Friday, December 24, 2010

Dekil



*** self-talk within me

“ Dekil, kamu…”

“ Emang… Aku gak pernah menganggap diriku putih tanpa noda, koq… Jadi, kuakui memang aku ‘dekil’ . Bukan berarti aku jarang mandi, lho… Tapi memang aku tak cukup bersih, masih diliputi dosa dan kesalahan… “

“ Jangan sok bersih, kamu…”

“ Oh, aku tidak pernah merasa diriku sok bersih. Malulah sama tetangga. Dan apa kata dunia? Haha… Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah tetapi terus berusaha untuk hidup lebih baik hari lepas harinya…”

“ Sekali dekil, tetap dekil. Merdeka!”

“ Wuih, aku tidak setuju sama yang satu itu… Kuakui memang kedekilan itu tidak bisa hilang 100%, tetapi dengan usaha yang lebih baik dan berjuang lebih keras, tentunya kedekilan itu bisa berkurang kadarnya. Besok-besok berkurang dekilnya lah yaw…”

“ So, apa kabar, Kil (baca: Dekil)? How’s your day lately?”

“ Oh, aku baik-baik saja. Trying my best to cope with whatever I encounter in my daily life…Dan dengan hadir-Nya di hidupku, setidaknya aku bisa meminimalisasi kedekilan itu…Karena sudah hadir, detergen terampuh untuk mencuci semua kedekilanku yaitu kasih-Nya. Kuakui ku tak sempurna, banyak salah, masih pernah iri-dengki-cemburu-dendam… Tetapi, dengan kasih-Nya, kuyakin aku bisa melampaui itu semua. Bukan karena kekuatanku, tetapi karena dukungan-Nya yang tak henti pada diri mereka yang terus berjuang untuk mencerminkan hidup yang bercirikan karakter yang lebih baik lagi…”

“ Jadi! Usahlah kauganggu diriku dengan hinaan bernada dekil begitu…. Biarkan aku maju, bergerak menjadi seputih salju dengan bimbingan-Nya yang menuntun tanganku…Gih, minggirrrr…. Permisiiiii, aku mau lewatttt…”

Demikianlah percakapan yang terjadi di dalam hati menjelang Natal ini. Biarlah kupercayakan sekali lagi, aku yang ‘dekil’ dan tak sempurna ini, punya kesempatan untuk jadi putih berseri… Dalam iman kupercaya bahwa Tuhan akan mampu ubahkan diriku asalkan adanya niatan yang kuat di hatiku.

Selamat Natal buat semua yang merayakan. Bersyukur untuk hadirnya Yesus di hidup para pengikut-Nya dan semoga kita tidak menyia-nyiakan semua kebaikan-Nya di hidup kita…

Ho Chi Minh City, 24 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya

sumber gambar:

zastavki.com

Friday, December 17, 2010

ReSiPI- Lord, Don’t Move the Mountain



Oh Lord You Don't Have To Move The Mountain
But Give Me The Strength To Climb
And Lord, Don't Take Away My Stumbling Blocks
But Lead Me All Around

(Lord, Don’t Move the Mountain – one of the Soundtrack from The Pursuit of Happyness)

Ketika gunung permasalahan berada di hadapan. Apa doa kita? Apa kita memohon agar gunung itu dipindahkan, bahkan dihilangkan begitu saja dari kehidupan kita? Ah, ‘kan Tuhan Mahakuasa… Pastinya gunung permasalahanku kecil saja di tangan-Nya. Sentil sedikit, hilang sudah. Mengapa tidak Kaubantu aku untuk melenyapkannya seketika? Mungkin itu pinta kita…

Tetapi, lagu dari film Will Smith yang berisi ketegaran seorang pria dalam menapaki kehidupan yang tidak mudah sampai dia berhasil – The Pursuit of Happyness- itu mengajarkan saya untuk terus memohon kepada Tuhan dengan cara yang berbeda.

“ Tuhan, Kau tak perlu memindahkan gunung permasalahanku, tetapi berikanlah aku kekuatan untuk mendakinya.”

Permasalahan takkan berhenti. Persoalan akan datang silih berganti. Tetapi kita percaya bahwa dengan mengandalkan Tuhan, kita akan dimampukan untuk mendaki segala gunung permasalahan yang ada untuk kemudian menjadi kuat di dalam hidup ini. Bukan melulu dengan kuat kita, karena kita tak selalu sanggup untuk jalan sendirian… Namun, dengan bimbingan-Nya. Semoga kita senantiasa mau berdoa dan terus berusaha sambil mengharapkan-Nya di saat semua permasalahan melanda… Sehingga kita bisa berseru: Tuhan, beri aku kekuatan untuk melewati semua permasalahan ini bersama-Mu. Amin.

Ho Chi Minh City, 17 Desember 2010

-fon-

* ReSiPI: rubrik yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

sumber gambar:

ourayvacations.com

Monday, December 6, 2010

Kau Memang Layak Dikagumi!


* featuring: Franky Sihombing via lagunya dan imajinasiku..

