Saturday, July 13, 2013

Tuhan, Kasihanilah…



Saat begitu banyak hal terjadi, jauh dari apa yang kumengerti…
Aku hanya berucap
Tuhan, kasihanilah…

Saat begitu banyak kekecewaan yang terjadi, bahkan bertubi-tubi…
Aku membawa segalanya ke hadirat-Mu
Tuhan, kasihanilah…

Saat aku kehabisan kata-kata kala berdoa…
Dan hanya kesesakan bercampur tangisan yang ada di sana
Tuhan, kasihanilah…

Saat beribu ketidakpastian ada di depan mata…
Saat kegagalan lagi-lagi menyapa…
Tuhan, kasihanilah…

Saat luka-luka lama kembali menganga…
Dendam berkuasa membakar di dada…
Tuhan, kasihanilah…

Saat keperihan demi keperihan kulalui…
Bersama rasa sepi dan kesendirian di hati…
Tuhan, kasihanilah…

Saat hati begitu risau…
Galau…
Tuhan, kasihanilah…

Saat iri hati dan dengki mencoba menghampiri…
Ditambah lagi keegoisan diri…
Tuhan, kasihanilah…

Saat begitu banyak orang yang mencari cara untuk lari dari janji suci…
Ikrar setia sampai mati dalam mahligai pernikahan sejati…
Tuhan, kasihanilah…

Betapa kami adalah makhluk yang lemah dan tak sempurna…
Tetapi, itu bukan alasan untuk tidak setia…

Kusadari, Tuhan…
Tanpa-Mu, kami bukan siapa-siapa…
Bersama-Mu kuyakin kami bisa lewati semua…

Biarkan harapan itu menyala…
Iman itu meraja…
Dan rasa damai kembali singgah dengan indahnya..

9 Juli 2013
fon@sg

* in silent prayer, Lord have mercy. Christ have mercy. 

Sunday, June 30, 2013

Mendengar Suara-Mu


 
Di hadirat-Mu, kubersujud

menikmati kehadiran-Mu

Kubuka hati saat ini 'tuk mendengar suara-Mu



Reff:

Firman-Mu Tuhan ya sungguh benar

menerangi jalanku

Firman-Mu Tuhan membentuk hidupku

Kubersyukur pada-Mu
(lirik lagu: Mendengar Suara-Mu)
 
Lagu itu bergema merdu di ruangan auditorium Blessed Sacrament Church hari ini. Saat kuhadiri misa minggu sore. Misa berbahasa Indonesia.
Sungguh membangkitkan kenangan lama akan lagu-lagu rohani semacam ini. 
Suddenly, a sentimental feeling fills my heart…
 
Sepertinya air mata sudah ingin turun, tetapi entah mengapa mengurungkan niatnya.
Keharuan sungguh menyelimuti hatiku.
Begitu rinduku, Tuhan, akan saat-saat itu…
Bersekutu, memuji dan memuliakan nama-Mu…
Begitu indah, begitu hening, begitu mulia-Nya Engkau..
Kurasakan pula begitu dekatnya Engkau di hati…
 
Setelah sekian lama aku tak lagi memiliki waktu untuk ikut aktif di kegiatan-kegiatan rohani…
Agaknya, ‘siraman kesejukan’ yang kurasakan sore ini sungguh patut kusyukuri.
Doa-doa harianku pun terkadang tidak selalu fokus, karena terbentur kegiatan mengurus anak plus kurang tidur yang sudah kualami setahun belakangan ini… Walaupun itu bukanlah alasan, namun kurasakan sedikit-banyak keadaan yang tak lagi sama seperti dulu dalam berelasi dengan-Nya. 
Satu hal yang kupegang, aku terus berusaha menyertakan Dia dalam segala kegiatan harianku. Segala yang kurasakan, segala pergumulan, segala kesukaan, segala keceriaan, kuingin berbagi hanya dengan-Mu, Yesusku…
 
