Monday, June 30, 2014

Veni Sancte Spiritus

Mary Immaculate Parish, Quakers Hill-Schofields, Sydney.


8 Juni 2014.

Minggu pagi yang dingin.
Cuaca musim dingin di Australia seolah membuat tubuhku sedikit kaku.
Kami baru saja tiba sehari sebelumya di Negeri Kangguru ini, untuk mengunjungi saudara sekaligus berliburan.
Minggu itu, Minggu Pentakosta.
Niatan untuk Misa begitu kuat dan rasanya harus kulaksanakan.
Aku ingin selalu mendekat pada-Mu, ya Tuhan...
Sebagai ungkapan syukurku atas perlindungan-Mu di dalam hidupku...

Kulangkahkan kakiku masuk ke Gereja...
Misa pukul 09.00 pagi...
Gereja masih terbilang sepi. Masih cukup banyak tempat duduk yang belum terisi.
Suasana hikmat...
Ini Minggu Pencurahan Roh...
Hatiku berbunga-bunga.
Teringat kembali masa-masa aku menikmati kasih-Nya saat minggu-minggu Pentakosta sebelumnya.
Tanpa terasa, sudah hampir 14 tahun aku dibaptis:)

Perjalanan imanku terlintas satu-satu...
Bak film yang tengah terputar di benakku...
Perjalanan naik-turun untuk bertahan sebagai Pengikut Kristus...
Di tengah arus dunia yang begitu banyak godaan...
Masihkah aku tetap bisa setia?
Di tengah banyak kekecewaan dan kegagalan yang melemahkan?
Masihkah aku mampu mencari Sang Sumber Pengharapan?
Aku berusaha fokus pada Misa.
Udara dingin tergantikan kehangatan di dalam karena gereja dilengkapi alat pemanas (heater) yang cukup membuat para pengunjungnya merasa nyaman.

***

Sepanjang Misa kulalui dengah khusyuk.
Kelelahan persiapan perjalanan dan masa-masa penerbangan seolah terbayarkan dengan kesegaran alam yang indah, juga hadirnya aku di rumah-Mu, Tuhan...
Terima kasih.
Tiba-tiba, sebuah suara bening memecah keheningan.
Solis perempuan itu menarik perhatian seluruh umat, termasuk diriku.
Wajahnya tak jelas dari tempatku duduk, namun suaranya sungguh bening dan indah.
Terlebih lagi lagu yang dilantunkan membuatku tak bisa lagi berkata-kata.
Speechless. In amazement.

Come, Holy Spirit, from heaven shine forth with your glorious light.
Veni Sancte Spiritus

Come, Father of the poor, come, generous Spirit, come, light of our hearts.
Veni Sancte Spiritus

Come from the four winds, O Spirit, come breath of God; disperse the shadows over us, renew and
strengthen your people.
Veni Sancte Spiritus

Most kindly warming light! Enter the inmost depths of our hearts, for we are faithful to you.
Without your presence we have nothing worthy, nothing pure.
Veni Sancte Spiritus

You are only comforter, Peace of the soul.
In the heat you shade us; in our labour you refresh us, and in trouble you are our strength.
Veni Sancte Spiritus

On all who put their trust in you and receive you in faith, shower all your gifts.
Grant that they may grow in you and persevere to the end. Give them lasting joy!
Veni Sancte Spiritus




Seketika suasana hatiku dipenuhi rasa tenang yang luar biasa.
Diliputi rasa syukur tak terhingga.
Kelelahan, kekeringan, dahaga, seolah terpuaskan oleh kehadiran-Nya.
Veni Sancte Spiritus.
Datanglah Roh Maha Kudus...
Penuhilah setiap hati yang mendambakan-Mu...
Juga setiap orang yang seolah melupakan kehadiran-Mu...
Engkaulah Roh Penghibur di dalam kesedihan...
Roh pengetahuan yang membuka setiap jalan yang kami tak ketahui...
Engkau adalah Roh yang diutus Allah untuk membantu setiap umat-Nya dalam menghadapi setiap permasalahan yang timbul...