Franky:

Belum pernah ada
Kasih di dunia
Sanggup menerima diriku apa adanya
Selain kasih-Mu, Yesus

Fon:

Bener banget, tuh Kak Franky…

Aku juga sudah merasakan hal yang sama. Begitu kasihnya Allah pada diriku, juga diri kita semua, jika saja kita menyadarinya. Pernah di satu masa, aku merasa seolah aku bukanlah orang yang layak dikasihi atau mendapatkan cinta sejati. Terkadang sikap mengasihani diri juga timbul, karena aku belum tahu akan figur yang penuh kasih itu. Saat momen indah itu tiba, kuterima Yesus dan merasakan kasih-Nya yang luar biasa… Aku merasa amat bahagia, sukacita… Tak pernah kurasakan sebelumnya. Walaupun hari-hari sesudahnya mungkin rasa berbunga-bunga itu sudah berganti menjadi rasa tenang dan damai, aku tetap mengingatnya sebagai perubahan drastis dalam hidupku. Saat aku mengenal-Nya secara pribadi, saat Dia masuk ke dalam hidupku pertama kalinya. Terima kasih, Yesus:)


Franky:
Tak
kan ada lagi
Kasih seperti ini
Sanggup mengubahkan hidupku
Menjadi baru
Selain kasih-Mu, Yesus

Fon:

Memikirkan dan merasakan kasih-Mu yang nyata dalam hidupku, Yesus… Membuatku merasa harus terus mengucap syukur dan berterima kasih yang tak kunjung putusnya. Aku berterima kasih atas hadir-Mu, kemampuan-Mu mengisi kekosongan di dalam hatiku. Yang aku tahu, takkan pernah mampu diisi atau digantikan oleh siapa pun atau apa pun. Aku bisa mencobanya dengan mencari dari berbagai sumber di dunia ini… Sumber cinta dan kepenuhan yang kukira bisa menggantikan kasih-Mu… Tetapi aku tahu, pada akhirnya kesemuanya itu akan tetap menempatkanku pada kehampaan. Mungkin kebahagiaan semu yang sementara, tetapi sekejap berlalu dan kosong itu kembali memonopoli hatiku. Kusadari bahwa hanya kasih-Mu yang sanggup menjadikanku baru di setiap harinya. Dan kasih itu pulalah yang memampukan aku mengasihi sesama. Mengasihi keluarga, teman, dan orang-orang yang kujumpai dalam perjalanan hidupku dengan lebih baik lagi. Karena aku mendapatkan kekuatan baru untuk mengasihi dari-Mu yang penuh cinta. Terima kasih, Yesus:)



Franky:

Kau...
Ku kagumi dalam hati
KasihMu tiada duanya
Sampai kini, ku akui
Kasih-Mu tiada duanya.

Fon:

Dannnn pada akhirnya….

Apa lagi yang harus kukatakan?

Selain: aku memang mengasihi dan mengagumi Engkau, Yesus. Karena Kau memang layak dikagumi. Pribadi-Mu yang penuh kasih, penerimaan-Mu yang luar biasa atasku-atas kami semua anak-anak-Mu…. Kebaikan-Mu untuk mau mati di kayu salib bagi kami semua…

Ah, aku kehabisan kata-kata, Yesus!

Kau kukagumi dalam hati, seperti kata Bung Franky…

Bukan hanya dalam hatiku semata, kuharap kekaguman itu membawaku melangkah lebih tinggi dalam kehidupan ini…

Dengan menunjukkan kebanggaan itu pada sesama dan menapaki hari-hari penuh cinta bersama-Mu…

Hanya bersama-Mu…

Setia pada-Mu,

berusaha terus dekat dengan-Mu,

bergiat menjalankan perintah-Mu…

Sebagai bukti kekagumanku dan luapan rasa terima kasihku!

Thank You, Jesus!:)

Ho Chi Minh City, 6 December 2010

-fon-

*Special thanks to Franky Sihombing’s Song: Kasih-Mu Tiada Duanya. Dan duetnya dengan tulisanku di malam ini. The biggest thanks should go to Jesus for your everlasting kindness and goodness in my life..

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

Wednesday, December 1, 2010

ReSiPI (Renungan Singkat Penyegar Iman)-Tuan dan Hamba


Bos-anak buah, atasan-bawahan, majikan-pembantu/sopir/buruh, adalah relasi yang selalu ada di dalam kehidupan ini. Terkadang kita tengah berada di posisi baik dan berada di puncak prestasi. Tengah dipercayakan-Nya kendali perusahaan, diberikan-Nya kelimpahan, dan tengah menerima berjuta kesenangan dalam jabatan. Semoga kita tetap ingat untuk berlaku jujur kepada hamba-hamba (orang yang di bawah kuasa kita), karena kita pun punya Tuan dari segala Tuan yang ada di surga yang terus mengetahui tingkah laku kita sepandai apa pun kita menutupinya. Allah tak pernah tertidur.

Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.

--- Kolose 4:1

Sedangkan bila kita tengah berada di posisi tengah, punya atasan dan punya bawahan, tentunya kita pun tahu bagaimana harus bersikap. Menempatkan diri sebaik yang kita bisa, tanpa perlu bersombong diri agaknya menjadi pilihan yang tepat. Dan ketika diberikan suatu tugas, hendaknya kita lakukan dengan baik. Tulus, bukan hanya di depan mereka saja seperti yang kita kenal dengan gejala ABS ( Asal Bapak Senang)… Melainkan berusaha dengan keras untuk tetap konsisten melakukan yang terbaik, walaupun bos tidak sedang di tempat.

