On Father's Day
Kemarin adalah hari yang diperingati di banyak belahan dunia sebagai hari Ayah.
Father's Day, begitu disebutnya.
Banyak tempat di dunia merayakannya pada 19 Juni kemarin.
Bagi saya, hari ini adalah hari untuk mengenang alm. Papa saya.
Papa meninggal di usia ke-56, saat saya masih kuliah di tingkat 2.
Keadaan yang tidak mudah ini sudah menjadi bagian dari hidup saya dan keluarga dari saya SMP...
Saat Papa sudah sakit macam-macam dan tak lagi bisa bekerja dan berbisnis seperti sebelumnya.
Keadaan ekonomi yang awalnya cukup stabil, mendadak morat-marit, lalu saya pun mengambil inisiatif untuk mandiri.
Mengajar anak-anak TK Bahasa Inggris, serta kemudian mengerjakan banyak pekerjaan part-time semisal:
Accounting staff, staff di sebuah Tour dan Travel, guru Bahasa Inggris di sebuah SD di Jakarta Barat, juga pernah menjalankan MLM yang kemudian terhenti karena sesuatu dan lain hal.
Semua saya lakukan sambil kuliah Ekonomi Akuntansi di Universitas Tarumanagara di Jakarta.
Dari bawah, saya belajar: bahwa hidup memanglah sebuah perjuangan.
There's no free lunch- harus berjuang untuk makan dan untuk hidup.
Dari muda, saya sudah terbiasa untuk melakukan hal-hal yang bersifat mandiri
dan tak mau membebani orang tua ataupun keluarga.
Atas berkat rahmat Allah, saya dimampukan menjalani hari demi hari sampai detik ini...
Saya menyadari, itu semua adalah karena kasih-Nya semata...
Papa sudah sakit sejak saya masih duduk di bangku SMP.
Dan perjuangan yang saya hadapi, sungguh mendewasakan saya secara pribadi.
Tidak mudah karena tiap hari harus berhadapan dengan kondisi sakitnya.
Juga perangai Papa yang keras, tidak terlalu cocok bagi saya.
Namun, tiada sesal di hati ini...
Sebelum beliau meninggal dunia untuk selamanya, saya dan Papa sudah berdamai.
Saya sungguh bahagia, ketika relasi Ayah dan anak ini sudah direkonsiliasi atas bantuan Yang Kuasa.
Hubungan antara kita dan orangtua kita, tak selamanya sempurna.
Saya sungguh menyadarinya dan pelajaran itu harus saya dapatkan bahkan di usia muda.
Namun, bukan berarti: tidak terjadi kedamaian di dalam hati kami.
Terus mendoakan, serta mengupayakan untuk menjadikan keadaan lebih baik.
Melihat hal-hal baik, karena setidaknya di tubuh saya, mengalir juga darah keturunan darinya.
Bakat dan minat di dunia tarik suara, juga berasal dari Papa.
Karena Papa semasa muda punya 'band' dan juga adalah seorang penyanyi.
Dan bukan kebetulan ketika Tuhan memilihkan ayah dan ibu bagi kita...
Meskipun di mata kita mereka tak sempurna, sebagaimana kita pun tak sempurna...
Tuhan pastinya sudah merencanakan segala sesuatunya...
Tuhan, saya berdoa untuk almarhum Papaku: Jodikin, yang sudah berpulang untuk selamanya ke rumah-Mu.
Semoga Engkau menerima jiwanya dalam kedamaian abadi bersama-Mu.
Even I didn't say it much during your time with me, but: I love you, Pa!
Juga mendoakan suamiku, orang yang Kaupercayai menjadi ayah bagi anak-anak kami...
Berkatilah dia ya, Tuhan, agar Dia tetap bisa menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dan sukacita...
Tuhan Yesus, saya juga mendoakan seluruh pembaca saat ini:
entah mereka berperan sebagai Ayah, entah mereka mendoakan ayah mereka,
entah mereka mendoakan Papa Mertuanya...
Entah mereka harus berperan sebagai Ibu dan juga Ayah, karena sesuatu dan lain hal...
Berkatilah mereka semua, ya Tuhan...
Semoga tangan kasih-Mu menaungi mereka untuk selamanya...
Hidup dan perjalanannya terkadang tak gampang ditebak, tak tahu harus melangkah ke mana...
Namun, semoga kita semua dikuatkan oleh genggaman tangan kasih-Nya di dalam melangkah...
Serta saling mendoakan dan bertolong-tolongan di dunia ini...
Menjadi saluran tangan-Mu ya, Tuhan...
Happy Father's Day!
Buat semua Ayah dan yang masih berkesempatan menghabiskan waktu bersama Ayah Anda...
Do something for them! Create moments with them!
Call them, visit them, bring them to favourite places...
Selagi ada waktu...
Jangan sampai penyesalan itu datang terlambat, ketika mereka tak lagi bisa kita temui di dunia ini...
Kesempatan itu takkan pernah datang dua kali...
Jika ada kesalahpahaman dan masih bisa diperbaiki, jangan ragu:lakukan sesuatu...
Dengan harapan dan iman, serta di dalam doa yang dipanjatkan kepada yang Kuasa...
Semoga rekonsiliasi dapat tercipta...
Menjadi Ayah tidak selalu penuh stres belaka...
Banyak juga hal yang menyenangkan yang bisa didapatkan dari peranan ini...
Setidaknya itu yang saya lihat selama menjalani peranan Ibu juga...
Ah, bukankah hidup adalah proses pembelajaran senantiasa? :)
Have fun, have a great celebration, pray together as a family...
May the love of God be with us all...
Love in Christ,
-fon-
Singapore, 20.06.2016
my writings especially dedicated for Jesus. For His goodness and never ending kindness in my life.
Thursday, June 23, 2016
Monday, May 11, 2015
A Not-So-Perfect Day
A Not-So-Perfect Day
I don't know.
I don't know.
Yes, I don't know.
Well, should I start my writing with something much more interesting rather than IDK a.k.a I Don't Know?
But, really...
There are times that I really don't know.
Don't know what to do, don't know what to say, don't know what the future might bring.
I wish my days would be full of flowers that blossom beautifully.
I wish my days are just such perfect days that I've got nothing to complain about...
But, those are just my wishes.
Things that I know (finally, huh? There's something that I know haha :)), those are just my wishful thinking.
While in reality, they never really exactly happen that much.
Life sometimes is full of unexpected things.
Some are good ones, many times they just turn out to be bad not too mention nightmares.
But, after the suffering that we've gone through, somehow there's a power that looks after us.
A power that guides us...
Especially when we're so tired and weak...
And we thought we could never go on...
Yes, there's this magical hand that leads us to get through all of the problems...
It's not that the problem suddenly flies away...
But, somehow, in some ways, we got the strength to go on despite all the bad things that we thought we could never dare to face.
Those magical moments remind me of the Almighty.
The One and Only who can help me(read: us) to get through all the things in our lives.
Life isn't a fairy tale.
It's pretty far from Hollywood dream that ends: " And they live happily ever after..." in each of its ending...
But, yes...
Every cloud has a silver lining...
There'll be a rainbow after the rain...
If only we wait patiently for them to come, as long as we keep on fighting 'till the end.
If only we wait patiently for them to come, as long as we keep on fighting 'till the end.
A not-so-perfect-day like today...
Or like yesterday...
Or like two years ago...
Or like tomorrow...
Or like ten years from now...
Most probably those days will come to us anyway...
But in those not-so-perfect days...
There's always this special and perfect God who will always guide me.
He'll guide you...
He'll guide us...
In every step of the way...
In the midst of a long and winding road...
For He's always there to guide us and to see us through.
I'm thankful for my not-so-perfect days...
Because I know, I got a perfect God who knows exactly the picture perfect of my life in His Eyes.
12.05.2015
-fon-/ Fonny Jodikin
Monday, March 2, 2015
Iman Seorang Anak Kecil...
Iman Seorang Anak Kecil
Seorang anak kecil menderita sakit yang parah.
Ibunya sangat sedih, ingin menggantikan posisinya.
Ayahnya sangat terpukul, namun berusaha keras memenuhi kebutuhan finansial yang sangat besar untuk biaya pengobatan Si Anak.
Kakak dan adiknya sedih dan kesepian, karena kehilangan seorang teman bermain.
Seorang anak kecil menderita sakit parah.
Yang sampai sekarang belum diketemukan obatnya...
Namun yang aneh tapi nyata, dia sungguh berharap dan beriman pada Yang Kuasa...
Imannya membuat orang-orang di sekitarnya terhibur...
Walaupun air mata tak henti turun dari yang mendengarnya...
" Tak apa, Ma... Yesus ada dan Dia selalu memegang tanganku... Dia takkan meninggalkanku sendirian..."
" Papa jangan kuatir ya, Pa... Yesus sudah sediakan segala sesuatunya bagi kita, Pa..."
Hati siapa yang takkan tersentuh?
Sekeras apa pun hati seseorang, bila dihadapkan pada kenyataan semacam ini, pastinya takkan ada yang bisa menghindari air mata yang jatuh....
Dia hanya seorang bocah lelaki berusia enam tahun.
Yang seharusnya menikmati masa-masa yang bahagia...
Yang semestinya sedang tertawa-tawa bermain dan bercanda bersama teman-temannya...
Bukan terbaring dengan selang infus yang panjang.
Dengan jarum suntik yang sudah jadi makanan sehari-harinya...
Juga obat-obatan yang begitu banyaknya...
Seorang anak kecil berpulang.
Untuk selamanya.
Meninggalkan jutaan kenangan bagi keluarga tercinta...
Meninggalkan keharuan dan kesedihan...
Juga KETEGARAN...
Keberanian untuk menghadapi keadaan...
Tak pernah tahu, hidup ini akan membawa kita ke arah mana...
Tak pernah pasti, apa yang akan kita jalani hari lepas hari...
Sedetik saja, segala sesuatu bisa berubah...
Namun bersama Yesus, kita hadapi semuanya dengan iman.
Dengan ketabahan...
Kita terkadang terlalu terpaku dengan 'happy ending' yang sering kita lihat di Drama Korea ataupun film-film Hollywood...
Namun, film kehidupan kita berbeda dengan film-film buatan manusia...
Karena film kita disutradarai oleh-Nya...
Semoga kita tetap memiliki iman seperti seorang anak kecil yang tak henti berharap kepada Yesus, meskipun menghadapi kesulitan.
Ya, semoga.
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" 18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka 18:3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. 18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. "
(Matius 18:1-5)
3 Maret 2015
fon@sg
*menari-narikan jemariku di atas keyboard laptop. All for His Glory. Lenten Season 2015.
*based on true story yang pernah kudengar terjadi di sekitar kita. Tuhan kuatkan anak-anak yang sakit keras, juga keluarganya dalam menghadapi keadaan yang sulit ini... Semoga mereka tetap merasakan kasih-Mu, juga menyadari bahwa Engkau takkan pernah meninggalkan mereka.
Seorang anak kecil menderita sakit yang parah.
Ibunya sangat sedih, ingin menggantikan posisinya.
Ayahnya sangat terpukul, namun berusaha keras memenuhi kebutuhan finansial yang sangat besar untuk biaya pengobatan Si Anak.
Kakak dan adiknya sedih dan kesepian, karena kehilangan seorang teman bermain.
Seorang anak kecil menderita sakit parah.
Yang sampai sekarang belum diketemukan obatnya...
Namun yang aneh tapi nyata, dia sungguh berharap dan beriman pada Yang Kuasa...
Imannya membuat orang-orang di sekitarnya terhibur...
Walaupun air mata tak henti turun dari yang mendengarnya...
" Tak apa, Ma... Yesus ada dan Dia selalu memegang tanganku... Dia takkan meninggalkanku sendirian..."
" Papa jangan kuatir ya, Pa... Yesus sudah sediakan segala sesuatunya bagi kita, Pa..."
Hati siapa yang takkan tersentuh?
Sekeras apa pun hati seseorang, bila dihadapkan pada kenyataan semacam ini, pastinya takkan ada yang bisa menghindari air mata yang jatuh....
Dia hanya seorang bocah lelaki berusia enam tahun.
Yang seharusnya menikmati masa-masa yang bahagia...
Yang semestinya sedang tertawa-tawa bermain dan bercanda bersama teman-temannya...
Bukan terbaring dengan selang infus yang panjang.
Dengan jarum suntik yang sudah jadi makanan sehari-harinya...
Juga obat-obatan yang begitu banyaknya...
Seorang anak kecil berpulang.
Untuk selamanya.
Meninggalkan jutaan kenangan bagi keluarga tercinta...
Meninggalkan keharuan dan kesedihan...
Juga KETEGARAN...
Keberanian untuk menghadapi keadaan...
Tak pernah tahu, hidup ini akan membawa kita ke arah mana...
Tak pernah pasti, apa yang akan kita jalani hari lepas hari...
Sedetik saja, segala sesuatu bisa berubah...
Namun bersama Yesus, kita hadapi semuanya dengan iman.
Dengan ketabahan...
Kita terkadang terlalu terpaku dengan 'happy ending' yang sering kita lihat di Drama Korea ataupun film-film Hollywood...
Namun, film kehidupan kita berbeda dengan film-film buatan manusia...
Karena film kita disutradarai oleh-Nya...
Semoga kita tetap memiliki iman seperti seorang anak kecil yang tak henti berharap kepada Yesus, meskipun menghadapi kesulitan.
Ya, semoga.
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" 18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka 18:3 lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. 18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. "
(Matius 18:1-5)
3 Maret 2015
fon@sg
*menari-narikan jemariku di atas keyboard laptop. All for His Glory. Lenten Season 2015.
*based on true story yang pernah kudengar terjadi di sekitar kita. Tuhan kuatkan anak-anak yang sakit keras, juga keluarganya dalam menghadapi keadaan yang sulit ini... Semoga mereka tetap merasakan kasih-Mu, juga menyadari bahwa Engkau takkan pernah meninggalkan mereka.
Monday, February 16, 2015
Februari yang Sibuk
Valentine's Day, Rabu Abu bagi yang Katolik, dan Imlek...
Februari yang sibuk...
Pusat perbelanjaan penuh, riuh...
Berdesak-desakakan
Ngantri...
Februari yang sibuk...
Pusat perbelanjaan penuh, riuh...
Berdesak-desakakan
Ngantri...
Februari yang sibuk...
Adakah saat hening itu masih kusediakan?
Saat untuk duduk diam di hadirat-Mu dan mendengar suara-Mu?
Jujur, kurindukan itu...
Di antara deru Februari atau bulan-bulan berikutnya...
Di antara kesibukan di setiap harinya...
Semoga aku tetap mempersembahkan waktuku untuk-Mu...
Saat untuk duduk diam di hadirat-Mu dan mendengar suara-Mu?
Jujur, kurindukan itu...
Di antara deru Februari atau bulan-bulan berikutnya...
Di antara kesibukan di setiap harinya...
Semoga aku tetap mempersembahkan waktuku untuk-Mu...
Februari 11, 2015
fon@sg
Labels:
doa,
Februari,
introspeksi,
sibuk,
waktu untuk Tuhan
Friday, December 12, 2014
Being Mom: Faith in His Timing
Being Mom: Faith in His Timing
5 Januari 2014
Masih teringat dalam benak saya, ketika kami mengawali tahun 2014 ini.
Saat anak kami yang pertama-panggilannya Odri- memulai kursus renangnya di minggu pertama di bulan Januari.
Sebelum ini, hanya latihan-latihan biasa bersama papanya, namun belum benar-benar bisa.
Mau diajari agar kepalanya masuk ke dalam air, dia tak mau.
Sepertinya dia masih takut.
Namun, karena saya pribadi pernah punya pengalaman yang cukup membuat trauma saat Odri didorong ke kolam renang oleh seorang anak bule di tempat tinggal kami sebelumnya, jadi ada rasa kuatir juga kalau dia belum bisa renang.
Kursus renang ini bukan buat gengsi-gengsian, melainkan untuk 'survival', jika suatu saat ternyata harus 'kecemplung' lagi di kolam renang.
Sehingga, kami memutuskan-dengan persetujuan Odri yang mendadak pengen belajar juga- untuk mencari pelatih dan memulai kursusnya.
Minggu demi minggu berlalu.
Saya harus menunggu selama 1 jam, duduk di sisi kolam, melihat dia berlatih.
Pertama berlatih pernafasan, lalu diajari pelan-pelan gaya dada.
Pelajarannya menggunakan 'swimming float' untuk membantunya mengapung di permukaan.
Jujur, selama 1 jam, kadang emaknya mati gaya sendiri hihihi...
Mau ikutan renang, jujur lagi nih, agak malas.
Karena memang aku gak terlalu suka renang, juga sekaligus maunya melihat dia berlatih karena masih pemula, jadi gak berani dilepas..
Dari baca buku, berdoa, lihat gadget, semua dilakukan...
Satu sisi bersyukur juga, karena punya 'me time' yang dipaksakan, meskipun di sisi kolam renang saja.
Kadang bosan, kadang bengong, kadang ketawa sendiri lihat gadget (untung yang ini jarang, kalo sering, apa kata dunia? Hahaha...)
Minggu demi minggu, perlahan tapi pasti terlihat juga 'progress' Odri.
Memasuki bulan Desember ini, dia sudah menguasai gaya dada dan bisa berenang sepanjang kolam orang dewasa dengan standar olympic. Juga mulai belajar gaya bebas.
Intinya, saya melihat hasil yang nyata dari awal tahun dan akhir tahun ini...
Sungguh bersyukur banget:) Sukacita, senang...
***
Perjalanan menunggu Odri les renang ini mengingatkan saya akan arti menunggu di kehidupan ini.
Betapa sering dalam hidup, kita dihadapkan pada kenyataan: suka atau tidak, kita harus menunggu...
Terkadang proses menunggu itu berjalan menyenangkan, seperti menunggu kelahiran seorang bayi yang tengah dikandung oleh Bundanya....
Namun, tak jarang, proses menunggu itu malah menguras energi dan membuat kita kecewa, lemah iman, putus asa, mempertanyakan kepedulian Tuhan akan hidup kita, dan hal-hal negatif yang begitu menyerap hal-hal positif dalam hidup kita dan menggantikannya dengan kekuatiran.
Contohnya: saat menunggu Sang Jodoh yang tak kunjung tiba, menunggu anggota keluarga yang sakit keras, menunggu kehadiran bayi yang tak kunjung hadir di pernikahan yang sudah cukup lama, dan masih banyak peristiwa 'menunggu' di sekitar kita yang membuat kita begitu sulit menjalani hari lepas hari...
Di akhir tahun ini menjadi saat yang tepat bagi saya (semoga bagi kita bersama juga:)) untuk mengevaluasi, bagaimana sikap saya selama menunggu?
Apa saya menjadi marah, lemah iman, dan menjauh dari Tuhan?
Atau malah masa-masa ini menjadikan saya lebih mendekat kepada-Nya untuk mencari apa rencana-Nya dalam hidup saya?
Tahun ini, juga di tahun-tahun berikutnya, pasti ada kejadian yang mengharuskan kita menunggu.
Apakah kita menyiapkan diri dengan baik selama proses itu dan percaya akan waktu yang sudah ditetapkan-Nya bagi kita? Itu tetaplah menjadi pilihan kita.
Semoga demikian adanya.
Mari terus belajar untuk membangun iman yang kuat di dalam Tuhan.
Dan percaya, segala sesuatu akan indah pada waktu-Nya.
He has made everything beautiful in its time. He has also set eternity in the human heart; yet no one can fathom what God has done from beginning to end.
--- Ecclesiastes 3:11
13.12.2014
fon@sg
Wednesday, December 3, 2014
Saat Kukecewa
Selamat pagi, Bapa…
Pagi ini hujan turun
begitu derasnya, Tuhan….
Sebagaimana yang sering
kualami dalam hidupku…
Hujan, badai, gelombang
kehidupan yang kualami….
Segalanya yang ingin
selalu kupersembahkan kepada-Mu…
Namun, pada kenyataannya,
tak selalu bisa kupersembahkan itu semua dengan rela…
Dengan keikhlasan penuh di
hatiku…
Tak jarang, aku harus
menghadapi bagian dari diriku yang sungguh-sungguh kecewa…
Kecewa karena rencanaku
tak terlaksana…
Biarpun aku percaya bahwa
rencana-Mu yang terbaik bagiku, tak semudah itu aku langsung melangkah ke
jenjang berikutnya…
Terkadang butuh waktu dan
proses yang cukup lama..
Memakan waktu yang panjang
untuk berdamai dengan diriku, untuk tidak menyalahkan siapa pun, terutama juga
untuk tidak menyalahkan-Mu…
Aku sadar, aku terkadang
bisa merasa Kau tidak lagi peduli padaku…
Saat doa-doaku tak
terjawab…
Saat kenyataan begitu
menghancurkan hati…
Sering kali, aku bertanya,
“ Tuhan, Kau di mana?”
Adakah Engkau di setiap
langkahku? Selalu?
Jujur saja, saat aku
begitu kecewa, aku jadi begitu meragukan itu semuanya itu.
Dalam naik-turunnya proses
kehidupan yang harus dijalani semua orang, termasuk diriku…
Aku sebetulnya terus
berusaha belajar untuk menerima…
Bahwa rancangan-Mu
pastilah yang terbaik bagiku…
Namun, satu demi satu
kecewa yang tak kukendalikan dengan baik itu...
Mulai menumpuk satu demi
satu…
Kegagalan demi kegagalan…
Sakit hati yang tertahan
dan tak terselesaikan…
Luka batin yang menoreh bagian
hati yang terdalam…
Tak semudah itu
terlepaskan…
Dan, kenyataan ini begitu
berat kurasakan…
Mudah bagiku untuk
berseru, “ Tiada yang mustahil bagi-Mu,” ketika aku tengah bersuka.
Ketika begitu banyak
kemudahan dilimpahkan kepadaku.
Ketika kesuksesan
menyapaku.
Namun, ketika semua hal
itu berbalik dariku…
Tak semudah itu bagi
mulutku untuk tetap memuji-Mu…
Secara jujur, kuakui bahwa
inilah aku, Tuhan…
Dengan segala kelemahan
manusiawiku…
Dengan segala kekuranganku…
Namun, terlepas dari
semuanya itu…
Aku mau tetap menjadi
kesayangan-Mu, menjadi murid-Mu yang setia sampai akhir hidupku…
Aku tetap mau menjalani
hidupku bersama-Mu, meskipun tak seindah yang kukira dulu…
Grafik relasi yang
naik-turun pun kualami bersama-Mu…
Di sini, saat ini…
Dengan segala kerendahan
hati, kumohonkan bimbingan Roh Kudus-Mu…
Untuk senantiasa
memimpinku ke jalan yang benar…
Ke jalan yang memuliakan
nama-Mu…
Segala kecewaku, sakit
hati, luka batin, rasa sepi, perasaan ditinggalkan, perasaan tak lagi
dipedulikan, perasaan minder, perasaan bahwa aku tak layak bagi-Mu, dan
segudang perasaan-perasaan negatif lainnya kubawa kepada-Mu.
Kembali kupercayakan
hidupku kepada-Mu.
