Thursday, February 16, 2012

The Whole Truth and Nothing but the Truth



Rihanna sedang meliuk-liukkan tubuhnya dengan lagu yang luar biasa enak buat goyang-goyang. Keren kata banyak orang. We found love. Bergema di saluran musik televisi yang konon kabarnya untuk orang muda. Segmen pemirsanya antara 12-34 tahun. Saya suka mendengar lagunya, tetapi ketika melihat video klipnya, Oh My God! Rasanya jengah. Anggaplah saya orang Timur yang masih memegang adat ketimuran, tetapi video klip Rihanna itu sulit bagi saya untuk menerimanya apalagi jika berpikir video itu ditonton oleh anak saya yang masih berusia sekitar 5 tahun yang misalnya tanpa sengaja memindahkan ke saluran itu dengan remote yang sudah fasih dipencet-pencet olehnya. Tak terbayangkan!

Videonya menampilkan Rihanna mendapatkan cinta (pacar, seks bebas, narkoba, rokok) di tempat yang tanpa harapan. We found love in a hopeless place adalah lirik yang terus didengungkan sepanjang lagu tersebut. Itulah interpretasi oleh sutradara video klip yang kita bisa saksikan di youtube ataupun di saluran musik mana pun. Saya hanya membayangkan (sekaligus menyayangkan) apabila yang menyaksikan adalah anak-anak di bawah umur, masih muda belia, anak-anak muda yang tidak kuat secara iman, tidak tahu, tidak mengerti… Akankah mereka secara bijaksana mengkaji, bahwa itu bukanlah cinta sejati? Atau malahan mereka akan terprovokasi oleh video-video semacam itu (juga dari artis-artis lainnya seperti Katy Perry dengan The One that Got Away, atau video-video artis mancanegara lainnya yang sungguh memprihatinkan karena menampilkan cinta (baca: keintiman) semasa berpacaran). Tidaklah mengherankan, jika itu yang terjadi, begitu mengejutkan pula hasil survei yang didapat sebagai berikut:

Hasil survei Komnas Perlindungan Anak tahun 2008 di 33 propinsi mengenai perilaku seksual remaja masa kini menyebutkan bahwa 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno, 93,7% remaja SMP dan SMA pernah berciuman, meraba alat kelamin atau melakukan oral sex, 62,7% remaja SMP dan SMA tidak perawan lagi dan 21,2% remaja SMP dan SMA pernah melakukan aborsi.

Jujur saja, hati saya menangis ketika membaca hal ini. Belum lagi memikirkan nasib anak-anak kami, dua princess di hati kami yang keduanya perempuan. Mereka akan menjadi remaja dalam 5-10 tahun ke depan. Dan jika ini adalah gambaran yang terjadi di masyarakat Indonesia saja saat ini, bagaimana dengan masa depan mereka nanti? Saya kira, walaupun tak terucapkan, banyak orangtua akan merasakan perasaan yang sama dengan saya. Tidak ada jalan lain, selain memberikan modal pengetahuan dan terus mendoakan mereka. Anak-anak kita. Yang dalam konteks yang lebih luas, adalah generasi muda harapan bangsa. Tentu saja, tidaklah menjadi sesuatu yang membanggakan misalnya menjadi ibu di usia 16 tahun. Mom at 16, yang kemudian dibukukan dan didokumentasikan oleh MTV, semisal kisah Ashley Salazar Bittersweet Blessing: 16 & Pregnant. Begitu banyak yang harus dipikirkan, dikorbankan, menjadi orangtua di usia sebegitu muda… Ya, Tuhan… Kasihanilah…

Juga info dari Badan Narkotika Nasional (BNN) sehubungan dengan peningkatan pengguna narkoba, agaknya cukup membuat kita mengerutkan kening:

Disampaikan Kepala BNN Gories Mere dalam sambutannya di Hari Anti Narkotika Internasional (HANI), dalam survei BNN sejak tahun 2009, prevalensi penyalahgunaan narkoba pada tahun 2009 adalah 1,99 persen dari penduduk Indonesia berumur 10-59 tahun atau sekitar 3,6 juta orang.

Pada tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,21 persen atau sekitar 4,02 juta orang. Pada tahun 2011, prevalensi penyalahgunaan meningkat menjadi 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang.

Dan kemungkinan penggunanya pasti lebih banyak lagi, yang belum tersurvei.

Menghadapi kenyataan yang sedemikian mengkhawatirkan, apakah kita harus tinggal diam? Tentu saja tidak! Sebuah buku kecil yang inspirasional dan membukakan mata kita hadir sudah. You Deserve the Truth. Sebuah rangkaian ceramah dari True Love Celebration (TLC) di tahun 2010 semoga bisa menjadi jawaban atas segala keresahan kita. Dengan berani TLC membongkar kenyataan yang sesungguhnya, bukan berdasarkan apa yang ditawarkan dunia. Bersumberkan Theology of the Body (Teologi Tubuh) yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II, seolah menjadi suatu oase yang menyegarkan. Memberikan ketenangan di tengah dunia yang sungguh berantakan.

Oleh media tertentu, seks telah dimanipulasi. Seks oleh pihak-pihak tertentu, seperti pemilik majalah Playboy –Hugh Hefner telah dikacaukan dari artinya semula. Simak apa kata Riko Ariefano tentang seks di buku ini.