Begitu pula saat kita tengah berada di posisi terbawah, menjadi ‘hamba’ misalnya. Tak perlu berkecil hati, tetaplah setia pada perkara kecil karena dengan demikian bila waktu-Nya tiba, Dia akan percayakan perkara-perkara yang lebih besar. Tetaplah bekerja keras dan jujur, tak peduli di mana pun posisi kita saat ini.

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

--- Kolose 3: 22-23

Semoga kita semua bisa berbuat seolah demi kemuliaan Tuhan dan bukan untuk manusia-apa pun peranan atau di mana pun posisi kita pada saat ini. Tentunya, ini bukanlah hal yang mudah. Pasti butuh proses dan perjuangan di tiap harinya. Pasti mengalami jatuh-bangun juga. Tetapi, mari kita tak menjadi putus asa untuk terus berbuat baik bagi Tuhan dan semoga itu tercerminkan dalam sikap kita kepada sesama. Tak peduli mereka Tuan ataupun hamba, tetap kita berlaku penuh kasih sekuat yang kita bisa. Terus usaha, with God there’s no such mission impossible. With God, impossible is nothing. :)

Ho Chi Minh City, 2 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.


* ReSiPI: rubrik yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

Monday, November 22, 2010

Seruan Hatiku


***Based on 1 Samuel 1:1-28

Tak ada orang yang akan mengerti perasaanku.Tidak ada!

Yang mereka lakukan hanyalah mencemooh diriku. Menorehkan luka di hatiku. Terlebih lagi, maduku itu. Dia-yang sudah memberikan banyak anak pada suamiku-merasa lebih tinggi martabatnya ketimbang diriku.

Terbayang tatapan dan ucapan sinisnya.

“ Dasar mandul! Sekali mandul ya tetap mandul!”

Aku diam.

Mencoba menenangkan perasaanku yang sebetulnya menjerit minta dikasihani. Tetapi, setelah tahun demi tahun kandunganku selalu kering- tak pernah berisi seorang jabang bayi pun-aku jadi terbiasa. Menahan sakit hati, bukanlah hal baru bagi diriku. Dia sudah jadi bagian hidupku.

Kugigit bibirku sendiri, sampai sedikit berdarah. Aku tak sanggup lagi sebetulnya menerima kenyataan ini. Terlalu pahit bagiku harus melihat kemegahan itu di hadapanku setiap hari. Megah bagiku, karena aku tak memiliki sedikitpun bagian dari itu.

Kami serumah dan dia-maduku itu- merajalela.

Juga anak perempuan dan lelakinya. Sedangkan El, suamiku oh maksudku suami kami (tak rela ungkapkan ini, tapi inilah kenyataan yang ada) terlalu sibuk untuk memperhatikan diriku. Mungkin juga perasaannya yang telah berubah padaku karena aku tak kunjung memberikan keturunan padanya. Aku merasa dia lebih memperhatikan maduku. Iri? Atau cemburu? Mungkin gabungan keduanya… Karena dia punya segala yang kuimpikan: anak dari rahimku sendiri.

Dalam sedih dan kepiluan mendalam… Aku mencari rumah ibadah, tempat kami biasa datang sekeluarga bila ada perayaan khusus. Hatiku hancur luar biasa. Dan dalam keremukan itu, aku memanjatkan doa:

“ Tuhan, bila Kau mengizinkan aku menimang seorang anak dari rahimku sendiri. Akan kupersembahkan dia kepada-Mu untuk mengabdi dan setia sepanjang hidupnya.”

Ah, kutepis inginku. Juga anganku. Mungkin aku bermimpi karena pada kenyataannya sudah sekian lama aku tak jua mampu memberikan seorang anak bagi suamiku. Tiba-tiba kusadari, tak ada orang lain yang lebih mengerti perasaanku selain diri-Nya. Keyakinan itu berpadu dengan keraguan yang menyapa dan menyergapku secara mendadak. Mungkinkah Dia mengerti? Bukankah tak seorang pun tahu keluhku? Mereka cenderung hanya bisa memojokkanku dan membuatku terpuruk dalam untaian kesedihan tanpa akhir…

Tuhan, adakah Kaudengar seruan hatiku?

Aku komat-kamit berdoa. Beberapa orang memandangiku dengan aneh. Bahkan kudengar mereka berbisik bahwa ada seorang gila di rumah ibadah ini. Pasti maksudnya diriku!

Aku tak hendak melawan. Biarlah mereka bicara sesuka hati mereka. Dan biarlah aku lakukan apa yang membuat diriku tenang. Karena ketiadaan keturunan selama ini sudah membuat diriku dipenuhi lautan kepedihan tanpa batas yang kukira tak seorang pun tahu.

Aku pulang dan berlalu. Berharap kali ini doaku akan dijawab. Tetapi aku tak berani berharap banyak, karena kekecewaan sudah bertubi-tubi menghantamku. Harap, mungkinkah kausirami hatiku yang gersang ini kembali?

***

Ajaib!

Setelah doa dan keluhan penuh rasa amarah-frustrasi dan kecewaku itu, aku dinyatakan hamil. Dan yang amat membahagiakan adalah ketika dia lahir dan aku memeluk dirinya. Anakku yang sudah kutunggu-tunggu bertahun-tahun lamanya. Dia hadir memenuhi hari-hariku dengan tangisnya, dengan ompolnya, dengan celotehnya yang belum kumengerti. Dan suamiku jadi lebih betah tinggal di dekatku. Samuel, jadi berkat bagi kami sekeluarga…

Maduku?

