Sunday, July 31, 2011

Song of Joy



I’ve been searching for such a long time

the peace and joy from within

wondering if it’s a crime

‘coz it’s nowhere to find: from here until Berlin


After all the pain and sorrow,

there’ll be one day when I can see the rainbow

my life will once again be colourful

the pure joy makes it beautiful


joyfully, Lord I embrace You

even the sky isn’t always blue

I believe that You’ll provide

In You oh God, I’ll confide


I surrender my life to You,

I have faith that you're gonna see me through

All my life, I will sing this song

With You, I know that I’ll be strong


Ho Chi Minh City, 31 July 2011

@ copyright Fonny Jodikin

source of picture: thywordisalamptomyfeet.blogspot.com

Thursday, July 28, 2011

Problems Have a Purpose

Yesterday, I encountered this interesting article by Max Lucado. It has been a great blessing... And I'd like to keep it in my blog...thanks to Max Lucado for this inspiring article...

Problems Have a Purpose

Trust me in your times of trouble, and I will rescue you, and you will give me glory.
Psalm 50:15 NLT

God will use whatever he wants to display his glory. Heavens and stars. History and nations. People and problems. My dying dad inWest Texas.

The last three years of his life were scarred by ALS. The disease took him from a healthy mechanic to a bedbound paralytic. He lost his voice and his muscles, but he never lost his faith. Visitors noticed. Not so much in what he said but more in what he didn’t say. Never outwardly angry or bitter, Jack Lucado suffered stately.

His faith led one man to seek a like faith. After the funeral this man sought me out and told me. Because of my dad’s example, he became a Jesus follower.

Did God orchestrate my father’s illness for that very reason? Knowing the value he places on one soul, I wouldn’t be surprised. And imagining the splendor of heaven, I know my father’s not complaining.

A season of suffering is a small assignment when compared to the reward.

Rather than begrudge your problem, explore it. Ponder it. And most of all, use it. Use it to the glory of God. . . .

Your pain has a purpose. Your problems, struggles, heartaches, and hassles cooperate toward one end—the glory of God.

—from It’s Not About Me

Heavenly Father, when problems and pain come my way, help me to remember that nothing comes into my life without your approval. Rather than complain and cry about the challenges I face, help me consider them as opportunities to bring glory to you. Give me the strength and patience to bear my burdens in a way that will honor you. I will lift my eyes off the trials and keep them fixed firmly on you, amen.

Our God whom we serve is able to deliver us from the burning fiery furnace, and He will deliver us.
Daniel 3:17

Not a word failed of any good thing which the Lord had spoken to the house of Israel. All came to pass.
Joshua 21:45

Live LovedMany are the afflictions of the righteous, but the Lord delivers him out of them all.
Psalm 34:19

Wednesday, June 22, 2011

Lord, I Trust in You

Lord, I Trust in You

I admit, Lord that sometimes I feel scared and worried.

About my past, present, and future.

The pains and wounds from the past…

They keep coming back.

Maybe it’s my own fault that I haven’t let them go.

Some of the worries are about my future.

Uncertainties, plans that will or won’t happen

Will I be successful?

Will I have enough money to send my children to school?

Those thoughts popped up inside of my mind quite frequent

About my present condition.

My job, my family, my financial, my health.

Well, it’s unavoidable but yet I know that I need to work it out somehow

Let me put my trust in You, Lord.

With such a small faith that I have…

Even though it’s only like a mustard seed…

As long as I believe in You, I’ll feel peace.

I’ll feel safe, because I have You as my refuge

You’re my strength.

And forever, You’ll be my shield.

I’m really grateful for You

and let me say it one more time:

I put all my trust in You, Lord. (-fon-)

This I declare about the Lord:
He alone is my refuge, my place of safety;
he is my God, and I trust him.

--- Psalm 91:2


Wednesday, May 18, 2011

Kapan?


Oleh: Fonny Jodikin

Kata itu begitu mengusikku.

Semakin dewasa aku, rasanya semakin menggangguku. Ketika asyik-asyiknya menikmati kesendirianku, tak jarang orang bertanya: kapan punya pacar? Ketika sedang menikmati masa-masa berpacaran, pertanyaan berikutnya: kapan menikah? Sesudah menikah, kapan punya anak? Sesudah punya anak satu, kapan punya anak kedua? Akhirnya aku menjadi alergi dengan kata itu, kalau tidak bisa dikatakan benci.

Karena terus ditanya seperti itu, aku pun menanyakannya terus kepada-Nya.

Kapan, Tuhan?

Kapan aku punya mobil baru?Kan temanku sudah ganti dua kali, masa’ aku belum?

Kapan aku pindah kerja yang baru?Kan temanku sudah punya gaji berlipat, sementara aku terus berada di kantor lama dengan gaji yang hampir tak berubah ketika aku masuk kerja.

Kapan aku punya pacar, menikah, punya anak, punya menantu, punya cucu?

Kapan ini dan kapan itu, Tuhan? Kapan waktu-Mu tiba bagiku?

Setelah mengalami masa-masa relasi yang terbilang sulit dengan-Nya, karena seolah Dia tak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku memilih diam. Dan terkesan sedikit ‘cuek’ dengan-Nya. Aku tak lagi banyak berdoa. Karena sudah terlanjur kecewa, tak lagi kuingin bertanya.

Tengah malah ketika kucoba pejamkan mataku, sambil terus membolak-balik tubuhku di tempat tidurku. Suara-Nya yang lembut mengisi ruang hatiku:

Kapan kau sungguh akan melayani-Ku melalui orang-orang di sekitarmu?

Kapan kau akan berhenti memusatkan perhatian hanya pada dirimu dan belajar bersyukur?

Kapan kau akan berdoa agar Aku mengubah hatimu menjadi baru dan bukan mengubah keadaan di sekelilingmu?

Kapan kau akan percaya pada-Ku?

Tiba-tiba kurasakan air mata mengaliri kedua pipiku.

Kusadari betapa aku egois dan terus merongrong-Mu, ya Tuhan.

Ampuni aku.

Kusujud berdoa dan bersimpuh di kaki-Mu.

Kapan terakhir aku berdoa pada-Mu?

Ini saatnya aku kembali mensyukuri segalanya dan percaya pada-Mu.

Ubahlah hatiku, sehingga aku mampu menerima segala yang terjadi dalam hidupku.

Ho Chi Minh City, 19 Mei 2011

*somehow, we’re all struggling with this particular word: When? When, God??? Tetapi kembali kupercaya bahwa Tuhan penguasa segalanya dan yang punya rencana atas hidupku. Lord, I surrender…

Sunday, March 6, 2011

Beban

*** curahan sebuah hati…

Bebanmu tampaknya ringan. Tak seberat bebanku. Terkadang kurasakan akulah empunya beban paling berat di seluruh dunia. Tak ada orang yang mengerti 100%, karena hanya aku yang mengalaminya. Bukan kamu, bukan dia, bukan mereka. Hanya aku!

Ketika kubawa bebanku kepada-Nya. Dia hanya bilang: pikullah kukmu. Jalani salibmu.

Ah, yang bener aja, God! Selalu urusan salib dan kuk… Katanya ringan. Koq masih berat begini, ujarku. Seolah hidup orang lain yang penuh jalan-jalan, foto-foto mesra dengan keluarga atau pacar, kenaikan peringkat, promosi dan sebagainya begitu menyenangkannya. Sementara aku? Tiap hari berkutat dengan problem yang sama. Aku tak punya tempat tinggal tetap, tak punya cukup uang, tak punya pangkat yang tinggi. Untuk jelasnya, dalam kehidupan ini: aku tak punya apa-apa yang berharga untuk kubanggakan.

Jadi, untuk apa aku hidup? Kalau tak punya kebanggaan… Kalau tak punya kebahagiaan? Tetapi, apakah kebahagiaan itu harus identik dengan apa yang kumiliki untuk kemudian kupertandingkan dengan teman-temanku. Suksesnya sudah sampai mana, mobilnya sudah pakai mobil mewah mana, rumahnya sebesar apa dan di kawasan mana?

Aku pernah merasa hidupku sia-sia. Tak berhasil, tidak sukses, tidak cukup kasih sayang. Serba merasa kurang.

Tetapi, apakah mereka yang terlihat bahagia itu memang bahagia? Atau mereka hanya ingin mempertontonkan sejumput kebahagiaan mereka di tengah ketidakbahagiaan yang mereka rasakan? Atau mereka hanyalah orang-orang yang bersyukur dengan apa yang ada, tanpa mengeluhkan apa yang tidak mereka miliki?

Mungkin juga terlalu sering aku melihat ke atas, tanpa pernah mau melihat ke bawah. Ketika kubaca di koran, 44 juta penduduk dunia masuk ke dalam lembah kemiskinan karena harga bahan pangan yang semakin membumbung tinggi memaksa mereka menghabiskan 50% dari penghasilannya hanya untuk makan… Membuatku merasa beruntung karena masih bisa makan tiga kali sehari. Bahkan membuang sisanya sesekali karena tak habis. Yang diam-diam sekarang kusesali karena aku seperti tak tahu terima kasih, padahal masih bisa makan. Kadang pun makan enak di restoran!

Ketika kulihat lagi, banyak orang yang tak seberuntung diriku… Cacat, tetapi tak kehilangan semangat. Bikin aku malu. Juga mereka yang sakit, mereka yang tak punya uang untuk sekolah… Tiba-tiba aku merasa beruntung. Bukan, bukan berpuas diri. Karena seringnya orang menganggap syukur itu identik dengan hilangnya keinginan untuk menjadi lebih baik lagi… Bukan itu… Tetapi tindakan mengoceh tanpa henti agaknya juga bukan tindakan yang terpuji…

Pada akhirnya kusadari, semua orang punya beban. Tanpa kecuali. Bebanku berbeda dengan bebanmu. Bebannya berbeda dengan beban mereka. Tetapi, setiap dari kita punya beban yang harus kita tanggung.

Bukan berarti aku harus merasa terbeban… Namun, biarlah beban ini membuatku mendekat kepada-Nya dan mau mengusahakan yang terbaik yang aku bisa dalam jalani ini semua… Tanpa beban ini, mungkin aku sudah terlalu sombong dan terlalu memuja kehebatan diriku sendiri… Dan lupa bahwa ada Dia, penguasa segala-galanya…

Ho Chi Minh City, 25 Feb. 2011

-fonny jodikin-

* Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya karena itu berarti sekali buat aku dan para blogger/facebookers yang mengandalkan blog dan notes dalam menulis. Trims.

Tuesday, March 1, 2011

Everyday is a Valentine’s Day

Hari Valentine’s jatuh pada tanggal 14 Februari.

Bukan barang baru, ‘kan? Semua sobat pembaca SMILE pasti sudah tahu:) Bahkan sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari mungkin. Yang berpasangan pastinya ingin memberikan yang terbaik di hari itu. Siap-siap cokelat, bunga, kartu, makan malam romantis candle light dinner, semua hanya untuk Si Dia. Tak kurang banyaknya, momen Valentine’s Day jadi momen yang indah dan bisa dikenang seumur hidup: siap-siap ‘nembak’ kecengan yang sudah dirindukan sekian lama, siap-siap mengajak tunangan atau bahkan mengajak ke jenjang yang lebih serius: lamaran pernikahan.

Indahnya hari yang berdominasi warna ‘pink’ alias merah jambu itu, pastinya tak terkira bagi para pasangan yang sedang dimabuk asmara. Para jomblowan dan jomblowati pun tidak ketinggalan, bikin acara sendiri: siapa bilang Valentine’s hanya buat mereka yang berpasangan?:)

Valentine’s Day lebih merupakan hari kasih sayang, di mana perhatian ekstra akan diberikan kepada yang tercinta. Apakah hanya satu hari itu saja, lalu esok-lusanya bubar jalan? Tentunya kita berharap bahwa kasih sayang yang terbina bisa bertahan lebih lama, bukan hanya sehari saja.

Menghubungkan Valentine’s Day dengan cinta Tuhan, dengan kasih-Nya, membuat saya tersadarkan: kalau bagi diri-Nya setiap hari adalah hari yang penuh cinta kasih bagi kita umat manusia. Dia adalah Allah yang penuh kasih. Sehingga tak salah bila kita katakan: God is love. Allah adalah kasih, sumber dari segala kepenuhan kasih ada pada-Nya. Cinta antarmanusia memiliki keterbatasan dan tak jarang mengakibatkan kekecewaan. Namun, bila kita pahami lebih dalam kasih-Nya (walaupun mungkin kita pernah kecewa pada-Nya tetapi bukan berarti Dia berhenti mengasihi kita, kita hanya salah paham pada-Nya)… Pada akhirnya kita akan mengerti bahwa bagi Dia everyday is a Valentine’s Day. Dia takkan berhenti mengasihi kita, seberapa buruk kelakuan kita atau seberapa berat dosa kita. Dia tetap menyayangi kita anak-anak-Nya.

So, mari kita belajar untuk lebih saling mengasihi, karena kita sudah sangat beruntung dikasihi-Nya. Sehingga hari-hari di bumi ini menjadi hari-hari damai penuh cinta, because everyday is a Valentine’s Day for Him :)

Ho Chi Minh City, 25 November 2010

Fonny Jodikin

NB: sudah dimuat di majalah SMILE edisi 11, Jan - Feb 2011, hal. 11.

* tautannya ada di:

Friday, December 24, 2010

Dekil



*** self-talk within me

“ Dekil, kamu…”

“ Emang… Aku gak pernah menganggap diriku putih tanpa noda, koq… Jadi, kuakui memang aku ‘dekil’ . Bukan berarti aku jarang mandi, lho… Tapi memang aku tak cukup bersih, masih diliputi dosa dan kesalahan… “

“ Jangan sok bersih, kamu…”

“ Oh, aku tidak pernah merasa diriku sok bersih. Malulah sama tetangga. Dan apa kata dunia? Haha… Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah tetapi terus berusaha untuk hidup lebih baik hari lepas harinya…”

“ Sekali dekil, tetap dekil. Merdeka!”

“ Wuih, aku tidak setuju sama yang satu itu… Kuakui memang kedekilan itu tidak bisa hilang 100%, tetapi dengan usaha yang lebih baik dan berjuang lebih keras, tentunya kedekilan itu bisa berkurang kadarnya. Besok-besok berkurang dekilnya lah yaw…”

“ So, apa kabar, Kil (baca: Dekil)? How’s your day lately?”

“ Oh, aku baik-baik saja. Trying my best to cope with whatever I encounter in my daily life…Dan dengan hadir-Nya di hidupku, setidaknya aku bisa meminimalisasi kedekilan itu…Karena sudah hadir, detergen terampuh untuk mencuci semua kedekilanku yaitu kasih-Nya. Kuakui ku tak sempurna, banyak salah, masih pernah iri-dengki-cemburu-dendam… Tetapi, dengan kasih-Nya, kuyakin aku bisa melampaui itu semua. Bukan karena kekuatanku, tetapi karena dukungan-Nya yang tak henti pada diri mereka yang terus berjuang untuk mencerminkan hidup yang bercirikan karakter yang lebih baik lagi…”

“ Jadi! Usahlah kauganggu diriku dengan hinaan bernada dekil begitu…. Biarkan aku maju, bergerak menjadi seputih salju dengan bimbingan-Nya yang menuntun tanganku…Gih, minggirrrr…. Permisiiiii, aku mau lewatttt…”

Demikianlah percakapan yang terjadi di dalam hati menjelang Natal ini. Biarlah kupercayakan sekali lagi, aku yang ‘dekil’ dan tak sempurna ini, punya kesempatan untuk jadi putih berseri… Dalam iman kupercaya bahwa Tuhan akan mampu ubahkan diriku asalkan adanya niatan yang kuat di hatiku.

Selamat Natal buat semua yang merayakan. Bersyukur untuk hadirnya Yesus di hidup para pengikut-Nya dan semoga kita tidak menyia-nyiakan semua kebaikan-Nya di hidup kita…

Ho Chi Minh City, 24 Desember 2010

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya

sumber gambar:

zastavki.com