Showing posts with label Narasi. Show all posts
Showing posts with label Narasi. Show all posts

Wednesday, February 6, 2013

Perempuan Yang Disembuhkan



*Inspirasi dari Markus 5:25-34.

Dia terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
Tak ada kekuatan untuk melangkah, bahkan untuk mengambil air minumnya saja dia tak sanggup. Dirinya tengah kehausan, sementara tidak ada orang di rumah yang bisa membantunya.

Dicobanya berjalan perlahan, seketika dia terjatuh!
Dengan kekuatan yang tersisa, dia mencoba bangkit. Dia berhasil mengambil cangkir, namun tak mampu bertahan lama.
Cangkir itu lepas dari genggaman tangannya saat ia belum lagi sempat menuangkan air minum ke dalamnya.

Dalam posisi tersungkur di lantai tanpa mampu berbuat apa-apa, ia menangis sedih. Apa yang selama ini dia lakukan?
Dan segera saja segala sesuatu berputar di kepalanya.
Peristiwa satu demi satu bermunculan. Melakukan kilas-balik.

Enam bulan yang lalu...
Di kerumunan orang banyak itu, ia mendekat. Dia tahu itu sulit dan butuh perjuangan. Tetapi, sakit yang dirasakannya sudah tak tertahankan. Itulah yang memaksanya menuju kepada Sang Penyembuh yang sudah lama dia dengar kehebatannya itu. 

Sudah dua belas tahun dia alami ini.
Sakit pendarahan yang khusus diderita perempuan. Seluruh uangnya sudah habis untuk berobat dan dia merasakan dorongan yang kuat untuk mencari solusi lain. Dan dalam pandangannya, agaknya hanya ini satu-satunya solusi yang mungkin. Dengan iman, dia datangi Sang Penyembuh. Percaya dengan hanya menjamah jubah-Nya, dia akan sembuh. Sesulit apa pun, kerumunan itu harus dia tembus. Jika ini adalah satu-satunya harapan untuk sembuh, mengapa tidak dia lakukan?

Terkejutlah dia saat pendarahannya terhenti seketika. Dia sembuh total!
Kemudian Sang Penyembuh berkata, " Pergilah, imanmu telah menyelamatkanmu."

Sungguhkah? Benarkah? Dicubitnya tangannya sendiri.
Ini bukan mimpi!

Dia tersenyum, tertawa, lega, bahagia.
Lagu duka yang sudah 12 tahun dia nyanyikan berhenti seketika, berganti dengan lagu gembira.
Dia sungguh sudah pulih dari sakitnya!

Hari-hari sesudahnya...
Rasa syukur atas kesembuhannya itu tidak bertahan lama.
Dia lalu menjadi lupa diri.
Dia lakukan banyak hal untuk menyenangkan dirinya sendiri.
Minum minuman keras, pesta- pora dengan kelompok yang dulu tak pernah menganggapnya ada karena dia berpenyakit parah. Bukan dengan uangnya sendiri, karena uangnya sudah habis untuk berobat dulu.
Dia mencoba mengecap gaya hidup mewah dengan pinjaman uang kiri-kanan. Yang dia mau hanya mereguk kebebasan dan kebahagiaan yang dimiliki orang-orang lain dan tak pernah dinikmatinya selama belasan tahun.

Hutang menumpuk. Kondisi tubuh menurun.
Kebiasaan hidup yang tidak sehat menjadi penyebab semuanya ini.
Tidur di pagi hari. Begadang setiap hari. Dari satu pesta ke pesta lainnya…

Kini, kesadaran itu menyapanya…
Di sini. Di lantai rumahnya. Saat tersungkur tanpa daya.
“Tuhan, ampuni aku. Tak kumanfaatkan kesembuhan yang Kauberikan kepadaku. Sungguh menyesal diriku.” Tangisannya memecah kesunyian rumah itu.

Tiba-tiba pintu terkuak. Tetangganya masuk dan menolongnya.
Dia minum airnya dan beristirahat yang cukup.
Mulai besok dia akan mencoba mencari pekerjaan dan mengubah gaya hidupnya.

Dalam hati dia berjanji, takkan lagi mengulang kesalahan serupa.
“Tuhan, bimbing aku menjalani hidup baru di dalam-Mu.”
Ucapan itu terlontar tulus dari bibirnya…
Semoga demikian adanya.

07.02.2013
fon@sg
* Mempergunakan metode Narasi Kitab Suci yang diperkenalkan oleh Bapak Stefan Leks, dosen saya dulu di KPKS St. Paulus. Trims, Pak Stefan!:)

Monday, November 22, 2010

Seruan Hatiku


***Based on 1 Samuel 1:1-28

Tak ada orang yang akan mengerti perasaanku.Tidak ada!

Yang mereka lakukan hanyalah mencemooh diriku. Menorehkan luka di hatiku. Terlebih lagi, maduku itu. Dia-yang sudah memberikan banyak anak pada suamiku-merasa lebih tinggi martabatnya ketimbang diriku.

Terbayang tatapan dan ucapan sinisnya.

“ Dasar mandul! Sekali mandul ya tetap mandul!”