Oh, dia tak lagi bersuara… Dia tak lagi bisa menuduhku sebagai perempuan mandul karena Samuel adalah bukti kasih Tuhan kepadaku.

Aku amat bahagia. Dia memang selalu dengarkan seruan hati kita semua umat manusia. Dalam keputusasaan, terkadang aku merasa mungkin Dia terlalu sibuk bahkan sudah melupakan diriku yang kecil dan tak berarti ini. Namun, kenyataan kembali membuktikan bahwa Dia selalu dengar setiap doa. Dia memonitor setiap seruan hati yang diutarakan secara tulus kepada-Nya.

Tuhan, terima kasih. Kupersembahkan anak kami kepada-Mu. Seumur hidupnya, terserahlah ia kepada-Mu, Tuhan…

Aku percaya bahwa Tuhan tak pernah meninggalkanku. Samuel adalah bukti terindah bahwa kesetiaan-Nya akan janji-Nya takkan pernah berubah. Terima kasih, Tuhan!

Ho Chi Minh City, 23 November 2010

-fon-

* mengingat kembali saat-saat mata kuliah Narasi di KPKS. Mencoba menuangkannya dengan nuasa penulisanku sambil mencoba menangkap perasaan Hana di teks Kitab Samuel tersebut.

sumber gambar:

fpbookroom.org

Wednesday, September 1, 2010

Sukacita



Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

--- Yoh. 15:11

Sukacita? Apakah itu?

Mungkin beberapa dari kita merasa sukacita adalah hal yang ada di awang-awang, impian belaka, tidak realistis. Karena selama hidup berarti akan banyak masalah, hambatan, kegagalan, kepedihan, kekecewaan, ketakutan, dan emosi-emosi negatif lainnya. Sehingga jika ada yang mendengungkan soal sukacita, kita lalu bertanya dengan skeptis: sukacita??? Adakah ia?

Jujur, selama sebulan terakhir, saya tengah dilanda sukacita karena berita kehadiran buah hati kami yang kedua. Kemudian, hari-hari sesudahnya berubah menjadi hari-hari penuh perjuangan karena kondisi kehamilan yang tidak mudah. Saya hampir tidak bisa makan, minum pun mual. Muntah sudah jadi makanan sehari-hari. Sehingga rasa segan terkadang menyerang. Ngapain makan, kalau nantinya muntah lagi? Tetapi, apa pun yang terjadi, saya harus tetap makan demi kesehatan saya dan buah hati yang dititipkan-Nya di rahim saya.

Hari-hari selanjutnya menjadi hari-hari yang merangkak perlahan. Merayap. Sulit dilewati. Ditambah lagi kondisi dari hasil cek darah yang menunjukkan beberapa masalah. Hati saya pun menjadi gelisah. Bagaimana ini, bagaimana anak saya? Saat itu pun, saya pernah merasakan: sukacita, di mana ada?

Di antara semua kondisi tersebut, adalah suatu sukacita terbesar, ketika aku masuk ke ruang dokter. Mendengarkan denyut jantungnya, melihat dia ada di dalam kandunganku. Itulah sukacita terbesar, untuk kemudian berusaha kuat menjalani hari-hari yang tidak mudah. Dengan kondisi yang lemah, aku berusaha mengerti esensi dari sukacita itu sendiri.

Sukacita itu ada. Sukacita itu berasal dari-Nya. Sehingga, dalam keadaan sesulit apa pun, walaupun dengan asupan makanan yang tak banyak itu, aku menjalani hari-hariku. Ketika kekuatiran menyerang, ketika ketakutan melanda, aku tetap berpegang pada tangan-Nya yang selalu membimbingku. Mempercayai Dia sekali lagi dan menemukan sukacita itu ada di dalam hatiku. Sukacita-Nya yang meliputi hatiku. Aku sadar, adalah satu anugerah merasakan ini semua sekali lagi. Aku sadar, bahwa: everything happens for a reason. Dan pada akhirnya, biarlah dalam keadaan apa pun, dalam kondisi sesulit apa pun, kita tetap percaya bahwa sukacita-Nya takkan pernah berhenti mengaliri kehidupan kita bak sungai yang tak pernah kering!

Jakarta, 1 September 2010

-fon-

sumber gambar:

http://www.christianpost.co.id/life/DailyQT/20050313/2449/sukacita-melalui-penderitaan/

Thursday, August 19, 2010

Dia Berbisik Padaku…


Dini hari.

Antara setengah tidur, setengah terjaga, kulihat bayangan itu. Seorang perempuan. Awalnya wajahnya mirip Sherina dengan lagu ‘Geregetan’ yang jadi iklan itu, tetapi tiba-tiba wajahnya berubah. Rambutnya memanjang dan wajahnya berubah menjadi lebih mengerikan. Ah, kutepis pikiranku sendiri. Mungkin ini efek terlalu banyak nonton ‘Ghost Whisperer’-nya Jennifer Love Hewitt beberapa waktu yang lalu. Tetapi, adakah perempuan ini nyata? Atau hanya bayangku semata?

