Tuesday, December 15, 2009

Luka Kita Bersama


Sebagai orang yang baru dibaptis secara Katolik di tahun 2000 (ketika saya sudah dewasa), awalnya saya berharap banyak pada mereka yang sudah mengenal Tuhan Yesus. Maksud saya, mereka yang sudah berada pada tahap pewarta atau aktivis gereja, harusnya sudah memiliki sikap yang setidaknya mengarah kepada Yesus sendiri. Tentu saja, sikap Yesus yang sempurna itu sulit ditiru 100%. Mengingat kita hanya manusia biasa, penuh kelemahan. Namun saya pikir, setidaknya orang-orang yang sudah mengenal Yesus seharusnya sudah menampakkan sedikit banyak kehidupan yang berbelas kasih dan penuh cinta dari Yesus karena mereka sudah dipenuhi cinta kasih-Nya.

Mungkin saya yang kelewat idealis atau mungkin saya yang terlalu lugu di awal-awal euphoria saya akan kasih Yesus dulu? Entahlah, saya tidak tahu pasti. Namun pada kenyataannya, saya harus menelan pil pahit. Ketika awal dibaptis, saya memiliki kesempatan untuk ikut beberapa pelayanan. Di situ saya mulai melihat banyak orang yang sudah saya anggap baik atau tinggi level rohaninya, malahan mencerminkan keadaan yang berseberangan. Karena salah sedikit, langsung marah. Karena tak sesuai dengan keinginannya langsung mengumbar emosi. Ada dua kejadian yang cukup membekas di awal saya baptis. Yang pertama, di satu PD yang cukup terkemuka di Jakarta dan bukan PD yang reguler saya kunjungi. Di satu saat, ketika saya tengah kursus keyboard dengan guru saya yang sudah almarhum dan superjago dalam hal ini, PD itu tengah membutuhkan beberapa singer dadakan. Karena saya sendiri seorang singer dan ada di antara mereka, langsung didaulat untuk ‘manggung’ tanpa latihan. Karena ‘singer’ mereka kebanyakan sakit atau ikut seminar. Akhirnya saya menerima dengan tidak ada maksud apa pun kecuali membantu. Dan ternyata, di milis mereka saya ‘disidang’. Hal ini saya ketahui belakangan, karena saya membaca keseluruhan percakapan mereka yang di-‘forward’ oleh seseorang yang membawa saya ke PD tersebut. Ada seorang yang senior, yang kurang senang karena ada anak baru tak dikenal, nongol dan maju di depan podium sebagai singer. Dia mendapatkan banyak pertanyaan dari mereka yang setia datang ke PD, tapi disuruh menunggu untuk menjadi singer. Dan melihat wajah saya yang asing, sontak timbul pertanyaan dari para ‘aspiring singer’, yang sudah kepengin jadi ‘singer’ sudah lama. Dan disuruh menunggu selama dua tahun. Sementara ada anak kemaren sore tak dikenal, langsung nyanyi di depan pake ‘mic’ pula. Habislah saya. Sejujurnya saya bingung dan gelagapan. Tujuan ingin bantu, koq malah jadi runyam. Namun, peristiwa ini berakhir baik, ketika saya memutuskan untuk tidak aktif di PD tersebut dan belajar bahwa lain kali bila ingin bantu harus hati-hati. Karena tidak setiap kebiasaan PD itu sama. Jadi, kalau bukan ‘rumah’ saya, biar bagaimana pun saya harus hati-hati. Jujurnya, saya terluka. Tetapi saya menerima. Akhirnya dengan Si Senior di PD itu pun saya berdamai. Tidak ada masalah sampai sekarang. Tapi, kalau disuruh untuk jadi singer dadakan di sana, maaf, saya sudah tidak mau lagi…:) Lagian saya juga hampir tak pernah datang ke sana