Tanpa terasa air mataku menetes perlahan.
Bukan, ini bukan air mata kesedihan!
Namun, sukacita...
Terbayang, sudah beberapa lama kekeringan itu timbul di hatiku...
Walaupun terus berusaha menulis dan menulis, tak jarang rasa kesepian maupun rasa khawatir juga pernah singgah.
Dalam segala ketidakpastian, dalam segala perasaan yang campur-aduk, kurasakan kembali damai itu sebagaimana yang kualami di sebuah pertapaan di Indonesia saat pertama aku mengikuti Misa Pentakosta di tahun 2000...

Roh Kudus, datanglah...
Penuhilah hati kami dengan semangat baru...
Bak lidah-lidah api yang turun dan memenuhi setiap kami...
Membakar dan memberikan peneguhan...
Memberikan motivasi yang takkan pernah kami dapatkan dari manusia mana pun...
Karena Tuhan sendirilah Sumber Motivasi Sejati yang tak pernah kering...

Sampai berakhirnya Misa, hatiku masih terus memuji-Nya...
Syukur kepada Allah, aku diperkenankan mengalami ini semua.
Jauh dari tempat tinggal kami, setelah menempuh kurang lebih delapan jam penerbangan...
Di sinilah aku, merasakan kembali kasih-Mu, peneguhan dari-Mu...

Tak usah takut, karena Aku besertamu...”
Suara itu terus bergema di hatiku...
Ya, Tuhan, terima kasih.
Kuanggukkan kepalaku tanda setuju...
Terima kasih sudah mengirimkan Roh Kudus pada kami, untuk menemani perjalanan kami.
Kau tahu, perjalanan ini tidak mudah untuk dilalui...
Namun, selama kami berpegang kepada-Mu...
Dalam tuntunan Bapa, Putera, dan Roh Kudus...
Segala sesuatunya menjadi sesuatu yang mungkin untuk dijalani..

1 Juli 2014. Singapura.

Ada sesuatu yang mendorongku untuk terus membuka lagu Veni Sancte Spiritus di Youtube dan terus mendengarkan versi Taize ini...
Ada yang terus mendorongku untuk menuliskan pengalaman ini...
Saya yakin, itu bukan dari diriku sendiri...
Sebagaimana setiap inspirasi yang Dia izinkan untuk singgah dalam diri dan mampu kutuangkan dalam bentuk tulisan, semua itu kuyakini atas seizin Yang Kuasa...
Terima kasih untuk itu semua, Tuhan...
Engkau tahu apa yang kualami...
Kehidupan di rantau kerap kali terlihat 'wow' dan kemilau bagi banyak orang...
Namun, kami pun harus menghadapi kehidupan yang jauh dari keluarga dan tidak di setiap tempat kami disambut dengan senyum dan tawa...
Banyak kali kami harus mengalami hal-hal yang kurang mengenakkan, mungkin rasisme, mungkin diskriminasi...
Kami tetap percaya, Tuhan, apa pun yang kami alami hari ini adalah atas kehendak-Mu dan ada di dalam rencana-Mu...
Semoga kami terus berusaha dekat pada-Mu...
Meski itu bukan hal mudah, meski banyak godaan yang datang...
Ajar kami untuk tetap setia...

Pengalaman yang indah ini kusyukuri sebagai bagian dari babakan hidupku...
Sebuah bagian yang kusimpan rapat-rapat di hatiku...
Yang sesekali akan kembali kubuka dan kutatap dengan senyuman...
Pengalaman bahwa aku dihargai, dicintai, dikasihi...
Pengalaman bahwa aku kembali meyakini bahwa aku takkan pernah ditinggalkan sendirian karena Allah selalu besertaku. Beserta kita.
Selamat malam Roh Kudus, teruslah mengobarkan semangat dalam hati kami...
Semangat melayani, semangat untuk lebih mengasihi...
Di tengah semua keterbatasan kami, Tuhan sudah mengirimkan sesuatu yang spesial.
And that something special is The Holy Spirit! :)

01.07.2014
* dalam kesukacitaan dan kedamaian yang masih terus meliputi hatiku... How could I ever thank YOU, Lord? I just feel so blessed:)


Tuesday, May 20, 2014

I See Your Smile in the Rain


It’s raining out there. The raindrops keep falling heavily. Nothing is seen so clearly.
From my window, I feel trapped. Can’t go anywhere. Forced to stay at home while I want to do is just going out and enjoy the day. Hated it much but yet it’s just a matter of choice what I gotta do next.