“ Akan kuambil bayimu. Berikan padaku,” begitu ujarnya. Seram. Bernada mengancam.

Dengan tenang, walaupun diliputi sedikit rasa takut, aku katakan, “ Jangan harap aku bisa menyerahkan apa yang sudah diberikan-Nya padaku. Lebih baik kau pergi saja, jangan menggangguku.”

Segera kudaraskan doa-doa mulai dari Salam Maria, sampai butiran kerahiman Ilahi yang dipopulerkan Santa Faustina. Berharap doa-doa itu ampuh untuk mengusir roh-roh jahat yang datang mengganggu. Jujurnya, aku bukan orang pemberani. Aku masih sama, orang yang tidak senang nonton film horor seperti masa kecilku dulu. Tetapi, ketika bertemu dengan hal-hal semacam ini, adakah cara lain selain berdoa?

Masih terlarut dalam kondisi saat itu, aku tetap berdoa. Tidurku tak lagi nyenyak. Kemarin dini hari juga kudengar suara perempuan yang mual dan muntah, seperti diriku. Tetapi, aku sendiri tengah berbaring di tempat tidur. Adakah itu suaranya?

Perlahan, bayangannya datang lagi. Tak lagi seseram sebelumnya. Malah kali ini dia mengajukan suatu permohonan, dia minta didoakan.

“ Soal apa?” tanyaku.

“ Aku membunuh anakku sendiri, makanya aku tak bisa mengampuni diriku dan aku tak bisa lancar menuju Tuhan.” Jawabnya lirih.

“ Mengapa kaulakukan itu?” Tanyaku lagi.

“ Suamiku tak mau menerima kami. Maka kuputuskan untuk membunuh bayiku, kemudian bunuh diri.” Jawabnya getir.

Pahit. Tragis. Aku mengganggukkan kepala.

“ Baik, aku doakan.” Jawabku.

“ Terima kasih,” katanya.

Segera kupanjatkan doa:

“ Tuhan ampunilah kesalahannya semasa hidupnya. Semoga dia beroleh pengampunan-Mu.”

Dia melambaikan tangannya sekali lagi padaku. Sambil menggendong seorang anak kecil yang kupikir adalah anaknya.

Bisikannya perlahan tapi pasti, “ Terima kasih.”

Malam-malam sesudahnya tak pernah lagi kudengar suara muntah-muntah itu yang pernah kudengar beberapa malam sebelumnya. Juga tak ada lagi wajah seram yang mengancam. Berdiri di antara kenyataan ataukah fantasiku semata. Entah. Yang pasti, doa tulusku kupanjatkan kepada-Nya bagi wanita itu dan bayinya.

Jakarta, 19 Agustus 2010

-fon-

Monday, August 9, 2010

ReSiPI: Hakim-Hakim


Pernah terjadi, ketika saya melihat seseorang melakukan hal yang buruk, langsung otak saya berpikir dan mencapai suatu konklusi. Seringnya, konklusi itu adalah penghakiman atas diri orang tersebut. Contohnya: ih, tuh orang sombong sekali! Norak pula, mau pamer saja kerjanya. Tanpa sadar, saya pun begitu, jadi saya memperhatikan apa yang tidak saya sukai dari diri saya dengan melihatnya pada diri orang lain. Contoh lain: mungkin kita tidak suka dengan seorang teman yang tukang gosip, tanpa sadar kita pun menempatkan gosip sebagai hobi di peringkat pertama. Mengenaskan, bukan? Seolah kita begitu mulia dengan menghakimi orang lain, padahal kita sendiri? Sama saja, bahkan mungkin saja lebih buruk dari mereka.

Maka benarlah Kitab Roma bab 2:1, ketika mengatakan hal sebagai berikut:

Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.

--- Roma 2: 1

Hakim-hakim yang merasa superadil itu (baca: diri kita), sebetulnya tidak bebas dari salah. Semua manusia, tanpa kecuali pasti pernah salah. Maka dari itu, sebelum jadi hakim bagi orang lain, mari kita berkaca dan introspeksi diri dulu. Adakah aku sendiri sudah hidup benar? Kalau masih sama-sama berusaha, ada baiknya jika penghakiman atas diri orang lain kita minimalkan. Hakim-hakim? Sudahkah kita bercermin?

HCMC, 13 Juli 2010

-fon-

* ReSiPI: rubrik baru yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

Sunday, July 25, 2010

ReSiPI: Nobody-Somebody-Everybody


Once upon a time…

I was nobody

Sometimes I felt hopeless

By kept repeating the same old mistakes

Over and over again


Then suddenly, I’m somebody.

I’ve proved to the world that

I can do many things and succeed

Now the feeling of comfort fills my heart.

Yes, I’m somebody…

I’m superb, I’m great…

Somehow, the pride took its way in me

And I’ve lost it because of my arrogance

Then, again…

I’m nobody…


But that voice fills my heart.

Saying:

“ You’re special to ME. You’re the apple of MY eyes.”

Really? Do YOU think so?

If You really think so, then why did those bad things happen to me?

If You really love me, how could You make me feel the lost again?


Then suddenly, the new understanding came to my mind…

Like a light that shines so bright along my long journey of thinking

Yes, I’m special…To experience the unpleasant things

Only to find that I’m nobody without You, Lord.

If I want to be somebody…
Let me be somebody in YOU.