Orang suka bilang seks enak, saya bilang gak enak. Yang enak itu makan sate kambing. Orang suka bilang seks seru, saya bilang gak seru. Piala dunia itu baru seru. Seks bukan sekadar enak atau seru. Sex is holy, bukan sekadar masalah enak atau seru karena waktu suami dan istri melakukan hubungan seks ini adalah peristiwa mewujudnya janji di atas altar. Cowok janji bakal sayang dalam sehat, senang dan sukses, cewek bilang aku cinta kamu..bla bla bla. Seluruh janji di atas altar hanya kata-kata, tapi waktu memberikan diri secara utuh dalam pernikahan janji ini mewujud dalam hubungan seks suami istri, sehingga seks menjadi perwujudan total pemberian suami dan istri, seks menjadi perwujudan tanda cinta kasih.

Bersama Romo Deshi Ramadhani SJ, Yurika Agustina, juga Lia B. Ariefano, Riko dan para pembicara lainnya menginspirasi saya. Yang sudah lama ‘ketinggalan kereta’ akan perkembangan pengajaran-pengajaran terbaru karena berada jauhhh di negeri yang berbeda. Yang juga rindu akan kebenaran-kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang memerdekakan untuk bekal diri, juga untuk anak-anak kami di masa depan nanti, dan secara lebih luas tentunya untuk generasi muda kita di masa-masa mendatang.

Teologi tubuh adalah jawaban, di tengah dunia yang menggembar-gemborkan hal-hal yang keliru seputar seks, pornografi, masturbasi, juga relasi antara suami-istri yang seharusnya loving instead of using (mencintai dengan tulus, bukan ‘memakai’ untuk kepentingan pribadi). Chastity (kemurnian) adalah hal yang harus dijaga, dipersembahkan kepada pasangan kita sesudah menikah. Bukan menjadi ajang uji-coba semasa pacaran. Terus berupaya untuk menjaga kekudusan di tengah dunia yang menawarkan sejuta godaan. This is the answer for a better generation in Christ!

Dunia butuh pembebasan. Dunia butuh kebenaran. Kebenaran utuh, yang sesungguhnya… The whole truth and nothing but the truth, bersumberkan kepada mengembalikan tubuh kepada konteks penciptaan Allah sejak semula. Bahwa semua diciptakan baik adanya bukan kemudian dimanipulasi untuk keuntungan pihak-pihak tertentu. Semisal pemilik situs pornografi atau pemilik majalah porno. Bukan untuk mereka!

Buku kecil yang berefek raksasa bagi saya ini, semoga bisa memberkati pula banyak orang. Sungguh membukakan mata dan mengubahkan persepsi saya pribadi. Highly recommended untuk setiap insan yang rindu akan kebenaran. Karena We deserve the truth! The whole truth and nothing but the truth!

Ho Chi Minh City, 17 Februari 2012

-fon-

* Terinspirasi buku You Deserve the Truth, Flamma, Domus Cordis, 2011 yang baru selesai saya baca semalam. Small book with a giant inspiration to change perspective and create a better world for our future generation. Acungan jempol buat Domus Cordis, Riko and team, may God bless your ministry abundantly. Amen.

Wednesday, December 7, 2011

Christmas is All About Jesus



Natal segera tiba!

Sudah waktunya untuk siapkan kado buat seluruh keluarga dan teman-teman dekat, merancang liburan yang asyik, juga siap-siap jalan-jalan ke mal yang indah dan cantik yang dipasangi Pohon Natal istimewa. Restoran dan hotel pun berlomba untuk memasarkan menu khusus dengan harga yang khusus pula. Mulai dari Christmas Eve Dinner atau Christmas Day Brunch. Lengkap dengan wine atau champagne. Hmmm, keren!

Saya ingat, ketika diberi-Nya kesempatan tinggal di Singapura beberapa tahun yang lalu, Orchard Road sungguh indah. Bersolek selama sebulan penuh dengan hiasan natal yang modern dan cantik. Bukan hanya satu-dua mal. Tetapi seluruhnya plus sepanjang jalan juga! Suasana yang tercipta benar-benar indah dan meriah.

Tidak jarang dengan persiapan yang begitu indah dan megah, terkadang juga mewah, kita malah melupakan esensi dari Hari Natal itu sendiri. Natal kini identik dengan kado, liburan, makan bersama, diskon belanja khusus, dsb… Semuanya itu membuat kita melupakan Tuhan Yesus sendiri yang kita rayakan ulang tahunnya.

Kehadiran-Nya di dunia amatlah sederhana. Dia lahir di palungan tanpa suasana rumah sakit elite. Kesederhanaan yang memancar dari lahirnya Kristus seolah terlupa oleh ‘festivity’ saat Natal dianggap sebagai suatu perayaan atau pesta belaka.

Tidak salah juga merencanakan segala sesuatunya untuk kegiatan bersama keluarga. Tetapi, semoga kita tetap ingat, bahwa Christmas is all about Jesus. Jangan sampai kesibukan kita akan kado, liburan dan makan-makan melupakan Tuhan Yesus sendiri. Kehadiran-Nya di dunia adalah untuk menyelamatkan kita umat manusia. Sungguh suatu hal yang mulia, karena siapakah kami ini Tuhan, sehingga Engkau menyelamatkan kami, padahal kami ini sungguh orang berdosa? Hanya karena kasih-Mu saja, Engkau lakukan itu sepenuh cinta…

Marilah kita kembali kepada kesederhanaan. TIdak selalu Natal harus mewah, tidak selalu harus meriah. Karena esensi Natal yang terletak pada Yesus Kristus sajalah yang patut kita perhatikan dengan seksama. Bahagia, rasa syukur, bercampur terima kasih dari lubuk hati yang terdalam, karena Dia mau lahir ke dunia bagi kita semua.