Aku percaya, Tuhan,
setelah segala badai dan gelombang yang mengguncangkan hidupku…
Akan ada lagi pelangi yang
indah yang Kausediakan bagiku…
Sebagaimana Sang Pelangi
sering muncul seusai hujan…
Aku percaya, akan adanya
warna-warni yang menceriakan itu akan kembali Kauhadirkan…
Di proses ini, aku belajar…
Untuk menerima (kembali),
bahwa Engkau adalah Allah yang setia…
Yang selalu ada di setiap
episode kehidupanku…
Engkau takkan pernah
meninggalkanku…
Engkau tahu yang terbaik
bagi setiap anak-anak-Mu, termasuk diriku…
Dan, aku harus belajar
terus merencanakan segala sesuatu, namun juga fleksibel ketika itu semua
berubah haluan…
Aku percaya kepada-Mu.
Jesus, I
trust in You.
On
days when I am afraid,
I put
my trust in you. (Psalm 56:3)
I’ll
walk with You and won’t lean on my own understanding.(Proverbs 3:5)
I will
trust the Lord with all my heart.
Jesus,
I trust in You.
04.12.2014
fon@sg
Tuesday, October 14, 2014
Kuman di Seberang Lautan Tampak
Kuman di Seberang Lautan Tampak
Judul tulisan kali ini, tentunya sangat familiar bagi kita, terutama ketika pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu.
Untuk lengkapnya, peribahasa ini berbunyi sebagai berikut:
Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak .
Udah gajah, di pelupuk mata, gak keliatan lagi...
Kuman yang di seberang lautan yang begitu kecilnya, malah kelihatan.
OMG-Oh My God!
Gejala apa ini?
Mungkin ini semua terjadi pada kita.
Saya pun mengalaminya dan ini sangat relevan dengan pengalaman sebagai Editor di tahun yang kedua untuk renungan harian wanita Katolik-dari wanita untuk wanita yang bertajuk Treasuring Womanhood.
Setelah beberapa tahun menjadi salah satu penulis wanita di renungan harian yang luar biasa ini, ada kesempatan untuk menjadi Editor yang pada tahun ini memasuki tahun kedua.
Ternyata, saya menikmati peranan dan tugas ini.
Membaca renungan yang bagus-bagus dari para penulisnya, memberikan banyak inspirasi juga, terkait dengan tulisan renungan harian pribadi yang setiap hari harus saya tuliskan: Thought of the Day.
Sebagai sebuah kesetiaan kecil kepada-Nya, sebagai ucapan syukur atas kesetiaan yang teramat besar yang sudah saya nikmati dari Yesus.
Oke, kembali ke peranan Editor.
Saya selalu dituntut untuk kritis.
Melihat panjang naskah, tata bahasa, apakah ada salah ketik atau tidak.
Juga, sedapat mungkin saya membuat kalimat-kalimat dalam renungan tersebut menjadi sesuatu yang terangkai indah dan moga-moga dimengerti pembacanya.
Sehingga pesan-pesan itu bisa tersampaikan dengan baik lagi.
Tentunya di luar segala faktor manusiawi yang bisa saya lakukan, ada faktor yang utama dan paling penting yaitu untuk selalu memohon bimbingan Roh Kudus tiap kali membaca ayat alkitab atau renungan harian.
Agar Dia membuka mata hati kita saat membaca dan merenungkan firman-Nya.
Seolah mudah menemukan kekurangan para penulis.
Walaupun itu memang tugas saya, tetapi di dalam hati, saya terus diingatkan...
Bahwa memang mudah untuk melihat kesalahan orang lain, namun sulit untuk melihat kesalahan diri sendiri-bahkan untuk mengakuinya dan bertanggung jawab atasnya.
Kuman di seberang lautan memang tampak, bahkan teramat besar!
Apakah sebagai penulis saya tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal ejaan maupun dalam hal merangkai kata-kata untuk menjadi kalimat bermakna?
Tentu saja pernah! Sering malah:)
Untuk itulah, saya pun membutuhkan seorang Editor ketika hendak menerbitkan buku secara pribadi ataupun berkelompok bersama teman-teman.
Ini saya alami sendiri, ketika melakukan penerbitan buku Chapters of Life: From Nothing Into Something (Menuliskan Kebaikan dari Hal-hal Sederhana), juga beberapa buku keroyokan semisal dari para perantau Katolik di berbagai belahan dunia yang menuliskan kisah perjalanan iman mereka dan dirangkum dalam buku berjudul: Kutemukan Kasih Tanpa Syarat.
Ketika melakukan refleksi pribadi, saya pun menemukan, begitu mudah kita menjadi marah atau kecewa terhadap orang lain. Juga kepada Tuhan.