Not with my pride nor with my strength.

But, with Your Grace, You enable me to become somebody…

So that everybody can see Your grace and goodness in me.


Yes, I’m somebody in Christ.
Yes, everybody will see Him more, and see me less.

Even I think that I’m nobody,

He still thinks that I’m special.

Thanks to You, Lord.


SG, 24-25 July 2010

-fon-

* ReSiPI: rubrik yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

Sunday, July 18, 2010

ReSiPI: Dari Ketinggian-Nya



Dari lantai 1 apartemen, apa yang saya lihat hanyalah tanaman-tanaman di luar unit apartemen. Lalu, orang-orang yang lalu lalang, serta sedikit burung dan kupu-kupu, jika kebetulan mereka terbang rendah. Pandangan dan jangkauan saya hanyalah sebatas mata memandang. Sempit dan amat terbatas.
Dari lantai 15 apartemen, yang terlihat memang berbeda. Dari ketinggian itu, saya bisa melihat anak-anak bermain di playground, kolam renang, langit biru luas membentang atau bahkan ketika mendung menaungi, gedung-gedung lain di sekitar apartemen. Sungai ataupun perairan (walaupun hanya sebagian) di sekitar apartemen dan di kota itu. Dan gedung-gedung pencakar langit di seisi kota, sampai gedung tertingginya. Banyak hal lebih terlihat jelas di atas ketinggian yang lumayan itu.Belum lagi ketika saya diizinkan main di ‘penthouse’ (bagian tertinggi) apartemen itu, tentunya yang terlihat lebih luas dan lebih indah lagi, bukan?
Tuhan yang Maha Tinggi itu berada di lantai teratas dari seluruh perjalanan hidup kita. Mengapa kita tidak bisa memercayakan seluruh kehidupan kita kepada-Nya? Karena dari ruang Maha Kudus-Nya, Dia melihat segala yang terbaik bagi kita. Dari ketinggian-Nya, Dia mampu melihat segala sesuatu yang akan terjadi dalam kehidupan kita. Dialah arsitek kehidupan kita yang mengetahui semuanya secara sempurna.
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
--- Yeremia 29:11
Percayakan kehidupan kita hanya kepada-Nya.
SG, 18 Juli 2010
-fon-
* ReSiPI: rubrik baru yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.
Sumber gambar:
www.tamilbibleqanda.blogspot.com

Monday, July 12, 2010

ReSiPI (Renungan Singkat Penyegar Iman)- Hakim-Hakim


Pernah terjadi, ketika saya melihat seseorang melakukan hal yang buruk, langsung otak saya berpikir dan mencapai suatu konklusi. Seringnya, konklusi itu adalah penghakiman atas diri orang tersebut. Contohnya: ih, tuh orang sombong sekali! Norak pula, mau pamer saja kerjanya. Tanpa sadar, saya pun begitu, jadi saya memperhatikan apa yang tidak saya sukai dari diri saya dengan melihatnya pada diri orang lain. Contoh lain: mungkin kita tidak suka dengan seorang teman yang tukang gosip, tanpa sadar kita pun menempatkan gosip sebagai hobi di peringkat pertama. Mengenaskan, bukan? Seolah kita begitu mulia dengan menghakimi orang lain, padahal kita sendiri? Sama saja, bahkan mungkin saja lebih buruk dari mereka.

Maka benarlah Kitab Roma bab 2:1, ketika mengatakan hal sebagai berikut:

Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.

--- Roma 2: 1

Hakim-hakim yang merasa superadil itu (baca: diri kita), sebetulnya tidak bebas dari salah. Semua manusia, tanpa kecuali pasti pernah salah. Maka dari itu, sebelum jadi hakim bagi orang lain, mari kita berkaca dan introspeksi diri dulu. Adakah aku sendiri sudah hidup benar? Kalau masih sama-sama berusaha, ada baiknya jika penghakiman atas diri orang lain kita minimalkan. Hakim-hakim? Sudahkah kita bercermin?

HCMC, 13 Juli 2010

-fon-

* ReSiPI: rubrik baru yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

Sunday, July 11, 2010

ReSiPI (Renungan Singkat Penyegar Iman): Forever Sun


YOUR light shines through me
to the deepest part of my heart
that has never been touched
by anyone else.

Your love has showed me
the brightest day that could happen
As long as I believe that YOU’re my forever SUN
who will shine in every journey of my life. (-fon-)
(inspiration as soon as I’ve finished reading the Psalm 84:11)

HCMC, 12 July 2010
-fon-
* For the LORD God is a sun and shield;
the LORD bestows favor and honor;
no good thing does he withhold
from those whose walk is blameless.
---Psalm 84:11

* ReSiPI: rubrik baru yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman, diusahakan konsisten tiap Senin muncul. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.

Wednesday, July 7, 2010

Since I Found YOU


Since I found YOU my world seems so brand new
YOU've show me the love I never knew
YOUR presence is what my whole life through
Since I found YOU my life begin so new
Now who needs a dream when there is YOU
for all of my dreams came true
Since I found YOU

(Since I Found You- Christian Bautista’s Song)

Long, I’ve been searching for YOU. The One who will make the emptiness inside of me subsides. The One that will always fill my heart with joy and enable me to live my days in rejoice. I’ve searched high and low. I’ve searched everywhere. Even doing the things that I thought would satisfy my hunger of love. But, they didn’t work out. It seemed that there’s a hole in my heart that kept holding back whenever I want to fill it something new.