Semoga kedamaian Natal melingkupi hati kita. Semoga Natal membawa sukacita bagi kita bersama. Happy birthday, Jesus!

Ho Chi Minh City, 7 Oktober 2011

Fonny Jodikin

  • sudah dimuat di Smile Magazine, Jakarta

Friday, November 4, 2011

A Better Me in You

A Better Me in You

I will never be as beautiful as Angelina Jolie

I will never be as intelligent as Einstein, or maybe

I will never be as kind-hearted as Mother Theresa

But I promise that I will never give up in doing good things.

I will never stop spreading the love-letters to this world,

because I know that He will never stop loving me.

I will never stop trying to be a better me in You, God. (-fon-)

HCMC, 5 November 2011

Monday, October 31, 2011

Datanglah Kepada-Ku…



Saya ingat kembali, ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di sebuah pertapaan di kawasan Puncak tepatnya di akhir tahun 1999. Saya mengikuti misa hari itu bersama beberapa teman saya, padahal saya masih belum memeluk agama Katolik. Saya tidak merasa asing, karena dari kecil-tepatnya dari Sekolah Dasar (SD), saya disekolahkan orangtua saya di sekolah Katolik. Saya menghormati dan menaruh toleransi yang besar terhadap setiap agama, karena saya mempercayai bahwa setiap agama pada dasarnya adalah baik karena mengajarkan keselamatan bagi para pemeluknya. Juga niatan di awal setiap agama tentunya membawa kedamaian dan bukan sarana yang disetir atau dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk indoktrinasi, brain-wash, atau mencari keuntungan sendiri misalnya memperkaya diri, dan seterusnya. Semua itu adalah hal-hal yang menjauhkan agama dari tujuannya semula.

Saya tetap memeluk kepercayaan saya yang lama sampai saya lulus kuliah dan bekerja. Lagi-lagi, saya pikir, saya memang menghormati agama lain, tetapi saya tak pernah berniat untuk pindah agama. Karena selama bersekolah di sekolah Katolik pun, walaupun mengenal doa-doa seperti Salam Maria, Bapa Kami, maupun tata cara perayaan ekaristi, tetapi tidak membuat saya merasa terpaksa harus pindah. Saya nyaman-nyaman saja dengan kepercayaan yang saya anut dan tidak ada pemaksaan sedikit pun dari pihak sekolah atau pihak mana pun. Saya bebas menganut kepercayaan saya dan pilihan itu terletak di tangan saya. Saya pikir, akan selamanya saya menganut kepercayaan saya yang lama. Tetapi, di misa di tahun 1999 itu, ada sesuatu yang terjadi, yang tak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Saya menyukai tempat beribadah yang tenang dan asri. Dan pagi itu, saya dapatkan semuanya di situ. Sembari menikmati suasana hening yang tercipta, tiba-tiba saat Romo berhomili, saya tersentak dengan kata-kata: “ Datanglah kepadaku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Entah mengapa saya mulai menangis. Hal yang tak pernah saya duga akan terjadi. Sebelumnya saya terkenal keras, logis, dan tak mudah menyerah. Jadi, mengapa kata-kata yang seperti itu saja seolah membuat saya terharu?

Saya tidak habis pikir. Dan tepatnya saya tak sempat berpikir banyak. Hanya menikmati suasana damai yang tiba-tiba memenuhi seluruh dinding hati saya. Tak terucapkan dengan kata-kata. Speechless. Hanya damai dan perasaan dikasihi mengaliri sekujur tubuh saya. Mungkin saya terlalu letih. Mungkin saya memang berbeban berat. Mungkin saat itulah Tuhan menyentuh hati saya untuk pertama kalinya. Roh kudus dengan lembut membisikkan bahwa saya tidak sendirian dalam menghadapi permasalahan dalam hidup ini. Bahwa saya dimengerti, bahwa ada kelegaan, itu saja yang saya alami hari itu. Saya diam. Masih kesulitan berkata-kata. Tetapi saya sadar, saat itulah Tuhan Yesus sudah mengetuk hati saya dan saya membukanya. Mungkin selama ini Ia selalu mengetuk, tetapi saya tengah sibuk. Terlalu sibuk dengan masalah yang selalu saya coba cari jalan keluarnya dengan kekuatan saya sendiri. Tetapi tak jarang buntu dan sempat membuat saya putus asa. Hari itu, seolah sebuah kekuatan baru dipompakan dalam hidupku. Dan saya sadar, itu karena-Mu, Yesus!