Berbagai peristiwa, kelelahan, dan keraguan pun menerpa…
Hal-hal penting yang tengah kami tunggu saat ini…
Seputar pendaftaran sekolah SD anak kami yang akan datang sebentar lagi, sementara kepastian akan izin tinggal tetap kami di sini belumlah keluar…
Dan beberapa rencana penting terpaksa harus tertunda…
Kalau dulu pastilah aku sudah begitu kacau…
Sekarang? Walaupun secara manusiawi aku pun merasa lelah menunggu segala kepastian dari-Mu, Tuhan… Tetapi, tak kurang keyakinanku akan rancangan-Mu dalam hidupku…
Sebagian dari hatiku terus berbisik bahwa Engkau tahu yang terbaik bagi kami. Engkau pasti datang tepat waktu. Engkau pasti memiliki ‘ending’ bagi beberapa masalah yang tengah kami tunggu. Jauh lebih indah dari ‘ending’ yang kami kira akan terjadi…
Kuserahkan ini semua ke dalam tangan-Mu…
Dan biarkan saat ini, aku hanya ingin …
Bersujud pada-Mu…
Menikmati kehadiran-Mu…
Dan…
Mendengar suara-Mu…
Biarlah aku membuka seluruh hati dan keberadaan diri-Ku…
Untuk-Mu…
 
30 Juni 2013
fon@sg

Tuesday, June 25, 2013

Haze (Kabut Asap)


Di akhir liburan, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa Singapura tertutup haze (kabut asap) yang disebabkan oleh pembakaran hutan di daerah Riau.
Tentu saja saya cukup cemas, tetapi akhirnya memutuskan untuk pulang tepat waktu. Karena sekitar seminggu lagi, sekolah anak-anak akan segera dimulai kembali.

Perihal kabut asap ini, membuat saya pun ditanyai oleh beberapa sahabat mengenai kondisi kami dan keluarga. Sungguh terima kasih tak terkira atas perhatian Sahabat sekalian. Beberapa hari ini, cuaca Singapura cukup cerah, konon disebabkan oleh berubahnya arah angin, malah Malaysia yang menyatakan negaranya dalam keadaan darurat (‘state of emergency’) dikarenakan oleh kabut asap juga. Dan tentu saja, kita berharap keadaan ini segera pulih.

Misa Minggu Sore 23 Juni 2013, St. Bernadette Church @ Zion Road

Romo Sambodo, SS.CC membuka misa dengan sesuatu yang ‘up to date’ dan merangkainya dengan indah.
Seperti Singapura yang ditutupi kabut, asap… Begitu pun kondisi hati kita yang sering tertutup kabut dan asap sehingga tak mampu melihat dan merasakan kasih Allah dalam hidup kita…

Aku tersentak.
Begitu benar ungkapan itu.
Tak jarang kabut dan asap menyelimuti hatiku, hatimu, hati kita.
Sehingga pandangan kita pun tak jelas, samar-samar, tak tertuju pada-Nya.

Hari itu, aku sungguh berdoa agar Tuhan singkapkan semua kabut di hati yang menghalangi kasih-Nya masuk dan memenuhi hatiku.
Mungkin itu berupa kebencian, amarah, dendam, ataupun luka yang masih menganga…
Sungguh, kuingin itu semua berada dalam kendali. Bukan berarti aku melupakan itu semua seolah amnesia. Tentu saja bukan!
Tetapi, biarlah itu semua menjadi pelajaran bagi diriku sendiri. Membuatku belajar lebih baik lagi dalam hal mengasihi. Dan itu semua-agaknya- takkan mungkin terjadi tanpa campur tangan Allah sendiri.

Hari ini…
Konon hujan es batu mengguyur bagian Barat Singapura. Beberapa daerah seperti Bukit Batok, Jurong East, dan beberapa bagian lainnya merasakan hujan es batu itu. Sekitar tempat tinggalku tidak, walau terlihat begitu hitam mendung yang menggayuti langit sore ini…
Kabut sudah berlalu, namun mungkin akan kembali.
Berganti hujan es batu yang memenuhi hari sebagian warga di sini…

Aku tetap berdoa agar segala musibah ini bisa berlalu.
Paniknya rakyat di sini yang memburu masker N95. Keadaan yang begitu berasap yang bahkan terasa sampai di dalam tempat tinggal- seolah tetangga sedang bakar-bakar kertas, semoga tak lagi mengisi hari-hari ke depan nanti…

Dan aku pun berdoa…
Agar damai Tuhan menghampiri setiap hari…
Agar kasih-Nya mengisi setiap relung hati…
Agar setiap kerinduan akan-Nya tak lagi tertutupi…
Ya Tuhan, bukalah mata hati kami…
Jangan ada batas-batas itu lagi…
Kabut asap silakan pergi…
Biarlah mentari kasih-Nya yang ganti menyinari…
Pancaran kelembutan yang indah dan begitu dinanti…
Setiap insan manusia di bumi ini.

25.06.2013
fon@sg

  • badai pasti berlalu. Kabut asap pun begitu #in faith I believe in You.

Saturday, April 13, 2013

Being Mom – Bekal




Setiap pagi saat masa sekolah, saya selalu menyiapkan bekal makanan bagi kedua putri saya.
Ada dua botol air minum  yang selalu saya siapkan, lalu juga ada kotak makanan…
Yang satu akan saya isi roti selai, yang satu lagi isi biskuit atau ‘snack’ lainnya. Kecuali Jumat, saya akan siapkan buah-buahan buat Si Kakak karena Friday is a Fruit Day di sekolah mereka. Setiap anak dianjurkan untuk membawa buah-buahan dan makan bersama teman-temannya di sekolah sebagai upaya hidup sehat.
Ya, anak-anak saya hanya bersekolah 2-4 jam per hari, jadi tak perlu makanan yang terlalu berat.
Dan anak kami yang tertua mendapatkan ‘lunch’ di sekolah.
Jadi, saya siapkan roti selai hanya jika dia ada les tambahan di sekolahnya, sekitar seminggu tiga kali.

Entah mengapa, kemarin, seolah kata ‘bekal’ itu begitu kuat di benak saya.
Saya memang membekali mereka dengan makanan jasmani…
Tetapi itu saja belumlah cukup…
Tak lupa pula, ‘bekal’ yang lebih penting untuk di kemudian hari, ketika suatu saat mereka menjadi dewasa nanti…
Bekal pendidikan, bekal  kasih Tuhan… Terus saya upayakan untuk ditanamkan di tengah seluruh kesibukan saya mengurus keluarga…
Tentunya tidak mudah, karena dalam kondisi yang kelelahan tak jarang saya pun sulit untuk selalu tersenyum ceria pada mereka.
Tak jarang pula upaya pendisiplinan mereka menjadikan saya harus menegur, mengingatkan, mungkin juga ‘marah’ agar mereka tetap berada pada jalur yang benar…
Menjadi orang-orang yang berkarakter baik dan terus menjadi perpanjangan tangan Tuhan di tengah kondisi masyarakat yang entah bagaimana di dua puluh sampai tiga puluh tahun ke depan…
Secara manusia, saya sadar, saya sangat terbatas.
Saya tidak sanggup jalankan segalanya sendirian…
Saya sungguh membutuhkan bantuan Tuhan dalam mendidik anak-anak karunia-Nya agar tetap di jalan-Nya…

Bekal…
Kata ini masih begitu meresap di hati…
Sampai di malam hari…
Ketika putri tertua kami, Odri, memeluk saya dan berbisik di telinga saya…
“ Mom, will you still love me when I'm older?”

Saya pun menjawab:
“ Of course, Odri. Mommy will always love you.”

Saya sadar, saya sungguh jauh dari gambaran Ibu yang sempurna. Tetapi, gambaran itu-jika memang ada- adalah perjuangan setiap hari dari setiap Mama… Entah seorang Ibu yang juga berkarier atau seorang Ibu yang sepenuh waktu menjaga anak seperti saya…
Karena dulu sempat bekerja, saya pernah pula merasakan keinginan untuk berpenghasilan lagi. Sekarang semuanya itu seolah tertunda, tetapi saya pun setiap hari berjalan dalam iman, bahwa Tuhan akan cukupkan. Bahwa Tuhan tahu waktu yang paling tepat kapan bagi saya untuk kembali bekerja kembali atau harus kerja dari rumah atau apa saja.
Saya percayakan kepada-Nya…

Setiap hari, saat ini, adalah pembekalan bagi dua putri-putri kami…
Di tengah keterbatasan saya, saya pun menimba kekuatan dari-Nya…
Tuhan yang Kuasa…
Yang akan selalu menolong setiap umat yang mencari wajah-Nya…

Dan malam hari, saat doa malam…
Saya kembali tersenyum saat Lala-anak kedua kami-berdoa dengan kepolosan seorang anak di usia dua tahun dan diucapkannya dengan cukup lancar…
Thank you, Jesus for today…
For Mama, for Daddy, for Lala, for Cie-cie Odri, for Teddy Bear, dan seterusnya- dan sebagainya…”

Tuhan, terima kasih.
Betapa setiap detik kusyukuri sebagai anugerah-Mu atas ‘motherhood’ yang dikaruniakan bagiku. Dengan segala tawa, canda-ceria, dan juga derai air mata yang mengiringinya…

Semoga Engkau membekaliku dengan kasih-Mu sehingga bisa berbagi kasih kepada kedua putriku dan orang-orang di sekitarku.
Amin.

12.04.2013
fon@sg

Monday, April 8, 2013

Ranting yang Patah


Ranting yang Patah

Sebatang ranting yang patah terkulai di antara rerumputan.
Lemah. Kering. Kecil. Seolah tanpa daya.
Mengingatkanku akan kehidupan itu sendiri.
Begitu rapuh. Fragile.
Dan begitu sementara saja.

Di masa lalu pastilah ranting itu pernah kuat.
Pernah pula dia bertumbuh dari masa kecilnya menjadi remaja, lalu menua.
Ya, seperti kita. Manusia.

Sementara itu rapuhnya ranting itu juga mengingatkanku akan perasaanku sendiri.
Bahagia yang seolah membuncah. Rasa yang membara di dada.
Sebentar saja bisa sirna. Begitu mudahnya.

Kesedihan yang menggantikannya pun sama.
Tak abadi. Walaupun mungkin begitu sulit dilalui.
Seolah secercah harapan yang dipegang detik ini, bisa berlalu begitu saja.
Ya, dalam hitungan detik.
Itu pun tak akan berlangsung selamanya.

***

Ranting yang patah itu tertiup angin.
Masih tergolek lemah. Tanpa daya.
Seperti kita di suatu ketika.
Yang pernah merasakan hati yang hancur berkeping-keping.
Terkadang bukan lagi berbentuk kepingan.
Irisan? Atau serpihan hati?
Hmmm, aku pernah merasakannya.
Dan itu memang menyakitkan…

Ranting yang patah itu pernah punya dahan yang kuat.
Dia pernah jadi bagian suatu pohon yang begitu kuatnya.
Beruntung kita, memiliki Tuhan yang terus jadi pohon kekuatan dan pegangan kita…
Dan itu takkan berhenti di satu titik saja.
Dia ada untuk selama-lamanya bagi kita…
#rasa syukur meraja di dada, sambil terus menyadari bahwa begitu lemahnya kita Si Ranting-Ranting Kecil kehidupan ini…

Kupandangi ranting kecil itu. Lagi.
Kali ini rasa syukur mengalir hangat di hati.
Terima kasih, Tuhan.
Engkaulah pokok Anggur dan kami ranting-ranting-Mu…
Jika kami tinggal di dalam-Mu dan Engkau di dalam kami…
Kami akan berbuah…

Ada harapan ketika mengetahui bahwa kita adalah ranting-ranting-Nya…
Terus bersama-Nya.
Terus berbuah di dalam Dia.
Dan terus berbagi kepada sesama kita….

Permenungan ranting yang patah sampai di sini.
Karena di dalam Tuhan, kita bukan lagi menjadi ranting yang patah.
Melainkan terus berbuah. Bersama-Nya.

Tinggallah di dalam Aku  dan Aku di dalam kamu.  Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. 15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,  sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
--- Yohanes 15:4-5

08.04.2013
fon@sg
* inspirasi dari ranting-ranting yang patah yang kujumpai sepanjang perjalanan mengantar-jemput anak kami. Thank God for this inspiration!

Monday, April 1, 2013

A Visit to Chiropractor




CHIROPRACTIC adalah suatu metode penyembuhan berbagai macam kondisi tubuh yang menggunakan tangan dengan cara menghilangkan “subluxation” (perubahan posisi ruas-ruas tulang belakang) yang mana dapat mengakibatkan gangguan pada aliran sistem saraf tubuh. Pengobatan secara Chiropractic membantu meluruskan persendian antara tulang belakang dan tubuh. Dengan menghilangkan tekanan yang mengganggu aliran sistem saraf, pengobatan Chiropractic membantu tubuh menyembuhkan diri sendiri dan berfungsi optimal. (sumber: dari internet search).

***

Akhir tahun 2012 lalu, akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi klinik Chiropractor di sini…
Kondisi lower back pain (sakit pinggang bagian bawah) yang saya rasakan semakin mengganggu dan suami pun menyarankan saya untuk mencoba ke Chiropractor (sebutan untuk dokter ahli Chiropractic).
Ada beberapa dugaan mengapa saya mengalami sakit pinggang, di antaranya saya pernah jatuh saat menggendong anak kami yang pertama dan itu sudah sekitar 4-5 tahun lalu kejadiannya.

Setelah melakukan internet survey terhadap banyak Chiropractor clinics, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada sebuah klinik yang tidak memaksa pasiennya untuk membeli paket seharga ribuan dollar seperti kebanyakan klinik lainnya.

Singkat cerita, setelah datang sekitar 8 kali saya pun mengalami kesembuhan. Nyeri di pinggang berkurang jauh dari pertama kali saya datang. Dan ajaibnya lagi, Chiropractor saya menemukan adanya kesalahan juga pada posisi leher saya, yang mengakibatkan saya sering sakit kepala.
Sungguh luar biasa cara-Nya menggiring saya menuju klinik tersebut, sampai saya merasakan kesembuhan dari kondisi-kondisi yang sakit di tubuh saya…

Di klinik Chiropractor itu saya mengalami hal sebagai berikut: posisi-posisi yang kurang benar, dibetulkan. Meminjam istilah teman saya badan ini di-kretek-in (bunyi kretek-kretek atau krek-krek, tapi minus patah tulang tentunya:)). Juga kesakitan yang sudah lama saya derita, disembuhkan…

Teringat saya akan perjalanan saya berjumpa dengan Yesus…
Tanpa survei, tanpa cara macam-macam, Yesus datang dan menyapa hidup saya di tahun 2000 lalu. Saya dibaptis secara Katolik dan menjadi pengikut-Nya.
Banyak yang salah dari diri saya ketika itu, bahkan sampai hari ini pun setiap hari adalah hari baru untuk hidup lebih benar di dalam-Nya. Berjalan menuju kebenaran sejati, Sang Jalan yang Terutama, yaitu Kristus sendiri…

Kesakitan-kesakitan (baca:luka-luka di hati saya) Dia sembuhkan dengan kasih-Nya…
Walaupun belum total, tetapi saya sungguh merasakan kasih-Nya itu di retret-retret yang Dia berikan kesempatan untuk saya ikuti…
Saya menjadi manusia yang baru di dalam Dia…