Maybe you’ve experienced this before. You go to see the psychic to know the future because the future makes you worried so much. You spend your time searching for porn in the internet, thing that you think will satisfy your hunger. Maybe you’ve even do free sex, to think that it might give you more satisfaction. Maybe you’ve tried many types of narcotics, to make you feel better. To make you experience the ‘high’ feeling. To make you forget about the sorrow of this life and fill your heart with happiness at all time…Whatever you do, you think that you’ll be loved. But, whatever you did was actually brought you further and further to the source of love itself. You’re hiding in those temporary pleasures, you’re avoiding the pure joy and wanting to change it with whatever you think might satisfy you. But the hunger and the thirst of love keep growing… And even worse: you’ve found yourself tied in such a sinful feeling-guilty feeling inside, without knowing where to go or what to do. You just keep doing the same thing, looking for the thing called love. And you think that maybe this is the real path to feel the kind of love that you’ve been waiting for…But you’re wrong, over and over again..

Until you really seek for His Presence. Seek with all your heart and you’ll find Him. The One that has been waiting for you to come back to His path. Feeling His kindness in everyday of your life… And yes, you might have made a lot of mistakes along the way…In this journey of life, we’re struggling hard to stay faithful and not keep falling on sinful things, even though that’s not an easy task… But, we keep searching…Knowing that He will open His doors for us as long as we keep knocking on His Doors of mercy, seek His wonderful love, and hopefully we can sing the song for Him…Because with Him, life will never be the same again. Since I found YOU, Lord…YOU have made a BIG DIFFERENCE. Things have changed, since I found Your love in my life that could satisfy my hunger and thirst… So, this is the best time to say: THANK YOU-to show my gratitude for Your Love. Thanks, arigatou, terima kasih, merci beau coup, kamsa hamnida, danke…A HUGE THANKS from my heart is dedicated only for YOU:)

Since I found YOU my world seems so brand new
YOU've show me the love I never knew
YOUR presence is what my whole life through
Since I found YOU my life begin so new
Now who needs a dream when there is YOU
for all of my dreams came true
Since I found YOU

Source of inspiration of the Bible:

"Ask and it will be given to you; seek and you will find; knock and the door will be opened to you. 8For everyone who asks receives; he who seeks finds; and to him who knocks, the door will be opened.

--- Matthew 7:7-8

HCMC, 7 July 2010

-fon-

* thanks to Christian Bautista’s Song that has accompanied me for the last 2 days and moreoever for God’s inspiration that came and showed me the beauty of this life since I found HIM :)

Sunday, July 4, 2010

Bawa Daku


Bawa daku, Tuhan…

Kembali ke jumpa pertama…
Saat kujatuh cinta pada-Mu

Saat kurasakan sentuhan kasih-Mu

yang luar biasa itu lingkupiku…


Bawa daku Yesus,

memutar balik Sang Waktu

Ingatkanku kembali saat berdoa dan mencari wajah-Mu,

dengan hati tulus dan kegembiraan saat bersama-Mu.


Rutinitas dan kebosanan,

tak kupungkiri pernah menyerang

Sehingga hidup doa dan iman pun

Naik-turun tak ubahnya bursa saham.


Bawa daku, Tuhan…

Untuk kembali genggam tangan-Mu

Untuk raih masa depan bersama-Mu

Dengan keyakinan baru, bahwa Kau tak pernah tinggalkanku.


Beri aku, Yesus…

Hati dan semangat yang baru,

Untuk kembali percayakan hidupku

Hanya kepada diri-Mu


Bawa daku, Tuhan…

Untuk ikut masuk ke dalam rancangan-Mu

Karena kuyakinkan hatiku…

Rencana-Mu yang terbaik untukku.


HCMC, 30 Juni 2010

-fon-

Wednesday, June 30, 2010

Mengapa Kau Gelisah, Jiwaku?




Ya, TUHAN, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku; hatiku terbolak-balik di dalam dadaku….[a]

Kupandangi wajahku di cermin yang terletak di meja rias di kamarku. Wajahku yang tampan itu, mulai ditumbuhi kumis dan jenggot yang tak beraturan. Tak biasanya. Tak seharusnya. Karena aku yang metroseksual dan superstar ini, tak mungkin mengecilkan arti penampilan seperti itu. Di balik cermin itu, kulihat lagi diriku. Postur tinggi 178cm, berat badan seimbang. Gagah. Tetapi, aku tak lepas dari masalah. Ayahku yang sudah tua itu, tengah sakit kanker stadium tinggi. Tak ada lagi harapan baginya untuk sembuh. Karirku sendiri? Cukup baik, walaupun kuakui persaingan semakin ketat. Aku memiliki banyak rencana: konser, sinetron, film. Ya, terutama konser di Jepang di mana sebagian besar fansku di luar Korea berasal.

