bahwa tak peduli lukisan versi mana yang kita pilih, lukisan tersebut merupakan sarana rahmat Tuhan jika kita menghormatinya dengan penuh kepercayaan akan kerahiman-Nya. (sumber: http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/id354.htm, di mana salah satu referensi buku yang dipakai adalah Yesus, Engkaulah Andalanku dari Stefan Leks, terbitan Kanisius tahun 1993.)


Lagi-lagi saya merasakan sapaan Tuhan untuk tetap mengandalkan Dia dalam hidup ini. Di mana pun saya di tempatkan. Bahkan di negeri antah-berantah yang tak saya mengerti bahasanya, seperti di sini. Anehnya, saya tidak merasa asing di sini. Mungkin juga karena Saigon mirip Indonesia. Mungkin juga karena orang-orangnya cukup ramah biarpun mereka tak banyak mengerti Bahasa Inggris. Setidaknya saya tidak merasa ketakutan di sini. Saya cukup merasa nyaman. Dan biarpun perubahan terjadi begitu bertubi-tubi, masalah datang tanpa terkendali, dalam hidup ini hanya ada satu cara bagi saya: mengandalkan Tuhan.

Lukisan itu mengingatkan pula akan kerahiman Ilahi. Doa Kerahiman Ilahi dan Santa Faustina. Mengingatkan saya akan dosen yang memperkenalkan hal ini kepada saya, Pak Stefan Leks. Dan mengingatkan pula agar tetap setia, tidak takut akan apa pun. Karena ketakutan adalah manusiawi, pasti pernah terjadi. Namun, penting agaknya untuk tidak didikte oleh ketakukan tanpa bisa melakukan apa pun. Seolah terpenjarakan oleh ketakutan itu sendiri.

Yesus akan tetap menjadi andalan saya. Saya akan terus memperjuangkan hal itu. Untuk hari-hari yang tak pernah kita tahu di depan sana. Untuk hari ini. Untuk selamanya. Jezu Ufam Tobie (bahasa Polandia yang berarti Yesus, Engkaulah Andalanku). Di mana pun, sampai kapan pun. Amin.

HCMC, 9 November 2009

-fon-

* ucapan terima kasih khusus untuk Bapak Stefan Leks. God bless you, Pak. Saya berterima kasih untuk persahabatan dan pengajaran Bapak selama 3 tahun di KPKS St. Paulus, Jakarta.

sumber gambar: