Lord, I Trust in You
I admit, Lord that sometimes I feel scared and worried. About my past, present, and future. The pains and wounds from the past… They keep coming back. Maybe it’s my own fault that I haven’t let them go.
Some of the worries are about my future. Uncertainties, plans that will or won’t happen Will I be successful? Will I have enough money to send my children to school? Those thoughts popped up inside of my mind quite frequent
About my present condition. My job, my family, my financial, my health. Well, it’s unavoidable but yet I know that I need to work it out somehow
Let me put my trust in You, Lord. With such a small faith that I have… Even though it’s only like a mustard seed… As long as I believe in You, I’ll feel peace. I’ll feel safe, because I have You as my refuge You’re my strength. And forever, You’ll be my shield. I’m really grateful for You and let me say it one more time: I put all my trust in You, Lord. (-fon-)
This I declare about the Lord: --- Psalm 91:2 |
my writings especially dedicated for Jesus. For His goodness and never ending kindness in my life.
Wednesday, June 22, 2011
Lord, I Trust in You
Wednesday, May 18, 2011
Kapan?
Oleh: Fonny Jodikin
Kata itu begitu mengusikku.
Semakin dewasa aku, rasanya semakin menggangguku. Ketika asyik-asyiknya menikmati kesendirianku, tak jarang orang bertanya: kapan punya pacar? Ketika sedang menikmati masa-masa berpacaran, pertanyaan berikutnya: kapan menikah? Sesudah menikah, kapan punya anak? Sesudah punya anak satu, kapan punya anak kedua? Akhirnya aku menjadi alergi dengan kata itu, kalau tidak bisa dikatakan benci.
Karena terus ditanya seperti itu, aku pun menanyakannya terus kepada-Nya.
Kapan, Tuhan?
Kapan aku punya mobil baru? ‘
Kapan aku pindah kerja yang baru? ‘
Kapan aku punya pacar, menikah, punya anak, punya menantu, punya cucu?
Kapan ini dan kapan itu, Tuhan? Kapan waktu-Mu tiba bagiku?
Setelah mengalami masa-masa relasi yang terbilang sulit dengan-Nya, karena seolah Dia tak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku memilih diam. Dan terkesan sedikit ‘cuek’ dengan-Nya. Aku tak lagi banyak berdoa. Karena sudah terlanjur kecewa, tak lagi kuingin bertanya.
Tengah malah ketika kucoba pejamkan mataku, sambil terus membolak-balik tubuhku di tempat tidurku. Suara-Nya yang lembut mengisi ruang hatiku:
Kapan kau sungguh akan melayani-Ku melalui orang-orang di sekitarmu?
Kapan kau akan berhenti memusatkan perhatian hanya pada dirimu dan belajar bersyukur?
Kapan kau akan berdoa agar Aku mengubah hatimu menjadi baru dan bukan mengubah keadaan di sekelilingmu?
Kapan kau akan percaya pada-Ku?
Tiba-tiba kurasakan air mata mengaliri kedua pipiku.
Kusadari betapa aku egois dan terus merongrong-Mu, ya Tuhan.
Ampuni aku.
Kusujud berdoa dan bersimpuh di kaki-Mu.
Kapan terakhir aku berdoa pada-Mu?
Ini saatnya aku kembali mensyukuri segalanya dan percaya pada-Mu.
Ubahlah hatiku, sehingga aku mampu menerima segala yang terjadi dalam hidupku.
*somehow, we’re all struggling with this particular word: When? When, God??? Tetapi kembali kupercaya bahwa Tuhan penguasa segalanya dan yang punya rencana atas hidupku. Lord, I surrender…
Sunday, March 6, 2011
Beban
*** curahan sebuah hati…
Bebanmu tampaknya ringan. Tak seberat bebanku. Terkadang kurasakan akulah empunya beban paling berat di seluruh dunia. Tak ada orang yang mengerti 100%, karena hanya aku yang mengalaminya. Bukan kamu, bukan dia, bukan mereka. Hanya aku!
Ketika kubawa bebanku kepada-Nya. Dia hanya bilang: pikullah kukmu. Jalani salibmu.
Ah, yang bener aja, God! Selalu urusan salib dan kuk… Katanya ringan. Koq masih berat begini, ujarku. Seolah hidup orang lain yang penuh jalan-jalan, foto-foto mesra dengan keluarga atau pacar, kenaikan peringkat, promosi dan sebagainya begitu menyenangkannya. Sementara aku? Tiap hari berkutat dengan problem yang sama. Aku tak punya tempat tinggal tetap, tak punya cukup uang, tak punya pangkat yang tinggi. Untuk jelasnya, dalam kehidupan ini: aku tak punya apa-apa yang berharga untuk kubanggakan.