Kejadian kedua malah lebih parah di hati saya, begini ceritanya…

Sesama teman di kursus alkitab yang jelas-jelas disiapkan untuk jadi pewarta (bahkan dia sudah jadi pewarta di lingkungan), hanyalah orang yang senang mengadu domba dan menyebar gosip di antara kami. Dan menjadikan saya sebagai kambing hitam saat itu. Sehingga satu kelas atau setidaknya setengah kelas memusuhi saya dan menganggap saya orang aneh. Hmmm, mungkin juga saya orang aneh, saya tak menampik hal itu:) Hal itu hampir membuat kursus yang tiga tahun itu terhenti di tengah jalan, hanya karena saya tidak kuat menjalaninya. Tetapi untungnya, Tuhan memberi rahmat pada saya untuk menyelesaikan kursus tersebut. Akhirnya saya lulus dan diwisuda! Sebetulnya, saya amat suka pelajarannya dan dosen pengajarnya, namun sedikit banyak hal tersebut mempengaruhi saya. Jujur, tidak mudah dipandang aneh oleh setengah kelas lebih dan dianggap biang kerok kejadian-kejadian di kelas.

Tapi, pada akhirnya, setelah kami lulus, malah kami berkesempatan untuk saling curhat dengan beberapa teman saya di kursus tersebut. Yang pada akhirnya mencapai kesepakatan. Bahwa Tuan XYZ yang terhormat dan berprofesi mulia, yang ikut aktif di puluhan organisasi, hanyalah seseorang yang mengganggu ketenangan kelas kami. Pada akhirnya kenyataan pula yang bicara. Dia mengadu domba banyak dari kami. Aneh, semua orang di awal percaya padanya. Dan pada akhir kursus kami, banyak orang terbuka matanya dan sadar bahwa dialah justru akar permasalahan di kelas kami. Jujurnya, hal ini menyedihkan dan menyakitkan. Saya juga tak bisa bilang bahwa saya sempurna. Oh, saya masih jauh dari itu! Tapi setidaknya, saya berusaha menahan diri untuk tidak menyebarkan isu mengenai seseorang apalagi bila itu tidak benar. Entahlah, yang jelas saya pernah amat kecewa!

Kecewa pada awam adalah hal yang biasa. Karena sesudahnya saya pernah juga kecewa dengan mereka yang aktif di organisasi gereja. Kesal, marah, tetapi kemudian menerima. Tokh mereka manusia, sama seperti saya. Dan mungkin juga, ada orang lain yang pernah kecewa dengan saya. Koq orang yang biasanya menuliskan kebaikan Tuhan, hanya segitu saja? Koq hidupnya tak mencirikan Tuhan Yesus itu sendiri? Wajar pula, karena saya terus berusaha walaupun terkadang kegagalan juga menyapa. Jadi, mungkin hal yang sama terjadi pada orang tersebut, bahwa dia pun tengah berusaha, tetapi belum mampu terlaksana…

Untungnya, sepanjang perjalanan dari tahun 2000 sampai hari ini, saya menemukan banyak awam yang merupakan sumber cinta. Mereka betul-betul memperlihatkan apa yang mereka anut bukan omong kosong. Mencerminkan kasih Yesus sendiri.Mereka penuh cinta, ringan tangan membantu yang menderita, dan penuh kasih. Mereka bisa jadi ‘ngocol’ dan ‘funky’ tapi mereka punya hati yang luar biasa untuk mengembangkan pelayanan di dunia anak muda misalnya. Untungnya, Tuhan mempertemukan saya dengan mereka. Jadi, kekecewaan tertutupi dengan suka cita. Dan berjanji pada diri, mau jadi seperti mereka yang baik bukan mereka yang ‘hancur’.