Saya aktif mencari-Nya juga di kala memeluk kepercayaan saya sebelumnya. Saya ikut banyak kebaktian setiap minggunya juga sampai mencari-Nya melalui peziarahan ke kota lain. Jauh, sendirian, hanya ingin mencari hadirat-Nya. Karena pada dasarnya saya percaya, kepenuhan hidup hanyalah di dalam Dia. Apa pun bisa terjadi dalam hidup ini, selama saya berpegang kepada-Nya, saya tidak akan goyah. Tetapi, tanpa sadar, saya terbiasa menghadapi apa-apa dengan kekuatan sendiri. Bersandar pada keyakinan, saya pasti bisa bahkan saya harus bisa. Lama-lama, menjadikan saya lelah, letih, dan merasa betul-betul sendirian dalam menghadapi kehidupan yang keras dan tak pernah mudah ditebak ini. Di saat itulah Yesus hadir dalam hidup saya dan membuat perbedaan. Beda karena di dalam diri-Nya, saya temukan sosok sahabat setia yang selalu ada di tiap detik kehidupan saya. Setiap babakan kehidupan dalam setiap halaman buku kehidupan saya bahkan telah dituliskan-Nya dengan sempurnya. Dia yang mengetahui segalanya, awal sampai akhir kehidupan saya. Bersama Dia, saya bisa curhat, sharing, akrab dalam doa. Saya sungguh bahagia. Kata yang lebih tepat menggambarkannya adalah sukacita. Sukacita tak tergantung suasana di luar. Mungkin masalah hidup saya belum selesai, tetapi saya punya seorang sahabat setia tempat saya berbagi semua yang saya alami dan yang saya rasakan dalam diri Yesus Kristus. Dan bukankah hidup adalah serangkaian masalah? Kalau mau kehidupan tanpa masalah, nanti ada saatnya, saat manusia berpulang ke rumah Bapa, bukan? Saya sungguh bahagia!

Setelah itu, saya langsung mengikut katekumen di sebuah Gereja Katolik di bilangan Jakarta Barat. Saya katekumen selama 1 tahun, didaftarkan oleh kakak tertua saya. Saya mengalami hal-hal yang menakjubkan dari sisi iman. Dan tentunya iman yang mula-mula itu dipenuhi semangat yang membara, seolah tak ada kecewa bersama Dia. Di akhir tahun 2000, saya dibaptis secara Katolik. Setelah itu, saya pun mengikuti beberapa seminar, kursus, retret, untuk menambah pengetahuan saya yang masih amat minim soal Kekatolikan. Sehingga, apabila saya ditanyai mengapa saya memilih Katolik, saya masih banyak bengongnya haha… Karena saya hanya mengikuti kata hati saya yang terbuka terhadap panggilan-Nya. Tanpa alasan yang jelas juga mengapa. Untuk itulah saya kira, saya memerlukan banyak bantuan dari teman-teman seiman yang lebih senior, juga retret, kursus atau seminar yang semakin mendekatkan diri saya pada-Nya.

Perlahan tetapi pasti, saya semakin terbuka pada-Nya. Hati yang menyala-nyala ingin melayani-Nya dan membagikan kasih-Nya yang sudah begitu nyata dalam diri saya kepada sesama berbuah beberapa pelayanan yang Dia percayakan pada saya. Dia selalu memakai sesuatu yang ada di dalam diri kita. Bukan sesuatu yang jauh. Dan saya percaya, bila Tuhan inginkan, Dia akan tambahkan sepanjang perjalanan kita. Karena suka menyanyi, bahkan sebelum dibaptis, dibukakan-Nya jalan untuk bergabung dengan tim pujian sebuah persekutuan doa di bilangan Jakarta Pusat. Saya mulai hafal lagu-lagu rohani, lalu kemudian melayani-Nya di bidang pujian sebagai ‘singer’. Tak lama, pertemuan dengan beberapa sahabat yang lebih senior, membukakan jalan bagi saya untuk menyanyi di band rohani sebagai singer. Suatu hal yang amat menyukakan bagi saya. Karena saya suka menyanyi dan apa lagi yang lebih indah dari menyanyi bagi kemuliaan-Nya?

Selain itu, karisma yang tertinggi dalam diri saya berdasarkan seminar karisma adalah karisma menulis. Hal yang tak pernah saya duga sebelumnya. Terheran-heran juga, karena saya memang pernah menulis dan cukup suka, tetapi untuk menulis hanya bagi kemuliaan-Nya? Wah, saya tidak tahu ya… Apa saya bisa, Tuhan? Keraguan demi keraguan terjawab sudah. Dengan tetap berpegang pada tangan-Nya, serta bergiat melakukan yang terbaik bagi-Nya, perlahan saya pun mulai menuliskan kebaikan-Nya dalam hidup saya serta membagikan kepada teman-teman saya terlebih dahulu untuk kemudian memberanikan diri mengirimkannya ke beberapa milis Katolik.

Naik-turunnya perjalanan iman saya bersama Kristus pasti pernah terjadi juga. Apalagi pemahaman saya yang masih muda ini, barulah 11 tahun saya jadi pengikut Kristus. Tetapi, setiap hari saya hanya memohonkan rahmat agar saya semakin terbuka pada-Nya sehingga apa pun yang ingin Dia tambahkan dalam hidup saya, saya terima dan berkata: “Ya, Tuhan. Inilah aku, pakai diriku seturut kehendak-Mu.”

Ada waktunya di mana saya merasa Tuhan tidaklah sama seperti waktu saya kenal pertama. Ada yang bilang itu adalah kasih mula-mula. Tetapi, sebagaimana halnya semua relasi, pasti ada naik turunnya, juga kemudian ada pengertian baru yang ditambahkan dari kedua belah pihak, untuk kemudian tercipta relasi yang makin kokoh dan kuat seiring berjalannya waktu.