Watching TV-checked. Browsing internet-checked. Reading book-checked. But, the rain is still there. Non-stop pouring, almost like never-ending for the rest of the day. Feel bored, then I started to stare on my window. Again. Watching the rain and desperately hoping that it will stop soon. Nothing has changed anyway. The unfriendly rain plus extra wind, storm, and thunder have definitely shown their power.

Hopeless and little bit of helpless, I still concentrate on the dark sky. There’s no sign that it will change anyway. I decide to move on and do something in the kitchen. But, before I make any move, suddenly there's a soft whispering inside my heart...
" Stay a bit longer and see..."

I don't know whether it's my imagination or it is real, but suddenly I can see the raindrops almost like dancing.
Pouring my surrounding with colorful and beautiful gradation. 
Yes, I might watch too much movies or animated movies....
But for this time, I'll let my imagination runs as fast as it could... As high as possible...
And suddenly my heart feels that peaceful joy and I started to see some wonderful things...

From a different perspective...
I can smell the wet soil, the certain aroma that I always like when it rains...
I can smell the fresh scent of the plants that have been showered generously by the rain...
And suddenly again, I can see Your Smile, Lord, in the rain...
While not much things to do, I try to focus on You...
And amazingly, the feeling of emptiness moves away...
Instead, I feel loved by You once again...
Feeling the love that I rarely feel in this world...
The love that loves me unconditionally no matter what...

The Love. The Wind. The Smile. The Rain.
They all blend together harmoniously.
Filled my heart with the kind of warmth that I've never felt before.
I'm thanking God for this beautiful moment...
Some of the moments that I will remember for a long time...
As long as I live...
Being there and knowing that He loves us is just one of the miraculous things in my life...

The rain has stopped.
And suddenly, my heart longs for another rain :)

* a long time unfinished note that just got additional inspiration today...
Thank God:)

fon@sg
May 21st, 2014.

Friday, May 2, 2014

On and Off

Saya ingin selalu dekat pada-Nya...
Dalam suka dan duka...
Dalam nada-nada ceria maupun suram lagu kehidupan yang tengah saya jalani...

Namun, keinginan itu terbentur kenyataan...
yang terkadang mengecewakan...
Saat kegagalan atau kesulitan hidup menghantam begitu luar biasanya...
Saya lupa bahwa saya punya Allah yang jauh lebih luar biasa...
Saya pernah kecewa...
bahkan marah kepada-Nya...
Lalu, dengan beraninya mempertanyakan ke-MahaKuasa-an diri-Nya...
sungguh berani, dan sungguh terlalu diri saya ini...
Kekecewaan membawa saya bukannya introspeksi diri saya sendiri dengan baik...
atau bertanggung jawab atas segala pilihan yang telah saya buat...
Namun, dengan seenaknya, saya melempar tanggung jawab itu kepada Tuhan...

Betapa ingin saya selalu 'on'...
berada pada puncak relasi yang begitu mendalam dan hangat dengan Tuhan...
Namun, saya sadar, saya sering banyak 'off' nya...
Berdoa juga tak selalu konstan...
Kalau lagi senang dan tak banyak masalah, terkadang lupa ...
atau kesibukan menjadi dalih kurangnya komunikasi dengan-Nya...
"Ah, saya 'kan capek, Tuhan... besok aja, ya..."
Dan besok akan menjadi besok lusa, dua hari lagi, minggu depan, dan seterusnya...
Rasanya, cukup sering saya menunda...

Penginnya sih konstan...
Dalam berelasi dengan Tuhan, maunya sih terus percaya, terus bersyukur, terus melakukan yang terbaik bagi-Nya...
Terus menjadi lebih baik, terus dan terus dan terus....
Semua yang positif, semua yang manis, semua yang harum, semua yang baik...
Iman yang semakin kuat, pengharapan yang semakin besar kepada Tuhan...
Penginnya sih begitu...
Namun, harus diakui, pada kenyataannya?
Manusia begitu sulit untuk tetap dan selalu itu tadi...
Sadarkah kita bahwa kita begitu labil dan begitu menggampangkan semuanya, termasuk hidup doa dan relasi kita dengan-Nya...?

So, hari ini...
Mari memperbaharui lagi...
Sebuah janji...
Dari hati...
semoga kita semakin hari semakin mendekat kepada-Nya...
Sehingga, jika sampai suatu saat kita tengah 'off', itu tidak berlangsung lama...
Karena diingatkan kembali, bahwa Tuhanlah sumber segala...
kasih, pengampunan, dan karunia...