Aku diam.

Mencoba menenangkan perasaanku yang sebetulnya menjerit minta dikasihani. Tetapi, setelah tahun demi tahun kandunganku selalu kering- tak pernah berisi seorang jabang bayi pun-aku jadi terbiasa. Menahan sakit hati, bukanlah hal baru bagi diriku. Dia sudah jadi bagian hidupku.

Kugigit bibirku sendiri, sampai sedikit berdarah. Aku tak sanggup lagi sebetulnya menerima kenyataan ini. Terlalu pahit bagiku harus melihat kemegahan itu di hadapanku setiap hari. Megah bagiku, karena aku tak memiliki sedikitpun bagian dari itu.

Kami serumah dan dia-maduku itu- merajalela.

Juga anak perempuan dan lelakinya. Sedangkan El, suamiku oh maksudku suami kami (tak rela ungkapkan ini, tapi inilah kenyataan yang ada) terlalu sibuk untuk memperhatikan diriku. Mungkin juga perasaannya yang telah berubah padaku karena aku tak kunjung memberikan keturunan padanya. Aku merasa dia lebih memperhatikan maduku. Iri? Atau cemburu? Mungkin gabungan keduanya… Karena dia punya segala yang kuimpikan: anak dari rahimku sendiri.

Dalam sedih dan kepiluan mendalam… Aku mencari rumah ibadah, tempat kami biasa datang sekeluarga bila ada perayaan khusus. Hatiku hancur luar biasa. Dan dalam keremukan itu, aku memanjatkan doa:

“ Tuhan, bila Kau mengizinkan aku menimang seorang anak dari rahimku sendiri. Akan kupersembahkan dia kepada-Mu untuk mengabdi dan setia sepanjang hidupnya.”

Ah, kutepis inginku. Juga anganku. Mungkin aku bermimpi karena pada kenyataannya sudah sekian lama aku tak jua mampu memberikan seorang anak bagi suamiku. Tiba-tiba kusadari, tak ada orang lain yang lebih mengerti perasaanku selain diri-Nya. Keyakinan itu berpadu dengan keraguan yang menyapa dan menyergapku secara mendadak. Mungkinkah Dia mengerti? Bukankah tak seorang pun tahu keluhku? Mereka cenderung hanya bisa memojokkanku dan membuatku terpuruk dalam untaian kesedihan tanpa akhir…

Tuhan, adakah Kaudengar seruan hatiku?

Aku komat-kamit berdoa. Beberapa orang memandangiku dengan aneh. Bahkan kudengar mereka berbisik bahwa ada seorang gila di rumah ibadah ini. Pasti maksudnya diriku!

Aku tak hendak melawan. Biarlah mereka bicara sesuka hati mereka. Dan biarlah aku lakukan apa yang membuat diriku tenang. Karena ketiadaan keturunan selama ini sudah membuat diriku dipenuhi lautan kepedihan tanpa batas yang kukira tak seorang pun tahu.

Aku pulang dan berlalu. Berharap kali ini doaku akan dijawab. Tetapi aku tak berani berharap banyak, karena kekecewaan sudah bertubi-tubi menghantamku. Harap, mungkinkah kausirami hatiku yang gersang ini kembali?

***

Ajaib!

Setelah doa dan keluhan penuh rasa amarah-frustrasi dan kecewaku itu, aku dinyatakan hamil. Dan yang amat membahagiakan adalah ketika dia lahir dan aku memeluk dirinya. Anakku yang sudah kutunggu-tunggu bertahun-tahun lamanya. Dia hadir memenuhi hari-hariku dengan tangisnya, dengan ompolnya, dengan celotehnya yang belum kumengerti. Dan suamiku jadi lebih betah tinggal di dekatku. Samuel, jadi berkat bagi kami sekeluarga…

Maduku?

Oh, dia tak lagi bersuara… Dia tak lagi bisa menuduhku sebagai perempuan mandul karena Samuel adalah bukti kasih Tuhan kepadaku.

Aku amat bahagia. Dia memang selalu dengarkan seruan hati kita semua umat manusia. Dalam keputusasaan, terkadang aku merasa mungkin Dia terlalu sibuk bahkan sudah melupakan diriku yang kecil dan tak berarti ini. Namun, kenyataan kembali membuktikan bahwa Dia selalu dengar setiap doa. Dia memonitor setiap seruan hati yang diutarakan secara tulus kepada-Nya.

Tuhan, terima kasih. Kupersembahkan anak kami kepada-Mu. Seumur hidupnya, terserahlah ia kepada-Mu, Tuhan…

Aku percaya bahwa Tuhan tak pernah meninggalkanku. Samuel adalah bukti terindah bahwa kesetiaan-Nya akan janji-Nya takkan pernah berubah. Terima kasih, Tuhan!

Ho Chi Minh City, 23 November 2010

-fon-

* mengingat kembali saat-saat mata kuliah Narasi di KPKS. Mencoba menuangkannya dengan nuasa penulisanku sambil mencoba menangkap perasaan Hana di teks Kitab Samuel tersebut.

sumber gambar:

fpbookroom.org