Pernahkah saya kecewa dengan Tuhan? Tentu pernah, ya. Tetapi, untungnya…Puji Tuhan, tak lama saya pun disadarkan bahwa saya yang salah mengerti akan diri-Nya. Karena pada dasarnya Dia adalah baik dan akan selalu baik dalam hidup saya. Saya yang terlalu ‘demanding’, ingin ini dan itu, terkadang bahkan memaksakan kehendak saya pada-Nya. Ketika tidak mendapat apa yang saya inginkan, terkadang saya marah. Padahal, Dia yang tahu apa yang saya butuhkan, dan selama ini Dia selalu cukupkan segala sesuatu.

Hari-hari selanjutnya menjadi hari yang semakin kokoh di dalam iman. Karena saya percaya Tuhan tak pernah lepas tangan. Lewati semua rintangan kehidupan? Saya yakin dimampukan-Nya, karena Tuhan selalu bersama-sama saya. Jika saya membayangkan diri saya yang kecil di tengah dunia yang begitu luas, tentunya saya tidak berani, ya. Untunglah, Tuhan selalu setia menyertai kita dalam setiap kejadian dan episode hidup kita…. Ku tak takut, karena Kau selalu sertaku.

Saya percaya, Tuhan selalu ada bagi kita. Selalu memberikan yang terbaik di dalam rencana-Nya walaupun itu berarti amat berbeda dengan rancangan pribadi kita. Tetapi, Dialah Tuhan yang Maha Tahu. Tahu yang terbaik bagi semua anak-anak-Nya.

Undangan-Nya masih sama kepada setiap kita yang mau membuka hati kita pada-Nya… “ Datanglah kepada-Ku…”

Dan jawabku: “ Ini aku datang, Ya Tuhan… Memenuhi panggilan-Mu…”

Tulisan ini dibuat sebagai ucapan syukur dan rangkaian terima kasih tak terhingga yang tulus dari lubuk hatiku, karena kesetiaan-Mu, penyelenggaraan-Mu, dan seluruh kebaikan-Mu dalam hidupku, Yesusku…

HCMC, 25 Oktober 2011

-fon-

Wednesday, October 26, 2011

More Than Just a Feeling



God, today I feel so great!

Hari ini kumulai dengan senyum ceria. Cuaca pun seolah bersahabat. Matahari bersinar cerah. Angin berhembus perlahan. Tidak panas, juga tidak dingin. Pokoknya asyik betul hari ini!

Kulihat senyuman-Mu di setiap detik yang berjalan, setiap detak jantungku pun memuji dan memuliakan nama-Mu. Sungguh, aku bahagia! Engkau sungguh baik Tuhan.

Tak lama, angin berhembus makin kencang. Awan jadi gelap. Dan hujan turun seketika. Mula-mula gerimis, tambah lama tambah deras. Hujan lebat masih membuatku bersyukur. Engkau tidak berubah, selalu baik, Tuhan. Dalam segala musim di hidupku, dalam setiap cuacanya, Kau tetap baik adanya!

Hujan, halilintar, petir, geledek, sambar- menyambar. Banjir sudah mulai terjadi di beberapa titik. Aku mulai kuatir, Tuhan. Apa Kau sungguh baik? Kupeluk bantal gulingku dan kuucapkan doa seadanya. Kesenangan yang melanda seharian meluap begitu saja.

***

Keesokan harinya, aku tak bisa ke mana-mana. Segala aktivitas tertunda, karena hujan yang melanda semalaman. Kini sudah mulai mereda, tapi menjebakku hanya tinggal di rumah. Aku gelisah. Resah. Sedikit marah-marah.

“ Duh, Tuhan. Mengapa ini semua harus terjadi? Mengapa Engkau tega, Tuhan?”

*sisi lain hatiku sepintas berbisik: tak usah ‘overreacted’, sampai bilang Tuhan tega segala. Bukankah semuanya masih baik-baik saja???*

Seperti cuaca yang berganti semudah menjentikkan jari, begitu juga perasaanku. Senang yang kunikmati di pagi hari, bisa berubah menjadi kekuatiran campur kemarahan. Hanya dalam hitungan jam. Tak jarang, sukacita yang ada pada banyak peristiwa, berubah menjadi duka hanya dalam hitungan detik atau menit saja.

Begitulah perasaan kita- manusia- terhadap Tuhan. Ketika banyak kesenangan yang kita terima, kita mengucap syukur sebentar (atau malah lupa?), lalu pergi bersenang-senang dan tak jarang melupakan-Nya begitu saja. Kali lainnya, ketika masalah berat menimpa, barulah kita mencari-Nya.

God is more than just a feeling…

Kuakui di masa awal pengenalanku akan Dia, perasaan timbul dan tenggelam, ia bermain cukup kencang. Saat bahagia ataupun duka yang datang silih berganti, membuatku begitu mudah merasa senang atau kesal dengan diriku, tak jarang dengan-Nya juga begitu.

Tetapi makin lama kujalani kehidupanku bersama-Nya, kutemukan banyak pengertian baru. Bahwa apa pun yang terjadi dalam hidupku, Dia tetap baik. Tidak berubah sedetik pun. Versi baik dan tidak baik itu seringnya dari sisiku, bukan berarti buruk pula dalam rencana-Nya. Seringkali yang kukira baik, malah bukan yang terbaik bagiku. Dan kejadian yang kukira tidak baik, malah jadi pelajaran berharga yang diberikan-Nya padaku dan diubahkannya menjadi sesuatu yang penting bahkan gemilang bagi hidupku.