02.05.2014
fon@sg



Tuesday, March 18, 2014

Misteri...

Misteri

Minggu lalu, ketika membaca bertubi-tubi berita terbunuhnya Ade Sara, mahasiswi usia 19 tahun, ada rasa yang bergejolak di dada...
Sebagai seorang Ibu-jujur saja- saya sulit membayangkan kejadian ini.
Namun, membaca komentar Ayah-Ibu Ade Sara, sungguh saya memberikan acungan jempol setinggi-tingginya buat mereka.
Bahwa kasih dan label pemeluk kristiani, bukan hanya sekadar janji atau ucapan manis di mulut.
Tetapi, sungguh jika itu benar-benar dijalankan, akan membawa decak kagum semua orang.
Lintas agama, tanpa memandang suku-bangsa...
Bahwa kasih dan pengampunan sungguh menjadi hal yang begitu indah, walaupun pastinya orangtua Ade Sara mengalami kekecewaan yang begitu besar dan rasa kehilangan yang tak terlukiskan.
Mereka sudah menjadi contoh yang luar biasa di mata saya dan pastinya bagi banyak orang.

Belum lagi usai soal kekagetan akan terbunuhnya Ade Sara, datanglah berita hilangnya pesawat Malaysian Airlines MH370 secara mendadak dan sampai sekarang belum diketahui nasibnya.
Berita ini saya dapatkan pertama kali dari apps TRS- The Real Singapore di pagi hari, Sabtu 8 Maret yang lalu.
Rasa simpati dan kasihan langsung meraja di dada. 
Bagaimana nasib lebih dari 200 penumpang di dalamnya? Yang setiap dari mereka punya kisah dan perjalanan hidup sendiri?

Sampai hari ke-10, perkembangan kasus makin menjadi-jadi.
Membuat kebingungan, membuat banyak spekulasi yang terkadang membuat saya mengelus dada.
Satu per satu kejadian yang belum terselesaikan ini seolah bagai misteri...
Hatiku pun berbisik:
"Ah, bukankah kehidupan itu sendiri adalah misteri Ilahi?"

Kematian itu sendiri, walaupun pasti terjadi, entah kapan atau di mana, juga bagaimana terjadinya masih merupakan misteri bagi setiap kita.
Jika yang ada di angan, di pikiran adalah jalan normal: meninggal di masa tua dalam kondisi sakit-sakitan... Mungkin itu jauh lebih diterima...
Dibandingkan dengan kehilangan mendadak sebagaimana kasus Ade Sara, atau 
para penumpang MH370 yang masih tetap diharapkan hidup oleh para sanak saudara mereka jika benar bahwa dugaan bahwa pesawat ini dibajak...

Kelahiran seorang bayi pada umumnya diharapkan dan disambut dengan kebahagiaan...
Namun, kematian, ketika harus berhadapan dengan rasa kehilangan, tentunya tidak bisa dihadapi dengan keceriaan yang gegap-gempita...


Hidup dan segala misterinya menjadi seperti sebuah teka-teki yang seolah tak terpecahkan...
Namun, pada akhirnya, dengan menundukkan kepada...
Dengan seluruh rasa simpati dan sedih yang mungkin ada...
Kita harus berani mengakui...
Bahwa suatu saat, suka-tidak suka, kita harus menghadapi ujung dari hidup ini.
Suatu ketika, kita harus berkata sudah selesai.
USAI.

Mungkin kata ini bukanlah kata favorit kita...
Namun, inilah kenyataan yang harus dihadapi...
Suatu saat, kita harus kembali kepada Sang Pencipta...
Entah bagaimana caranya, juga tak tahu kapan atau di mana...
Namun, usai di dunia, bukan berarti usai pula bagi kita.
Ada satu babakan lain...
'Chapter' yang bernama keabadian...
Dalam kekekalan bersama Bapa...
Isn't it sweet?:)

Mungkin sulit untuk sampai pada pengertian itu tadi...
Mengingat betapa melekatnya kita pada dunia dan kehidupan yang kita jalani...
Sebagaimana hidup adalah misteri...
Mari kembali kepada Allah yang hakiki...
Hanya kepada Dia kita sandarkan diri dan sepenuh hati...
Dalam iman, semoga kuat menjalani...
Setiap keadaan bersama Dia yang menemani...