Banyak sikap hidup lama yang kurang baik, hidup saya yang melengkung sana-sini- yang bengkok, perlahan dibenahi di dalam Dia…
Tentu saja proses ini belum selesai…
Seumur hidup saya, seumur hidup kita, Dia akan terus menegur dan membetulkan kesalahan langkah saya…
Juga akan terus menyembuhkan luka-luka batin saya, selama saya membuka diri dan berkeinginan kuat untuk sembuh…
Karena setiap harinya mungkin terjadi luka-luka baru
yang tidak terhindarkan dalam hidup ini…
Sungguh saya butuh Engkau, Tuhan…

Puji syukur hanya kepada-Mu…
Tiada yang seperti Engkau, Tuhan…
Bagiku, Engkaulah Chiropractor di atas seluruh ahli Chiropractor di dunia…
Yang meluruskan jalanku…
Yang menyembuhkan sakitku…
Engkaulah sungguh Sang Penyembuh…

Kunjungan ke klinik Chiropractor itu membukakan mata saya sekali lagi akan peranan Kristus di dalam hidupku…
Bersyukur sepanjang hidupku atas hadir-Mu di setiap langkahku…
Sekarang dan selamanya…
Sampai keabadian…

April 01, 2013
fon@sg
  • inspirasi dari kunjungan di Klinik Chiropractor. Thanks to You, Jesus!

Wednesday, March 6, 2013

Only the Best




Setiap langkah kecil dan seolah tak berguna, di dalam Tuhan bisa menjadi sesuatu yang penting jika itu seturut kehendak-Nya. Tiada sesuatu yang kebetulan. God is the Greatest Planner of all. (-fon-)

Singapore, pertengahan 2008
Setelah membaca surat kabar setempat- The Straits Times - mengenai review beberapa Taman Kanak-Kanak (kindergarten, untuk selanjutnya terkadang akan saya singkat dengan kindy), akhirnya saya berdiskusi dengan suami mengenai sekolah anak kami yang kala itu belumlah genap berusia 1.5 tahun.
Diskusi itu berakhir dengan kesimpulan, mencoba mendaftar ke sebuah kindy yang termasuk 10 besar di sini versi survei dari suatu lembaga survei di Singapura.
Memang masih lama, tetapi di Singapura, untuk beberapa kindy, memiliki sistem senioritas (siblings/saudara pernah sekolah di sana) akan memiliki kesempatan lebih baik ketimbang mereka yang tidak ada afiliasi sama sekali dengan sekolah bersangkutan.
Di sini hanya dibutuhkan biaya pendaftaran sekitar 50 dollar, setara Rp.400.000,-, lalu menunggu antrian.

Sekolah tempat kami mendaftar adalah sebuah Kindy milik gereja, untuk selanjutnya akan saya sebut singkat saja S Kindy (SK).
Di SK, banyak dari ortu bahkan sudah mendaftar di kala bayi baru lahir. Dengan membawa surat lahir bayi ke sekolah untuk nanti bersekolah saat di tahun mereka berusia 3 tahun (the year they turn 3, level-nya pre-nursery). Memang luar biasa animo atas sekolah ini. Selain kualitas, mungkin juga harga yang cukup bersaing, tidak sampai terlalu melangit. Dan enaknya di sekolah-sekolah di sini, tidak ada uang pembangunan atau uang pangkal yang besar seperti yang saya dengar dari teman-teman di Indonesia.

Singkat cerita, sebelum anak kami masuk ke SK, kami pindah- keluar dari Singapura, tetapi terus diberi info tiap tahun dan ditanyai apa kami mau melanjutkan antrian untuk level berikutnya. Sesudah pre-nursery, nursery, kemudian K1 dan K2 (Kindergarten 1 dan 2).

