Thursday, June 3, 2010

Undangan



Hari-hari belakangan menjadi hari yang menggelisahkan bagi Rika. Pasalnya, sebagai orang yang dekat dengan Tia yang menyelenggarakan pesta ulang tahunnya di hari Sabtu nanti, Rika tidak termasuk dalam daftar undangannya. Panik, gelisah, marah, tertolak, merasa tidak dianggap teman dan bahkan tidak diperhitungkan, seluruh perasaan itu memenuhi otaknya.

Dia kecewa. Itu jelas!

Jadi, apa artinya pertemuan-pertemuan selama ini? Curhat-curhat mereka yang seolah begitu mendalam? Semuanya seolah tanpa arti dengan tidak diundangnya dirinya. Dari kejadian ini, Rika merasa seolah Tia sudah menabuh genderang perang. Permusuhan sudah dimulai. Dan bagi dirinya itu dimulai dengan menghapus Tia dari daftar ‘phone book’-nya, melakukan ‘removed as a friend’ terhadap Tia di situs Facebook, tidak lagi mau mengontaknya, bahkan memusuhinya. Tia, cukup sudah!

Pengalaman seperti yang dialami Rika, mungkin pernah terjadi dalam kehidupan teman kita atau kehidupan kita pribadi. Tak jarang saya jumpai mereka yang bercerita kepada saya soal undang-mengundang ini. Mungkin juga pernah terjadi saya yang kelupaan mengundang seseorang dan orang tersebut lantas menjadi sakit hati pada saya tanpa pernah mengungkapkannya. Soal undang-mengundang ini memang banyak mengundang konflik juga… Sensitif juga soalnya…

Permasalahan seputar kekecewaan akibat tak diundang, membawa saya ke perenungan tentang seseorang yang selalu mengundang kita sebetulnya. Saya sendiri sempat terpana dengan perkataan ini: “ Datanglah kepada-Ku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan padamu.” Atau undangan yang tak kalah menariknya sebetulnya, “ Mari. Ikutlah Aku.” Undangan tersebut dilontarkan tanpa henti oleh sebuah pribadi, sebuah figur, yaitu Tuhan Yesus sendiri.

Sangat disayangkan apabila kita tak memedulikannya. Padahal, undangan itu adalah untuk kebaikan kita pribadi. Dan apabila saya kembalikan ke kejadian Rika yang begitu sakit hati karena tak diundang, sementara kita yang sudah diundang koq malah menyia-nyiakan undangan tersebut. Bukankah itu sesuatu hal yang aneh? Mungkin sebegitu tertutupnya pikiran kita akan permasalahan kita. Begitu terpusatnya diri kita hanya pada diri sendiri, sehingga hal-hal lain, apalagi seseorang yang peduli namun tak kelihatan, menjadi semakin kabur dan tak jelas dalam pandangan kita. Pernahkah kita memikirkan perasaan-Nya yang mengundang kita, kemudian kita tolak? Tentunya, Tuhan memang Mahatahu dan Maha segala-galanya. Jadi, kita yang belum membuka hati bagi-Nya pun tidak akan bagaimana-bagaimana, sih… Tetapi, tetap saja Dia rindu agar kita berkomunikasi dengan-Nya, berdoa, curhat sebagaimana terhadap seorang sahabat baik, memuji dan memuliakan nama-Nya, dan menjadi anak-anak kebanggaan-Nya.

Undangannya masih sama: tergantung maukah kita buka hati kita untuk-Nya? Dia sudah berdiri di depan pintu hati kita, mengetuk pintu itu. Maukah kita bukakan untuk-Nya?

Undang-mengundang. Diundang-tak diundang. Bikin masalah, bikin sakit hati, bikin hati kesal dan kecewa dalam hubungan antarmanusia. Sedangkan dalam konteks hubungan kita dengan Sang Pencipta, timbul pertanyaan juga : mengapa tidak menerima undangan-Nya yang mampu menyembuhkan itu semua? Manusia amat mungkin mengecewakan kita, tetapi Tuhan tidak (asal kita mengerti bahwa Dia memang baik: konsep yang seringnya keliru adalah kita pikir, kita rasa Tuhan tidak baik atau menjauh dari kita. Benarkah? Atau kita yang sudah terlanjur menghakimi Dia dengan perasaan dan pikiran kita, karena kejadian di hidup kita yang begitu mengecewakan sehingga kita merasa tak lagi mampu untuk percaya pada-Nya?).

Undangan dari-Nya tetap terbuka. Menyambut-Nya atau tidak, itu memang pilihan kita. Dia tak pernah memaksakan kehendak-Nya. Semoga semakin banyak hati yang mau membukakan pintu bagi Dia yang terus mengetuk tanpa henti:)

HCMC, 3 Juni 2010

-fon-

sumber gambar:

http://api.ning.com/files/V-WKbXgs4uX327i72imBokRl2VPWtOhn3PUb8*kYl0HFVeheGj8mQiogXBS-b1ZKpHqWExetZKANjZEPZJ6SF4-6B-u-gJVL/invitation.bmp

No comments:

Post a Comment