Kehidupan doa yang menjadi kering, jarang berdoa karena merasa permintaan kita tak dikabulkan, juga adalah gejala bahwa kita menyimpan sesuatu yang kita anggap sebagai 'kesalahan.'
Hal ini sungguh sangat berbeda dengan apa yang dituliskan dalam 1 Korintus 13, ayat-ayat yang begitu sering kita dengar tentang kasih.
Di antaranya, terutama pada ayat 5, terdapat hal yang relevan dengan tulisan kali ini:
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
--- 1 Korintus 13:5
Bahwa kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Berkaca dari ayat ini, saya pun terkadang menyesali kesalahan saya.
Bahwa terkadang masih sering marah dan menyimpan kesalahan orang lain.
Sementara, ketika saya salah, begitu inginnya saya dimengerti dan diampuni...
Berharap ada kesempatan baru: kedua, ketiga, dan seterusnya bagi saya untuk memulai kembali.
Sementara, ketika orang lain (terutama mereka yang dekat dan setiap hari berinteraksi dengan kita: suami/istri, anak-anak, atau para asisten rumah tangga, dan seterusnya) melakukan kesalahan, kita begitu sulit 'move on' untuk memaafkan mereka.
Bagaimana jika kita yang melakukan kesalahan terhadap Tuhan?
Tuhan selalu mengampuni kita, asalkan kita berbalik ke jalan-Nya serta mengakui segala kesalahan kita. Seperti ayat dari Mazmur 103:12, "Sejauh timur dari barat, sejauh itu dibuang-Nya dosa-dosa kita."
Buat kita yang Katolik, ada 'privilege' dalam bentuk Sakramen Pengakuan Dosa yang sungguh membuat kita merasa lega karena merupakan penyembuhan bagi batin kita.
Dari tugas 'editing' kali ini, saya pun kembali diingatkan...
Jadi orang itu jangan terlalu suka mencari-cari kesalahan orang lain.
Karena ketika giliran kita yang salah dan orang lain yang mencari-cari kesalahan kita, akankah kita suka diperlakukan demikian?
Benahi dulu gajah yang tampak di pelupuk mata.
Benahi diri, benahi hati, demi menjadi murid Kristus yang lebih mau mengampuni dalam kasih Tuhan yang tak terhingga.
Kita mungkin pernah terluka, sehingga sulit untuk mengampuni...
Namun, dengan menggenggam luka serta mencari-cari kesalahan orang lain, takkan membuat kita ke mana-mana.
Hanya berada di pusaran luka yang kita ciptakan dan pertahankan sendiri.
Yuk mari, 'move on' untuk mengampuni kesalahan orang lain...
Juga terus introspeksi diri...
Sekian tulisan kali ini.
Semoga tidak terlalu panjang buat disimak dan dibaca...:)
Salam dalam kasih Kristus buat teman-teman semua, di mana pun Anda berada.
14.10.2014
fon@sg
* sudah diposting di blog Jesus, I Adore you http://fon4jesus.blogspot.sg/2014/10/kuman-di-seberang-lautan-tampak.html
Judul tulisan kali ini, tentunya sangat familiar bagi kita, terutama ketika pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu.
Untuk lengkapnya, peribahasa ini berbunyi sebagai berikut:
Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak .
Udah gajah, di pelupuk mata, gak keliatan lagi...
Kuman yang di seberang lautan yang begitu kecilnya, malah kelihatan.
OMG-Oh My God!
Gejala apa ini?
Mungkin ini semua terjadi pada kita.
Saya pun mengalaminya dan ini sangat relevan dengan pengalaman sebagai Editor di tahun yang kedua untuk renungan harian wanita Katolik-dari wanita untuk wanita yang bertajuk Treasuring Womanhood.
Setelah beberapa tahun menjadi salah satu penulis wanita di renungan harian yang luar biasa ini, ada kesempatan untuk menjadi Editor yang pada tahun ini memasuki tahun kedua.
Ternyata, saya menikmati peranan dan tugas ini.
Membaca renungan yang bagus-bagus dari para penulisnya, memberikan banyak inspirasi juga, terkait dengan tulisan renungan harian pribadi yang setiap hari harus saya tuliskan: Thought of the Day.
Sebagai sebuah kesetiaan kecil kepada-Nya, sebagai ucapan syukur atas kesetiaan yang teramat besar yang sudah saya nikmati dari Yesus.
Oke, kembali ke peranan Editor.
Saya selalu dituntut untuk kritis.
Melihat panjang naskah, tata bahasa, apakah ada salah ketik atau tidak.
Juga, sedapat mungkin saya membuat kalimat-kalimat dalam renungan tersebut menjadi sesuatu yang terangkai indah dan moga-moga dimengerti pembacanya.
Sehingga pesan-pesan itu bisa tersampaikan dengan baik lagi.