Jadi, untuk apa aku hidup? Kalau tak punya kebanggaan… Kalau tak punya kebahagiaan? Tetapi, apakah kebahagiaan itu harus identik dengan apa yang kumiliki untuk kemudian kupertandingkan dengan teman-temanku. Suksesnya sudah sampai mana, mobilnya sudah pakai mobil mewah mana, rumahnya sebesar apa dan di kawasan mana?
Aku pernah merasa hidupku sia-sia. Tak berhasil, tidak sukses, tidak cukup kasih sayang. Serba merasa kurang.
Tetapi, apakah mereka yang terlihat bahagia itu memang bahagia? Atau mereka hanya ingin mempertontonkan sejumput kebahagiaan mereka di tengah ketidakbahagiaan yang mereka rasakan? Atau mereka hanyalah orang-orang yang bersyukur dengan apa yang ada, tanpa mengeluhkan apa yang tidak mereka miliki?
Mungkin juga terlalu sering aku melihat ke atas, tanpa pernah mau melihat ke bawah. Ketika kubaca di koran, 44 juta penduduk dunia masuk ke dalam lembah kemiskinan karena harga bahan pangan yang semakin membumbung tinggi memaksa mereka menghabiskan 50% dari penghasilannya hanya untuk makan… Membuatku merasa beruntung karena masih bisa makan tiga kali sehari. Bahkan membuang sisanya sesekali karena tak habis. Yang diam-diam sekarang kusesali karena aku seperti tak tahu terima kasih, padahal masih bisa makan. Kadang pun makan enak di restoran!
Ketika kulihat lagi, banyak orang yang tak seberuntung diriku… Cacat, tetapi tak kehilangan semangat. Bikin aku malu. Juga mereka yang sakit, mereka yang tak punya uang untuk sekolah… Tiba-tiba aku merasa beruntung. Bukan, bukan berpuas diri. Karena seringnya orang menganggap syukur itu identik dengan hilangnya keinginan untuk menjadi lebih baik lagi… Bukan itu… Tetapi tindakan mengoceh tanpa henti agaknya juga bukan tindakan yang terpuji…
Pada akhirnya kusadari, semua orang punya beban. Tanpa kecuali. Bebanku berbeda dengan bebanmu. Bebannya berbeda dengan beban mereka. Tetapi, setiap dari kita punya beban yang harus kita tanggung.
Bukan berarti aku harus merasa terbeban… Namun, biarlah beban ini membuatku mendekat kepada-Nya dan mau mengusahakan yang terbaik yang aku bisa dalam jalani ini semua… Tanpa beban ini, mungkin aku sudah terlalu sombong dan terlalu memuja kehebatan diriku sendiri… Dan lupa bahwa ada Dia, penguasa segala-galanya…
-fonny jodikin-
* Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)
* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya karena itu berarti sekali buat aku dan para blogger/facebookers yang mengandalkan blog dan notes dalam menulis. Trims.
Tuesday, March 1, 2011
Everyday is a Valentine’s Day
Hari Valentine’s jatuh pada tanggal 14 Februari.
Bukan barang baru, ‘
Indahnya hari yang berdominasi warna ‘pink’ alias merah jambu itu, pastinya tak terkira bagi para pasangan yang sedang dimabuk
Valentine’s Day lebih merupakan hari kasih sayang, di mana perhatian ekstra akan diberikan kepada yang tercinta. Apakah hanya satu hari itu saja, lalu esok-lusanya bubar jalan? Tentunya kita berharap bahwa kasih sayang yang terbina bisa bertahan lebih lama, bukan hanya sehari saja.
Menghubungkan Valentine’s Day dengan cinta Tuhan, dengan kasih-Nya, membuat saya tersadarkan: kalau bagi diri-Nya setiap hari adalah hari yang penuh cinta kasih bagi kita umat manusia. Dia adalah Allah yang penuh kasih. Sehingga tak salah bila kita katakan: God is love. Allah adalah kasih, sumber dari segala kepenuhan kasih ada pada-Nya. Cinta antarmanusia memiliki keterbatasan dan tak jarang mengakibatkan kekecewaan. Namun, bila kita pahami lebih dalam kasih-Nya (walaupun mungkin kita pernah kecewa pada-Nya tetapi bukan berarti Dia berhenti mengasihi kita, kita hanya salah paham pada-Nya)… Pada akhirnya kita akan mengerti bahwa bagi Dia everyday is a Valentine’s Day. Dia takkan berhenti mengasihi kita, seberapa buruk kelakuan kita atau seberapa berat dosa kita. Dia tetap menyayangi kita anak-anak-Nya.