Dan akhirnya ketika kami kembali ke Singapura tahun lalu, saya berusaha mengontak pihak SK apa ada kemungkinan anak kami masuk ke sana. Katanya sudah penuh, tidak bisa. Tetapi, untuk tahun depan (2013) Januari, bisa. Karena kami tiba di bulan Juni 2012, maka kami mencarikan sekolah lainnya buat anak kami. Ternyata, pihak SK mencoba mengontak saya via nomor HP yang lama di Ho Chi Minh City selama libur sekolah di bulan Juni. Saya sedang berada di Jakarta, sudah keluar dari HCMC tetapi belum di Singapura. Nomor HP saya yang mereka hubungi nomor Vietnam itu tidak lagi aktif.
Menurut mereka, mereka mencoba e-mail ke saya yang memberitakan ada tempat untuk anak kami, tetapi saya tidak pernah terima. Saya cukup kesal, karena sudah terlanjur masuk ke sekolah lain, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa selain melanjutkan term tersebut (1 term = 10 minggu), di sekolah M Kindy.

Saya lalu lebih getol telepon untuk memastikan posisi kami di bulan Januari 2013 ini, lalu katanya di term 4, yaitu bulan September akan ada 1 anak yang keluar, jika tertarik boleh mengambil tempat itu.
Masalahnya di M Kindy kami sudah bayar uang buku dan seragam. Tetapi, kesempatan dan antrian di SK tidak bisa diulang kembali jika saya melepaskan kesempatan ini. Maka setelah berembuk dengan suami, kami memutuskan untuk mengambil tempat yang ada di SK dan merelakan uang buku kami di M Kindy…

Di Konser Akhir Tahun.
University Cultural Hall – NUS (National University  of Singapore) Oktober 2012.

Konser yang megah. Indah.
Anak-anak menari dan mempertunjukkan kebolehan dengan kostum yang tertata rapi. Ada astronot, ada penari dari Cina, ah sungguh berwarna!

Tetapi, yang mengharukan adalah saya berkesempatan merasakan dan melihat bahwa ini adalah sekolah yang mendidik dengan ‘hati’. Doa yang dituliskan di proyektor (karena Cultural Hall melarang kegiatan yang berbau keagamaan untuk sikap netral mereka, maka kami membaca doanya dalam hati saja…) membuat saya meneteskan air mata. Tak terbendung. Haru campur bahagia.

Langkah kecil yang tak berarti ketika kami mendaftar di pertengahan tahun 2008 itu berbuah sungguh manis.
Anak kami diperhatikan dengan baik, didik bukan hanya untuk jadi pintar secara akademis tetapi juga menjadi anak yang memiliki karakter baik dan memiliki ‘hati’ untuk sesama.

Sungguh bersyukur saya atas semuanya ini. Praise the Lord!
Mana pernah saya tahu, saya akan duduk di kursi University Cultural Hall untuk menyaksikan keindahan itu?
Rencana kami waktu itu masih belum pasti, entah kapan akan kembali ke Singapura. Saya bahkan sempat berpikir untuk melepas kesempatan itu masuk sekolah SK jika kami belum diberi-Nya kemungkinan untuk kembali ke Singapura…

Saya tidak tahu. Saya tak pernah membayangkan itu semua.
Tetapi, Tuhan tahu…
Langkah kecil itu membawa saya menuju ke sebuah sekolah yang sangat cocok dengan hati saya. Mendidik anak pintar itu baik, tetapi alangkah baiknya jika juga dikombinasikan dengan mendidik anak-anak dengan karakter yang baik dan hati yang penuh kasih di dalam Tuhan.

Rasa terima kasih tak kunjung putus saya ucapkan.
Dalam hati, dalam diri.
Dan tulisan ini saya tujukan sebagai perwujudan syukur saya.
Perwujudan syukur kami sekeluarga atas sekolah yang Tuhan rencanakan bagi anak kami.
He won’t give us the second best. He’ll give us the very best. Only the best!
Thanks to You, God!:)

6 Maret 2013
fon@sg
  • Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan  apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera  dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan  yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)