Dalam setiap babak hidupku, kupercaya: Tuhan sungguh baik adanya. Bahkan lebih dari itu, Dialah sahabat setiaku. Tak pernah Dia lepas tangan. Tak pernah Dia tinggalkanku. Dia lebih dari sekadar perasaan. Perasaanku pernah membawaku merasa Dia jauh atau dekat. Tetapi dalam iman, kutahu Dia tak pernah pergi dari hidupku. Selamanya Dia selalu sertaku.

God, You’re more than just a feeling for me…

Because You’re God. You’re so good and kind, Oh Lord.

I thank You for the first time You’ve entered my life. Made a difference. And You’ve been a very faithful God who always stick with me through the thick or thin of my life.

I want to tell you, Jesus… That I love You more and more each day.

Bukan hanya melalui hal-hal yang menggembirakan dan menyukakan yang sudah Kauanugerahkan bagiku…
Tetapi juga untuk hari-hari yang tidak mengenakkan, mengkhawatirkan, membawa kecemasan, karena kutahu Kau selalu ada bagiku. Dan bersama-Mu, kita sanggup lewati itu semua. Ya, hanya bersama-Mu! :)

Kutahu, kuharus kendalikan perasaanku. Karena apa jadinya jika ia berkuasa atasku? Dia jadi tuanku? Sehingga aku harus ikuti apa maunya selalu?

Let me say it one more time: God, I Love You. I thank You for Your love for me. The unconditional one that accepts me for who I am.

Biarlah hidupku memuliakan-Mu. Amin.

18 October 2011

From Ho Chi Minh City with love…

Your daughter,

Fonny

Sunday, October 23, 2011

Genggam Tanganku



Wanita itu sudah bukan anak kecil lagi. Bahkan, dia mungkin salah satu penghuni tertua di Panti Asuhan Anak yang cacat fisik dan kelainan mental ini. Umurnya di atas 20 tahun. Dia terus memandangi kami, ketika kami melangkah masuk pagar depan. Dia terus mengikuti kami dan tak lama dia merangkulku. Seolah begitu erat, tak mau melepaskanku. Aku sendiri bingung campur sedikit cemas, tetapi juga kasihan. Jadi, kubiarkan saja sementara dia terus menatapku.

Tak lama, kami pun diberi semacam gelang rosario, hasil karya mereka. Dia langsung memasangkannya di tanganku. Begitu bahagia mereka menyambut kedatangan kami yang hanya sebentar saja ini.

Memang di sebelah Panti Asuhan ini, ada sekolah untuk anak-anak yang normal. Mungkin-ini hanya dugaanku- mereka sering melihat anak-anak itu dijemput orang tuanya. Sehingga mereka pun memiliki kerinduan untuk dikunjungi dan begitu bahagia menyambut kami yang datang ke sana. Kami diterima dengan sambutan yang luar biasa: rangkulan juga pemberian gelang, tanda mereka memang butuh kasih dan perhatian dari sesama.

Saat dia genggam tanganku, beribu rasa jadi satu. Tak ada kata yang tepat ‘tuk menggambarkan semua itu. Batinku terus menyerukan sesuatu: sudahkah aku memberi perhatian pada sesamaku? Keluargaku, anak-anakku, teman-teman yang singgah dalam hidupku? Dan juga bagi mereka yang butuh perhatian: kesepian, sakit, putus asa, hilang harapan akan kehidupan? Dan bagi mereka yang ‘spesial’ karena mereka berbeda- mereka yang tak lengkap panca indera atau mereka yang mentalnya tidak bertumbuh secara normal, seperti yang kutemui hari ini….Ya, mereka juga butuh kasih dan sayang. Mereka butuh cinta kasih yang selama ini mungkin jauh dari mereka, yang seolah sering menyembunyikan diri hanya karena mereka berbeda. Padahal mereka juga butuh cinta dan bukan salah mereka jika mereka tidak normal seperti manusia pada umumnya. Mereka yang bahkan mungkin ditolak keluarganya, mereka yang mungkin dibuang ayah-ibunya. Mereka yang tak punya pilihan lain selain menerima keadaannya… Tuhan, kasihanilah mereka.

Tak terasa, air mataku menitik saat aku harus pulang. Aku mungkin bukan orang yang luar biasa sempurna dalam hal mengasihi sesama. Masih jauh dari itu. Tetapi, biarlah setiap hariku yang Kauanugerahkan bagiku merupakan hari yang lebih baik dalam membagikan kasih kepada sesama. Terutama mereka yang menderita dan butuh perhatian kita. Dunia ini tengah lapar. Lapar secara fisik di mana banyak yang tidak bisa makan karena perekonomian yang sulit, tetapi juga lapar akan kasih karena tak jarang di keluarga yang kaya-raya dengan uang berlimpah, cinta seolah sudah menguap entah ke mana…Uang tak bisa membeli semuanya. Tanpa uang memang hidup tak mudah, tetapi jika hanya mengandalkan uang saja, bahagia pun seolah sembunyi belaka…

Hari ini, kuberdoa khusus bagi mereka yang merasa kesepian dan terluka. Bagi mereka yang tersisih dan terlupa.