Namun, akhir-akhir ini hati saya dilanda kesedihan ekstra. Keprihatinan saya memuncak, ketika hal-hal yang sama sekali jauh dari kasih dilakukan oleh para Romo, para Pastor, yang notabene (seharusnya) wakil Tuhan atau wakil Yesus di dunia ini. Setidaknya berita berikut ini bisa mencerminkan kegalauan sekaligus keprihatinan saya:

Hundreds of Catholic priests across Ireland are expected to be implicated in alleged child abuse when the results of a nine-year investigation are published this week.

The Commission to Inquire into Child Abuse has investigated claims of abuse in state schools and orphanages since the 1940s, and will publish its report tomorrow.

A second report on how the Catholic church handled sex abuse complaints is due in July, and is expected to criticise the handling of child-abuse complaints involving up to 500 priests in Dublin between 1975 and 2004.

Thousands of children sent to institutions suffered abuse by members of religious orders.

Most of the children were born to unmarried mothers, or came from large families whose parents couldn’t afford to keep them.

The commission was set up in 2000 when a documentary for Irish television revealed that sexual, physical and emotional abuse was endemic within many Catholic institutions.

It has since heard evidence from over 1,000 former residents of state institutions.

Mary Raftery, producer of the original documentary, said the abuse she helped to uncover was “way off the scale and designed to break children”.

“There was widespread sexual abuse, particularly in the boys’ institutions,” Raftery said.

“Extremely vicious and sadistic physical abuse, and horrific emotional abuse

“We had people talk to us about hearing screams – the screams of children in the night coming from these buildings and really not knowing what to do.” (Irish priest child abuse report will be ’shocking’by David Masters , source: http://www.interfaith.org/2009/05/19/irish-priest-child-abuse-report-will-be-shocking/)

Berita ini sebetulnya bukan berita baru bagi saya, karena ketika saya di Singapura beberapa bulan yang lalu, harian The Straits Times sudah memuat pemberitaan penuh luka ini. Luka bagi saya, karena yang melakukan adalah mereka yang dihormati, yang diberi kepercayaan untuk menjaga dan mendidik anak-anak. Luka, karena mereka yang melakukan adalah wakil Tuhan alias pastor. Yang seharusnya lebih mencirikan Kristus sendiri. Ini malahan bukan saja mengkhianati kepercayaan itu, melainkan memberikan bekas tak terlupakan pada orang-orang yang dilecehkan seumur hidupnya. Apa alasannya mereka melakukan hal tersebut dan lebih parahnya kemudian mereka menutupinya?

Sebelumnya saya ingin membuka juga kisah di mana orang yang dianggap sebagai panutan, orang yang seharusnya memiliki tingkat relijiusitas yang tinggi, ternyata bahkan lebih parah dari mereka yang tak pernah ke gereja, tak pernah sembahyang, tak pernah ke vihara atau mesjid. Ada suhu Ren Ci, organisasi agama Buddha yang menggelapkan uang donasi untuk ‘charity’ di Singapura. Biksu yang hidup enak dengan kartu kredit yang banyak, limit yang amat besar, bahkan memberikan asistennya kartu tambahan buat belanja. Ada pendeta yang mengasari dan ‘abusive’ terhadap anak istrinya. Di gereja menyebarkan firman Tuhan dan terlihat hebat, sementara di rumah, tak lebih dari tukang pukul alias algojo bagi keluarga. Jauh dari kasih Tuhan. Teringat pula Phillip Garrido, seseorang yang menculik dan memperkosa Jaycee Lee Dugard selama puluhan tahun dan menempatkannya di belakang rumahnya, adalah seorang fundamentalis yang berpikir untuk mendirikan gerejanya sendiri. They (his neighbors) described him as a religious fundamentalist who often preached from his front yard and wanted to set up his own church. Garrido boasts of his ability to ‘speak in the tongue of angels’ on a blog called voices revealed.( The Straits Times).

Deretan itu bertambah dengan kyai yang sering menggunakan kesempatan untuk melecehkan anak-anak, di saat seharusnya dia mengajar mengaji. Maksud saya, di seluruh agama, ada saja orang-orang yang tidak sesuai dengan apa yang dia wartakan. Namun, karena yang saya anut adalah Katolik, maka pembahasan akan lebih berkisar di Katolik saja.

Setiap ada seorang pemuka agama yang melakukan tindakan tidak terpuji, hati saya sakit. Sakit, karena seharusnya standar untuk mengukur mereka pastinya di atas standar orang yang tidak kenal Tuhan, orang yang ke gereja hanya seminggu sekali, atau mereka yang tak pernah ke gereja sama sekali. Logika saya yang menyatakan bahwa seharusnya mereka berbuat lebih baik daripada orang pada umumnya, ternyata tak lagi menjelma nyata. Saya harus gigit jari, kecewa, berdoa kepada Tuhan dan kemudian menerima kenyataan yang pahit itu.

‘The Irish Abuse’ menjadi lembaran hitam gereja yang tak terhindarkan. Sama seperti pelecehan seksual di Amerika Serikat yang dilakukan para ‘clergy’, para tokoh berjubah dan Romo. Saya amat terluka, karena korbannya anak kecil tak berdosa yang kebanyakan tak mengenal figur Bapa. Karena mamanya single parent, kurang biaya, makanya menaruh mereka di biara. Tapi, lihat, apa yang terjadi? Pelecehan dan kekerasan mental yang dilakukan jauh lebih buruk daripada mereka yang tidak kenal Tuhan. Dalam pikiran saya, dengan pelecehan macam ini dari figur ‘Bapa’ di dunia, apa mungkin bagi mereka mengenal figur Bapa Surgawi yang sempurna itu?

Saya kecewa. Itu jelas. Saya marah dan kesal. Itu juga iya. Tapi saya tidak memaki. Saya hanya menangis bersama para korban, saya berduka, saya sedih. Karena saya percaya Yesus datang bukan untuk melukai, melainkan menyembuhkan dan membalut luka. Saya masih percaya ada banyak ribuan Romo dan biarawan yang baik, yang tulus, yang jujur. Yang sungguh kerja buat Tuhan tanpa pamrih. Saya pernah menemukannya dan saya berharap untuk menemukan Romo-Romo semacam ini di kemudian hari. Salah satu Romo yang masih amat membekas di hati saya adalah Romo Rolf Reichenbach, SS.CC. Dengan ketulusan dan kebaikannya, saya yakin ribuan umat masih tetap mengenangnya dengan indah. Jarang ada keluhan soal beliau, karena hidupnya yang sederhana, doanya yang tak kunjung putus, ingatannya yang tajam akan pertemuan dengan seseorang, dan karunia bahwa dia mengerti kondisi hati seseorang dan mampu membayangkan kejadian saat yang bersangkutan mengaku dosa. Banyak keajaiban lainnya, oleh banyak orang dia disebut sebagai setengah Santo. Atau Beato. Termasuk saya menyebutnya demikian. Dia memang sudah meninggalkan kita semua, sudah bahagia di surga, tapi kasih dan pelayanan serta kesederhanaannya tetap tinggal dalam memori kami yang pernah tersentuh olehnya.

Gereja Katolik tidaklah sempurna. Sama seperti semua institusi keagamaan di dunia, pasti tidaklah sempurna. Namun, ketidaksempurnaannya itu tak menjadikan saya memilih untuk pergi dan mencari kesempurnaan yang lain. Karena saya sadar, kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Perbandingannya, ketika salah satu anggota keluarga kita ‘rusak’, minum minuman keras, narkoba, seks bebas atau judi, tak menjadikan seluruh anggota keluarga kita ‘rusak’, bukan?