So, mari kita belajar untuk lebih saling mengasihi, karena kita sudah sangat beruntung dikasihi-Nya. Sehingga hari-hari di bumi ini menjadi hari-hari damai penuh cinta, because everyday is a Valentine’s Day for Him :)
Fonny Jodikin
NB: sudah dimuat di majalah SMILE edisi 11, Jan - Feb 2011, hal. 11.
* tautannya ada di:
Friday, December 24, 2010
Dekil

*** self-talk within me
“ Dekil, kamu…”
“ Emang… Aku gak pernah menganggap diriku putih tanpa noda, koq… Jadi, kuakui memang aku ‘dekil’ . Bukan berarti aku jarang mandi, lho… Tapi memang aku tak cukup bersih, masih diliputi dosa dan kesalahan… “
“ Jangan sok bersih, kamu…”
“ Oh, aku tidak pernah merasa diriku sok bersih. Malulah sama tetangga. Dan apa kata dunia? Haha… Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah tetapi terus berusaha untuk hidup lebih baik hari lepas harinya…”
“ Sekali dekil, tetap dekil. Merdeka!”
“ Wuih, aku tidak setuju sama yang satu itu… Kuakui memang kedekilan itu tidak bisa hilang 100%, tetapi dengan usaha yang lebih baik dan berjuang lebih keras, tentunya kedekilan itu bisa berkurang kadarnya. Besok-besok berkurang dekilnya lah yaw…”
“ So, apa kabar, Kil (baca: Dekil)? How’s your day lately?”
“ Oh, aku baik-baik saja. Trying my best to cope with whatever I encounter in my daily life…Dan dengan hadir-Nya di hidupku, setidaknya aku bisa meminimalisasi kedekilan itu…Karena sudah hadir, detergen terampuh untuk mencuci semua kedekilanku yaitu kasih-Nya. Kuakui ku tak sempurna, banyak salah, masih pernah iri-dengki-cemburu-dendam… Tetapi, dengan kasih-Nya, kuyakin aku bisa melampaui itu semua. Bukan karena kekuatanku, tetapi karena dukungan-Nya yang tak henti pada diri mereka yang terus berjuang untuk mencerminkan hidup yang bercirikan karakter yang lebih baik lagi…”
“ Jadi! Usahlah kauganggu diriku dengan hinaan bernada dekil begitu…. Biarkan aku maju, bergerak menjadi seputih salju dengan bimbingan-Nya yang menuntun tanganku…Gih, minggirrrr…. Permisiiiii, aku mau lewatttt…”
Demikianlah percakapan yang terjadi di dalam hati menjelang
Selamat Natal buat semua yang merayakan. Bersyukur untuk hadirnya Yesus di hidup para pengikut-Nya dan semoga kita tidak menyia-nyiakan semua kebaikan-Nya di hidup kita…
-fon-
* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya
sumber gambar:
zastavki.com
Friday, December 17, 2010
ReSiPI- Lord, Don’t Move the Mountain

Oh Lord You Don't Have To Move The Mountain
But Give Me The Strength To Climb
And Lord, Don't Take Away My Stumbling Blocks
But Lead Me All Around
(Lord, Don’t Move the Mountain – one of the Soundtrack from The Pursuit of Happyness)
Ketika gunung permasalahan berada di hadapan. Apa doa kita? Apa kita memohon agar gunung itu dipindahkan, bahkan dihilangkan begitu saja dari kehidupan kita? Ah, ‘
Tetapi, lagu dari film Will Smith yang berisi ketegaran seorang pria dalam menapaki kehidupan yang tidak mudah sampai dia berhasil – The Pursuit of Happyness- itu mengajarkan saya untuk terus memohon kepada Tuhan dengan cara yang berbeda.
“ Tuhan, Kau tak perlu memindahkan gunung permasalahanku, tetapi berikanlah aku kekuatan untuk mendakinya.”
Permasalahan takkan berhenti. Persoalan akan datang silih berganti. Tetapi kita percaya bahwa dengan mengandalkan Tuhan, kita akan dimampukan untuk mendaki segala gunung permasalahan yang ada untuk kemudian menjadi kuat di dalam hidup ini. Bukan melulu dengan kuat kita, karena kita tak selalu sanggup untuk jalan sendirian… Namun, dengan bimbingan-Nya. Semoga kita senantiasa mau berdoa dan terus berusaha sambil mengharapkan-Nya di saat semua permasalahan melanda… Sehingga kita bisa berseru: Tuhan, beri aku kekuatan untuk melewati semua permasalahan ini bersama-Mu. Amin.