Sembari terus mendoakan ketenangan Ade Sara...
Juga keluarganya agar diberikan ketabahan...
Dan semoga MH370 mendapat titik terang...
Mohon Tuhan buka jalan dan singkapkan semua rahasia...
Sehingga pihak keluarga setidaknya mendapatkan kejelasan...

Sebagaimana hidup adalah misteri...
Mari kita kembali menapaki...
Hari lepas hari...
Dengan iman yang membalut hati...
Agar Tuhan tetap menjadi fokus hidup ini...

18.03.2014
fon@sg

Thursday, March 6, 2014

Dering Telepon

Dering Telepon

Senin siang, 24 Februari 2014

Siang itu, aku sedang berada di dokter gigi, sebagai kunjungan rutin yang sebetulnya sudah beberapa waktu belum kulakukan.
Sedang berada di ruang tunggu, tiba-tiba telepon berdering.

Hari itu, aku harus menerima kabar dari Mrs. Xiu-pengemudi bus sekolah Odri, yang mengabarkan bahwa bus sekolah yang membawa anak sulung kami dan teman-temannya itu baru saja mengalami kecelakaan.
Sungguh hatiku langsung kacau-balau.
Tetapi, Mrs. Xiu langsung menenangkan dan mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa, hanya kepala Odri, terutama bagian keningnya, terkena benturan kursi depan dan mengalami benjol sedikit...

Antara harus menyelesaikan janji dengan dokter gigi dan harus juga melihat keadaan anak kami di sekolah, konsentrasiku terpecah.
Akhirnya, satu per satu selesai.
Urusan dokter gigi kelar, langsung aku menuju sekolah.
Puji Tuhan, Odri baik-baik saja.
Sungguh bersyukur atas perlindungan Tuhan, bahwa tidak terjadi sesuatu apa pun.
Kupeluk dia, dan dia kembali ke ruang kelasnya, melanjutkan pelajaran di hari itu.

                                                                    ***

Tidak semua telepon kita harapkan.
Ada yang membuat sedih, kesal, marah, atau kuatir.
Walau ada pula kabar yang membahagiakan yang dibawanya...

2 Juni 1993, lebih dari 20 tahun yang lalu...

Telepon yang kuterima hari itu betul-betul mengejutkan.
Walaupun sudah setengah siap karena kondisi Papa yang cukup mengkhawatirkan selama enam tahun sebelumnya, namun dering telepon yang mengabarkan bahwa Papa harus pergi untuk selamanya, bukanlah sesuatu hal yang mudah kuterima.

Perasaan bahwa aku belum bisa membalas budi orangtua karena belum menyelesaikan pendidikan, masih tersimpan jelas di kala itu.
Namun, itulah kenyataan yang cukup menghentak.
Suka atau tidak, siap atau tidak, suatu saat kita harus mengucap selamat tinggal kepada orang-orang terkasih.
Bagiku, kasus itu adalah perpisahan dengan Papa yang tanpa terasa hampir memasuki tahun ke-21 di bulan Juni tahun 2014 ini.

Waktu itu aku belum menjadi seorang Katolik.
Juga belum mengenal Yesus secara pribadi.
Yang ada hanyalah kemurungan, kesedihan yang berlarut-larut.
Sulit menerima kenyataan, walaupun tahu harus berjalan dalam hidup ini...

                                                                     ***

Tidak semua dering telepon kita harapkan.
Juga seiring perkembangan zaman dan teknologi...
Pesan-pesan di WhatsApp, BBM messenger, atau aplikasi chatting lainnya...
Beberapa berita duka, berita tentang seseorang yang dekat dengan kita terkena penyakit parah yang belum ada obatnya, membuat kita tersentak.

Sekali lagi, pesan-pesan membahagiakan juga bermunculan di sana...
Ada berita kelahiran, kenaikan kelas, wisuda, pernikahan...
Ah, dering telepon yang membahagiakan pun mewarnai dunia kita...

Pada akhirnya, sebagaimana misa Rabu abu lalu, Fr. John Derrick Yap, OFM dari Gereja St. Mary of the Angels  Singapura berucap...
All that we have, one day is going back to ashes.
Only God and love that remain...