Jangan dikira kehidupan selebriti yang seolah indah itu tak pernah menawarkan duka. Justru, paket duka itu terlalu sering kuterima. Tak seindah film yang kumainkan, tak seindah musik yang kuperdengarkan. Tak jarang, aku merasa sepi, sendiri, tak punya lagi privasi. Aku ketakutan. Dengan hebat ia menggoncangkan hatiku. Gelisah jiwaku. Resah luar biasa. Seolah hatiku terbolak-balik di dalam dadaku. Tidur? Ia pun sudah lama tak berkawan denganku. Ia seolah jadi barang berharga yang mahal, karena untuk tidur pun aku harus minum obat-obatan penenang.

Terlalu pelik semuanya kutanggung sendiri. Sendiri? Iya, betul-betul sendiri, tanpa pernah percaya orang lain untuk berbagi. Tak jarang, aku ingin mati. Dengan mati, kupikir akan menyelesaikan banyak masalah. Yang pasti, aku tak harus menderita di dunia ini. Jangan bicara padaku soal Tuhan. Aku sendiri tak yakin Ia ada. Kalau Ia ada, mengapa semua seolah di luar kendali-Nya? Aku semakin yakin, bahwa aku memang harus mengendalikan hidupku sendiri. Bukan bergantung pada yang aku tak tahu pasti seperti itu.

Maafkan aku, Ayah! Aku harus pergi. Tak sanggup lagi kujalani hidup ini, kalau isinya semuanya simfoni duka tak berkesudahan. Kubasuh kakinya sekali lagi, sambil terus mengucap maaf. Semoga sungguh ia bisa maafkan aku. Kupandangi kabel charger yang tergeletak tak jauh dari meja riasku itu. Entah mengapa, hari ini dia begitu bersemangat memanggil-manggil aku dan memberikanku ide baru. Menjadikannya alat untuk mengakhiri hidupku….

Selamat tinggal, dunia. Cukup sudah kualami semua kepedihan ini. Aku adalah pengendali tunggal hidupku. Aku yang menentukan kapan aku mati dan dengan cara apa. Kalaupun harus seperti ini, aku puas. Setidaknya, inilah kematian yang sesuai dengan waktuku. Jangan lagi ceramahi aku soal Tuhan, keluarga, atau kemungkinan hidup bahagia. Aku sudah terlalu muak dengan kesemuanya itu. Selamat tinggal dunia. Selamat tinggal gelisah, ketakutan, dan kecemasan. Hatiku, tenanglah kamu, karena ini semua akan berakhir.

Kuambil kabel charger itu, kugantung diriku. Selesai sudah… Selamat tinggal masalah!

***

Kurasakan rohku meninggalkan tubuhku. Jauh, melayang tinggi. Sementara di sampingku, dua malaikat pencabut maut terkekeh kegelian seolah puas aku telah mengikuti kemauan mereka, menghantarkanku menuju gerbang yang nampak indah berkilau. Inikah surga? Mengapa luarnya begitu indah? Ah, enak juga ternyata….Mati itu menyenangkan…! Satu sesal terberat adalah aku meninggalkan ayahku yang sakit keras. Aku yang muda ini memutuskan untuk pergi lebih dulu sebelum dia yang tua dan sakit-sakitan meninggal dunia. Sepanjang perjalanan, kulihat awan berarak, langit biru. Sementara di beberapa bagian, awan mulai menggumpal dan berwarna kelabu tua, membuatku ingin berenang di antaranya: menyambut hujan yang akan tiba. Kilatan petir menyambar di beberapa tempat, hujan deras, guntur pun seolah tak kompromi, tetapi aku terus melayang. Terbang. Ringan di udara.

Saat duduk di salah satu awan itulah, kudengar suara yang amat jelas. Memancar penuh sinar kemuliaan.

“ Mengapa kauakhiri hidupmu? Mengapa tidak menunggu waktu-Ku?”

“ Ah, apa pula urusanmu? Bukankah aku bebas berkehendak dan melakukan apa yang kumau?” Jawabku tak peduli.

“ Aku tahu kegelisahan hatimu, mengapa kau tidak mencari-Ku? Malahan kaupergi dari penyelenggaraan-Ku? Kau mungkin tertekan, kau memang gelisah. Tetapi, bukankah Kau juga bisa berharap kepada-Ku? Seperti Pemazmur yang serahkan seluruh takut dan gelisahnya kepada-Ku? Mengapa tidak kaulakukan itu?”

Tiba-tiba suara lain bergema. Suara malakaitkah itu? Yang pasti, kembali kulihat dua orang yang kali ini berbaju ‘broken white’, bersayap, dan memiliki lingkaran di atas kepalanya. Mereka terus mendaraskan kata-kata ini:

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku![b]

Terus dan terus, tak putus-putusnya mereka ucapkan itu.

Entah perkataan dari mana itu? Aku tak tahu, mungkin itu yang Dia katakan sebagai Pemazmur yang serahkan ketakutan dan gelisahnya? Aku masih tak mengerti…

Tiba-tiba saja kembali sepasang malaikat lain yang berwajah sangar serta berpakaian serba hitam mengangkutku secara paksa. Kucoba membebaskan diri, tetapi seolah sia-sia. Mereka membawaku ke pintu gerbang indah itu-yang nampaknya rupawan dan menggoda, tetapi aku tak tahu pasti ada apa di balik sana….


[a] Ratapan 1:20a

[b] Mazmur 42:11

HCMC, 1 Juli 2010

-fon-

* RIP Park Yong Ha, korean Superstar-actor, singer. Really sad that you have to leave this world on your own will…

Foto: Park Yong Ha