Ketika ‘Irish atau US abuse’ diangkat ke permukaan, banyak orang mulai melecehkan Gereja Katolik. Lihat tuh, institusi yang katanya baik, koq begitu? Saya juga sedih mendengar hal ini. Karena institusi itu baik adanya, tak ada maksud jelek atau intensi buruk saat Gereja Katolik berdiri. Dan kalau ada kesalahan, mungkin itu manusiawi. Sama seperti Biksu Ren Ci di Singapura yang korup tak membuat semua biksu adalah korup. Saya banyak melihat biksu luar biasa yang penuh kasih dan terus mewartakan ‘Dhamma’ dan kebaikan tanpa henti. Begitupun dengan pendeta, begitupun dengan Kyai, atau pemuka agama Hindu.

Gereja Katolik memang pernah bersalah. Dan dengan mengakui kesalahan itu, rasanya lebih mudah untuk berjalan dan melihat masa depan. Ini memang lembaran hitam yang membekas dalam di hati para korbannya. Ini memang sulit diterima bagi mereka yang idealis (mungkin termasuk saya). Tetapi, pada akhirnya saya menerima. Saya mendapat pengertian baru, bahwa apa pun yang terjadi, Gereja Katolik tetap rumah saya. Tetap keluarga saya. Ketika salah satu anggotanya bersalah, saya tak hendak berpikir bahwa seluruh keluarga saya ‘sakit’ dan dalam kondisi ‘parah’. Masih banyak kebaikan yang tak pernah diwartakan. Kejelekan memang mudah diungkit, tapi kebaikan sulit terlihat.

Luka ini adalah luka kita bersama. Luka salah satu anggota keluarga kita, adalah luka keluarga kita secara keseluruhan. Namun, saya tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Dia tak pernah menutup mata dengan seluruh kejadian ini. Dunia akan makin jahat, akan banyak ‘nabi palsu’ yang coba mengacaukan dunia ini. Namun, orang-orang pilihan Allah juga tak henti mewartakan kebaikan-Nya senantiasa. Dan pada akhirnya, saya tetap percaya Yesus akan tetap jadi pemenang. Yang baik akan selalu mengatasi yang jahat.

Di masa depan, saya amat mengharapkan tidak ada kejadian semacam ini. Namun, sulit mengelak bila kejadian itu datang. Saya hanya bisa berdoa, percaya, dan berserah… Memang ilmu alkitab bukan segalanya. Memang pengetahuan akan Tuhan penting, akan tetapi lebih penting lagi: bagaimana hidup kita? Kesaksian hidup bicara jauh lebih banyak ketimbang ucapan di bibir saja.

Saya jauh dari sempurna. Saya cuma manusia biasa yang kadang bisa kesal dengan anak, sebal dengan suami, marah karena kecapekan, tapi saya mencintai mereka (keluarga saya) dan saya mencintai Tuhan. Dan saya percaya, bila kita semua ingin menjadi lebih baik di dalam Dia, seharusnya kita memberikan kesaksian hidup yang bisa dinikmati dunia. Karena kita menyebarkan kasih dan kebaikan. Karena kita tidak menyebarkan permusuhan atau kebencian.

Wahai Gereja Katolik, apa pun yang terjadi, luka ini luka kita bersama. Sekaligus, saya tetap mencintaimu. Dan Yesus, tak satu pun kejadian itu mampu menggoyahkan saya daripada-Mu. Karena saya percaya, bersama Yesus, ini semua akan terlewati. Saya hanya bisa belajar hidup lebih baik lagi dan mempraktekkan apa yang saya pelajari lewat alkitab. Bukan hanya sekadar ilmu di otak, tanpa tindakan nyata. Action still speaks louder than words. Acts of love is still stronger than telling others how you love them. Tak pernah mudah, tapi bukan ‘mission impossible’. With God, it’s always mission possible.

HCMC, 15 December 2009

-fon-

* prihatin dengan ‘Irish Abuse’ namun tetap percaya Gereja Katolik tetap menawarkan banyak kekayaan dan keindahan. Maaf jadi panjang tulisannya. GBUs all, semoga kita jadi orang yang lebih baik dalam kasih, dalam tindakan sehari-hari. Amin.


No comments:

Post a Comment