Tentunya di luar segala faktor manusiawi yang bisa saya lakukan, ada faktor yang utama dan paling penting yaitu untuk selalu memohon bimbingan Roh Kudus tiap kali membaca ayat alkitab atau renungan harian.
Agar Dia membuka mata hati kita saat membaca dan merenungkan firman-Nya.
Seolah mudah menemukan kekurangan para penulis.
Walaupun itu memang tugas saya, tetapi di dalam hati, saya terus diingatkan...
Bahwa memang mudah untuk melihat kesalahan orang lain, namun sulit untuk melihat kesalahan diri sendiri-bahkan untuk mengakuinya dan bertanggung jawab atasnya.
Kuman di seberang lautan memang tampak, bahkan teramat besar!
Apakah sebagai penulis saya tidak pernah melakukan kesalahan dalam hal ejaan maupun dalam hal merangkai kata-kata untuk menjadi kalimat bermakna?
Tentu saja pernah! Sering malah:)
Untuk itulah, saya pun membutuhkan seorang Editor ketika hendak menerbitkan buku secara pribadi ataupun berkelompok bersama teman-teman.
Ini saya alami sendiri, ketika melakukan penerbitan buku Chapters of Life: From Nothing Into Something (Menuliskan Kebaikan dari Hal-hal Sederhana), juga beberapa buku keroyokan semisal dari para perantau Katolik di berbagai belahan dunia yang menuliskan kisah perjalanan iman mereka dan dirangkum dalam buku berjudul: Kutemukan Kasih Tanpa Syarat.
Ketika melakukan refleksi pribadi, saya pun menemukan, begitu mudah kita menjadi marah atau kecewa terhadap orang lain. Juga kepada Tuhan.
Kehidupan doa yang menjadi kering, jarang berdoa karena merasa permintaan kita tak dikabulkan, juga adalah gejala bahwa kita menyimpan sesuatu yang kita anggap sebagai 'kesalahan.'
Hal ini sungguh sangat berbeda dengan apa yang dituliskan dalam 1 Korintus 13, ayat-ayat yang begitu sering kita dengar tentang kasih.
Di antaranya, terutama pada ayat 5, terdapat hal yang relevan dengan tulisan kali ini:
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
--- 1 Korintus 13:5
Bahwa kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Berkaca dari ayat ini, saya pun terkadang menyesali kesalahan saya.
Bahwa terkadang masih sering marah dan menyimpan kesalahan orang lain.
Sementara, ketika saya salah, begitu inginnya saya dimengerti dan diampuni...
Berharap ada kesempatan baru: kedua, ketiga, dan seterusnya bagi saya untuk memulai kembali.
Sementara, ketika orang lain (terutama mereka yang dekat dan setiap hari berinteraksi dengan kita: suami/istri, anak-anak, atau para asisten rumah tangga, dan seterusnya) melakukan kesalahan, kita begitu sulit 'move on' untuk memaafkan mereka.
Bagaimana jika kita yang melakukan kesalahan terhadap Tuhan?
Tuhan selalu mengampuni kita, asalkan kita berbalik ke jalan-Nya serta mengakui segala kesalahan kita. Seperti ayat dari Mazmur 103:12, "Sejauh timur dari barat, sejauh itu dibuang-Nya dosa-dosa kita."
Buat kita yang Katolik, ada 'privilege' dalam bentuk Sakramen Pengakuan Dosa yang sungguh membuat kita merasa lega karena merupakan penyembuhan bagi batin kita.
Dari tugas 'editing' kali ini, saya pun kembali diingatkan...
Jadi orang itu jangan terlalu suka mencari-cari kesalahan orang lain.
Karena ketika giliran kita yang salah dan orang lain yang mencari-cari kesalahan kita, akankah kita suka diperlakukan demikian?
Benahi dulu gajah yang tampak di pelupuk mata.
Benahi diri, benahi hati, demi menjadi murid Kristus yang lebih mau mengampuni dalam kasih Tuhan yang tak terhingga.
Kita mungkin pernah terluka, sehingga sulit untuk mengampuni...
Namun, dengan menggenggam luka serta mencari-cari kesalahan orang lain, takkan membuat kita ke mana-mana.
Hanya berada di pusaran luka yang kita ciptakan dan pertahankan sendiri.
Yuk mari, 'move on' untuk mengampuni kesalahan orang lain...
Juga terus introspeksi diri...
Sekian tulisan kali ini.
Semoga tidak terlalu panjang buat disimak dan dibaca...:)
Salam dalam kasih Kristus buat teman-teman semua, di mana pun Anda berada.
14.10.2014
fon@sg
* sudah diposting di blog Jesus, I Adore you http://fon4jesus.blogspot.sg/2014/10/kuman-di-seberang-lautan-tampak.html
Subscribe to:
Posts (Atom)