-fon-
* ReSiPI: rubrik yang asalnya adalah Renungan Singkat Penyegar Iman. Singkat-padat-membawa penyegaran bagi setiap insan yang rindu akan DIA. ReSiPI juga bisa merupakan kata yang mirip dengan RECIPE (dalam Bahasa Inggris, berarti: RESEP) yang moga-moga bisa menjadi RESEP kita agar bisa dengan tenang melangkah dalam hidup bersama-Nya apa pun yang terjadi:) Amin.
sumber gambar:
ourayvacations.com
Monday, December 6, 2010
Kau Memang Layak Dikagumi!
* featuring: Franky Sihombing via lagunya dan imajinasiku..
Franky:
Belum pernah ada
Kasih di dunia
Sanggup menerima diriku apa adanya
Selain kasih-Mu, Yesus
Fon:
Bener banget, tuh Kak Franky…
Aku juga sudah merasakan hal yang sama. Begitu kasihnya Allah pada diriku, juga diri kita semua, jika saja kita menyadarinya. Pernah di satu masa, aku merasa seolah aku bukanlah orang yang layak dikasihi atau mendapatkan cinta sejati. Terkadang sikap mengasihani diri juga timbul, karena aku belum tahu akan figur yang penuh kasih itu. Saat momen indah itu tiba, kuterima Yesus dan merasakan kasih-Nya yang luar biasa… Aku merasa amat bahagia, sukacita… Tak pernah kurasakan sebelumnya. Walaupun hari-hari sesudahnya mungkin rasa berbunga-bunga itu sudah berganti menjadi rasa tenang dan damai, aku tetap mengingatnya sebagai perubahan drastis dalam hidupku. Saat aku mengenal-Nya secara pribadi, saat Dia masuk ke dalam hidupku pertama kalinya. Terima kasih, Yesus:)
Franky:
Tak
Kasih seperti ini
Sanggup mengubahkan hidupku
Menjadi baru
Selain kasih-Mu, Yesus
Fon:
Memikirkan dan merasakan kasih-Mu yang nyata dalam hidupku, Yesus… Membuatku merasa harus terus mengucap syukur dan berterima kasih yang tak kunjung putusnya. Aku berterima kasih atas hadir-Mu, kemampuan-Mu mengisi kekosongan di dalam hatiku. Yang aku tahu, takkan pernah mampu diisi atau digantikan oleh siapa pun atau apa pun. Aku bisa mencobanya dengan mencari dari berbagai sumber di dunia ini… Sumber cinta dan kepenuhan yang kukira bisa menggantikan kasih-Mu… Tetapi aku tahu, pada akhirnya kesemuanya itu akan tetap menempatkanku pada kehampaan. Mungkin kebahagiaan semu yang sementara, tetapi sekejap berlalu dan kosong itu kembali memonopoli hatiku. Kusadari bahwa hanya kasih-Mu yang sanggup menjadikanku baru di setiap harinya. Dan kasih itu pulalah yang memampukan aku mengasihi sesama. Mengasihi keluarga, teman, dan orang-orang yang kujumpai dalam perjalanan hidupku dengan lebih baik lagi. Karena aku mendapatkan kekuatan baru untuk mengasihi dari-Mu yang penuh cinta. Terima kasih, Yesus:)
Franky:
Kau...
Ku kagumi dalam hati
KasihMu tiada duanya
Sampai kini, ku akui
Kasih-Mu tiada duanya.
Fon:
Dannnn pada akhirnya….
Apa lagi yang harus kukatakan?
Selain: aku memang mengasihi dan mengagumi Engkau, Yesus. Karena Kau memang layak dikagumi. Pribadi-Mu yang penuh kasih, penerimaan-Mu yang luar biasa atasku-atas kami semua anak-anak-Mu…. Kebaikan-Mu untuk mau mati di kayu salib bagi kami semua…
Ah, aku kehabisan kata-kata, Yesus!
Kau kukagumi dalam hati, seperti kata Bung Franky…
Bukan hanya dalam hatiku semata, kuharap kekaguman itu membawaku melangkah lebih tinggi dalam kehidupan ini…
Dengan menunjukkan kebanggaan itu pada sesama dan menapaki hari-hari penuh cinta bersama-Mu…
Hanya bersama-Mu…
Setia pada-Mu,
berusaha terus dekat dengan-Mu,
bergiat menjalankan perintah-Mu…
Sebagai bukti kekagumanku dan luapan rasa terima kasihku!
Thank You, Jesus!:)
-fon-
*Special thanks to Franky Sihombing’s Song: Kasih-Mu Tiada Duanya. Dan duetnya dengan tulisanku di malam ini. The biggest thanks should go to Jesus for your everlasting kindness and goodness in my life..
* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.