Bagi mereka yang putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya…

Tuhan, kasihanilah…

Masih ada harapan di dalam Dia…

Kupercaya akan itu, Tuhan…

Semoga semakin banyak hati yang mau terbuka terhadap kasih-Mu,

sehingga mampu berbagi kepada mereka yang kekurangan cinta…

Genggam tanganku, Oh Tuhan, dan jangan lepaskan…

Semoga dalam penyertaan-Mu, diriku Kaumampukan

Untuk menggenggam lebih banyak tangan

Dalam kasih dan kedamaian…

HCMC, 23 Oct., 11

-fon-

*tergerak untuk menuliskan sharing seorang sahabat ketika berkunjung ke sebuah panti asuhan di daerah Dong Nai-Vietnam.

Wednesday, October 19, 2011

Yue Yue dan Orang Samaria yang Baik



Dunia tengah meradang dan dapat dikatakan dalam status emosi tinggi saat ini, kala memperhatikan kasus yang terjadi baru-baru ini di negeri Cina. Adalah Wang Yue-yang kerap dipanggil Yue Yue- seorang bocah kecil berusia dua tahun yang tengah menjadi sorotan. Begitu kasihan, dia mengalami tabrak lari, dilindas sebuah mobil van di sebuah jalan sempit. Sesudah menabrak gadis mungil itu, malah van tersebut melindasnya sekali lagi. Tidak berhenti sampai di situ, orang-orang bukannya menolong, malah menonton. Melihat sebentar, seolah tak peduli, lalu melenggang begitu saja, meninggalkan Yue Yue yang sekarat dan tak berdaya. Dan yang lebih pedih lagi, Yue Yue sempat dilindas mobil lainnya sekali lagi. Akhirnya, ada seorang perempuan yang merupakan orang ke-19 yang lewat, yang menolong Yue Yue dan membawanya ke tepi. Ibu Yue Yue menemukannya lalu membawa Yue Yue ke rumah sakit. Saat saya menuliskan hal ini, Yue Yue kabarnya masih koma di RS tetapi mulai terlihat detak jantung dan tekanan darah yang stabil, meski dengan alat bantu pernafasan.

Banyak kecaman yang dikeluarkan bahkan oleh penduduk Cina sendiri. Bahwa seolah bangsanya sudah menjadi bangsa yang ‘dingin’, cuek, acuh tak acuh, dan tak lagi peduli akan sesama. Bangsa yang mungkin maju secara ekonomi, tetapi hancur dalam kemanusiaan dan moralitas. Banyak keluhan senada diungkap di seluruh dunia karena publikasi berita ini. Terlepas dari sistem atau hukum yang berlaku di Cina, banyak orang memilih tidak menolong mereka yang tertimpa kesusahan, karena beberapa kasus malah memaksa Si Penolong untuk membayar denda. Tindakan baik yang tidak mendapatkan apresiasi, malah mendapat denda, berujung pada pilihan sikap yang cuek saja, tokh bukan urusan gua! Tetapi, banyak komentar pula dari berbagai situs bahwa kalau memang mau menolong, pasti ada jalan. Mungkin dengan memblokir jalan yang bersangkutan sambil menelpon polisi atau melakukan hal lainnya. Masalahnya terletak di hati nurani: mau atau tidak menolongnya?

Saya tidak akan membahasa sistem dan hukum di Cina karena itu tentunya di luar jangkauan saya untuk mengubahnya. Tetapi, saya kira, pintu nurani kita hendaknya terketuk bila mendengar hal-hal semacam ini. Kita bicara tentang nyawa. Nyawa seorang anak yang dicuekkan apa pun alasannya. Dan sopir yang menabrak juga mendapat banyak caci-maki, karena menelpon orang tua Yue Yue dan berusaha membujuk mereka untuk menerima kompensasi agar dirinya aman. Serta alasan Sang Sopir melindas Yue Yue dua kali adalah: kompensasi yang dia bayarkan akan lebih rendah bila anak itu mati daripada anak itu hidup. Astaga! Jika uang yang jadi ukuran dan lantas mengabaikan keselamatan manusia, alangkah menyedihkannya dunia ini! Ya, Tuhan, kasihanilah…

Mengamati kasus ini, teringat bahwa media sering menyebutkan perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik. Di Kitab Suci, teksnya adalah sebagai berikut:

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Lukas 10:25-37)

Dari apa yang tertulis di Kitab Suci, terlihat bahwa orang yang terluka itu tidak ditolong oleh Imam ataupun Lewi yang hanya melewatinya begitu saja. Malah seseorang yang tidak diharapkannya akan menolong, malah menjadi Si Penyelamat dalam kasus ini. Orang Samarialah yang menolongnya. Mungkin perlu kita lihat sedikit latar belakang Kitab Suci perikop tersebut sebagai berikut:

Kemungkinan Yesus mengajar dengan perumpamaan dengan maksud mengoreksi kebiasaan kesalehan yang palsu yang dilakukan oleh orang- orang pada jaman itu. Menurut hukum Taurat, persentuhan dengan jenazah menjadikan seseorang najis secara hukum, sehingga perlu menjalani ritual pemurnian (lih. Bil 19:11-22, Im 21:1-4, 11-12). Hukum- hukum ini bukan dimaksudkan untuk mencegah orang- orang menolong orang yang terluka; tetapi hukum itu ditujukan untuk alasan kesehatan dan penghormatan kepada orang mati. Penyimpangan para imam dan orang Lewi pada perumpamaan ini adalah, mereka yang tidak tahu apakah orang yang dirampok itu sudah mati atau belum, sengaja memilih untuk menerapkan interpretasi yang keliru terhadap hukum ritual -yang merupakan hukum yang sekunder- dan malah mengabaikan hukum yang lebih utama, yaitu mengasihi sesama dan memberikan bantuan yang diperlukannya. (Navarre Bible, St. Luke)