Dering telepon yang kita terima di masa depan, mungkin akan membahagiakan.
Mungkin pula akan mengecewakan, bahkan begitu menyakitkan.
Apa pun itu, mari tetap berpegang kepada Tuhan...
Percaya bahwa Yesus adalah Allah yang setia...
Persembahkan segala rasa...
Suka, duka, kecewa, dan bahagia...
Niscaya, ketenangan itu 'kan menyapa...
Tuhan ada, Dia akan memelihara...
Setiap dari kita, umat-Nya....

07.03.2014
fon@sg

Wednesday, March 5, 2014

God Will Provide

One day right in the beginning, we had no rice for dinner and then a lady came and brought rice. She said she was coming back from the office "and something in me told me to go to Mother Teresa and bring her rice." And so she brought rice. I said: "Please excuse me, I will measure first and then I will tell you." It was exactly the amount we cooked for dinner, no less, no more, not even half a cup. I told that lady what had happened and she began to cry. She was a Hindu, and she said, " To think that God used me, spoke in my heart. In the whole world, there are millions and millions of people, there are millions of people only in India, and God's concern for Mother Teresa." His tender love --- you must experience that... even when it is hard, when there is suffering, when there is humiliation.
(Where There Is Love, There Is God - Mother Teresa)

Di antara begitu banyak keindahan kasih Allah yang saya temui di buku Bunda Teresa yang berjudul Where There Is Love, There Is God  yang saya pinjam dari National Library Singapore ini, paragraf di atas sungguh membuat saya tersentak sekali lagi.
Betapa Tuhan begitu peduli dan menyediakan segala sesuatunya tepat dengan kebutuhan kita.

Sebagaimana yang kita baca, hari itu Bunda Teresa tidak punya beras untuk makan malam. Namun, ada seorang wanita yang mampir sepulang dari tempatnya bekerja. Ia mampir atas dorongan suara hati yang seolah menuntun dia menuju tempat Bunda Teresa dan membawakan beras.
Dan sungguh menakjubkan, beras yang dibawa oleh Sang Wanita tadi adalah jumlah yang pas dengan apa yang dibutuhkan oleh Bunda Teresa untuk makan malamnya.
Tidak kurang, tidak lebih, setengah cangkir pun tidak!

Mungkin, kita pernah mengalami hal serupa, walaupun tak sama persis.
Di mana Tuhan menyediakan yang kita butuhkan.
Tepat waktu-Nya, tidak kurang-tidak lebih...

Itulah jumlah yang kita butuhkan.
Mungkin kita butuh uang untuk membeli seragam anak sekolah atau membayar uang sekolah.
Mungkin kita perlu untuk membeli susu bayi yang baru lahir...
Mungkin, dan mungkin...
Berjuta kemungkinan yang bakal terjadi terlintas di kepala...

Betapa memang Allah sungguh peduli dan mengasihi segenap umat-Nya...
Betapa ayat berikut ini, bukanlah isapan jempol semata:
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu  menurut kekayaan   dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. 
--- Filipi 4:19

Sungguh bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan dalam hidupku...
Dalam hidup kita...
Dia menyediakan yang kita butuhkan...
Bukan melulu yang kita inginkan...
Karena terkadang keinginan kita belum tentu yang terbaik bagi kita...
Mungkin itu hanya keinginan yang dilandasi egoisme pribadi...
Mungkin keinginan kita hanya untuk cari sensasi, membuat iri orang lain, atau keinginan yang mengarah kepada hal-hal yang lebih negatif ketimbang positifnya...

Selain itu pula, selain mempercayakan seluruh penyelenggaraan hidup kita kepada-Nya...
Ada baiknya juga bagi kita untuk belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan sebagaimana yang tercantum dalam Kitab Filipi berikut ini:

Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri  dalam segala keadaan. 4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
--- Filipi 4:11-12

Mari belajar mencukupkan diri dalam segala hal.
Bukan melulu yang kita inginkan adalah yang terbaik bagi kita, melainkan yang kita butuhkan dan dianggap perlu oleh-Nya...
Ajar kami untuk bijaksana dalam mengelola segala yang Kautitipkan pada kami...
Termasuk manajemen keuangan...
Bimbing kami, Tuhan, untuk mempergunakan uang dengan bijaksana...
Sehingga tidak terjadi besar pasak daripada tiang...
Dan seberapa pun yang Kaupercayakan kepada kami, semoga kami bisa mempergunakan sebaik-baiknya untuk kemuliaan-Mu...
Bila yang berpunya mau berbagi dengan mereka yang berkekurangan...
Bila mereka yang menderita dan sengsara juga dipedulikan oleh sesamanya..
Alangkah indahnya dunia...
Betapa kasih-Nya terasa semakin hidup di dunia yang semakin hari semakin egois dan mementingkan diri sendiri ini...