Sekarang, mari kita berandai-andai…

Terlepas dari bagaimana sikap ke-18 orang yang tidak memedulikan Yue Yue, akankah kita bersikap sama seperti mereka, atau akankah kita menolong Yue Yue? Tak jarang, di saat semua serba mendidih seperti saat ini, orang-orang dengan mudahnya menuding ke-18 orang tersebut. Tetapi, jangan-jangan, jika itu terjadi di depan mata kita, akankah kita berlaku sama seperti mereka? Yesus sudah memberikan perumpamaan yang mengutamakan kasih lebih dari peraturan. Kasih, pertolongan kepada mereka yang memerlukan bantuan, nyawa manusia, adalah lebih penting dari hukum yang menyatakan bahwa menyentuh orang yang terluka atau jenazah adalah najis (berdasarkan penjelasan Navarre Bible).

Teladan Kristus, Sang Orang Samaria yang baik hati, harus menjadi inspirasi bagi sikap orang beriman, mendorongnya untuk “dekat” kepada saudara dan saudarinya yang menderita, melalui penghormatan, pengertian, penerimaan, kelemahlembutan, belas kasihan dan kesediaan tanpa pamrih. Adalah masalah memerangi ketidakpedulian yang membuat tiap-tiap orang dan kelompok dengan egonya menarik diri ke dalam diri mereka sendiri. Sampai akhir, “keluarga, sekolah dan institusi- institusi pendidikan harus, jika untuk alasan-alasan kemanusiaan, bekerja keras demi membangunkan kembali dan menyempurnakan rasa peduli terhadap sesama dan penderitaannya.”.(Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Christifideles laici, Salvifici doloris, seperti dikutip dalam khotbahnya di peringatan ke delapan World Day of the Sick, di Roma 11 Februari 2000.)

Membaca tulisan Paus Yohanes Paulus II, mau tidak mau, membawa saya berpikir bahwa memang untuk memanusiakan kembali manusia, perlu kerja keras untuk memerangi ketidakpedulian dan egoisme kita. Keluarga, sekolah, dan insitusi pendidikan harus bekerja keras demi membangunkan kembali dan menyempurnakan rasa peduli terhadap sesama yang menderita. Sesuatu yang mungkin terlupa dilindas materialisme zaman. Terlalu sering pendidikan (termasuk dari para orangtua) diarahkan kepada orang-orang yang berhasil secara karier, memiliki nilai yang bagus, pintar di sekolah, hebat di pekerjaan, punya uang yang banyak, kaya-raya, tetapi lupa mendidik anak-anak untuk peduli terhadap sesama, memiliki hati nurani yang bersih sehingga tak mudah larut oleh godaan zaman. Memiliki kasih, memiliki iman dan harapan, juga kecerdasan spiritual di samping cerdas pula secara intelektual dan emosional.

Saya menangis untuk Yue Yue, untuk ketidakpedulian manusia di Cina akan dirinya, sekaligus potret yang gamblang bahwa inilah yang terjadi di masyarakat dunia sekarang. Termasuk mungkin di negara-negara lain dengan skala yang lebih ringan. Saat egoisme yang jadi juara, mementingkan diri sendiri yang utama, masihkah ada secercah cinta bagi sesama?

Kupandangi kedua permata hatiku, anugerah dari Sang Pencipta yang tak ternilai itu dan kuucapkan doa: semoga aku bisa mendidik mereka dengan baik. Di dalam akhlak dan budi pekerti, serta iman dalam Tuhan, bukan hanya pintar cari uang atau pintar sekolah saja.

Juga kumohonkan agar diriku dan semakin banyak sesamaku yang semakin mampu menebarkan cinta-Mu, ya Tuhan. Dunia ini indah jika kita bisa berbagi, bukan dengan inginnya menang sendiri atau cari selamat sendiri. Semoga kasih-Mu selalu mengetuk hati kami dan memampukan kami membuat prioritas. Bahwa kemanusiaan dan manusia itu sendiri, jauh lebih penting daripada materialisme, egoisme, dan cari selamat sendiri.

Doaku agar Yue Yue dan keluarganya diberi kekuatan menjalani ini semua. Sekiranya kesembuhan Yue Yue adalah sesuai dengan kehendak-Mu, Tuhan, semoga bisa terjadi dengan campur tangan-Mu. Dan bagi kami semua, semoga kasus Yue Yue menjadi pembelajaran berharga bahwa memang kami ini sering lupa akan orang lain, self-centered dan mau jadi yang utama, tetapi biarlah hari lepas hari, kami belajar untuk lebih peduli. Untuk lebih mengasihi. Untuk membagikan kasih-Mu yang sudah kami rasakan kepada dunia yang penuh luka ini. Karena Engkau sendiri sudah begitu baik dan penuh cinta pada kami.

Ho Chi Minh City, 20 Oktober 2011

-fonnyjodikin-

*tulisan ini dihimpun dari berbagai sumber.