Engkaulah Bapa yang penuh kasih...
Kami percaya penyelenggaraan-Mu..
Tuhan sudah sediakan yang kami perlukan...
Bagian kami hanyalah berusaha segiat yang kami bisa...
Dan dengan bijaksana, mempergunakan semua yang Tuhan berikan kepada kami, semoga demi tindakan kasih...

Penuhi hati kami dengan kasih-Mu...
Kepedulian-Mu...
Sehingga kami pun mampu peduli kepada mereka yang sungguh butuh pertolongan dan berteriak putus asa...
Sehingga mereka pun merasakan keindahan kasih-Mu di dunia ini...
Semoga...
Ya, semoga...

06 Maret 2014
fon@sg



   


Wednesday, December 18, 2013

Christmas Isn't Christmas (Till It Happens In Your Heart)

Christmas isn't Christmas 'till it happens in your heart.
Somewhere, deep inside you, is where Christmas really starts 
So, give your heart to Jesus, you’ll discover when you do 
That’s it Christmas, really Christmas for you. 

Jesus brings warmth like a winter fire, a light like a candle’s glow 
He’s waiting now to come inside, like He did so long ago 
Jesus brings gifts of truth and life and makes them bloom and grow 
So welcome Him with a song of joy, and when He comes you’ll know…. 

That Christmas isn’t Christmas ‘til it happens in your heart 
Somewhere, deep inside you, is where Christmas really starts 
So, give your heart to Jesus, you’ll discover when you do 
That’s it Christmas, really Christmas 

Christmas, really Christmas 
Christmas, really Christmas for you
(lyrics Christmas Isn't Christmas)

National University of Singapore-Cultural Hall, 2 November 2013.

It was our daughter's graduation day.
So blessed to witness a chapter in her life. She's just graduated from her Kindergarten.
Getting ready to welcome her further mile in this life.
This song was there.
Filling my heart with gladness, joy, and also realizing the fact that really, it's our heart that we need to prepare while welcoming Christmas.

It's not easy to do so. I know it for sure:)

Singapore is just so gorgeously decorated- full of festive atmosphere.
Along Orchard Road, it's just very beautiful. Full of Christmas' ornaments whether inside or outside the malls. Along the road. Everywhere:)

Inside malls and supermarkets, all festive goods are sold.

I remembered Ho Chi Minh City for a glance...
It's also busy preparing Christmas in its own way.
Simple, but yet full of warmth...
Christmas nowadays are so identical with parties, festivities, holidays, which are dragging us further from the essence of Christmas itself.

19th of December 2013.

6 days before Christmas.

Many things inside my heart.

Many things on my mind.
Wondering. Pondering. Reflecting.
Apart of so many festivities atmosphere, will I still be able to prepare my heart in welcoming Christ?
I know I should, but yet I know that's not an easy thing to do.
I need to do my very best for that...
Realizing that Christmas will never be complete, will never be at its fullness, without preparing my heart for Christ.
Embracing Him with all the love that I've got. 
For God so loved the world that He gave His only Son, Jesus Christ.

I'm grateful for that.

For Christ who was born for us.
He came to save us.
He even wanted to share our feelings as human...
He's true God and true man.
I can't express my thoughts in words now...
I'm amazed.
In an awe...
For knowing that He's there to help us.
To love us.
To forgive us...

As Catholics prepare themselves these weeks as Advent weeks.

Let's prepare our heart as well.
That's the main and important essence of Christmas...
Because Christmas isn't Christmas, 'till it happens in our heart.

Hopefully, all the festivity doesn't overwhelmed us too much.

Hopefully, we still put Jesus Christ as the main centre of the celebration.
Welcoming Him to this world, welcoming Him in our hearts.

19.12.2013

fon@sg